
Kulit legam Archie berkilat diterpa panasnya surya. Begitu kontras ketika kakinya menapak di pasir putih teluk yang tak bernoda.
Puluhan gulungan ombak yang memecah karang bergemuruh, menjadi latar lagu langkah Archie.
Cicitan camar yang bising menjadi nada tambahan dalam kelapangan ruang yang ada.
Hempasan angin laut yang menabrak apapun di depannya, menambah irama kehidupan habitat hidrosfer terluas di dunia itu.
"Cal!" aku mulai kesak. "Apa yang..." suaraku tersendat di kerongkongan ketika sebuah heli tempur melintas di atas kepalaku dengan deru mesinnya yang garang.
Oh tidak!
Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!
Jiwaku melayangkan protes tak tersuarakan ketika puluhan camp bercorak belang tampak di kejauhan.
Dua regu pria dengan celana doreng serta kaos ketat berlari dalam keteraturan diantara riak-riak ombak.
Ketika kami melintas, kesemuanya sontak berhenti, menghadap kami, lalu berteriak lantang, "Salute to Your Majesty!" dan mengangkat tangan di samping kepala, memberi penghormatan.
Cal membalas dengan hal serupa. Lalu memacu Archie semakin cepat. Mendekat ke kerumunan sebagian kecil pasukan tangguh negara Mhoran.
Senjata laras panjang, granat, bom asap, pistol kaliber kecil, rudal aneka ukuran, kapal perang, dua jet tempur bahkan sedang melakukan atraksi yang tak kumengerti - yang hanya pernah kulihat di film-film sekaliber Hollywood - semuanya berkumpul menjadi satu di teluk yang mulanya indah dan kini terlihat angker.
Kedua mataku semakin membelalak ketika di kejauhan samudra kulihat sebuah pilar hitam mirip sirip hiu muncul ke permukaan.
"Itu bukan kapal selam kan?" tanyaku gugup, berharap apa yang kulihat hanya imajinasi semu. Hanya tipuan mata. Atau apalah.
Cal menoleh sebentar ke tengah lautan lalu kembali menatap depan. "Hanya sampel model." jawabnya pendek.
"Sampel?!" jeritku dengan suara melengking. Kutatap wajah biasa Cal dengan kedua mata yang siap melompat keluar. "Dengar Cal, aku punya miniatur kapal selam sepanjang delapan centi ketika berumur sepuluh. Itu baru namanya model. Dan kau memiliki kapal selam sungguhan. Sungguhan!" sengaja kutekankan kata 'sungguhan' itu, "dan kau hanya menyebutnya sampel model?!" aku kembali membelalakkan mata dengan kedua alis terangkat tinggi.
Cal hanya melirikku tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Itu bukan milikku, Sonny. Tapi negara Mhoran. Lagipula itu kapal bekas Inggris."
Bekas? Dia tadi menyebut bekas? Dia menyebut kapal Inggris itu bekas?!
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apakah pria ini memang sengaja rendah diri atau malas menjelaskan, yang pasti, aku tetap merasa takjub, sebuah negara kecil seperti Mhoran bisa memiliki kapal selam. Meski katanya 'bekas'.
Cal memacu Archie perlahan ke tengah keramaian pasukan, lalu menghentikan derap kuda itu di depan sebuah tenda raksasa. Pasukan di sekitar tenda dan sekelilingnya langsung bergerak membentuk barisan.
"Salute to your Majesty!" teriak salah satu prajurit yang langsung bisa kutebak adalah komandan pasukan. Mereka mengangkat tangan kanan setinggi pelipis dan menghormat.
Pada Cal.
Dan aku. Wow!
Tidak tahu harus merespon seperti apa, aku memilih diam. Tapi aku bisa merasakan tangan kanan Cal bergerak. Membalas penghormatan para pasukan itu dengan hal serupa. Setelah Cak menurunkan tangannya, barulah para pasukan itu mengikuti gerakan Cal. Juga menurunkan tangan mereka.
Cal turun terlebih dahulu dari punggung Archie sementara tali kekang dipegang sang komandan pasukan setelah membubarkan bawahannya. Barulah setelah itu Cal membantuku turun dari pelana.
Archie dibawa pergi oleh salah satu prajurit saat komandan pasukan menyambut kami.
"Suatu kehormatan Yang Mulia."
"Kami hanya sebentar, Bree," sahut Cal. Sang komandan menganggukkan kepala lalu menatapku dan tersenyum penuh penghormatan.
Aku yang tidak tahu bagaimana harus bersikao hanya bisa menyunggingkan senyum kikuk saat menjabat tangan sang komandan.
Cal lalu menuntunku memasuki tenda besar itu. Dan Simsalabim! Seperti berada di film-film Hollywood bertemakan perang dunia, aku disuguhi miniatur 3D dari negara Rhojan dan Mhoran. Lengkap dengan laut, gunung daratan, bahkan bangunan istananya.
Super cool!
Sementara di sekeliling tenda ada beragam macam persenjataan untuk perang. Senapan laras panjang, pistol dengan beragam kaliber, granat, bom asap, belati, peralatan menyelam, rompi anti peluru bahkan pedang panjang. Apapun yang kau lihat dalan game bertemakan perang modern, semua ada disinu, sobat.
