
Cerita yang dikatakan Raja Ruchi begitu panjang bahkan hingga menghabiskan teh yang dibawa bibi Maya. Dan yang ada didepanku saat ini adalah teko ketiga. Jangan bayangkan teko yang besar! Ini istana! Tentu tekonya sangat berkelas dan mahal yang hanya mampu mengisi tiga gelas cangkir saja.
Inti yang bisa kutangkao oleh otakku dengan IQ sedang ini adalah jauh dahulu, di jaman buyutnya kakeknya kakek ayahku dan Raja Ruchi, putra mahkota Mhoran jatuh cinta pada seorang putri. Dan bisa kau tebak dari mana putri itu?
Rhojan.
Pesta pernikahan super besar siap untuk diselenggarakan. Sekaligus untuk merayakan penyatuan dua bangsa. Tapi, pada saat hari H, di detik-detik terakhir sebelum upacara dimulai, leluhurku, si pengantin perempuan, tiba-tiba berubah pikiran dan melarikan diri. Menghilang begitu saja. Dan yang kumaksud dengan menghilang disini adalah benar-benar hilang. Bling! Tidak ada! Gone! Nihil! Seolah ditelan bumi begitu saja. Bahkan sampai saat ini pun makamnya tidak pernah ditemukan.
Inilah awal mula perang dingin Rhojan dan Mhoran. Sejak oeristiwa larinya leluhurku di hari pernikahannya, membuat putra mahkota Mhoran stres dan kurang waras. Hingga akhirnya bunuh diri, karena cintanya pada leluhurku.
Haaaahhh... kibyol sekali kan? Sebenarnya aku ingin terbahaj ketika cerita mencapai babak ini. Tapi langsung kutahan, melihat betapa seriusnya wajah di depanku.
Sejak saat itulah Mhoran dan Rhojan berseteru. Diam-diam atau perang dingin. Sejak itu pula Mhoran menaruh dendam pada Rhojan karena telah mempermalukan mereka di peristiwa besar kerajaan mereka (pernikahan megah itu dilakukan di Mhoran). Dan mereka bersumpah akan menghancurkan Rhojan jika Rhojan tidak mau menebus rasa malu itu dengan menikahkan putri Rhojan dengan penerus Mhoran.
Fiuuuuuuhhhh... klasik sekali. Aku sampai menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.
Untungnya, bagi generasi setelah peristiwa itu, arhojan lebih banyak melahirkan generasi pangeran daripada putri. Sialnya, pada generasi sekarang, generasi Ru-Ru (aku akhirnya menemukan nama panggilan yang pas untuk pamanku ini), yang terlahir adalah seorang putri. Shania. Dan aepertinya, bara di Mhoran yang semula mendingin kembali menghangat bahkan panas. Mereka menuntut pemulihan rasa malu itu sekali lagi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah kaburnya Shania sebulan sebelum acara pertunangan itu. Itu terjadi minggu lalu, dan ini berarti tinggal tiga minggu lagi sebelum rombongan Mhoran datang ke Rhojan.
Rhojan benar-benar sedang menghadapi krisis.
Apalagi ketika Ru-Ru mengatakan bahwa pangeran yang akan bertunangan dengan Shania, meskipun dia bukanlah seorang putra mahkota (pangeran kedua atau berada dalam urutan kedua dari tahta Mhoran), adalah pemegang kekuasaan seluruh kemiliteran di Mhoran. Dia seorang militer. Seorang prajurit. Dan seorang yang memegang teguh adat negaranya. Serta menurut Ru-Ru, sudah siap untuk menghujani Rhojan dengan misil jika pernikahan ini gagal terjadi.
Oh. My. God!
Sekarang rasa simpatiku benar-benar tulus pada Rhojan dan Shania.
Shania yang malang. Pantas saja dia melarikan diri. Tapi, aku setuju dengan Ru-Ru, tetap saja itu tidak bertanggung jawab namanya. Tapi... dahiku mengerut.
Kalau mengingat orang yang akan menikahimu adalah sebangsa Hitler, kurasa yang dilakukan Shania adalah tepat.
Karena itu pula Ru-Ru memerintahkan private investigators untuk mencari keberadaan Shania sesegera mungkin dalam waktu tiga minggu ini. Namun, secara diam-diam. Tidak ada yang tahu bahwa Shania menghilang kecuali orang-orang di dalam istana. Semua disumpah untuk tidak membocorkannya. Meskipun itu pada kerabat sendiri. Semuanya bertujuab agar jangan sampai hal ini terdengar pihak Mhoran.
