Defeated

Defeated
Chapter 35



Aku menatap liontin kalung pemberian nenek Sophie, ibu mom. Di lapisan terluarnya terukir satu frasa yang sudah melekat di batok kepalaku.


Never forget.


Tak kan pernah lupa.


Sebuah frasa yang akan selalu mengingatkanku pada kenangan di dalamnya.


Kubuka liontin itu dan hadirlah dua wajah dari orang-orang yang paling kusayangi di dunia ini.


Dad dan Mom.


Mereka menempati tiap sisi dari liontin.


Nenek Sophie lah yang membuat kalung beserta liontinnya ini.


Dia juga yang mengukir frasa yang selalu menjadi mantra mujarabku setiap kali aku mengalami masalah.


Dia pula lah yang memasang foto mom dan dad disana. Yang selalu memberiku ketenangan dan mengusir jauh-jauh rasa takutku. Karena aku tahu aku tidak sendiri. Mereka selalu ada didekatku.


Suara batuk kecil dari balik punggungku menghapus paksa ingatan yang baru saja kucoba untuk kuputar ulang. Aku menoleh. Dan mendapati Ru-Ru sudah berdiri tak jauh dariku.


"Bolehkah aku bergabung?"


Alisku terangkat. Heran, kenapa seorang raja harus meminta ijin segala dia mau berada dimana. Toh, rooftop istana ini juga miliknya. Tapi kemudian aku hanya mengangkat bahuku.


"Kecuali kau takut ketinggian," kataku padanya.


Ru-Ru tersenyum lalu menghampiriku.


Aku menggeser posisi dudukku. Memberi ruang bagi Ru-Ru untuk duduk.


Dengan berpegangan pada sebuah pilar kecil disebelahnya, Ru-Ru mendorong tubuhnya naik ke atas lalu duduk di sebelahku. Du pinggir luar rooftop dengan ketinggian beberapa belas meter diatas permukaan tanah dengan kedua kaki menggantung ke bawah.


Terlihat ekstrim memang. Dan sungguh tempat yang pas untuk bunuh diri. Lalu menghilang dari segala masalah. Jalan pintas yang sama sekali bebas hambatan.


Benar-benar solusi cerdas. Cepat dan ringkas. Bagi orang-orang bodoh, tentu.


Karena aku tidak bodoh, tentu saja aku tidak melakukannya.


Kau tanya kenapa?


Tentu saja karena ini bukan gayaku. Ini bukan style-nya seorang Sonia Kieve. Seorang Sonny. Yang lebih menyukai serangan frontal ketimbang jalan pengecut.


Aku hanya menyukai ketinggian saja. Tempat dimana aku bisa bebas menatap langit dan sekelilingnya dengan bebas. Tanpa terhalang.


Tempat yang menurutku dimana aku bisa menemukan ketenangan. Meski saat menoleh ke belakang, ketenangan itu hanyalah harapan palsu jiwamu.


Bagaimana busa tenang kalau ada sebelas pengawal dengan lima pelayan yang menguntitmu di belakang? Bahkan disaat kau ingin sendiri dan merenung tentang kebodohanmu.


"Mau?" kuangkat gelas di tanganku pada Ru-Ru. Menawarkan.


Kernyitan terbentuk di kening tuanya. Ragu-ragu.


Aku memutar bola mataku dan tertawa geli. "Tenang, ini zero alcohol."


Keraguan itu masih terlihat.


Aku menghela napas. "Bagaimana mungkin lime punch yang diramu dari perasan jeruk nipis, soda dan es batu ini bisa memabukkan, Ru-Ru."


Seolah sadar dirinya terlalu berprasangka, Ru-Ru lalu mengambil gelas di tanganku dan menyesapnya. Sedikit. Karena dia langsung meringis menahan rasa asam di mulutnya.


Aku tergelak melihat ekspresi mukanya yang seperti tersiksa itu.


"Kau tidak mau masuk ke dalam? Disini dingin." tanya Ru-Ru setelah air mukanya kembali normal.


Aku menggeleng perlahan dan tersenyum. "Dibawah sepertinya sibuk sekali. Aku tidak mau mengganggu." Kuambil kembali gelas di tangan Ru-Ru lalu menyesapnya. Rasa asam dari perasaan jeruk nipis langsung menyengatku. Membuatku memicingkan mata.


