Defeated

Defeated
Chapter 19



🌸Selamat membaca readersku tercinta🌸


Aku merasa sudah mengemudi cukup lama ketika mendengar bunyi ponselku. Aku melirik ke sumber suara dan menemukan cahaya biru dibawah kakiku.


Kuulurkan tangan kiriku ke bawah sementara tangan kananku tetap di kemudi.


Ru-Ru menelpon. Terima kasih Tuhan.


Kutekan tombol aktif, dan suara gelegar amarah menusuk telingaku.


"Dimana kau sekarang?!"


"Ru-Ru," aku mulai terisak dan suara yang kukeluarkan serak, "Tolong!"


"Sonia! Apa yang terjadi?" kali ini suara Ru-Ru berubah tegang.


"Kami diserang suku primitif. Dengan anak panah. Moses terluka. Kaca mobil belakang rusak parah..."


Aku bisa mendengar Ru-Ru berteriak memotong suaraku, "Hubungi polisi kerajaan!" Tentu saja bukan padaku, tapi Ed pastinya. Dan aku juga mendengar keributan setelahnya.


"Dengar Sonia," suara Ru-Ru kembalj padaku. "Katakan dimana kau sekarang?"


"Aku tidak tahu! Lampu mobil pecah, aku tidak bisa melihat..."


"GPS! GPS!" potong Ru-Ru.


Sial! Seharusnya aku segera ingat benda mungil itu.


Aku melirik layar kecil tertanam di tengah dasbor. Benda kecil itu menunjukkan aku sedang melewati sebuah jalan lurus. Kutekan sebuah tombok sekenanya lalu muncul informasi yang kubutuhkan.


"Sonia!" seru Ru-Ru tidak sabar.


"Ng... aku kira-kira seratus lima puluh kilometer dari utara kerajaan." kataku sambil membaca.


"Demi Tuhan Sonia! Apa yang kau lakukan di tengah hutan malam-malam begini?!"


"Hei!" balasku membentak. "Tak bisakah paman mengomeliku setelah memanggil paramedis untuk Moses?! Ada yang sekarat disini!"


Aku mendengar Ru-Ru mendengus keras. Sepertinya dia amat sangat kesal sekali.


"Baiklah!" Ru-Ru akhirnya mengalah. "Kalau kau melihat mobil patroli kerajaan, dimanapun itu, bunyikan klakson, mereka akan mengawalmu menuju istana."


"Roger!" aku mematikan ponsel tanpa menunggu jawaban Ru-Ru lalu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.


Setengah jam kemudian aku melihat mobil patroli dengan lampu merah biru di atapnya. Segera kutekan klakson berkali-kali.


Seperti tersihir, mobil patroli itu menyalakan sirine dan lampu merah-birunya kemudian berjalan di depanku juga dengan kecepatan tinggi.


Kemudian beberapa mobil patroli lainnya muncul mengikutiku, dua diantaranya langsung mengambil posisi di samping kanan-kiriku, selebihnya mengekor di belakang.


Perasaanku semakin lega ketika kulihat keramaian lampu ibu kota di depan mata. Tangan kiriku terulur ke leher Moses. Dan semakin lega ketika kurasakan denyutnya masih disana.


Dengan pengawalan polisi, jalanan di depanku juga langsung bersih dan lengang. Orang-orang langsung menepi dan saling menatap kearah kami.


Aku kemudian menikuk tajam, melewati gerbang istana, sementara mobil patroli berhenti ditepi jalan diluar gerbang. Memblokir kami dari ratusan pasang mata yang penuh selidik, ingin tahu.


Aku melihat ambulans istana sudah bersiaga didekat kolam air mancur, beberapa pasukan istana juga memenuhi area di dekatnya dan bisa kulihat wajah tegang Ru-Ru dan bibi May diantaranya.


Aku menginjak rem mobil Rocky tepat didekat ambulans. Begitu berhenti, tangan-tangan paramedis langsung membuka pintu didekat Moses dan menarik hati-hati tubuh pria itu lalu meletakkannya di brankar kemudian memasukkannya kedalam ambulans. Dalam sekejap mata, roda-roda ambulans berputar cepat meninggalkan istana menuju rumah sakit dengan kawalan dua mobil polisi.