Melihat Rhojan masih tentram dan damai seperti ini, berarti berita itu belum sampai ke telingan Mhoran. Fiuuuuhhh... untuk sementara ini mungkin masih bisa bernapas lega. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi tiga minggu kedepan.
"Aku benar-benar minta maaf, Sonia sayang." Suara bubi May terdengar lembut. Namun wajahnya masih penuh bias-bias duka akibat menangis tadi.
"Kami tidak bermaksud menyeretmu ke masalah ini. Kami hanya ingin kau tinggal sejenaj di sini, barang sejenak saja, hingga Shania ditemukan, sekedar memberi kesan bahwa Shania ada di istana. Aku minta maaf, sayang." Bibi May tersenyum lembut. Dia benar-benar tulus dengan ucapannya. Aku tahu itu.
Sekarang malah diriku yang dilema. Di satu sisi aku benar-benar ingin kembali ke Kanada, ke kehidupanku yang biasanya. Tidak perlu memikirkan hal-hal rumit seperti istana dan lainnya. Kembali ke Sonia Kieve yang dulu. Tapi di sisi lain, jika melihat gurat kesedihan di wajah bibi May, rasanya tidak tega.
Wanuta didepanku ini begitu lemah dan rapuh. Terlalu banyak beban yang ditanggungnya. Sebagai Ratu juga ibu.
Aku memejamkan mata sesaat. Dan suara itu muncul lagi
Ikuti kata hatimu!
Dan aku membencinya. Sangat benci saat hatiku memilih sesuatu yang akan kusesali setelahnya. Tapi entah mengapa, aku merasa ini adalah pilihan yang tepat. Tentunya setelah aku menimbang segala akibat yang akan menimpaku.
Mom dan dad pasti juga akan melakukan hal yang sama jika hal ini terjadi pada mereka.
Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Aku akan tinggal."
Dua wajah didepanku terangkat dan menatapku. Mereka terkejut. Tentu saja aku bisa melihat itu dari bulatnya kedua mata mereka. Aku sendiri terkejut dengan kata-kataku.
"Apa?" aku mendengar suara Ru-Ru mendesis bahkan lebih seperti gumaman.
"Sonia..."
"Aku akan tinggal," potongku cepat. "Tapi hanya sampai Shania ditemukan." Aku kembali menekankan. "Aku tidak mau menjadi oengganyu Shanua atau siapapun, dalam pernikahan atau apapun itu."
Bibi May terisak. Matanya kembali berair. Tapi kali ini dibarengi dengan senyum kelegaan. Dia lalu berdiri dari duduknya. "Aku akan memberitahu pelayan untuk segera menyiapkan kamarmu." Dan bibi May kembali menghilang dari balik pintu didekat perapian itu lagi.
Mataku menatap Ru-Ru yang masih terpana. Mungkin masih terkejut dengan pernyataanku. Aku buru-buru menekankan kembali. "Aku tidak melakukan ini untukmu! Atau Rhojan! Aku melakukan ini untuknya." Mataku melirik sejenak ke arah pintu tempat bibi May menghilang tadi. Dan ketika aku kembali menatap Ru-Ru, kedua matanya melembut dan aku bisa mendengar bibirnya berbisik.
"Terima kasih."
*****
Dan disinilah aku berada sekarang. Diatas balkon seorang diri seperti orang hila menatap hujan deras didepan yang tak kunjung berhenti. Gaun tidurku berkibar kesana-kemari. Memberikan sensasi merinding ketika angin yang tanpa arah menerobos balik gaunku serta menabrak kulitku.
Bibi May dan beberapa pelayan meninggalkanku setelah memberiku makan dan memandikanku.
Yap! Memandikanku.
Satu hal yang kupelajari dalam menjadi seorang putri, kau tidak diijinkan mandi sendiri.
Kemudian mereka memberiku ruang dan waktu untuk memikirkan kembali apa yang sudah kulakukan untuk kemudian menyesalinya.
Seharusnya aku segera menyandang ranselku dan hengkang dari sini. Tanpa perlu melihat ke belakang. Tak perduli dengan Rhojan maupun Mhoran. Tak perduli dengan semuanya. Karenanya, aku berteriak di kegelapan malam.
"Tuhan! Datangkan tsunami atau air bah yang besar! Tenggelamkan Rhojan sekalian, Tuhan! Biar Mhoran tahu rasa!"
Tuhan langsung menjawab do'aku.
Dengan petir serta guntur yang menggelegar hebat.
Aku mengkeret. "Piece, Tuhan! Piece." Lalu masuk kamar dan pergi tidur.
Ketika kulirik, jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Yang penting sekarang tidur dulu.
Urusan kabur, urusan besok.