Ru-Ru tidak membalas pernyataanku. Dia memilih melemparkan pandangan ke kegelapan ibu kota.


Aku tahu dia paham maksudku. Istana Rhojan sekarang sedang dalam keadaan kacau. Bukan dalam artian porak-poranda, tapi lebih kepada kericuhan dalam mempersiapkan keberangkatanku ke Mhoran besok pagi.


Bahkan, keruwetan itu sudah berlangsung sejak makan makam disajikan.


Makan malam yang terasa hambar. Bukan pada rasa. Aku tahu bahwa koki istana selalu menyajikan hidangan yang lezat. Tapi, lebih pada sikap kami di meja makan.


Aku makan dalam diam.


Begitu pun Ru-Ru dan bibi May.


Demikian juga dengan Cal.


Aku tidak nafsu untuk makan. Sangat tidak ingin memasukkan apapun ke perutku. Namun, kupaksakan diri untuk menelan daging bebek asap hasil kreatif para koki terbaik istana untuk sekedar menghormati acara makan malam ini.


Hanya sampai pada irisan kelima. Pada irisan ke enam, perutku mulai bergolak. Kuambil segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Mengusap tepi bibirku dengan serbet lalu beranjak berdiri dan meninggalkan meja makan.


Tanpa pamit, aku melenggang begitu saja. Hanya saat bibi May memanggilku, aku berhenti dan menoleh padanya.


"Aku akan segera ke atas menyusulmu."


Aku hanya memberikan seulas senyum tipis sebagai jawaban lalu kembali melangkah.


Dan pemandangan yang paling buruk adalah saat aku memasuki kamar.


Belasan pelayan sibuk hilir mudik kesana kemari, mengangkat ini-itu, membawa sesuatu, lalu memindahkan lainnya. Mengeluarkan baju-baju, perhiasan, sepatu, topi, pita, dan lainnya dari kloset lalu memindahkannya ke beberapa koper besar, yang menurutku lebih pantas disebut lemari daripada koper.


Benar-benar membuat kepalaku semakin berputar.


Pelayan pribadiku itu meletakkan beberapa kotak kecil perhiasan di tangannya ke atas sebuah meja lalu berjalan menghampiriku. "Ya, Yang Mulia."


"Buatkan aku lime punch, lalu bawa ke atap."


Dan disinilah aku sekarang.


Berusaha dengan keras menikmati malam terakhirku di Rhojan yang aku ragu akan bisa menikmatinya.


Bagaimana aku bisa menikmatinya, jika belasan pasang mata mengekori segala tindak tandukku. Seolah belum cukup, mereka bahkab mensterilkan rooftop sebelum akhirnya aku diperbolehkan masuk. Gila kan?


Ala yang mereka pikirkan? Khawatir aku akan langsung terjun bebas ke bawah?


"Kau baik-baik saja?" tanya Ru-Ru kemudian.


Aku tersenyum. Menyesap sedikit lime punch ku. Lalu menghela napas panjang. Ingin sekali mengeluarkan bongkahan yang menyesakkan dada dengan sekali helaan, namun sepertinya sia-sia.


Aku hanya menyahut, "Kelihatannya... mengikuti kata hati, tidak selalu berakhir baik." Kalimat itu lebih kutujukan pada diriku sendiri.


Ru-Ru diam. Lalu menunduk.


"Maaf Sonia," bisik Ru-Ru akhirnya. "Seandainya ayahmu yang menjadi raja... mungkin akan lain ceritanya. Dia akan lebih gigih dalam memperjuangkan kebebasanmu. Tidak sepertiku."


Menanggapi hal itu, aku hanya tertawa. Bahkan terkikik geli, ingat akan cerita dad dulu.


"Ru-Ru jangan terlalu serius dalam berpikir," kataku sambil menepuk bahunya, seorang raja berwibawa, yang kini melorot. Menampilkan ketidakberdayaannya. "Bisa-bisa tumbuh seribu uban di kepalamu sekarang."


Ru-Ru mendongak, terpana atas barusan yang kukatakan. Aku tahu kalimat itu adalah kalimat rahasia yang hanya diketahui oleh Ru-Ru dan dad.


Aku melihat tanya 'Bagaimana bisa?' disana.


