Defeated

Defeated
Chapter 6



Bagaimana mungkin aku tidak deg-degan bertemu dengan orang yang sedarah dengan ayahku serta istrinya. Atau kalau boleh dibilang, paman dan bibiku. Satu-satunya keluarga yang mungkin kupunya, mengingat diriku yang yatim piatu. Dan mereka adalah Raja dan Ratu!


Bisa kau bayangkan?!


Tinggal di istana dengan puluhan pelayan dan ratusan oengawal melayanimu, memakai gaun dari sutra serta tiara. Mau tak mau, aku membisikkan kata 'Wow!' terus menerus.


Tangan kanan Ed menyentuh halus punggubgku kemudian mendorongnya dengan lembut. Mungkin sudah geregetan dengan sikao diamku sejak tadi. Terlalu terpana dengan gantungan lampu kristal di langit-langit depan pintu masuk.


Aku berjalan seolah melayang. Terasa ringan dan aku seperti tidak merasakan apapun. Otakku membeku seketika, menyaksikan kemegahan lorong tinggi yang sedang kumasuki. Lampu-lampu kristal tergantung di sepanjanh lorong, menerangi dengan sinar putih serta oranyenya. Berukir di setiap sudut langit dengan beberapa lukisan dinsing serta beberapa lukisan indah yang dibingkai pigura tebak yang digantung rapi disepanjang dindingnya. Lantai marmer dibawahku diselinutu karpet merah tebak disepanjang jalan utamanya. Disisi kanan-kiri terdapat beberapa meja kayu berukir panjang dengan vas bunga diatasnya, berisi aneka bunga warna-warni yang wanginya menguar di segala sudut ruangan. Aku bisa mencium aroma mawar serta lili diantaranya.


Jalan yang kulewati mengarah ke sebuah aula besar nan megah dengan beberapa kursi besar berukir diatas sebuah mimbar yang luas. Yang akhirnya kusadari sebagai ruang tahta. Tapi Ed tidak membawaku kesana, melainkan belok kiri, ke sebuah ruangan lain yang lebih kecil dengan sofa putih panjang yang nampak empuk dan nyaman yang mengelilingi sebuah meja kaca bundar di tengahnya. Disekeliling dindingnya terdapat berbagai lukisan dengan beragam ukuran, besar-kecil, persegi-bundar, dengan menampilkan gambar pemandangan, bunga juga orang-orang yang tidak kukenal. Ditengah-tengah dinding utama terdapat perapian besar yang apinya menyala terang, memberikan kehangatan diseluruh ruangan. Beberapa pigura foto diletakkan dengan rapi diatasnya, beberapa lainnya diletakkan di beberapa meja baca yang ada disana.


Diseberang perapian adalah jendela-jendela ukuran raksasa dengan kaca-kaca tebak. Menyajikan pemandangan ribuan aliran air hujan yang membentuk tirai yang tak terputus. Kemudian ada tirai tebak warna coklat tua dan pastel, dengan bordiran benang emas di setiap tepiannya, dengan ketinggian lebih dari dua meter, ditata khusus hingga membentuk bingkai yang indah bagi jendela lebar tadi.


Tidak seperti saat masuk tadi, kali ini lantau marmer dibawahku fiselimutu karpet arab yang tebal dan empuk, warna coklat muda. Bersih. Sama sekali tak tercium aroma debu. Segala furniture-nya juga mengkilap. Hasil gosokan tiap hari pastinya.


Aku sedang mengamati sebuah lukisan bergambar seorang pria yang sedang menaiki kuda dengan seragambkebangsawanannya, juga sebuah pedang yang terselip di pinggang kirinya ketika Ed mengumumkan.


"Yang Mulia, hamba membawa putri Sonia."


Aku memutar tubuhku, manghadao pasangan suami istri itu. Raja Ruchi, yang merupakan adik kandung ayahku itu terlihat berwibawa dengan setelan santai sweatshirt warna gading dan celana hitan. Kedua tangannya terselip di masing-masing saku celana. Tanda usia tua sudah terlihat dari warna abu-abu rambutnya juga kerutan di wajahnya. Mata abu-abubya menatap tajam padaku, seperti mata ayahku, bibirnya sedikit terbuka dan aku bisa merasakan bahwa tubuhnya kaku. Disampingnya berdiri sang istri, yang dulu oernah ayahku katakan bernama 'Maya', atau aku biasa menyebutnya dengan 'Bibi May', meski tidak pernah kutemui sama sekali. Dia setinggi pundak suaminya. Mengenakan setelan gaun berwarna cream. Rambut coklatnya tergerai rapi di pundak. Salah satu tangannya merangkul lengan sang suami, sementara tangan lainnya menutupi mulutnya yang terbuka, dan sempat kudengar suara "Oh!" lirih dari bibirnya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan keduanya, yang jelas, begity aku membalikkan badan dan menatap keduanya, mata keduanya membelalak lebar seolah ingin meloncat keluar. Wajah mereka juga memucat.


