
maaf ya readers, part yang ini panjaaaaaang sangat.... 😫
author kesulitan medotnya dimana hiks 😓
Seperti saat ini, ketika aku sedang duduk di ayunan buatan tangan yang terbuat dari tali tambang dan papan kayu, Moses dengan seragam Man In Black nya berdiri dua meter dari tempatku berayun. Dua mata dibalik kaca mata anti sinar mataharinya itu menatap sekeliling, memastikan bahwa tidak ada granat atau rudal sedang melayang ke arahku.
Entah karena memang dia seorang Rhojan, aku tak tahu. Tapi yang jelas, dia memiliki level keras kepala setara Ed dan Ru-Ru. Ketika aku memintanya memakai pakaian biasa saja saat kami pergi menjelajah keluar istana, Moses jelas menolakku. Meski dengan halus, nada suaranya terdengar saklek. Tidak bisa diganggu gugat.
Ampun dah!
Apa yang bisa kulakukan?
Menelan ludahku sendiri tentu. Aku siap mengambil resiki terekspose langsung dengan pakaian keramat Moses selama aku bisa keluar istana. So... no complain at all.
"Matt! Merr! Makan siang!" teriak suara nyaring dari belakang kepalaku.
Aku menoleh dan di sanalah Sarah berdiri berkacak pinggang dengan sepatu boots yang membungkus separuh jinsnya dan T-shirt yang keren sekali.
Tak berapa lama aku juga mendengar gerutuan suara manis di kejauhan dari arah bawah sana. Tepatnya di sungai jernih dengan bebatuan besar yang memagari, yang memisahkan dua kebun anggur luas milik Rocky Smith, suami Sarah.
Gemericik arusnya yang menatap bebatuan begitu berisik dan tidak membuat bosan. Apalagi jika dikelilingi anggur-anggur yang siap panen.
"Sonny! Moses!" teriak Sarah lagi. Aku dan Moses menoleh. Kepala Sarah bergerak mengarah ke ruang makan. Lalu dia masuk dan menghilang ke balik pintu setelah berteriak lagi. Kali ini bukan padaku, tapi Moses.
"Dan lepas jas brengsek itu sebelum masuk ke rumahku, Moses!"
Aku terpingkal melihat Moses menelan ludah berkali-kali. Sama sepertiku, Sarah membenci pakaian Moses. Sarah suka sekali bertindak seperti bos, lumayan cerewet dan apa adanya. Tapi aku menyukainya. Selama dia memanggilku 'Sonny'.
"Kalian bersenang-senang?" tanyaku ketika dua kepala pirang coklat itu terlihat dari balik jalan setapak yang menurun mengarah ke tepi sungai.
Wajah Mattew, bocah lima tahun itu merengut, satu tangannya memegang google, sementara tangan lainnya memegang salah satu pergelangan tangan Merriel, adik perempuan yang dua tahun lebih muda darinya yang juga memasang mimik cemberut.
Merriel kelihatan mungil dan lucu dengan baju renang pinknya serta gelang pelampung di setiap lengannya, yang juga berwarna pink.
"Yah, kalau saja mom tidak memanggil," gerutu Matt, menjawab pertanyaanku.
Aku menepuk pelan kepala kecil itu. "Untuk bisa berlari, perlu amunisi, Matt. Dan Sarah membuatnya untukmu supaya kau bisa bermain lagi."
"Tapi, Sonny, kami hampir menangkap ikan yang besaaar... sekali." Kali ini Merriel yang unjuk suara. Dan aku senang sekali mereka memanggil namaku langsung, tanpa ada embel-embek 'Yang Mulia' atau 'My Lady' didepannya.
Aku menunduk, mengulurkan tanganku kemudian mengangkat Merriel dan menggendongnya, "Oh ya?" tanyaku.
Mata hijau gadis itu membulat lebar lalu wajahnya mengangguk. Menyatakan kesungguhannya.
"Makan. Setelah itu memancing."
Gerutuan serta rengekan protes kembali tersengar. Apalagu ketika kami hampir mencapai pintu masuk.
"Mom pasti nenek sihir, dia selalu memasak racun itu untuk Matt dan aku." Bisik Merriel.
"Merr, wortel... dan paprika..." aku menatap Merriel dan Mattew bergantian, "bukan racun! Tapi sayuran." Aku tersenyum ketika wajah kedua bocah itu bergidik ngeri mendengar makanan yang paling mereka benci itu disebut.
Rocky tiba setelah kami duduk. Memakai jins, boot, hem yang kedua lengannya digulung serta topi koboi. Kentara sekali dia dari kebun anggurnya. Bau debu dan keringat tercium samar dari aroma cologne pria itu. Kedua lengan kokohnya langsung memeluk pinggang Sarah kemudian memberikan kecupan ringan di pipi wanita yang sudah enam tahun dinikahinya.
Rocky lalu duduk di ujung meja makan setelah sebelumnya merebut Merriel dari pangkuanku untuk memberikan ciuman pada gadis kecil itu.
