
Wild Canyon, Kanada
Satu Minggu kemudian
Wajahku menengadah ke atas. Kedua mataku langsung menyipit karena sengatan sinar matahari. Namun begitu, aku masih bisa menangkap bayangan ujung tebing terjal diatas sana.
Hanya beberapa meter lagi.
Beberapa meter lagi aku bisa menikmati hadiahku.
Aku kembali menatap bebatuan kasar berlumut didepanku. Keras. Kokoh. Dan menantang untuk ditaklukkan.
Mulutku mengerucut membentuk huruf o kecil. Menghembuskan kuat-kuat udara dari rongga paru-paruku. Keluar-masuk berkali-kali. Bisa kurasakan butiran keringat menetes dari ujung bulu mataku. Membuat penglihatanku buram sesaat. Namun, segera pulih ketika air itu jatuh dan mengalir di pipiku yang sudah sangat lembab. Tank-top dan hot pants-ku melekat seperti lem di tubuhku yang sangat basah. Benar-benar lengket. Membentuk setiap lekuk tubuhku dengan sempurna.
Sexy.
Aku tahu itu.
Sungguh!
Tapi, jika kau berada di posisiku saat ini, menempel di tebing batu yang cadas hanya dengan seutas tali dan sengatan terik matahari seperti kadal yang dipanggang, dengan audiens berupa monyet liar, ular melata, pekikan burung-burung hutan dibawah pantatku sana, kurasa kemolekan tubuhku sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan madu, buah-buahan serta serangga yang pasti akan langsung mereka pilih ketimbang menontonku merayap seperti Spider Man.
Apa aku kecewa?
Tentu saja tidak!
Panjat tebing adalah hobiku... tidak! Ini adalah hidupku, nafasku. Jadi, tentu saja aku tidak kecewa.
Daguku kembali terangkat, mengamati sisi tebing di hadapanku, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk pijakan tangan dan kakiku. Nihil. Tidak ada satupun ceruk terlihat. HM, tidak sepenuhnya sih. Sebenarnya ada satu ceruk, namun letaknya dua kali jangkauan posisi tanganku saat ini, dan posisinya diagonal ke samping kanan dari posisiku berada.
Opsi pertama, melentingkan tubuhku sekuat tenaga (melompat), meraih ceruk itu dengan cepat dan aku hanya memiliki satu kesempatan. Namun, dengan resiko tubuhku akan membentur karang tajam disisi kanannya atau yang paling buruk, jatuh, jika aku gagal. Tapi jika aku berhasil, ini akan mempercepat waktuku untuk sampai ke atas.
Opsi kedua, mencari ceruk lainnya yang akan memperlama waktuku disini. Dan aku sangat tidak menyukainya karena itu berarti aku tidak bisa memperbarui rekor panjat tebingku yang lalu.
Ikuti kata hatimu!
Aku memejamkan mata sesaat ketika mendengar bisikan yang kukenal. Hal yang sudah sangat lama sekali tidak pernah kudengar. Sesuatu yang sudah tua namun gemanya tetap seperti pertama kali frase itu dihembuskan hingga merasuki setiap nadi dan nafasku.
Aku membuka mata. Menarik sudut bibirku ke atas membentuk senyuman. Ide gila itu sudah menyusupi otakku sedari tadi, menunggu untuk dituntaskan. Refleks, otakku langsung men-delete program 'opsi kedua'.
Ku-cek sekali lagi belay device (alat penambat), carabiner (cincin kait) dan nuts (simpul). Semuanya harus dalam kondisi siap ketika aku melompat nanti. Senekat-nekatnya , tentu aku tak mau berakhir dengan terjun bebas ke bawah dan berdarah-darah.
Setelah yakin semua peralatan dalam kondisi prima, aku mulai mengambil ancang-ancang. Kuputar badanku sembilan puluh derajat beberapa kali untuk melemaskan otot-otot punggung. Kuhentakkan beberapa kali sepatu ChookBack-ku ke tebing tumpuan dibawahnya, memastikan bahwa penopang dibawah kakiku itu kokoh.
Aku merendahkan tubuhku seperti posisi akan berjongkok. Kemudian sambil menggerakkan gigi aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong tubuhku.
