Defeated

Defeated
Chapter 33



Cal benar-benar sudah keterlaluan. Aku harus bicara dengannya. Empat mata. Satu lawan satu. Menegaskan segala sesuatunya dari sekarang. Bahwa aku bukan tahanan!


Aku mengitari taman mawar kecil disamping hall pertemuan. Sengaja kupilih jalan agak memutar. Aku tidak ingin kepergok pengawal lainnya. Dan betapa beruntungnya diriku saat kulihat pintu balkon agak sedikit terbuka.


Bisa kulihat sekilas bayangan bibi May dan Ru-Ru disana. Keduanya berdiri berdampingan membelakangi balkon.


Bagus! Sekalian kuadukan semuanya pada Ru-Ru dan bibi May.


Kalau mau perang, perang sekalian sudah.


Tanpa pikir panjang kulompati pagar kecil yang membatasi tepi taman dengan lantai balkon lalu menerjang mendorong pintu hingga terbuka.


"Ru-Ru kau harus dengar ini! Kurasa Billy sudah gila dan aku harus membicarakan sesuatu dengan Cal, dia sudah kelewa... tan." Volume suaraku langsung mengecil begitu satu, dua, tiga, ... sepuluh pasang mata menatapku dengan ekspresi terkejut. Bahkan ada yang sampai membelalakkan mata, seolah-olah tak percaya. Itu kudapat dari tiga orang asing yang sedang berdiri di tengah-tengah hall.


Oops! Sepertinya aku sudah menginterupsi pembicaraan penting dan ... sangat sensitif.


Ini terbukti dari beratnya tekanan udara yang kurasakan di sekeliling ruangan hall. Membuatku merasa sesak seketika. Dan bukan hanya itu, masih ada wajah-wajah kaku serta tegang yang tersuguh di depanku.


Utamanya Cal.


Aku bisa melihat kilatan tidak suka di mata kelamnya. Bukan padaku, yang sudah secara tidak sopan menerjang masuk pada pertemuan ini. Tapi pada tiga orang tamu asing itu.


Ru-Ru berdiri kaku dengan kedua tangan terlipat di dada. Sementara bibi May berdiri di sebelahnya dengan wajah pucat.


Oke! Sekarang aku tahu aku datang di saat yang tidak tepat.


Aku sudah bersiap untuk memutar tubuh dan pergi dari ruangan ini saat mendengar bisikan aneh.


"... Miranda?"


Apa? Miranda? Siapa Miranda?


"Tutup mulutmu!"


Belum sempat aku menyuarakan tiga pertanyaan itu, Cal memotong cepat cepat, dengan suara tajam. Dan dari nada suaranya yang dalam dan terdengar seperti geraman menunjukkan bahwa Cal sama sekali tidak menyukainya. Atau sangat membencinya.


"Beraninya kau menyebut nama itu didepanku!"


Wow! Aku tidak tahu kalau Cal bisa bicara selantang itu. Sekarang aku tahu bahwa dia bisa melakukannya. Dengan mudah.


Dan yang paling mengerikan adalah suara Cal terdengar tidak main-main. Penuh tekanan dan ancaman.


Pria itu tersenyum mengejek. Pada Cal.


"Sepertinya kau kesal sekali?" desisnya. Ada nada berbeda yang diam-diam menusuk disana hingga membuat rahang Cal terkatup semakin rapat dengan wajah yang mengeras seperti batu granit.


Pria dengan tinggi setara Cal itu lalu menatapku dan tersenyum. Kali ini lebih ramah.


Dia tinggi. Badannya terbentuk sempurna seperti para superhero di film-film. Kulitnya berwarna coklat muda. Agak kontras dengan warna matanya yang sebiru samudra. Rambutnya pirang. Lebih cenderung ke pirang gelap dibandingkan dua temannya yang lain. Dan itu panjang sepunggung. Dan diikat kuda. Dia memakai hem serta jins dan sepatu boots. Seperti Rocky.


Masih dengan wajah terpananya, dia membisikkan sesuatu lagi. Dengan bahasa yang sama sekali tak kupahami.


Kedua alisku bertaut, membentuk kernyitan penuh tanya.


Tunggu dulu!


Sepertinya aku familier dengan bahasa tadi. Tapi, dimana aku pernah mendengarnya?


Film? Tidak! Aku langsung menggeleng.


Sepertinya, aku mendengar itu baru saja. Tapi dimana?


Kupaksa otak sangat sederhanaku untuk bekerja lebih keras lagi dalam mengingat.


Kebun anggur Rocky? Aku kembali menggeleng.


