Defeated

Defeated
Chapter 32



Kami kembali ke istana sore harinya (kembali manaiki Archie tentu, yang sangat bersemangat sekali untuk berlari). Dan kali ini yang memegang kekang adalah Cal. Melewatkan jam makan siang yang sama sekali tak kusadari karena aku sama sekali tidak merasa lapar. Sama sekali.


Sepanjang jalan aku memilih diam. Atau lebih tepatnya, bergumul dengan berbagai kecamuk di otak. Merangkai dan menyusun frasa atau kalimat yang akan kusampaikan pada Donny dan Luke sebagai alasan atas menghilangnya diriku secara tiba-tiba.


Aku diculik!


Tidak! Aku langsung mencoret frasa itu dari otak. Bisa-bisa langsung geger sekampus. Apalagi Donny. Bisa-bisa dia langsung mengontak semua 'teman-temannya' untuk mencariku. Teman-teman di sesama pemanjat tebing sih tidak membuatku terlalu risau, tapi teman-temannya yang 'geng motor' itu lumayan menakutkan.


Kalau Luke sih lebih santai ketimbang Donny. Dia akan ke stasiun TV sambil membawa seluruh biodataku untuk didaftarkan pada bagian 'Orang hilang'. Pengumuman lewat stasiun TV lokak sih oke-oke saha, tapi kalau tarafnya sampai sekaliber nasional (mengingat Luke tidak suka yang biasa-biasa saja), lebih baik segera men-delete frasa d atas, seolah-olah aku belum pernah memikirkannya.


Aku dipaksa untuk menggantikan pertunangan sepupuku, yang ternyata adalah seorang putri raja dengan bangsawan brengsek dari Mhoran yang merebut joy stick-ku, membuatku langsung GAME OVER!


Tidak! Tidak!


Seribu kali 'tidak' untuk yang satu ini.


Terlalu panjang untuk kukatakan dalam satu tarikan napas. Dan aku yakin sekali bahwa suaraku akan sangat berantakan sekali ketika mengucapkannya. Jadi, tidak!


Selain itu, ada kata 'pertunangan' yang akan sangat sensitif sekali jika didengar oleh Donny. Aku tahu dia memiliki rasa padaku, meski belum mengungkapkannya. Kalau sampai dia mendengar kata itu, bisa-bisa pria itu langsung terbang ke Rhojan dan membuat kekisruhan lalu mengajakku pulang ke Kanada. Dengan paksa.


Tidak! Tidak! Aku menggeleng keras dalam hati. Cukup satu Athilah Khan saja yang harus kuhadapi. Aku tidak mau membarakan api yang sudah memanas di Rhojan.


Aku sekarang berada jauh dari Kanada. Ada urusan keluarga yang harus segera kubereskan.


Kurasa ini lebih baik. Tidak terlalu kentara, tapu menjelaskan fakta yang ada. Sekalian saja aku minta mereka untuk mengantarkan peralatan berkemah yang kutinggalkan di Wild Canyon ke apartemenku.


Ya, ya, itu bahkan lebih baik.


Akhirnya aku bisa bernapas lega.


"Kau mau melakukannya?"


Melakukannya?


Aku mengerutkan dahi. Baru menyadari kalau kami sudah tiba di pintu gerbang istana, dimana Billy dan antek-anteknya sudah menanti kami.


"Apa?" aku menoleh bingung.


"Memandikan Archibald," jelas Cal dengan mimik serius menunggu jawabanku.


Mataku ketap-ketip beberapa kali. Berusaha mencerna apa yang barusab dikatakan Cal.


Cak menggela napas panjang. Mencoba menjaga emosinya, kurasa.


"Sonny," katanya kemudian, "ada pertemuan yang menungguku sekarang juga. Bisakah kau membantuku memandikan Archibald?"


Aku?! Memandikan Archie?!


"Tentu." Aku tidak perlu berkedip ulang untuk menyetujuinya. Siapa yang tidak ingin mengelus kuda elok ini lebih lama? Aku tidak mungkin menolaknya.


Aneh. Cal nampak lega sekali setelah mendengar jawabanku.


"Billy akan mengantarmu," jelasnya sebelum dia turun dari pelana.


"Oke." Kupegang erat-erat tali kekang Archie saat tubuh kokohnya agak oleng oleh pergerakan Cal.


Cal kemudian menginstruksikan beberapa hal pada Deke dengan suara pelan. Bahkan aku sendiri hampir tidak bisa menangkapnya. Namun, yang jelas sekali kutangkap adalah ekspresi tegang Cal dan Deke.


Setelah Deke berlalu, Cal melirik Billy lalu menggerakkan dagunya perlahan. Ada kontak mata yang tak terbaca disana. Penuh rahasia. Penuh misteri. Seolah tidak ingin aku mengetahuinya.


"Your Majesty," kata Billy padaku dengan gerakan tubuh penuh penghormatan. Dia kemudian mengambik alih tali kekang. Menarik Archie dari bawah sementara aku duduk tenang di pelana.


Aku memutar kepalaku ke belakang sebentar dan mendapati Cak menaiki mini car bersama Oliver dan Ronan. Mobil kecil itu lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju pintu utama istana.