Merriel menggeliat geli akibat kumis Rocky lalu membalas ciuman sang ayah dengan keras. Merriel pun duduk tenang di pangkuan Rocky, tetap dengan pakaian renang serta pelampungnya.
Sarah bergabung dengan kami setelah dia menyelesaikan sup sayuran anak-anak. Saat itulah Rocky menatapku dan Moses.
"Ada kabar dari the lost princess?"
Fakta lain tentang Rocky dan Sarah adalah mereka tahu siapa aku. Mereka tahu siapa Moses (yah, dari pakaiannya saja sudah kelihatan). Dan mereka tahu bahwa Shania, putri kerajaan mereka, menghilang, yang dalam arti lain kabur.
Pertemuan kami dengan Rocky dan Sarah terjadi pada hari kedua aku di Rhojan. Saat itu pikiranku begitu penat memikirkan banyak hal, pelayan pribadi, pengawal pribadi, Shania, serta cara kembali ke kehidupan normalku. Tanpa pikir oanjang aku mengendarai jeep Moses dan memacunya dengan kencang menuju kemanapun jalan membawaku (tentu saja dengan Moses duduk di kursi penumpang). Aku mengemudi hingga berujung dengan aku mendengar suara ombak dan angin pantai yang perlahan mulai mendinginkan otakku.
Kami kembali setelah matahari tenggelam. Karena otakku sudah cukup dingin, tentu saja kukembalikan dengan senang hati tugas Moses. Menyetir.
Entah karena aku ini memang pembawa sial atau apa, hujan badai dengan angin kencanglangsung menerpa kami di tengah perjalanan pulang. Dan saking kuatnya sinyal kesialan diatas kepalaku, mesin jeep kami meletus dan mengeluarkan asap mengepul, mendamparkan kami di suatu tempat luas yang gelap.
Hebat!
Moses turun dan mengecek mesin. Dia berlari ke belakang kursi kemudi lalu mengambil kotak peralatannya. Kemudian berlari lagi ke depan, membuka kap mobil, menyalakan senter dan menggigitnya di mulut sementara kedua tangannya mulai mengutak-atik mesin.
Dan aku?
Tentu saja aku duduk tenang di kursi penumpang. Aku sedang dalam mood seorang putri. Jadi, membereskan kekacauan ini jelas bukan tugasku, meski itu adalah kesalahanku.
Walau otakku sudah cukup dingin, namun amarah itu tetap ada. Aku masih marah. Sangat marah. Pada semuanya. Ru-Ru utamanya. Bibi May. Shania. Rhojan. Ed. Moses. Si pangeran X. Rok pendek yang kupakai saat inu. Juga high-heels menyebalkan yang kulempar ke belakang kursi tadi.
Aku merogoh tasku, meraih ponsel, lalu mengumpat pelan. Sama sekali tidak ada sinyal di layar.
Memangnya aku sekarang ada di kutub apa?
Bisa-bisanya sinyal yang amat sangat kubutuhkan untuk memanggil tim SAR juga langsung mungkir dari peredaran.
Sempurna!
Aku melempar benda kitak kecil itu ke belakang. Sekarang apa yang harus kulakukan? Tentunya aku tidak ingin diriku terus terperangkap disini lebih lama.
Basah dan kedinginan.
Dan sangat ingun sekali ke kamar kecil. Apalagi kondisi Moses jauh lebih parah. Tentunya aku tidak mau sekejam itu padanya, meski dia agak menyebalkan juga.
Mataku mengembara ke sekeliling. Hanya gelap yang terlihat dan aku bahkan tidak tahu ada dimana. Di jalan, hutan atau ladang. Semuanya tampak kabur dan buram.
Aku melirik jam tangan. Hampir sembilan malam. Pastinya orang-orang istana sudah bingubg. Tapi, mau menghubungi mereka pakai apa? Sinyal saja tak ada. Kemampuan mekanik Moses, sangat diragukan.
Aku kembali memutar tubuhku dan menoleh ke belakang. Tetap gelap. Aku menggeram kesal. Mana hasrat buang air kecil semakin besar.
Kemudian aku melihatnya. Memang tidak begitu jelas, terlihat samar, tapi aku melihatnya disela-sela guyuran air hujan yang menutupi kaca belakang mobil. Sebuah cahaya. Dari dalam sebuah bangunan di bukit kecil belakang sana.
Aku meraih hendel mobil, menariknya pelan hingga terdengar bunyi klik dan pintu terbuka. Angun kencang disertai air langsung menerpa kakiku yang telanjang. Makin inginlah aku ke kamar kecil.
Aku menggigit bibir bawahku saat telapak kakiku menyentuh tanah yang sudah terendam air. Dingin. Seperti es.
Aku menoleh ketika Moses berteriak keras. "Aoa yabg anda lakukan, Yang Mulia?"
Telunjuk kiriku terangkat dan menunjuk-nunjuk cahaya diatas bukit.
Mata Moses mengikuti kemudian dagunya mengangguk. "Biar saya saja yang kesana, anda tunggu disini!"
Tunggu disini! Enak saja! Aku yang menemukan kok.
