
"Apa?!" tubuhku membeku saat itu juga. "Tapi... bagaimana bisa? Bukankah masih dua minggu lagi..."
Naina langsung memotong. "Hamba juga tidak tahu, Yang Mulia. Pihak kerajaan sekarang sedang panik setelah menerima telepon itu Yang Mulia Raja sekarang sedang mencari anda. Anda harus segera kembali."
Otakku mati rasa. Aku tidak bisa berpikir lagi.
"Yang mulia?" pekik Naina karena aku tidak juga memberikan respon.
Aku memejamkan mata. "Baiklah, Naina," ujarku lirih. "Aku dan Moses akan segera kembali. Jika Ru-Ru bertanya, seperti rencana semula, katakan aku sedang mencari lokasi untuk panjat tebing."
"Baik, Yang Mulia."
Sambungan telepon kemudian putus. Dan aku mematikan ponsel.
"Pihak Mhoran menelpon... " aku menarik napas dalam-dalam sebelum berucap, "mereka akan tiba di Rhojan satu jam lagi."
Semua mata mendelik padaku. Sementara Shania semakin putih seperti kapas.
"Mungkinkah..." aku mengangguk, memotong suara Moses.
"Mereka tahu... tentang kaburnya Shania."
Shania bukan pucat lagi, tapi pucat pasi. Dan dia semakin mengerut dalam dekapan Mike.
Moses hendak berbicara namun urung ketika sebuah suara meraung terdengar dari atas langit.
Kami semua berlari keluar dan menengadah.
Tidak. Tidak. Tidak.
"Kumohon, jangan katakan itu..." bisikku pada burung raksasa di atasku.
"Pesawat militer Mhoran," desis Mike dari samping.
Ya Tuhan.
Berarti Mhoran memang tidak main-main. Apakah ini pertanda hancurnya Rhojan?
Aku tidak sanggup berpikir lagi. Otakku terlalu penuh dengan berbagai hal.
"Kita harus bagaimana, Mike?" kudengar Shania mulai terisak panik. "Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dilakukan?" gadis itu gemetar dalam pelukan kuat Mike.
Wajahnya menyiratkan keputusasaan.
Keempat wajah menatapku terkesima.
"Yang Mulia?" bisik Moses di sampingku.
"Pergilah!" kataku pada Shania dan Mike. "Jangan tunggu sampai malam! Pergilah sekarang!"
"Sonia..." Shania lalu meraihku dan memelukku erat.
"Aku akan mencoba mengulur mereka selama mungkin," bisikku.
"Maafkan aku."
Aku mengecup kening Shania dan tersenyum, "Pergilah!"
"Terima kasih," bisiknya lalu berlari ke dalam rumah bersama Maria yang menatapku penuh haru. Seperti tatapan penuh terima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan anaknya dari mara bahaya.
Aku menatap Mike yang masih tidak oercaya dengan apa yang barusan kukatakan. Mungkin dia mengira aku akan membawa Shania pulang bersamaku.
Yah, awalnya sih iya. Tapi melihat wajah pucat Shania begitu mendengar kedatangan Mhoran, bisa-bisa dia bunuh diri di tengah jalan kembali ke istana.
Aku meraih secarik kertas kumal dan bolpen kemudian menuliskan alamat peternakan di Kanada. Lalu kuserahkan pada Mike.
"Aku tidak tahu apa kalian bisa melewati penjagaan Ru-Ru di airport, tapi jika bisa, kalian bisa menggunakan rumah peternakan ini untuk tinggal sementara. Sambil menunggu keadaan lebih tenang."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Aku meremas tangan Mike kuat-kuat, "Berjanjilah satu hal." Mike menatapku, menunggu. " Setelah dirasa aman, kalian akan memberi kabar pada kami. Alamatkan saja pada Naina atau Moses. Biar mereka yang akan menyampaikannya padaku atau bibi May."
"Baik, Yang Mulia."
"Jaga dia," bisikku lalu berbalik dan berlari menuju mobil Rocky. Aku tidak perlu menunggu jawaban Mike, karena aku percaya Mike akan menjaga Shania dengan baik.
"Apakah anda yakin dengan apa yang anda lakukan tadi?" tanya Moses mulai menyalakan mesin.
"Lebih baik segera pergi dari sini sebelum aku menyesali apa yang sudah kulakukan." Aku berbisik.
#Akhirnya, ada juga part yang pendek 😂
Jangan lupa like, komen, bintang 5 serta votenya 🤗
Selamat membaca yang berikutnya 😉