Defeated

Defeated
Chapter 34



Berbeda sekali dengan pria bermata sebiru samudra itu. Dia nampak senang sekali dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan seolah tak perduli.


"Well, sepertinya kalian juga belum menceritakan padanya tentang Miranda."


"Kegan!" kali ini suara Ru-Ru yang menggelegar. "Jaga mulutmu!"


Pria bernama Kegan yang disebut Ru-Ru itu tertawa. Seolah tak perduli lagi pada tatapan mematikan Ru-Ru serta Cal.


"Lebih baik kau segera pergi dari sini, Kegan." lanjut Ru-Ru dengan suara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Kedua mata biru itu menatap Ru-Ru. Penuh tawa. Seolah merasa menang atas sesuatu. Lalu dia bergerak menatap kami. Lalu diriku. Membuatku merinding.


Dan ketika dua mata biru itu berhenti pada sosok Cal di sebelahku, mereka menyipit. Lalu senyum tipis ditarik ke atas oleh sudut-sudut bibirnya. Senyum yang penuh rencana licik di belakangnya.


"Ronan! Oliver!" panggil Cal. Dua pria di depanku itu langsung mengambil sikap siaga sebelum akhirnya melangkah maju. Bergerak mendekatu Kegan dan teman-temannya. Namun, Kegan langsung menghentikan keduanya.


"Kau tidak perlu repot-repot... Prince Cal. Aku tahh kemana harus pulang." Kegan tersenyum sejenak. Menikmati wajah tegang lawannya. "Tidak seperti dirimu."


Tidak seperti dirimu. Apa maksudnya itu?


Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, aku melihat Kegan melirik kedua temannya lalu melangkah menjauh, menuju pintu. Kemudian punggung mereka menghilang.


Penyebab ketegangan sudah tidak ada, tapi sepertinya udara berat itu masih tersisa di hall.


Sial! Aku benar-benar pihak paling bodoh disini. Karenanya, "Siapa Miranda?"


Wajah-wajah kini menatapku penuh terkejut. Tapu, tak seorangpun membuka suara.


Brengsek!


"Aku bertanya, SIAPA MIRANDA?!" suaraku meninggi.


Aku menatap Cak, menuntut jawaban. Tapi pria itu, dengan wajah kaku memandang Ru-Ru.


Ru-Ru lantas menghela napas. Menatapku dengan mata redup sambil berucap pelan, "Sebaiknya kau ikut ke galeri istana."


Ru-Ru lalu memunggungiku dan berjalan keluar hall diikuti Ed.


Bibi May dengan senyum dipaksakan mengulurkan tangannya padaku. Memintaku meraihnya. Dan aku melakukannya. Lalu, iringan kami mengikuti langkah Ru-Ru dan Ed. Aku juga mendengar beberapa langkah kaki di belakang. Tanpa menoleh pun, aku tahu itu langkah kaki Cal dan lainnya.


Kami memasuki ruangan galeri di lantai dua yang penuh dengan berbagai lukisan serta benda-benda seni lainnya. Ruangan ini memanjang seperti koridor lebar dengan langit-langit yang tinggi yang penuh dengan lukisan dinding yang menawan.


Sisi kanan dinding galeri terdapat lima kaca besar yang tinggi, dibingkai tirai beludru emas, yang langsung menghadap ke taman istana di luar.


Sementara dinding kirinya berisi penuh dengan lukisan beraneka ragam serta zaman. Beberapa patung dengan baju zirah juga tak luput mengisi ekosistem ini.


Beberapa guci cina dengan aneka rupa warna bunga-bunga taman turut mempercantik ruangan bercat pastel yang lapang ini.


Ru-Ru dan Ed berhenti di ujung galeri, dimana hanya ada satu lukisan besar tergantung disana yang anehnya ditutupi kain satin merah. Hanya ada lukisan itu. Tidak ada yang lain.


Aneh!


Ed kemudian menarik kain itu hingga meluncur jatuh. Kupikir kain itu berat, tapi setelah melihatnya jatuh, ternyata kain itu ringan.


