Defeated

Defeated
Chapter 23



Aku bangun keesokan harinya dengan tubuh lebih bugar. Aku bisa mandi sendiri dan mengganti pakaianku sendiri (diam-diam), tanpa sepengetahuan pelayan.


Ketika Naina masuk ke kamar bersama beberapa pelayan sambil membawa persiapan mandiku, aku sudah rapi dan wangi dengan T-shirt putih bergambar tengkorak dan celana gunung warna army.


Aku menyisir rambutku setelah kukeringkan dengan hairdryer, lalu menarik poniku ke belakang dan menahannya dengan sebuah penjepit hitam kecil.


"Selamat pagi," sambutku.


Mata Naina mendelik melihatku.


Sebelum sempat mulutnya melempar protes, aku memotongnya, "Aku akan sarapan di meja." Lalu berdiri dan berjalan keluar kamar, diikuti berbagai tatapan terpana.


Aku setengah berlari ketika menuruni tangga menuju meja makan yang panjang dan lebar, yang diletakkan ditengah-tengah ruangan yang luas. Tangan kananku melempar-tangkap apel yang kusambar dari piring saji yang dibawa oleh pelayan di lorong tadi.


Ada Ru-Ru, bibi May dan tentu saja, si Athilah Khan. Ru-Ru duduk di meja paling ujung. Dibelakangnya berdiri Ed dengan serbet di lengan serta teko tehnya.


Di sebelah kiri Ru-Ru ada bibi May, sedang menikmati teh paginya.


Di sisi kanan Ru-Ru, berjarak satu kursi kosong, duduklah si Athilah Khan. Di belakangnya berdiri seorang pria tua, seperti Ed, sama-sama memegang teko teh serta serbet.


"Selamat pagi!"


Tiga kepala sontak mendongak ke arahku dengan mata mendelik.


Bibi May lah yang pertama kali membuka suara.


"Sonia sayang, seharusnya kau jangan turun dulu."


"Aku bosan makan di kamar."


Seorang pelayan langsung menarik kursi di sebelah bibi May, lalu mendorongnya maju perlahan sampai aku duduk dengan nyaman.


Dua orang pelayan datang sambil mendorong troli kecil berisi sarapanku dengan Naina mengikuti di belakang. Dengan tanggap Naina meletakkan sebuah serbet di pangkuanku, kemudian mulai meletakkan beberapa jenis makanan di depanku. Sandwich daging panggang, sup sayuran yang masih panas, salad buah dingin, pudding caramel serta jus jeruk. Lalu Naina meletakkan sendok, garpu serta pisau makan dengan berbagai macam bentuk dan ukuran sesuai dengan urutannya.


Setelah selesai, Naina dan pelayan lainnya mundur hingga ke tembok.


Aku mulai makan supku ketika Ru-Ru bertanya, "Bagaimana perasaanmu?"


"Baik," jawabku tanpa menoleh. "Kalau saja cuma satu dokter yang memeriksaku."


Ru-Ru diam, tidak berkomentar.


Aku mengangkat wajah dan menatapnya. "Bisakah kau kurangi jumlah dokter yang memeriksaku?" pintaku dengan nada sesopan mungkin yang kubisa.


"Maksudku, aku bukannya mengalami patah tulang atau luka dalam yang berat atau sejenisnya sehingga membutuhkan dokter sebanyak itu, aku cuma terbentur dan tergores. Cuma itu."


Ru-Ru tetap diam, tapi wajahnya menoleh ke arah lain, seolah enggan menjawab.


Tidak mendapat jawaban, aku menatap bibi May dengan alis terangkat.


Bibi May mengelus lenganku, bibirnya mencoba tersenyum, namun terlihat kaku, jadi gagal. "Sayang, dokter-dokter itu ide... Cal."


"Cal?" Dahiku mengerut, bingung. "Siapa Cal?"


Bibi May tidak menjawabku dengan kata, namun kedua matanya yang berbicara. Ketika mataku berhenti di dua mata sehitam granit di depanku, mulutku menganga.