Hm, mungkin aku diluar bayangan mereka, apalagi jika pakaian yang kukenakan saat inu terlihat erotis bagi mereka atau mungkin... dekil dan bau. Berbeda dengan mereka yang rapi dan wangi. Tapi, bujan salahku kan? Salahkan saja Ed yang tidak memberi kesempatan padaku untuk mandi, atau paling tidak mencuci muka.


Aku mengangguk dalam hati dengan mantap. Setidaknya aku punya alasan kuat jika meraka protes terhadap bau badanku.


Ed kemudian meninggalkan kami bertiga dan menutup pintu di belakangku.


Keheningan tercipta. Cukup lama hingga bibi May akhirnya memecahnya dengan gugup. "Bagaimana kalau kau duduk dulu, kau pasti lelah karena perjalanan yang panjang, aku akan meminta pelayan ---"


"Tidak perlu." Potongku cepat. Aku menyilangkan lengan di dada lalu menatap sama tajamnya Raja Ruchi menatapku. "Segera katakan pesannya! Biar aku bisa segera pergi dari sini!"


Bibi May menatap suaminya dengan wajah pucat.


"Sonia..." suaranya terdengar rendah dan dalam. "Aku tahu, aku sama sekali tidak berhak untuk mengatakan inu. Tapi demi rakyat, demi Rhojan... kami mengharapkan bantuanmu."


Dahiku mengernyit. Bingung. "Langsung ke poinnya, please!"


Raja Ruchi memandang sang istri dengan tegang. Aku melihat bibi May mengangguk pelan padanya. Kemudian dia pun melanjutkan, "Sebagau bentuk perdamaian antara Rhojan dan Mhoran, aku mengharapkan... kau bersedia untuk... menukah dengan pangeran kedua negara Mhoran."


Apa?!


"Apa?!" Aku mengedipkan mataku beberapa kali.


Sudah bisa diperkirakan bahwa kejadian berikutnya adalah perang.


Yap! WAR!


Tentu saja tidak menggunakan senjata. Tapi mulut.


"Apa kau sudah gila?!" bisa kudengar suaraku melebgkibg keras, bahkan sampai bergema. Dan aku meneriakkan kata-kata itu pada seirang Raja. Pemumpin tertinggi sebuah negara minarki. Aku tahu itu salah. Sangat salah. Menghujat presiden saja mendapat kurungan penjara bertahun-tahun bahkan mungkin seumur hidup. Apalagi ini seirang raja. Dan mengatainya 'gila'. Oh boy! hukumanku pasti melebihi penjara.


Tapi dalam kondisiku saat inu, aku tak perduli. Bagaimana mungkin paman yang baru kutemui untuk pertama kali tiba-tiba kata yang keluar dari mulutnya adalah menyuruhku menikah. Kalau bukan gila, aku harus menyebutnya apa?


"Kau membawa paksa diriku dari Kanada, yang berarti penculikan. Kemudian membiusku dengan obat tidur," aku melihat keterkejutan di matanya. Brengsek! Obat tidur itu berarti ide Ed. Tapi aku tidak perduli. Aku melanjutkan, "membawaku jauh ke negara antah berantah lalu dengan entengnya menyuruhku menikah dengan siapapun itu yang tidak kukenal. Oh... otakmu benar-benar sudah rusak, pak tua!" seruku.


Rahang Raja Ruchi mengeras. Bibirnya terkatup rapat.


"Kau... benar-benar seperti dia." Geramnya dengan penuh amarah.


Dia?! Siapa dia itu?!


"Perempuan itu..." bisiknya, ada kebencian disetiap nadanya. Dan aku baru memahami maksudnya setelah dia mengatakan kalimat pamungkasnya. "Outsider blood yang berhasil meracuni otak kakakku untuk melepas tahtanya. Meninggalkan Rhojan dan rakyatnya demi outsider blood yang hanya ---"


"Hentikan!" jeritku ketika semua petunjuk itu mengarah pada orang yang dekat denganku.


Ibuku.