Sebuah wajah. Terlukis dengan sikap aristokrat indah serta menawan. Duduk di sebuah kursi megah dengan tangan terlipat anggun di pangkuan.


Tanoa perlu bertanya, aku tahu wanita dalam lukisan itu adalah seorang bangsawan.


Dilirik dari gaya berbusananya serta tatanan rambutnya, aku tahu dia adalah bangsawan kuno.


Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Membentuk seulas senyum tipis. Kedua matanya berwarna hijau terang. Terlihat bercahaya serta hidup. Garis wajahnya yang lembut terbingkai sempurna oleh rambut bergelombangnya yang segelap warna tanah, yang digelung ke atas lalu ditutupi oleh sebuah mahkota bertaburkan berlian.


"Dia..." aku berbisik lirih. Namun, rupanya Ru-Ru mendengar. Karenanya, dia langsung menjawab.


"Miranda Angelique Rhojan."


Oh, begitu. Jadi si cantik ini yang bernama Miranda.


"Leluhurmu."


Hmm. Aku mengangguk-anggukkan kepala, mulai paham.


"Yang seharusnya menikah dengan pangeran William... dari Mhoran."


Hmm.


Eh?!


"Apa?" aku mendengar suaraku menggema di seantero galeri.


"Dan lebih memilih kawin lari dengan Amon." seru suara di belakangku. Yang tak lain adalah Cal.


Apa?!


"Itu masih belum bisa dibuktikan, Cal." Sahut Ru-Ru dengan sengit. "Bisa saja dia diculik laku dibunuh."


Cal tertawa. Namun terlihat mengerikan.


"Satu jam, Ruchi!" sahutnya tak kalah tajam. "Satu jam saja sebelum dia mengatakan 'bersedua' pada leluhurku, dia menghilang. Di hari yang sama ketika Amon juga tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi."


Tunggu dulu. "Siapa Amon ini?"


Ru-Ru menatapku sejenak. "Kau tadi sudah bertemu dengan Kegan kan?"


"Pria bermata biru itu" tebakku.


Ru-Ru mengangguj. "Amon adalah leluhurnya. Keturunan bangsa Celtic, yang lebih senang mengasingkan diri di dalam hutan daripada mengikuti perkembangan jaman."


Ah... itu menjelaskan tentang busur serta anak panah dan juga kesan penampilan primitifnya malam itu. Tidak heran.


Tapi, ada yang aneh.


Kulepaskan genggaman tangan bibi May lalu melangkah lebih dekat untuk melihat lukisan itu.


Aku menelngkab kepalaku ke kiri. Lalu ke kanan.


Dengan dahu mengerut, kutatap lamat-lamat lukisan itu.


Apa ya?!


"Tolong jangan katakan bahwa wajah wanita itu mirip dengan..." aku tidak sanggup mengakhiri kalimatku dengan '-ku' di belakangnya. Karena ini adalah sesuatu yang sangat mustahil. Kecuali kalau kami kembar. Tapi jarak usia kami... ratusan tahun!


Ru-Ru dan lainnya tidak menjawab. Hanya menatapku. Seklah mereka sudah jauh lebih tahu akan hal itu daripada aku. Dan itulah kenyataannya.


"Lebih tepatnya, anda yang mirip dengan Lady Miranda, Your Highness." terang Ed kemudian.


Yeah! Trims Ed atas penjelasannya. Aku menggerutu sambil melirik pak tua itu dengan wajah sebal.


Sekarang aku paham makna wajah-wajah terkejut mereka ketika melihatku untuk pertama kalinya. Para pelayan senior, Ru-Ru dan bibi May, Kegan, bahkan Cal.


Pantas saja mereka terkejut melihatku, karena seperti melihat orang mati yang baru saja bangkit dari kubur.


"Perubahan rencana, Ruchi." Aku yang masih belum pulih dari keterkejutan mendengar Cal berbicara. Dengan suara tegas dan lantang. "Pertunangan akan diselenggarakan di Mhoran."