"Aku tidak percaya ini," bisikku masih dengan mulut menganga. "Hei, Athilah Khan! Apa kau tidak punya urusan lain? Seperti menyiapkan rudal untuk dilemparkan, misalnya?


Si Athilah Khan atau Cal, meletakkan sendoknya kemudian mengambil serbet dan menyeka bibirnya lalu berbicara, "Ini menjadi urusanku, jika menyangkut tunanganku."


"Maaf?"


Tunanganku?!


Tunggu dulu! Dia tadi bilang, tunanganku?!


Aku?! Tunangannya?!


"Whoaaa... Athilah! Tunggu dulu, kurasa kau salah paham. Tunanganmu adalah Shania, Bukan aku!" aku menjentikkan jariku ke dada sambil menggeleng. "Bukan! Aku!"


Aku bisa melihat salah satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas dan berkedut. Dan aku sangat membenci gaya senyumannya yang seperti itu. Seperti rubah betina. Seolah menyimpan sesuatu yang tidak akan kusukai.


"Dalam perjanjian leluhur terdahulu tidak menyebutkan harus Shania yang menjadi tunanganku. Tapi siapapun itu, asalkan dia adalah putri Rhojan, bisa menjadi tunanganku."


Mataku membelalak lebar, mulutku semakin menganga. Aku menoleh ke arah Ru-Ru, meminta pembelaan. "Dia bercanda kan?"


Dari ekspresi wajah serta gerak tubuh Ru-Ru aku bisa menyimpulkan sendiri jawaban yang kucari.


Aku menatap bibi May, meminta dukungan, dan wajah bibi May terlihat tidak berdaya.


Hebat! Tidak ada yang bisa menolongku.


Sekarang apa yang bisa kulakukan?


Menyesal?


Tentu saja. Seharusnya kuseret saja Shania waktu itu.


Aku mendengus kesal sambil melipat tangan di dada. Mataku menyipit marah ke wajah pria brengsek di depanku yang tersenyum penuh kepuasan. Matanya yang tersenyum, bukan bibirnya. Dan ini lebih mengerikan daripada nonton film horor.


Grrr!!!


Ingin sekali kulempar pisau makan didepanku saat ini ke tubuhnya.


"Kalau begitu," kataku sambil melotot, "kusampaikan dengan senang hati, bahwa aku menolak... bertunangan denganmu, Athilah."


Aku tersenyum melihat wajah di depanku berubah kaku.


"Apa?" desisnya disela-sela geraman yang bisa kuartikan sebagai 'tidak suka'.


Aku bisa merasakan suhu udara di sekelilingku turun drastis lalu menjadi berat. Seperti dalam film Harry Potter, ketika Dementor datang, seperti itulah yang kurasakan sekarang.


Namun bedanya, Dementor yang ini lebih tampan tentunya (karena memiliki wajah) dari Dementornya si Harry Potter. Tapi, tetap dengan tingkat kekejaman yang sama, kurasa.


"Biar kuperjelas, the Athilah!" lanjutku memanas. "Dalam bahasa inggris, 'no'. India, 'nehi'. China, 'bu'. Jepang, 'ie'. Perancis, 'nom'. Jerman, 'nein'. Jadi, aku tidak mau dan tidak ingin bertunangan denganmu!"


(Readers mohon koreksinya ya, soalnya penulis picisan ini, nanyanya ke mbah google)


Dan dia balas menyerang. Dengan telak. Kali ini dengan wajah berbahaya.


"Apapun yang kau katakan, pertunangan akan tetap terjadi akhir minggu ini."


"Apa?!" aku bisa mendengar jeritan suaraku menggema keras bahkan hingga membuat telingaku sendiri sakit.


"Dan kau tidak akan bisa kabur seperti yang dilakukan leluhurmu ataupun Shania!"


Glek!


Dia terdengar serius.


Super serius, hingga membuat bulu kudukku meremang. Dan aku melihat keseriusannya dari bertambahnya pengawal, baik di dalam maupun di luar istana.