Merasa yakin bahwa aku tidak akan melarikan diri, lengan Cal di pinggangku mengendur perlahan lalu menjauh. Cal membiarkanku berkeliling sesukaku di dalam tenda, mengamati beragam persenjataan yang langsung menarik segala konsentrasiku dari frasa yang bernama 'melarikan diri', sementara dia membicarakan sesuatu dengan salah satu komandan pasukannya.
Pintu tenda berkibar ditiup angin kencang dari laut, memperlihatkan sosok mesin dingin yang langsung membuat kedua mataku berkilat kegirangan.
"Apakah itu mesin pelempar rudal?" teriakku sambil berlari keluar tenda diikuti semua pandangan mata. Termasuk Cal.
Salah satu pasukan di dekat mesin menjawabku, "Ya, Yang Mulia."
Hebat!
"Jangan katakan bahwa ini juga model?" aku melirik Cal yang sudah berdiri di sampingku dengan tatapan sinis sekaligus menyelidik.
Apa?!
"Sweet." Aku melirik pergelangan tanganku lalu menatap Cal dengan penuh semangat. "Oke, sekarang jam sepuluh pagi, Ru-Ru pasti sedang berada di ruang baca di sayap timur istana, koordinatnya..."
"Sonny..." Cal memutus konsentrasiku.
"Apa?" tanyaku cepat dengan kedua mata mendelik marah. "Ini adalah kesempatan yang tepat bagimu untuk menyerang Rhojan, Cal. Kalau kau tidak mau menembak, aku dengan senang hati akan menggantikanmu," kataku dengab mimik serius.
"Sonny!" Cal menghela napas panjang. Aku tidak tahu bahwa dia juga bisa melakukannya, menghela napas panjang maksudku. "Apa kau senang sekali melihat negaramu hancur?" dia bertanya.
Aku langsung mengangguk dan menjawab ceoat, "Aku warga negara Kanada. Rhojan bukan negaraku. Jadi aku tidak perduli."
Well, tentu saja siapa yang ingin melihat Rhojan hancur berkeping-keping. Aku sendiri juga tak mau. Meski aku gemas sekali dengan sifat keras kepala Ru-Ru.
Yang kuinginkan hanya satu hal sederhana. Segera pergi dari sini.
Dari Rhojan.
Dari pertunangan yang menyebalkan ini.
Dan yang lebih utama adalah... dari pria bangsawan bernama Cal!
Dan kembali ke kehidupan damaiku sebelumnya di Kanada.
"Tapi kau memiliki darah Rhojan di nadimu. Aku tahu kau perduli," potong Cal cepat, membuatku langsung merengut.
Sial! Kenapa dia selalu mengingatkanku tentang hal yang selalu berhubungan dengan garis keturunan Rhojan!
Dasar bangsawan brengsek!
Aku tahu Cal membaca pikiranku. Membaca amarahku dengan jelas. Karena begitu aku menyipitkan mata, senyum licik rubah betina itu muncul kembali di bibirnya.
Grrrr!!!
Aku memutar badan lalu melangkah menjauh dari mesin rudal 'impianku' sambil menghentak-hentakkan kaki pada pasir yang tak memberikan jawaban sama sekali untuk membalas perkataan Cal.
Aku melangkah kesana-kemari. Tak tentu arah. Melihat tanpa minat.
Cal benar-benar telah sukses merusak mood-ku. Tapi, suara letusan yang tidak asing di telinga menarik perhatianku segera. Mendorong kakiku untuk melangkah lebih dekat ke sumber suara dan berhenti di tepi lapangan berpasir. Tempat pasukan Cal sedang berlatih menembak.
"Bolehkah aku mencobanya?" pintaku pada salah satu pasukan yang baru saja selesai berlatih dan langsung menatapku penuh keterkejutan.
"Mm..." adalah jawaban yang kuterima. Penuh keraguan dan rasa takut, kalau boleh kuterjemahkan.
Dengan senang hati aku akan meminjamkannya, tapi orang di belakang Anda sepertinya sangat keberatan, jadi...
Aku melihat dan membaca kalimat itu dengan jelas di kedua pelupuk matanya.
Ketakutan itu tersirat.
Bukan padaku tentu saja. Tentara, apalagi pasukan kerajaan tidak boleh takut pada apapun, bahkan kematian. Tapi, tidak pada sosok bulldog di belakangku.
Aku tidak perlu mengeceknya. Radar bawah sadarku yang mengirimkan sinyal pemberitahuan bahwa si Athilah Khan saat ini sedang berdiri di belakangku.
Geezzz! Bahkan bayanganku sendiri pun tidak bisa bernapas bebas!
Aku memutar tubuhku, menyilangkan tangan di dada, menaikkan kedua alis tinggi-tinggi demi membentuk sebuah tanya non-verbal pada Cal.
Bolehkah?
πΈπΈπΈπΈπΈ
**Mungkin agak datar pada bagian ini, tapi semoga readers semua tetap bisa menikmati π
Hari ini mood authornya lagi demen ama like serta komen aja ya π€
Ketika sebuah karya itu dibaca, ada kepuasan sendiri bagi saya (dan semua author pastinya), jadi kalau hanya sekedar di rate aja tanpa dibaca, rasanya gimana gitu ya π
Jadi, kalau nengokin dibaca juga ya readers. Makasih π€
πΈπΈπΈπΈπΈ**