"Apa?!" aku dan Ru-Ru menyahut bersamaan. Membuatku mengalihkan kedua mata dari lukisan Miranda pada pria dingin itu.


"Cal, kau tidak bisa..." Ru-Ru mencoba bicara tapi langsung dipotong oleh Cal dengan saklek.


"Aku tidak mau mengambil resiko lagi, Ruchi. Dengan adanya pengganggu seperti Kegan, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak ingin ada yang kedua, ketiga dan lainnya."


"Itu egois namanya!" teriakku tak kalah sengit. "Lagipula, kau sama sekali belum bisa menjawab pertanyaan dariku."


"Pertanyaan pertama," seru Cal sambil berjalan cepat ke arahku dengan muka menyeramkan. Membuatku mundur teratur. "Umur saat kau mendapat ciuman pertama adalah... 23 tahun."


Eh?!


"Tepatnya... sekarang."


Apa?!


Belum sempat aku bereaksi, Cal sudah berdiri di depanku. Meraih pinggangku dengan cepat. Menariknya merapat ke tubuh kokohnya. Menahannya dengan erat disana. Lalu ******* bibirku. Dengan paksa.


Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!


Aku meronta sekuat tenaga. Mendorong dengan kedua lengan tubuh sekeras baja yang mengapitku itu.


"Apa yang kau lakukan?" teriakku setelah bisa bernapas lagi.


"Pertanyaan kedua," dia tidak menggubrisku. "Apa tipe pria idamanmu?"


"Jawabnya, akan kupastikan bahwa akulah pria idamanmu. Bukan yang lain!"


Ugh! Aku langsung mengkerut ciut.


"Kegiatan favoritmu adalah..." Cal tersenyum sinis lalu berujar, "menentangku."


Apa?!


Dan Cal masih terus melanjutkan.


"Warna pakaian dalam kesukaanmu adalah hitam."


Aku membelalakkan mata, tak percaya.


Eh? Bagaimana dia bisa tahu?


"Dan ukuran dadamu..." Cal diam sejenak namun kedua matanya bergerak turun ke bawah dengan sinar penuh kenakalan.


Refleks, aku menyilangkan dua tangan di dada lalu mengambil langkah mundur dengan mata menyipit penuh waspada pada objek maha lancang di depanku itu.


Cal tersenyum melihat sikapku. Dia mendorong tubuhnya ke arahku, lalu berbisik di dekat telinga, "Cup B-34."


Aku membeku seketika. Kurang ajar!


Bagaimana dia tahu itu? Dia bukan cenayang kan?


"B-bagaimana kau..." Aku tidak sanggup melanjutkan pertanyaanku pada saat Cal menatap tajam padaku.


"Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, Sonny. Kita berangkat ke Mhoran besok pagi."


"Cedric!" teriaknya kemudian. "Persiapkan semuanya!"


"Baik, Yang Mulia."


Cal kemudian berlalu keluar dari ruang galeri, diikuti Cedric, Ronan dan Oliver. Meninggalkanku, Ru-ru, bibi May dan Ed yang masih tercenung pada apa yang barusan terjadi.


Brengsek! Bagaimana bisa jadi begini?


Aku menjambak rambutku kuat-kuat sambil terus mengulang pertanyaan yang sama.


Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?


"Aaaaarggh!" aku menjerit sekeras-kerasnya.


"Bawakan aku cenayang Ed!" seruku pada Edward yang langsung membentuk wajah bingung di depanku.


"I beg your pardon, Your Highness?"


"Bawakan aku cenayang untuk memanggil arwah Miranda!"


"Maksud anda, Yang Mulia?" kerutan kening Ed semakin dalam.


"Bawa kesini arwah Miranda! Aku mau protes!" teriakku uring-uringan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Haaaiiii.... Memira kembali membawa chaper baru πŸ˜†


Jangan lupa baca, like dan dikomen ya 😊 (dukungan kalian adalah penyemangat ☺️)


Pantengin terus kisah receh Sonny dan Cal 😁


Sampai ketemu di chapter berikutnya 😎


🌺🌺🌺🌺🌺