Bluebell? Shania? Mike? Moses? Ng...


Itu dia!


Aku mendengar bahasa alien itu saat Moses tergeletak dengan panah menancap di perutnya! Berarti...


Brengsek!


Aku menghentakkan kakiku ke lantai. Menuruni anak tangga cepat-cepat. Mendekati pria tinggi besar itu yang masih tersenyum padaku. "Kau!" kataku cepat diiringi kepalan tangan yang melayang lalu mendarat dengan suara "KRAK!" mengerikan di hidungnya.


Pekikan kecil penuh histeris bibi May memecah. Memberikan gaung yang terpantul ke setiap sudut hall.


Suara terkesiap dari beberapa rongga dada pun terdengar. Terkejut sekaligus tak percaya.


Pria itu hanya terhuyung ke belakang sedikit. Aku tahu, tonjokanku tadi tidak berarti apa-apa bagi tubuh raksasanya itu. Baginya, mungkin hanya sentuhan ringan. Tetap saja, aku ingin melakukannya demi Moses.


"Tenang, princess." Dia berujar dengan salah satu tangan memegangi batang hidungnya, sementara tangan lainnya terentang ke samping, menahan dua orang teman di belakangnya yang sepertinya siap melompat untuk menerjangku.


Tapi kemudian, Oliver dan Ronan sudah berdiri di depanku. Cal menarikku ke sisinya dengan Ced (Nama panggilan yang akhirnya kutemukan untuk Cedric) berdiri di sisiku lainnya.


"Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian malam itu. Itu hanya kecelakaan yang tidak disengaja." Dia mengakhiri kalimatnya. Namun dengan kedua mata yang tetap menatap penuh waspada pada pria di sampingku. Cal.


Sepertinya dia tidak terlalu perduli dengan Oliver dan Ronan. Ataupun Ced. Tapi, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih lanjut.


"Meminta maaf?" suaraku terdengar melengking.


"Sonny!" desis Cal. Memoeringatkan.


Aku mengacuhkannya. Tetap melanjutkan apa yang ada di dalam otakku saat ini, "Kau hampir melubangi perutnya. Dan dia hampir kehilangan nyawa. Dan kau hanya meminta maaf dan menganggap itu hanya kecelakaan?!" aku benar-benar tak percaya atas apa yang kudengar barusan.


Hebat! Sungguh hebat!


"Sonny!" desis Cal tidak sabar. Kali ini nada suaranya agak meninggi.


"Temanmu itu baik-baik saja, princess. Tidak ada kerusakan organ dalan. Dia telah sadar dan bahkan sudah bisa pulang minggu depan."


"Apa?" tanyaku bingung.


Bagaimana mungkin orang asing itu tahu keadaan Moses?


Dan dia menangkap kebingunganku dengan senyuman. Senyuman yang sama. Senyuman yang mengejek. Yang ditujukan bukan padaku. Tapi, lagi-lagi, pada Cal.


Dahiku semakin mengernyit lebih dalam.


"Sepertinya kau enggan sekali berbagi berita gembira ini, Pangeran Calhoun."


Aku menatap Cal. "Kau tahu?"


Cal tidak menjawab. Saat itulah aku tahu jawabannya. Dia tahu.


Dan dia dengan sengaja tidak memberitahuku tentang keadaan Moses.


Hebat! Semakin bagus saja drama ini.


Brengsek! Ada apa ini sebenarnya?


Apa aku satu-satunya orang ***** disini yang tidak tahu apa-apa?


"Ah, apel memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti sang leluhur, begitulah keturunannya. Kau benar-benar ingin memiliki seorang diri... duplikat Miranda."


"Tutup mulutmu!" aku mendengar Cal langsung membentak. Dan kebencian itu semakin tercetak jelas di wajahnya.


Duplikat?


Dahiku mengernyit. Semakin bingung.


Tapi, siapa Miranda?


Lagi-lagi pertanyaan itu terbentuk di benak. Dan kali ini aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menanyakannya, meski akhirnya kuketahui bahwa itu adalah sebuah kesalahan besar karena nama itu sepertinya sangat terlarang sekali untuk diucapkan. Karena begitu bibirku menyebut, "Siapa Miranda?", udara di dalam hall semakin berat dan lebih menyesakkan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Hai... Memira datang lagi membawa chapter baru πŸ€—


Semoga kalian senang saat membacanya 😁


Jangan lupa dukungannya ya berupa like serta komen, biar author amatir ini tahu siapa aja yang mampir ke karya picisan ini 🀭


Semoga sehat selalu 😊


🌺🌺🌺🌺🌺