Tapi, aku harus tetap tegar, karena aku hanya seorang diri saja.


Ru-Ru dan bibi May sudah tidak berkutik. Moses di rumah sakit. Shania mungkin sudah mengudara ke Kanada. Tak ada seorangpun yang membantuku, jadi aku harus kuat.


"Apa kau gila?!" balasku membentak, kulempar serbet, pisau serta garpu di tangan ke atas meja, lalu berkacak pinggang.


"Kita bahkan belum genap tiga hari bertemu. Aku tidak mengenalmu, kau tidak mengenalku. Aku tidak mau menikahi orang yang tidak kukenal! Itu sama saja seperti memilih anak kucing dalam karung! Bisa-bisa malah anak macan yang kuambil." Aku menggelengkan kepala, tidak mau membayangkan yang tidak-tidak.


"Aku tidak mau!"


Sudut buburnya tertarik ke atas. Dan aku bersumpah melihatnya tersenyum. Demikian juga dengan pria tua di belakangnya. Memang apanya yang lucu dari perkataanku? Aku kan berbicara fakta?


"Kurasa aku sudah cukup mengenalmu, Sonny." Dengan tenangnya dia menjawab.


Apa?! Kedua alisku terangkat tinggi.


Dia bilang dia sudah mengenalku?!


Dan dia memanggil nama kecilku?! Kurang ajar!


"Oh ya?!" tanyaku dengan nada meledek. "Kalau begitu, pada umur berapa ciuman pertamaku terjadi? Seperti apa tipe pria idamanku? Apa kegiatan favoritku? Apa warna favorit pakaian dalamku? Dan..." aku tersenyum menantang, "berapa ukuran dadaku?"


"Sonia!" aku mendengar bibi May terkesiap.


Bisa kulihat kilatan di matanya. Dia terkejut. Aku melihatnya. Dan senyumku semakin lebar (dalam hati tentunya) ketika kulihat rahang kaku di depanku.


Aku menang. Yay!


"Nah..." aku kembali duduk dan melipat kedua lengan. "Kau tidak bisa menjawabnya kan?" aku kembali menekuni sarapanku ketika mata granit di depanku terpejam dan tinjunya terkepal erat di atas meja.


"Bagaimana kalau aku bisa menjawabnya?"


Aku mendongak dan melihat mata hitam itu berkilat berbahaya. Sudut bibirnya berkedut.


Oh, tidak! Kenapa aku merasa sudah menggali kuburanku sendiri?


"Bagaimana kalau aku bisa menjawabnya?" geramnya. Kali ini terdengar lebih menakutkan.


Tapi, aku tidak boleh kalah. Karenanya aku mengangkat dagu lalu balas menatap tajam mata itu dengan sikap angkuh.


"Kalau kau bisa menjawabnya... semuanya... dengan benar." Aku kemudian tersenyum, senyuman penuh kebencian serta kelicikan yang menyatu, (aku harus mengerahkan semua yang kupunya untuk mengalahkan perang ini), yang kubangun dengan susah payah, "tanpa bantuan, siapapun atau apapun itu," aku menarik napas dalam-dalam, "akan kupertimbangkan menjadi tunanganmu."


Kedua mata si Athilah Khan berkilat tajam. Sudut bibirnya kemudian tertarik ke atas membentuk senyuman penuh percaya diri yang sangat kubenci.


Oh boy! Aku benar-benar dalam masalah serius.


Tak ingin berlama-lama disini, aku berdiri lalu kembali ke kamar setelah mengatakan alasan yang penuh kebohongan.


"Aku kenyang."


Aku tidak tahu apa, tapi aku bersumpah bisa merasakan si Athilah Khan sedang tertawa di belakangku.


Sial! Bikin merinding saja.


🌺🌺🌺🌺🌺


#**Terima kasih yang sudah berkenan mampir buat baca...


Jangan lupa suntikan semangatnya ya readers: love, like, komen serta vote seikhlasnya πŸ€—


Sampai ketemu di chapter selanjutnya πŸ€—**