Sebuah tangan kokoh menarikku keluar dari kemudi kemudian mendekapku erat-erat. Aku menengadah dan melihat wajah pucat Ru-Ru.


"Kau baik-baik saja? Tidak terluka?"


Aku mengangguk pelan lalu menoleh kesamping, ke bibi May, yang lagi-lagi banjir air mata.


Bibirku meringis padanya. Kemudian dia menutupi punggungku dengan selimut tebal.


Ru-ru lantas membimbingku masuk istana. Salah satu lengannya mengelus-elus punggungku, memberi kehangatan.


"Demi Tuhan, Ruchi!" sela bibi May dengan mata melotot. "Tak bisakah kau bicarakan hal ini besok? Sonia butuh mandi air hangat dan baju kering!"


Oh, aku cinta sekali bibiku ini.


"Tidak, Maya! Aku ingin ini jelas saat ini juga!"


Meluhat sifat Ru-Ru, sudah kuduga hal ini yang akan keluar dari mulutnya.


"Sekarang jelaskan Sonia!" Ru-Ru berdiri sambil berkacak pinggang didepanku dengan sikap otoriter.


"Aku jalan-jalan, sekalian mencari tebing untuk dipanjat." Aku juga tak kalah arogan, berdiri sambil menyilangkan lengan di dada.


"Lantas, bagaimana bisa kau dan Moses ada di hutan utara?"


"Karena tebing itu ada di utara, Ru-Ru!" karena memang itulah kenyataannya, meskipun aku belum sempat mengunjunginya.


Mata Ru-Ru menyipit, curiga. "Bagaimana kau tahu ada tebing untuk dipanjat di utara?"


Untungnya aku sudah melakukan persiapan untuk pertanyaan ini. "Aku mendengarnya."


"Dimana kau mendengarnya?" mata Ru-Ru menyipit semakin tajam.


Aku tersenyum lebar penuh kemenangan mutlak. "www.theparadiseofrhojan.com"


Check mate!


Ru-Ru langsung diam. Aku bisa merasakan bibi May memalingkan wajah dan berusaha keras menahan senyum.


"Sekarang aku mau mandi, minum coklat hangat laku tidur."


Aku memutar tubuh sambil tersenyum manis. dan seketika, senyumku membeku.


Napasku mendadak berhenti dan tenggorokanku tercekat.


Nyawaku seolah langsung terhisap keluar.


Dia berdiri disana.


Tinggi menjulang.


Badannya besar. Lebih besar dari Rocky maupun Mike. Serta lebih tinggi dari keduanya.


Otot-otot tubuhnya terlihat keras, tercetak jelas dari lekuk bajunya.


Kulit kecoklatannya dibalut kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.


Dia memakai jins warna hitam, menyesuaikan kemejanya.


Rambut hitamnya yang tebal dipotong pendek ala militer.


Rahangnya begitu kokoh, menunjukkan keganasan.


Mata hitamnya berkilat, menatap tajam diriku. Ada keterkejutan disana, yang juga kurasakan dari pria tua di sebelahnya.


Kedua matanya berkedip beberapa kali, seolah memastikan penglihatannya, menggerakkan bulu matanya yang panjang dan tebal.


Well, kalau kau ingin melihat rupa dewa kematian, pria ini sudah mewakilinya. Atau, inilah rupa dewa kematian yang sesungguhnya. Hanya tinggal menambahkan parangnya saja.


Meski aku sudah bisa menduga tentang jati diri pria itu, mulut usilku ini tetap saja menyerocos, "Siapa... kau?"


Dan respon yang kuterima adalah kedua alis lebat yang terangkat tinggi.


#Terima kasih sudah mampir readers 😆


Jangan lupa like, komen positif, rate 5 juga vote jika berkenan 🤗


Sampai ketemu di chapter selanjutnya 😊