Defeated

Defeated
Chapter 25



Sorenya, aku sengaja mandi lebih awal.


Mengambil T-Shirt baru, bertuliskan 'Hot Girl', dan jins serta boots lalu bersiap untuk ke festival tahunan Rhojan di tengah kota.


Kuputuskan istana, khususnya kamarku, terlalu gerah. Dan aku butuh udara segar. Segera.


Terlalu lama disini, bisa-bisa aku tercekik.


Baru juga tiga langkah dari kamar, aku merasa ada yang tidak beres. Aku menoleh, menatap emlat pria dengan seragam Man In Black, berdiri dengan sikap canggung di belakangku sejauh lima meter. Aneh?


Tapi, karena aku terlalu bersemangat dengan festival Rhojan, aku kembali melanjutkan langkah. Lagi-lagu kudengar derap langkah di belakangku. Sudut mataku tertarik ke belakang dan aku melihat keempat orang itu juga bergerak seirama dengan langkahku.


Aku melambat, mereka melambat. Aku ceoat, mereka juga cepat. Aku berlari, mereka juga berlari.


Kusambar sebuah tempat lilin dari perak di sebuah meja hias di dekatku, mengangkatnya tinggi-tinggi dan siap melemparnya.


Keempatnya membeku seketika begitu melihat reaksiku. Salah seorang, yang paling depan bahkan mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah aku sedang menodongkan pistol bukannya tempat lilin.


"Siapa kalian?" tuntutku. "Kenapa kalian mengikutiku?"


"Tenang, Yang Mulia," jawab pria yang mengangkat kedua tangannya. "Kami jinak."


Dahiku mengerut. Tidak paham dengan yang diucapkannya. Begitu aku menurunkan tempat lilin, meski tidak mengembalikannya ke tempat semula, pria itu kembali bicara. "Hamba Billy," katanya. "Dan mereka adalah Deke, Oliver serta Ronan." Tunjuknya pada pria lain disebelah kiri, kanan dan belakangnya.


Billy seperti Moses. Tinggi tegap serta berpenampilan rapi. Rambutnya diberi gek, kemudian disisir ke belakang. Sementara Deke adalah kebalikannya. Rambut pendeknya dimodek spike dan dia lebih kurus dari Billy. Rambut sebahu Oliver diikat ekor kuda dibalik tengkuknya. Di salah satu telinganya ada tindikan batu ruby. Memberi kesan nakal pemakainya. Sementara Ronan, pria paling tinggi diantara semuanya, terlihat kaku dengan potongab rambut ala militer. Garis rahangnya juga keras dan kaku. Dan sepertinya, dia adalah tipe yang tidak banyak bicara.


"o...kay," aku berbisij. Mataku menelusuri tubuh Billy c.s. dari atas sampai bawah. Lalu kembali ke atas. Perasaanku langsung tidak enak. "Tolong katakan, bahwa kalian bukan babysitter yang disiapkan Ru-Ru untuk mengasuhku?"


Bilky menelan ludah lalu melirik teman-temannya. Dia tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Aku bisa melihatnya dari gerak tubuhnya.


Aku memejamkan mata dengan erat. Benar-benar tidak percaya dengan ini. Ru-Ru sampai segitunya terhadapku. Aku tahu dia khawatir, tapi please, aku bukan anak umur lima tahun lagi. Aku tahu apa yang kulakukan. Malas berkomentar, aku meletakkan kembali tempat lilin yang kupegang, memutar tubuh lalu menuruni anak tangga kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Keempat pria itu menghadang di depanku ketika aku hendak mencapai pintu utama.


"Aoa yang..." belum selesai aku terkejut, pria bernama Billy bersuara, "Maafkan kami Yang Mulia. Tapi, anda dilarang keluar istana."


Mataku melebar, selebar-lebarnya, bahkan hingga aku merasa otot-otot belakang mataku tertarik semua.


"Kalian pasti bercanda kan?"


Ketika aku tidak mendapat respon, aku menggelengkan kepala sambil menatap langit-langit lalu bergumam lirih, "Otak Ru-Ru benar-benar sudah salah tempat."


Billy berdehem. Aku kembali memfokuskan pandangan padanya.


"Sepertinya, ada yang perlu sedikit diluruskan, Yang Mulia." Dahiku mengerut tak mengerti dengan ucapannya. Billy melirik rekan-rekannya yang juga saling pandang, kemudian mengangguk pelan.


Billy kembali menelan ludah sebelum akhirnya berkata, "Ini bukanlah atas oeruntah raja Rhojan, Tapi..." otakku dengan cepat menangkap arah pembicaraan ini dan mataku menyipit, membuat Billy sedikit menyentakkan tubuhnya ke belakang dengan wajah ngeri.