Tanganku tidak mencapainya. Sisi kanan tubuhku membentur tebing yang tajam. Aku meringis pelan ketika tubuhku berayun kembali ke tempat semula. Keringat deras kembali mengucur, kali ini dari tengkukku.
Yang kedua ini aku lebih merendahkan tubuhku, berharap mendapat dorongan tenaga ekstra untuk melompat. Setelah melumuri kembali tanganku yang basah dengan kapur, kedua mataku memfokuskan pada ceruk yang ingin kutuju.
Aku kembali melompat dengan tangan terulur cepat kedalam ceruk.
Berhasil! Yay!
Dengan cepat aku mengganti tumpuan beban badan di tangan kanan yang menggunakan dalam. Secepat elam, kedua mataku mencari ceruk lain, dan kesanalah tangan kiriku segera bertengger. Terus naik ke atas dengan dorongan tenaga kaki. Persis seperti laba-laba. Hingga akhirnya, sinar matahari terasa begitu membutakan.
Sebuah tangan terulur diatas kepalaku. Kusambut dengan tawa lebar.
Setibanya di puncak, aku segera merebahkan diri di daratan luas yang hangat itu. Menatap karpet biru yang maha luas. Inilah hadiah yang kunanti.
"Selamat cat woman!" ujar Donny sambil melirik jam digitalnya. Cat woman adalah julukan yang diberikan para anggota panjat tebing lainnya padaku. Donny-lah yang memulainya, setelah melihat gerakan ku ketika memanjat, kemudian anggota lainnya pun ikut-ikutan memanggilku begitu. Kata Donny, gerakan melompat ku di tebing mirip Halle Berry ketika memerankan karakter Cat Woman. Tentu saja aku bangga bisa disejajarkan dengan bintang seksi itu. Siapa yang tidak bangga? Jadi, I'm so cool dengan cara panggil mereka.
"Kau berhasil memecahkan rekormu sendiri." Aku menatapnya, menunggu kelanjutan kalimatnya. "Satu jam dua belas menit."
"YEAAAHHH!!!" jeritku seketika. Perasaanku tiba-tiba terasa ringan. Lalu kukepalkan tinjuku ke angkasa diatas sana.
Aku berhasil dad! Aku berhasil menaklukannya!
Segera kuraih botol mineral ketika haus mulai menyerang. Saat meneguk itulah aku melihat mesin hitam yang meraung keras di langit Utara. Lama-kelamaan menjadi wujud helikopter itu semakin terlihat.
"Apa ada kecelakaan yang terjadi?" Donny menatapku.
Aku mengangkat bahu sebagai jawaban karena aku memang tidak tahu. Mataku tidak lepas dari benda bulat telur itu. Memang tidak sekali dua kali kecelakaan terjadi di area panjat tebing. Tapi kebanyakan tidak sampai harus memanggil tim SAR. Mungkin saja ada orang kaya bodoh yang tidak sengaja terpeleset, kemudian masuk ke dalam celah tebing dan tidak bisa keluar.
"Itu bukan helikopter SAR!" teriak Luke dari balik binokularnya.
Kalau bukan tim SAR, lantas siapa? Kurasa tidak ada orang yang mau dengan sengaja jalan-jalan memutari canyon liar lalu berhenti di daerah tenggara tempat biasanya helikopter tim SAR mendarat.
Aku benci perasaan tidak nyaman ini!
Sesuatu pasti sedang terjadi. Dan hal itu sepertinya tidak menyenangkan.
Ikatan batinku dan rekanku sepertinya begitu kuat (yang jelas kami bukan alien tentu saja), karena tak lama kemudian, Donny memerintahkan kami semua untuk membereskan peralatan memanjat kami.
Begitu memastikan bahwa segala peralatan memanjat sudah masuk ransel gunung, aku bergerak mengikuti barisan pemanjat lainnya yang dipimpin Donny, menuruni rute lainnya menuju dasar tebing.
Begitu tahu apa yang terjadi dibawah sana, aku akan langsung mandi. Badanku ini sudah merengek sejak tadi, ingin direndam dalam kubangan air besar.