Aku menggeleng keras. "Aku juga ikut!" teriakku. Kemudian melangkah lagi, tak menghiraukan Moses. Dan aku tahu bahwa Moses juga tahu tentang ke-keras kepalaanku, dia laku meraih salah satu lenganku dan membimbingnya.
Kupikir bangunan itu dekat, ternyata cukup jauh, apalagi jika ditempuh dengan jalan kaki seperti yang kulakukan bersama Moses di saat badai.
Tapi, kelegaan langsung membanjiri begitu bangunan itu tampak jelas di depan mata serta berwujud.
Moses mengetuk pintu tiga kali sementara aku berdiri di sebelahnya sambil merapatkan kedua kakiku, berusaha mati-matian menahan hasrat buang air.
Pintu tersentak keras, dan disanalah berdiri, Rocky Smith dengan senapan laras panjangnya dan Sarah merapat di belakangnya dengan tongkat bisbol dibalik punggungnya.
"Kamar mandi!" seruku cepat dengan ekspresi wajah yang tak dapat kugambarkan. Antara menahan mati-matian dan segera ingin mengeluarkan cairan kimia itu dari tubuhku.
Ketiga wajah, termasuk Moses, menatapku terpana.
Mungkin karena ekspresi menderita di wajahku, Sarah kemudian menjentikkan satu ibu jarinya ke belakang. "Lurus, belok kanan."
Tak mengindahkan sopan santun lagi, aku setengah berlari menuju lokasi yang ditunjuk Sarah.
Yah, itulah awal pertemuan kami dengan keluarga Smith. Dan tidak perlu menunggu semenit, Rocky dan Sarah tahu siapa diriku dan Moses. Tentu saja, lagi-lagi dari seragam Men In Black nya Moses.
Apalagi kalau bukan itu?
Mulanya ada kekakuan diantara kami. Tapi, begitu Sarah tahu aku dari Kanada, sikap hormatnya langsung berubah drastis menjadi keakraban seperti yang terjadi antar teman. Apalagi, bagi Sarah aku adalah orang Kanada pertama yang ditemuinya, demikian pula denganku. Tentunya perasaan senasib karena terdampar di negeri antah berantah ini begitu kuat, dan segera melelehkan dinding status.
Rocky sendiri awalnya merasa tidak nyaman. Berkali-kali dia mengingatkan istrinya tentang siapa yang sedang berbicara dengannya. Dan Sarah, tentu saja menjadi Sarah. Tidak menggubris sama sekali perkataan suaminya. Hingga Rocky akhirnya menyerah, dia pada akhirnya juga memanggilku dengan 'Sonny. Meski sebelumnya, Rocky cukup curiga karena dia tahu nama putri negaranya adalah Shania bukannya Sonia.
Disitulah mulut ceplas-ceplosku bekerja. Kuceritakan semuanya dari awal hingga akhir, meski Moses berkali-kali mengingatkanku bahwa yang kuceritakan adalah rahasia negara. Yang sangat dijaga ketat. Top secret. Forbidden to be exposed.
Masa bodoh dengan rahasia negara. Masa bodoh dengan Ru-Ru. Masa bodoh dengan semuanya. Toh kurasa Rocky dan Sarah bukan tipe besar mulut.
Dan memang itulah kenyataannya. Sarah bahkan mengutuk keras si pangeran X dari Mhoran itu hingga membuat Rocky harus bertindak untuk menenangkan istrinya yang berapi-api.
Tuh kan, akhirnya aku punya satu set pendukung.
Rocky dan Sarah bahkan meminjami kami baju ganti dan memaksa kami untuk menginap karena badai sepertinya badai tidak kunjung reda. Setelah mandi air hangat dan mengganti pakaian basahku dengan jumper serta training Sarah, aku menelpon Ru-Ru.
Ru-Ru marah, sudah bisa ditebak. Tapi, kurasa bibi May, yang pastinya berdiri disebelahnya, berhasil menenangkannya. Karena tak lama nada suara Ru-Ru tidak setinggi sebelumnya.
Begitu aku memberi tahu lokasiku dan Moses berada, Ru-Ru nampak tenang. Rupanya dia tahu perkebunan anggur milij Rocky, karena istana selalu memesan wine dari sini. Dia juga berjanji akan mengirim tim SAR untuk kami dan mobil kami besok pagi.
Begitu bangub paginya, aku berkenalan dengan Mattew dan Merriel. Kedua mata Merr langsung membulat lebar begitu tahu ada seorang putri 'asli' tidur di rumahnya. Gadis cilik itu melompat-lompat girang dan tidak mau melepaskan pelukanku.
Sekitar pukul sembilan pagi, iring-iringan pasukan kerajaan tiba untuk menjemputku dan Moses. Merr baru melepas pelukanku setelah aku berjanji padanya akan mengunjunginya lagi besok. Dan memang itulah yang kulakukan keesokan harinya, hari berikutnya dan berikutnya. Tentunya setelah aku dan Moses keliling kota mencari jejak Shania yang tetap nihil hingga hari ini. Hari kelima aku di Rhojan.