Aku tahu. Billy tidak perlu memberi tahu. Aku tahu siapa dalang pelakunya.


Dengan wajah kaku serta langkah yang kuhenta-hentakkan, aku menerobos tubuh Billy dan teman-temannya, mengambil kembali tempat lilin, lalu bergerilya, mencari objek pembunuhan pertamaku.


Aku merasakan Billy dan lainnya berhenti di belakangku ketika aku menendang keras pintu ruang baca hingga terbanting dan terbuka.


Dan disanalah dia berada.


Duduk dengan angkuh di sebuah kursi kerja besar seperti singgasana, terbuat dari kulit kualitas terbaik berwarna coklat gelap dan berkilat.


Persis seperti raja kegelapan dari bawah tanah.


Kedua mata gelapnya yang tertunduk ke bawah, membaca kertas-kertas di tangannya, terangkat.


"Kau!" kataku sambil mengacungkan tempat lilin di depan wajahnya, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk membuka mulut.


"Berani-beraninya kau..." aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku karena desakan napas yang memburu.


Dan respon yang kuterima hanya kedua alis yang terangkat tinggi setelah sudut mata Cal melirik sesuatu dibalik punggungku.


"Kau tidak bisa seenaknya menahanku! Aku bukan tawanan!" teriakku.


"Oh ya. Aku bisa," jawabnya singkat. Kemudian kembali menekuni kertas-kertas di bawahnya. Tidak menghiraukan protesku. Sama sekali.


Grrrr!!!


Kujatuhkan ujung tempat lilin, tepat ke atas meja, membuat kertas yang dipegangnya jatuh kembali diatas meja dan tertahan tempat lilinku.


Aku membungkuk, menatap tajam wajahnya yang kini fokus padaku.


"Tak ada seorang pun yang melarangku pergi ke festival Rhojan di kota. Tidak Ru-Ru, bibi May, Ed, pengawal brengsekmu, dan termasuk... KAU!"


Aku melihat kilatan itu. Kilatan yang berbahaya. Penuh perungatan, yang seharusnya kupatuhi. Namun, dasar aku yang keras kepala, aku tetap memasang wajah bebal.


"Sekali tidak, tetap tidak, Sonny!" rahang Cal mengatup rapat, wajahnya sekeras granit, dan suaranya terdengar menggeram dari dadanya. Rendah dan berbahaya.


"Apa kau gila?!" balasku sarkastik.


Cal memejamkan matanya. Erat. Seolah menahan sesuatu. Amarahnya.


"Lengan robek serta kepala lebam, sudah lebih dari cukup, Sonny. Aku tidak mau leher patah untuk selanjutnya. Jadi, kembali ke kamarmu dan istirahat!"


"Kau bukan dokter! Kau tidak berhak memutuskan..."


"Dokter akan mendengarku dan mereka mematuhiku," potongnya dengan saklek. Tidak bisa diganggu gugat lagi.


Demi Tuhan!


Harus kuapakan orang ini?! Aku tahu Ru-Ru keras kepala. Tapi, pria di depannya ini jauh lebih keras kepala. Otak Ru-Ru mungkin terbuat dari baja murni, tapi otak pria ini sepertinya terbuat dari batu meteor.


"Dengar Cal," kataku dengan suara rendah, berusaha keras menahan gejolak amarah yang sudah membakar ubun-ubun.


Aku melihat kilatan keterkejutan di kedua matanya, tapi aku tidak perduli. Aku harus mengutarakan apa yang ada di kepalaku. Sekarang atau tidak sama sekali.


Kedua mata itu masih menatapku terkejut dan aku melihat sudut bibirnya berkedut.


Aku tetap meneruskan, "Jika kau segitu khawatirnya, kau suruh saja Donald, Mickey, Goovy dan Pluto untuk menemaniku." Daguku terayun ke samping, tepatnya pada Billy c.s. yang berdiri di depan pintu.


Aku melihat Cal menyeringai tipis, bukan padaku tapi pada Billy c.s. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali kaku.


"Tidak, Sonny! Kembali ke kamar!"


Mataku membulat lebar. "Apa?"


Cal menggeleng.


"Sampai berapa lama aku harus bermain tawanan dan sipir penjara ini?!" bentakku dengan murka.


"Sampai pertunangan kita."


Aku berdiri tegak dan melipat tangan ke dada. Mataku menyipit galak lalu menggeleng.


"Tidak sebelum kau bisa menjawab..." aku tidak melihatnya berdiri, tiba-tiba Cal sudah di depanku, menarik lenganku yang sehat kemudian mendorongku ke salah satu sisi raj buku dan menekanku disana seperti pagar besi. Kedua tanganku terkepal erat di dadanya yang keras. sama sekali tidak bisa berkutik.


