
Sial! Sial! Sial!
Seharusnya aku langsung saja menuju air terjun dan berendam lama di sana. Pura-pura mati atau apalah.
Seharusnya aku tidak ikut berkumpul di area tim SAR mendarat. Tapi langsung ke pondok tempat kami menginap, menyepi dan semedi di sana. Selamanya kalau perlu.
Dan yang paling sialnya lagi, seharusnya aku tidak ikut pemanjatan ini. Namun, menelpon profesorku, lalu mengiba dengan berurai air mata, kalau perlu ke rumahnya lalu mencium kakinya, agar mencabut surat skors-ku dari universitas.
Luke sangat benar sekali. Seratus persen.
Orang-orang di heli tadi bukanlah tim SAR. Karena tim SAR tidak akan memakai suit lengkap dengan kemeja putih, jas, dadi dan celana hitam, serta kaca mata hitam yang keren sekali seperti dalam film Men in Black.
Dan yang super kerennya lagi, mereka membawa pistol. Sungguhan. Seperti yang ada di film-film Hollywood tentang detektif polisi yang berusaha menguak kasus pembunuhan atau mengejar bandar narkoba.
Aku bersumpah, aku melihatnya sekilas tadi. Terikat pasti di pinggang, tersembunyi dengan sempurna dibalik jas mereka.
Ada tiga orang yang sekarang berdiri di tepi landasan heli. Empat sih sebenarnya. Tapi, yang satu tetap duduk manis dibalik kemudi heli. Menjaga mesin tetap menyala. Mungkin supaya bisa langsung terbang begitu urusan disini selesai. Jadi, setelah menembak siapapun disini yang berurusan dengan mereka, bisa langsung kabur, tanpa perlu memanasi mesin dulu.
Oke, yang tadi cuma bercanda kok.
Yang jelas, siapapun yang ada disini, memiliki masalah sangat serius dengan mereka. Dan seperti kebanyakan pemanjat yang sedang berkerumun, aku saling berbisik satu sama lain. Mempertanyakan apa yang sedang terjadi.
Kerumunan kami terdiam ketika salah satu pria berkaca mata hitam keren itu mengangkat sebuah corong pengeras suara berwarna merah menyala.
Aneh.
Dan kelihatan lucu sekali.
Dia berdehem beberapa kali untuk mengetes suara yang keluar. Setelah yakin bisa terdengar oleh setiap telinga dari kerumunan didepannya, dia berbicara, "Kami mencari..." suaranya terputus. Dahinya berkerut, seolah berpikir keras.
Menyerah, akhirnya dia merogoh salah satu saku jasnya. Mengeluarkan secarik kertas kecil lalu mendekatkan kembali pengeras suara itu ke depan bibirnya sambil membaca tulisan di sana. "Kami mencari..." ada jeda sejenak sebelum dia meneruskan suaranya, "Sonia Kieve Guenevere Annastacy Rhojan."
Kerumunan disekelilingku langsung saling berbisik-bisik. Saling pandang satu sama lain. Menanyakan satu sama lain, siapa Sonia bla bla bla dan bla itu?
Berbeda dengan pemanjat lainnya yang memang notabene bukan dari universitas yang sama, mereka jelas-jelas tidak akan kenal siapa Sonia bla bla bla dan bla itu. Tapi, tidak bagi Donny dan Luke. Mereka memang tidak mengenal embel-embel dengan awalan G, A dan R itu, tapi mereka tahu siapa Sonia Kieve.
Yap! Itu aku.
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskanya kuat-kuat hingga terdengar seperti dengusan.
"Hanya. Sonia. Kieve." Nada suaraku penuh penekanan terhadap setiap kata yang meluncur dari bibirku tadi. Begitu dalam dan kelihatan seperti sentakan. Terus terang saja aku membenci sisa kata yang berawalan G, A, apalagi yang diawali R itu, seolah mendatangkan kesialan saja. Dan itu memang benar adanya. Buktinya adalah sekarang hal itu sedang terjadi.
Itu adalah kebodohan yang ku sesali setelahnya. Seharusnya aku diam saja, mengunci rapat mulutku lalu melambannya lapis tiga, pura-pura bodoh dan tidak tahu seperti lainnya. Karena setelah pernyataan itu, belasan mata menusuk diriku. Tak terkecuali mata Donny dan Luke yang semakin melebar.
Pria pembawa pengeras suara lantas berteriak lantang. Menyelamatkanku. "Lainnya! Bubar!"
Entah aku harus bersyukur atau apa yang jelas belasan wajah penuh rasa penasaran bergerak menjauh dari sekelilingku, menyediakan ruangan yang lebih lebar bagiku. Mungkin karena bentakan ala militer itu atau karena pria-pria itu membawa pistol di pinggangnya, yang pasti tidak sampai semenit, pemandangan di depanku menjadi lapang dan longgar. Kecuali Donny dan Luke tentu. Mereka tetap berdiri gagah di sampingku, sambil menyilangkan kedua lengan di dada., seperti bodyguard.
"Apa maksudnya ini Cat?" desis Donny dengan suara dalam. Ada nada tidak suka di sana. Tentu saja tidak suka. Bagaimana mungkin dia suka, jika gadis yang diincarnya untuk menjadi teman kencannya terlibat masalah dengan Men In Black yang berpistol.
Aku tahu Donny memiliki perasaan padaku. Orang buta saja tahu hal itu. Tidak perlu ilmu matematika atau fisika untuk memastikan bahwa pria yang memberikan perhatian padamu itu sedang menaruh rasa padamu. Reaksiku sendiri tentu saja, stay cool, babe!. Toh aku sendiri menikmati hubungan pertemanan kami dan Donny juga belum menyatakan padaku. Jadi, tentu saja aku masih singel. Dan aku menikmati ke-single-anku saat ini, serta belum berpikir untuk menjalani status baru, yaitu 'berpacaran' atau sebagai 'teman kencan'.
Kembali ke pertanyaan Donny, karena aku sendiri tidak tahu jawabannya, aku hanya mengangkat bahu.
"Maksud dari 'Lainnya' itu termasuk kalian berdua!" bentak pria berpengeras suara itu lagi dengan saklek. Penuh ancaman serta intimidasi yang tidak main-main. Perutku sendiri sampai mulas saat mendengarnya.
Tentu saja aku tidak mau peluru-peluru melubangi anggota tubuh teman-temanku, karenanya aku menyentuhkan masing-masing tanganku ke lengan Donny dan Luke. "Kalian bisa menungguku di pondok."
Wajah Luke menatapku. Terlihat kecewa. Karena berarti dia kehilangan kesempatan untuk tontonan yang menarik. Hal yang selalu menjadi hobinya.
Wajah Donny juga menatapku. Terlihat tidak suka. Sangat tidak suka sekali.
Aku menganggukkan daguku. Berusaha meyakinkan keduanya bahwa aku pasti baik-baik saja. Meski sebenarnya perasaanku tidak seyakin ekspresi wajahku.
Donny akhirnya mengalah setelah memberikan ultimatum. "Kita akan bicarakan ini nanti, Cat." Nada suaranya terdengar lembut, namun penuh ketajaman dibaliknya. Aku tahu itu, aku bisa merasakannya. Ujung jarinya membelai lembut pipiku sebelum akhirnya dia memutar tubuhnya, menjauh.
"Kau teriak saja, Cat, kalau butuh bantuan." bisik Luke di telingaku sambil melirik kearah pria-pria di depanku.
"Trims, Luke." Aku menepuk lengannya sebelum dia mengikuti jejak Donny.
Aku menghela nafas. Kini, hanya tinggal diriku sendiri.