Defeated

Defeated
Chapter 11



Lima hari kemudian


Aku bisa merasakan wajahku merengut. Mood-ku rusak sama sekali. Tingkatan nyawaku sudah sampai pada level satu, bahkan mendekati titik nol. Kalau dalam permainan di komputer, aku mungkin sudah game over.


Bagaimana mungkin aku tidak cemberut jika keesokan harinya saat bangun melihat satu, dua, tiga, empat, ... sepuluh pelayan. Bayangkan! Sepuluh pelayan! Di depan wajahmu ketika kau membuka mata pertama kali. Siapa yang tidak kena serangan jantung coba?


Hebohnya lagi, dengan tangkas mereka segera melakukan tugas mereka masing-masing.


Ada yang menarik tirai, membuka jendela dan pintu balkon, merapikan tempat tidur dalam satu menit, mengisi air di bath-tub kemudian mengukur suhunya, membuka closet kamarku yang entah sejak kapan sudah berisi berbagai macam perhiasan, tas dan dompet mewah dengan variasi merk.


Juga beragam syal dan kaca mata, gaun dan rok serta sepatu femunim beraneka model serta warna dan juga heel yang langsung membuat gigiku ngilu.


Ada yang bertugas membantuku bangun dari tempat tidur, melepas gaun tidurku --- seolah lupa bahwa aku punya dua tangan sehat yang mampu melakukan itu sendiri ---, kemudian membimbingku masuk ke dalam bath-tub dan memandikanku seolah aku inu masih bayi, dan mereka sama sekali tidak menggubris penolakanku bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengungkapkan protesku.


Sama sekali.


Mereka membantuku keluar dari bath-tub lalu mengeringkanku. Membawaku ke depan closet, dan disinilah puncak frustasiku. Melongkk isi di dalamnya, membuat tubuhku merinding. Dan aku tahu, di dalam sana tidak ada pakaian yang bisa kupakai.


Ketika aku meminta tank-top dan hot-pants ku, jawaban mereka sungguh menohok jantungku.


"Maaf Yang Mulis, kami sudah membuang kain rombengan itu."


Kain rombengan? Mereka menyebut pakaianku kain rombengan?


Ubun-ubunku memanas. Mereka membuang pakaian favoritku lalu menyebutnya dengan kain rombengan, tentu saja aku murka. Dan tanpa berekspresi pun, mereka bisa melihatnya dengan jelas di wajahku. Tapi, entah dengan cara apa aku harus mengungkapkan kemarahanku ini karena begitu melihat wajah pucat mereka , aku tak tega.


Namun, aku tahu kemana amarah ini bisa kulampiaskan.


Aku segera bangkit dari kursi riasku, cuek pada teriakan beberapa pelayan, langsung masuj ke dalam closet. Memilah sendiri pakaian yang ada, yang aku tahu sama sekali bukan style favoritku. Semuanya.


Setelah menimbang dengan kepala suntuj, tanganku meraih hem sutra lengan pendek warna tulang dengan tumpukan pita di dadanya dan sebuah rok mini warna hitam.


Pertimbanganku adalah yang bisa cepat kupakai tanpa perlu bantuan para pelayan. Dan seperti dugaan, mereka langsung berebut mengerumuniku, akan membantuku. Saat itu, aku sudah selesai mengancingkan rokku.


Kemudian aku melangkah cepat ke pintu kamar, tak menghiraukan teriakan beberapa pelayan tentang sepatuku.


Dengan telanjang kaki aku berlari menuruni tangga, mencari Ru-Ru dan bibi May. Kutemukan mereka di sebuah ruang makan yang luas. Belum sempat mereka mengucapkan "Selamat pagi", aku sudah menghujanu mereka dengan berbagai protesku tentang pakaian, juga pelayan yang sama sekali tidak kubutuhkan .


Ada boits beraneka ragam dan warna --- aku bisa melihat beberapa sepatu berkuda diantaranya ---, beberapa model mantel, jaket, blazer serta cardigan juga menambah populasi closetku yang semakin sesak. Aneka topi juga pita, ikat rambut serta jepit juga turut serta memenuhi koleksi closetku yang luasnya hampir separuh kamar tidur.


Yang mencengangkan lagi, bibi May menelpon langsung designernya, dan karena ratu yang menelpon, sebagau rakyat, para designer itu langsung terbang ke istana dengan membawa hasil design mereka, bukan belasan tapi puluhan.


Kepalaku seketika tertunduk lesu.


Jawaban Ru-Ru kudapat sore harinya ketika heli istana mendarat di halaman sambil membawa sebuah tas travelling butut yang kukenal sangat. Tas travellingku.


Aku girang bukan main.


Aku langsung merebut tas itu begitu sampai di pintu masuk istana. Membongkarnya dan senyumku semakin lebar. Aneka kaos dan jins, topi bisbol, sandal serta sepatu kets-ku ada disana. Semuanya muat dalam satu tas karena memang hanya itu saja yang kumiliki. Namun begitu, semuanya adalah benda kesayanganku, so far ... no complain.


Tinggal satu hal.


Ru-Ru dan bibi May langsung menolak mentah-mentah petisiku.


Aku tidak butuh pelayan maupun pengawal. Aku sangat keras kepalan tentang ini. Apalagi jika Ru-Ru menyiapkan lima pengawal pribadi.


"Aku bukan kriminal!" teriakku. Membayangkan kau diikuti orang-orang kemanapun kau pergi, bahkan ketika kau buang air sekali pun, langsung membuatku bergidik ngeri.


Tapi lagi-lagi... Ru-Ru dan bibi May kompak menolakku.


Aku segera mengajukan banding. Negosiasi kami berlangsung alot, bahkan menghabiskan lima teko teh dan sekotak biskuit coklat dari Swiss yang super lezat.


Ru-Ru keras kepala dan aku pun tak kalah egoisnya. Ketegangan kami memuncak hingga Ed akhirnya ikut campur tangan, lalu tak sampai lima menit satu keputusan disepakati. Keputusan yangbmembuat Ru-Ru dan bibi May tersenyum kecut dan membuatku merengut.


Akhirnya di-deal-kan bahwa aku akan ditemani satu pelayan pribadi dan satu pengawal pribadi.


Sekarang, dimanapun aku berada, ada Moses disana. Kamar (di luar ruangan tentu saja), toilet (di luar pintu tentunya), lorong, balkon, taman, dia tak akan berada lebih dari lima meter. Begitu keluar istana, dia semakin memperpendek jarak kami menjadi satu meter.


Satu meter!


Bayangkan!


Bagaimana aku tidak gila!?