"Aku akan menjawab semuanya, Sonny," desis Cak di depan hidungku. Matanya menyipit berbahaya.


Kupaksakan kedua mataku terangkat, menghadap mata liar di depanku. Membalas tantangan psikologisnya.


"Tanpa bantuan apapun atau... siapapun." Aku menekankan.


Cal tersenyum diatas wajahku. Senyuman yang membuatku merinding, karena aku tahu dia menyembunyikan sesuatu di baliknya. Aku menelan ludahku sendiri.


"Sayangnya, aku tidak ingat pernah mengatakan menyetujuinya, Sonny."


Aku menelan ludah kembali.


Sial! Sial! Sial!


Kedua mata granit itu tertawa penuh kemenangan.


"Jadi, aku bisa melakukan dengan cara apapun itu," lanjutnya. Kali ini sudut bibir Cal tertarik, dan dia tersenyum. Senyum mengagumkan sekaligus mengerikan, karena membangkitkan irama debaran jantung sekaligus meremangkan sekujur bulu kuduk.


"Dan aku bisa sangat kreatif sekali, Sonny." Tangan bebas Cal bergerak naik, kemudian mengambil sejumput rambutku yang keluar dari peredaran orbitnya lalu menariknya perlahan hingga tersangga di belakang telinga. "Seperti sekarang ini," bisiknya.


Uh-oh. Aku dalam bahaya. Aku berada dalam zona merah.


Apa yang harus kulakukan? Apa? Apa? Apa?


Well, kalau dalam posisi terdesak seperti ini, tentunya pikiran jernih itu dengan tenangnya menjauh, digantikan kepanikan yang menghasilkan sebuah tindakan bodoh. Seperti yang kulakukan kemudian.


"Berteriak sekencang-kencangnya sambil menyilangkan kedua tanganku di dada.


Aaaaaaaagh!!!


Kejadian berikutnya adalah aku melihat Billy dan antek-anteknya mencengkeram masing-masing lengan Cal dan menariknya mundur.


"Apa yang kalian lakukan?!" gertak Cal penuh amarah.


"Ma-afkan hamba Yang Mulia," kata Billy penuh hormat. "Kami hanya melaksanakan tugas."


"Tugas kalian adalah melindungi Sonia dari bahaya!" suara Cal melengking kencang, membuat tubuhku langsung mengkerut dan bergidik ngeri.


"I-itu benar, Yang Mulia," jawab Billy dengan suara sedikit gemetar. "Dan bahaya itu termasuk... anda, begitulah kata Tuan Cedric."


Aku melihat Cal mengepalkan tinjunya dan kedua matanya terpejam erat.


Aku tidak tahu yang dimaksud Billy bahwa Cak adalah bahaya bagiku. Billy c.s. atas perintah Cedric (tangan kanan Cal), melindungiku dari bahaya yang salah satunya adalah Cal, tuannya sendiri.


Aku tidak mengerti. Dan belum sempat aku memahami, aku mendengar derap langkah terburu-buru, dan tak berapa lama, Cedric berdiri di sampingku, memegang lembut tanganku.


"Cedric, kau..." geram Cak ketika melihat tangan kananya.


Tak menghiraukan gertakan tuannya, pria tua itu malah menanyakan keadaanku dengan santai dan penuh kecemasan yang entah itu sungguhan atau pura-pura.


Aku tak tau.


"Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia?"


Kepalaku mengangguk pelan, kedua mataku tetap mengunci wajah kaku Cal. Wapada. Seolah takut wajah itu akan kembali ke depanku lagi.


"Sebaiknya anda mengunci pintu, Yang Mulia. Apalagi ketika anda sedang tidur." kata Cedric begitu aku dan dia sampai di depan kamarku.


Kedua alisku bertaut. Tidak paham maksud perkataannya, aku diam saja.


Lalu aku melihat Cedric tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak bisa kubaca.


"Apa anda membutuhkan sesuatu, Yang Mulia?"


Aku menggeleng.


"Kalau begitu, hamba mohon diri dulu, Yang Mulia. Ada seekor singa yang perlu dijinakkan." Cedric membungkuk memberi hormat.


Kalau yang satu ini, aku tidak perlu menggunakan otak untuk mengetahui siapa yang dimaksud Cedric.


**Akhirnya bisa up juga (kelamaan di dunia nyata sih 😂)


Readers yang setia, makasih udah pantengin terus ini cerita 😁


Jangan lupa love, like, komen positif, rate serta vote seikhlasnya 🤗


sampai ketemu di chapter selanjutnya 😉**