
Kembali ke POV Sonia ya readers π€
Aku terbangun oleh rasa sakit di sekujur tubuh. Seluruh ototku rasanya kaku, utamanya di lengan kiri dan sisi kanan kepala.
Aku merasakan elusan lembut di lengan kananku. Aku menoleh dengan susah payah karena pergerakanku terhalang plester tebal di pelipis kanan kepalaku.
"Panggil dokter istana!" aku mendengar suara bibi May memerintah lalu kudengar langkah terburu-buru Naina.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya lalu tersenyum lembut.
"Kacau," jawabku jujur. "Lengket." Karena aku memang belum mandi. "Dan sangat butuh coklat panas." Aku benar-benar kelaparan sekali.
Bibi May tertawa, baru kali ini aku mendengarnya. Terdengar tidak begitu nyaring, namun juga tidak lirih. Tawa yang sangat elegan.
Kemudian dia meremas tangan kananku. "Kau boleh mandi setelah dokter memeriksamu," dia memberitahuku.
Dengan bantuan beberapa pelayan, bibi May menyusun banyak bantal untuk menyangga punggungku. Itu membuatku lebih nyaman. Dan beberapa menit kemudian, beberapa dokter masuk. Maksudku dengan beberaoa disini ini bukannya satu, dua atau tiga. Tapi sepuluh! Sepuluh dokter!
Aku rasa Ru-Ru sudah tidak waras.
Memanggil sepuluh dokter hanya untuk memeriksa luka jahitan kecil dan benturan di kepala? Itu gila namanya. Kalau aku mengalami patah tulang atau luka dalan, mungkin wajar, tapi ini...
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Selain itu, aku begitu lelah. Rasanya tidak ada energi untuk melakukan protes, secara fisik maupun verbal. Jadi, aku menurut saja ketika satu persatu para dokter itu memeriksaku secara bergantian.
Saat pemeriksaan itulah aku melihatnya.
Si Athilah Khan.
Bersandar di kusen pintu kamar sambil melipat lengannya di dada.
Rambutnya basah, habis mandi dan dia memakai jins biru dengan sweater turtle neck warna abu-abu yang lagi-lagi lengannya digulung hingga ke siku.
Harus kuakui, dia terlihat cool dan sexy. Juga ganas, dengan mata gelapnya yang berbahaya menatap tajam padaku.
Hal terakhir yang kuingat tentangnya adalah wajah menakutkannya ketika berusaha keras menahan amarahnya saat melihat luka di lenganku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu, lagipula luka ini juga bukan salahku. Kenapa dia harus marah hanya karena luka di lenganku? Toh, yang terluka itu aku bukan dia.
Yang kuingat setelahnya adalah rasa pusing yang luar biasa di kepalaku sebelum akhirnya aku pingsan. Dan disinilah aku berada. Dikelilingi sepuluh dokter seperti hewan percobaan. Dipegang disana-sini (di bagian seputar luka tentunya), dilihat disana-sini, dites ini-itu, berkali-kali. Dan setiap dokter melakukan hal yang sama, hingga aku bosan setengah mati.
Setelah pemeriksaan selesai, Naina menutup pintu kamarku. Didalamnya hanya ada bibi May dan para pelayan wanita.
Bahkan mereka tetap memegangiku meski aku sudah duduk aman di dalam bath-tub.
Apa yang ada di dalam otak mereka? Khawatir aku tenggelam? Atau ceroboh hingga terpeleset sabun mandi lalu menjatuhkan kepalaku ke lantai?
Halo?! Aku sudah 23 tahun!
Apapun itu, tetap saja aku tidak bisa protes. Disamping karena ternyata menyenangkan sekali dimanja seperti itu, ada bibi May, seorang ratu, yang terjun langsung menangani proses mandiku, seorang Sonny.
Mimpi apa aku semalam?
Setelah itu, Naina membawakan nampan sarapanku. Untuk pertama kalinya aku makan diatas kasur. Cukup menyenangkan juga. Selesai sarapan dan setelah para pelayan membereskan nampanku lalu mengundurkan diri satu persatu hingga hanya bibi May dan Naina yang tertinggal, aku mulai menceritakan peristiwa di Bluebell.
Selesai bercerita, aku menguap. Rupanya ada obat tidur di salah satu resep dokter itu. Dan aku dengan senang hati melakukannya.
Tidur.
Aku bangun tiga jam berikutnya. Naina yang membangunkan karena aku harus makan siang laku minum obat. Setelah itu aku tidur lagi, hingga Naina membangunkanku untuk mandi dan mengganti pakaianku kemudian makan malam (lagi-lagi diatas kasur) dan (lagi-lagi) meminum obatku.
Setelah dokter mengganti perbanku, aku kembali terlelap.
Kurasa saat itu tengah malam ketika aku melihat bayangan itu. Tinggi dan besar. Berdiri didekat pintu yang separuhnya terbuka. Cahaya dari lorong di luar kamar membentuk siluet gelap di depanku.
Bibi May kah? Ru-Ru? atau Naina?
Tapi apa yang mereka lakukan malam-malam begini?
Otakku tidak sanggup memproses lagi karena obat tidur yang kuminum bekerja sangat efektif sekali. Memberatkan kelopak mataku serta melemahkan sekujur sel sarafku.
Dan (lagi-lagi) aku terlelap.
πΈπΈπΈπΈπΈ
#Terima kasih buat teman-teman yang sudah baca π€
Dukung terus karyaku ini ya dengan love, like, komen penyemangat serta vote seikhlasnya π€
Sampai ketemu di episode selanjutnya π***