*****


Satu jam kemudian


"Selesai!" teriakku lega setelah menggosok tubuh Archie dengan sikat lalu memandikannya serta mengeringkannya.


Sekarang Archie sudah bersih dan wangi dan sangat lahap sekali menyantap makan malamnya.


"Saya rasa... kakinya masih agak kotor, Yang Mulia," seru sebuah suara di belakang.


"Sudah, Billy," jawabku putus asa. "Aku sudah membersihkannya. Bahkan tiga kali! TIGA KALI!" seruku sambil mengacungkan tiga jari tanganku ke depan batang hidung Billy.


"Bagaimana dengan surai dan ekornya?"


Aku lantas berkacak pinggang dengan mata melotot di hadapan Billy. "Ada apa denganmu, Billy?" tanyaku heran.


"Tidak, Yang Mulia. Hanya ingin memastikan saja bahwa..."


"Dengar Billy!" sergahku cepat. "Aku sudah membersihkan semua badan Archie sesuai petunjuk pengurus kandang. Bahkan aku sudah menyikat surai dan ekornya dengan hati-hati, mengingat Archie adalah kuda kerajaan kesayangan bangsawan menyebalkan yang menjadi tuanmu itu!"


"Sekarang aku lelah, Billy," kataku lalu mulai berjalan menjauh dari kandang, menuju pintu samping yang menghubungkan dapur kerajaan dengan ruang utama istana. "Aku mau mandi dan mengganti bajuku yang sudah basah ini." Aku melirik agak jijik daerah lembab bajuku yang terkena cipratan air mandi Archie.


"Eh, tapi... apa anda tidak ingin berjalan-jalan? Mungkin ada tempat yang ingin anda kunjungi?" tanya Billy dengan suara gagap. Bingung dan sepertinya kelabakan.


Kerutan di dahiku semakin dalam. Merasa aneh sekali dengan tingkah Billy.


Hm, menarik untuk di tindak lanjuti.


Aku tersenyum saat sebuah rencana kecil untuk Billy mampir di otakku.


Apa?! Kau pikir aku bisa dibodohi begitu saja?


Lihat saja!


Aku melanjutkan langkah. Bisa kurasakan kegelisahan Billy di belakangku.


Aku melewati sebuah lorong yang berakhir pada sebuah ruangan besar dan luas dengan beragam peralatan memasak. Beberapa juru masak disibukkan oleh panci dan penggorengan yang mendesis.


Beberapa pelayan berjalan dengan langkah terburu-buru, membawa perlengkapan untuk persiapan makan malam dua jam ke depan.


Entah karena makan malam adalah sesuatu yang sakral atau memang itulah kebiasaan para pegawai dapur istana, mereka sama sekali tidak menyadari diriku yang berjalan santai melewati koridor. Seolah aku ini adalah hantu tembus pandang.


Aku melirik ke belakang dengan ekor mataku. Menangkap Billy dengan wajah cemas serta gerakan tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan.


Apa yang terjadi?


Aku harus segera mencari tahu.


Setelah melewati koridor aku berbelok menuju kamar, lalu ke kamar mandi. Menunggu sejenak di depan wastafel dari marmer yang selalu membuatku was-was setiap kali akan menggunakannya.


Aku selalu takut kedua tanganku ini akan menyebabkan kerusakan pada benda mahal itu.


Aku tahu Billy ada di luar sana. Berjaga sepertu biasa.


Aku menghitung hingga enam puluh detik. Kurasa itu waktu yang cukup untuk menunggu. Aku lalu keluar dengan alis bertaut.


"Tolong jangan katakan bahwa kran wastafel itu rusak?" kataku pada Billy sambil menunjuk benda tak bernyawa berwarna keperakan itu dengan wajah putus asa. Yang kubuat-buat.


"Hamba akan memeriksanya, Yang Mulia." Tanpa pikir panjang, Billy masuk ke kamar mandi dan menghampiri benda keperakan yang kumaksud.


Senyum kemenangan seperti iblis tersungging di bibirku saat aku dengan leluasa menarik daun pintu lalu memutar kunci hingga terdengar bunyi 'klik'.


"Yang Mulia!" teriak Billy dengan suara panik. "Apa yang anda lakukan?" diketuknya berkali-kali pintu kamar mandi di depannya dengan gusar.


"Apa itu Billy?" aku balik bertanya. Menuntut penjelasan saat ini juga. Seketika Billy diam namun aku masih bisa merasakan kecemasannya.


Billy tetap bungkam.


"Oke." Tidak apa-apa. "Aku akan menanyakan sendiri pada Cal," putusku.


"Jangan!" teriak Billy dari balik pintu dengan putus asa. "Anda dilarang Yang Mulia pergi ke hall pertemuan!" seolah tersengat, seketika Billy membungkam mulutnya. Dari situ, aku tahu bahwa aku sudah menemukan jawabannya.


"Terima kasih, Billy." Aku memutar badan lalu melangkah keluar kamar menuju hall pertemuan. Tak kuhiraukan teriakan Billy. Seseorang pasti akan segera mendengarnya dan menyelamatkannya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Akhirnya bisa up lagi 😁


Mohon supportnya berupa like dan komen ya


Terima kasih πŸ€—