"Dad cerita padaku." Aku menjawabnya sebelum pertanyaan itu terlontar.


"Sepertinya Kieve banyak bercerita padamu."


Aku meringis.


Tangan Ru-Ru kemudian menyentuh puncak kepalaku. Lalu mengelusnya perlahan dengan sayang.


"Tidak banyak." Aku memberitahu Ru-Ru kemudian. "Hanya bahwa Ru-Ru adalah sosok pendiam dan serius sementara dad... lebih aktif atau kau bisa menyebutnya... nakal. Ru-Ru selalu memikirkan segala sesuatunya dengan serius, bahkan pada hal kecil dan remeh sekali pun. Sementara dad, lebih senang... bermain di luar. Bahkan dia pernah di hukum. Apa itu benar?" tanyaku penasaran.


Ru-Ru tertawa lalu mengangguk. "Itu benar, Sonia. Dia melarikan diri pada saat upacara kenegaraan Rhojan, dimana dia seharusnya memotong pita peresmian dan berpidato. Dia lebih memilih pergi ke pantai dan berselancar. Atau pergi ke gunung dan membangun kemah disana." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Benar-benar khas dad.


"Kalau sudah begitu, dia akan dihukum tidak boleh keluar istana selama satu bulan. Namun, entah bagaimana, dia selalu berhasil melarikan diri."


"Walau begitu," Ru-Ru kemudian menatapku dengan lembut. "Dia banyak dicintai oleh rakyat Rhojan."


"Ayahmu itu... seperti matahari, Sonia." kata Ru-Ru. "Selalu memberikan keceriaan pada setiap orang yang ditemuinya. Bahkan rakyatnya. Dimanapun dia berada."


"Dan Ru-Ru," kataku, "Kau adalah seperti purnama di malam hari. Memberikan jalan cahaya, bagi mereka yang berada di kegelapan."


Aku menangkap kilar keterkejutan di mata Ru-Ru. Yah, aku tahu. Ini juga adalah kalimat-kalimat rahasia lainnya yang hanya diketahui oleh Ru-Ru dan dad.


"Itulah sebabnya dad tidak ragu untuk melepas tahtanya," lanjutku. "Karena dad yakin sekali bahwa Ru-Ru mampu membawa Rhojan pada kejayaannya."


Dan itu memang terbukti. Dari tingkat kemakmuran rakyatnya. Tingginya hasil bumi. Juga pesatnya pendapatan dari sektor pariwisata.


Aku tidak heran jika Rhojan kemudian disebut-sebut sebagai The Paradise Country. Karena memang itulah kenyataanya.


Aku menatap Ru-Ru dan tersenyum. "Ru-Ru," panggilku. Pria tua itu menoleh dan menatapku lembut. "Sekarang aku tahu bahwa dad, benar dalam melepas tahta itu."


Bibir Ru-Ru terkatup rapat. Dia tidak mengatakan apapun. Namun kedua matanya, banyak berbicara. Dia lalu menarikku ke dalam dekapannya. Memelukku dengan erat lalu mencium puncak kepalaku dan berbisik lirih, "Terima kasih, Sonia."


Aku tersenyum di dada Ru-Ru lalu membalas melingkarkan tanganku di punggung pria tua itu, tanpa mengetahui bahwa ada sepasang mata yang diam-diam menyimak pembicaraan kami.


Kurasa tidak terlalu buruk melewatkan malam terakhirku di Rhojan dengan duduk-duduk di atap istana bersama Ru-Ru.


🌺🌺🌺🌺🌺


Memira balik lagi bawa chapter baru...


Maaf lama tak up, dikarenakan keasyikan menjelajahi karya-karya author kece lainnya 😁


* Kesucian Syahadat-bunda Yolga


* Taaruf Cinta-kk Khinan


* Suamiku Adik Kelasku-kk Firchim04


* Elleana and The King of Mafia-kk Ranty Yoona


* Riyan dan Vania - Kk Rini


* Penjara Cinta sang Mafia-by kolom langit


* Cintaku pembunuh kekasihku - kk Shanty Fadillah


(Maaf thor, ga di screenshoot covernya πŸ˜…)


Temen-temen di search jg lalu DIBACA ya karya author-author keren di atas 😁 Dijamin gak akan menyesal πŸ€—


Happy Reading 😎


🌺🌺🌺🌺🌺