Defeated

Defeated
Chapter 14



Bluebell


Keesokan paginya, Sherlock dan Watson (aku dan Moses maksudnya) meluncur pagi-pagi sekali setelah subuh, siap melempar misil dadakan bagi Mike dan... Shania, kalau ternyata dia memang ada disana.


Kami tiba di kota yang bernama Bluebekk setelah menghabiskan lima kantong snack, dua bungkus biskuit coklat, satu botol besar minuman soda serta dua botol sedang air mineral.


Juga setelah aku berkelana di dunia mimpi selama tiga jam.


Aku dan Moses tiba dengan selamat di kampung halaman Mike.


Kota Bluebell adalah sebuah kota pelabuhan kecil yang terletak di tepi laut.


Hari ini cuacanya berangin dan agak mendung, jadi tidak terlalu panas. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang.


Moses memberhentikan mobil kami di sebuah sudut jalan. Kami makan sandwich dan coklat panas yang sudah disiapkan bibi May dan Naina di kotak piknik.


Sengaja kami membawa makanan dari ibu kota karena kami tidak ingin mampir di restoran maupun cafe apapun du Bluebell dengan resiko ketahuan Mike atau Shania.


Kota ini terlalu kecil, apapun bisa terjadi.


Kami juga sengaja tidak menggunakan kendaraan istana. Tapi, kami meminjam jeep milik Rocky. Dan untuk pertama kalinya, terima kasih Tuhan, Moses mau melepas seragam bertugasnya dan menggantinya dengan jins serta hem juga sepatu boots sepertiku.


Moses mengamati kita di bawah kami (posisi mobil kami diatas bukit, kira-kira lima puluh meter sebelun jalan utama masuk kota) dengan binocularnya sambil mengybyah sandwich.


"Anda siap?" tanyanya setelah meletakkan kembali binocularnya, kemudian memasang pistol di pinggang.


Aku tahu aku gugup tapi aku tetap mengangguk.


Moses kemudian menyalakan mesin. Mobil kami melewati tikungan menurun yang berkelok. Hingga akhirnya melalui sebuah papan kayu bertuliskan 'Selamat Datang di Bluebell'.


Lima belas menit kemudian, Moses menghentikan mobil kami.


Lokasi kami saat ini kira-kira sepuluh meter dari rumah ibu Mike.


Aku turun dari mobil setelah mendengar instruksi singkat Moses tentang posisi rumah serta langkah-langkah yang harus kuambil jika kejadian tak terduga terjadi. Sesuai kesepakatan bersama, yang kupaksakan tentu saja (ha... ha... ha...).


Sementara Moses, tinggal di mobil. Dan mengawasi dari jauh.


Aku berjalan pelan menuju sebuah rumah mungil bercat pastel dengan halaman penyh bunga didepannya serta belasan jemuran di sampingnya.


Aku berusaha setenang mungkin meski sebenarnya jantungku berdentun keras.


Aku membuka pelan pagar kayu yang dicat putih lalu melirik ke arah jemuran. Sama sekali tidak terlihat aktivitas disana.


Aku bergerak menuju pintu yang dicat warna pastel jingga, kontras sekali dengan temboknya yang berwarna kuning pastel.


Aku mengetuk pelan. Sekali, dua kali, tiga kali, ketika terdengar suara sahutan dari dalam.


Suara gadis muda.


Darahku berdesir kencang.


Mungkinkah?


Pintu terayun terbuka dan sebuah senyuman ramah menyambutku. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Shania.


Aku membeku.


Seolah aku melihat duplikat bibi May. Lembut serta anggun dengan gaun bunga-bunganya. Meski ada unsur Ru-Ru juga di matanya.


Rambutnya panjang sepunggung dan bergelombang serta terlihat halus. Jemarinya lentik dan terawat, tidak sepertiku. Sikap berdirinya tertata dan sempurna seperti seorang putri.


Yah, memang dia seorang putri.


"Ya?" tanya Shania kembali.


Aku tersenyum. "Hallo Shania, aku sepupumu, Sonia."


Seperti tersengat listrik, Shania memucat. Dia mematung sambil meremas kedua tangannya hingga memutih. Belum sempat aku atau Shania bereaksi, aku mendengar bunyi 'klik' di belakang kepalaku dan cengkraman tangan kuat di salah satu bahuku.


"Masuk!" gertak sebuah suara kasar. Tangan kokoh itu mendorong paksa punggungku, membuatku maju ke depan.


"Mike, dia..." bisik Shania, namun pria bernama Mike ini langsung memotongnya dengan kasar. "Masuk ke dalam Shania!"


Mengerikan.


Suara Mike benar-benar menakutkan. Aku tidak perlu melihat wajahnya, dari suaranya saja aku sudah busa menduga.


Aku memejamkan mata penuh pasrah ketika kudengar bunyi 'klik' lainnya.


"Mengangkat senjata pada Her Highness melanggar peraturan kerajaan dan penjara seumur hidup hukumannya, Michael Chadwick!"


Aku menghembuskan nafas lega begitu mendengar suara Moses. Adrenalin yang semula naik drastis, perlahan turun dan kembali tenang. Aku perlahan memutar tubuh dan mulutku langsung menganga melihat penampilan Mike.


Hanya memakai celana jins biru tua dengan dada telanjang memperlihatkan otot bisepnya yang membentuk six peck.


Wow! Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata.


Kedua otot lengannya terlihat keras dan kokoh ditambah garis wajah yang keras dengan brewok tipis di seputar tulang pipi, menambah garang penampilan. Rambutnya seperti warna madu dan dia hampir sama tingginya dengan Mises. Bahkan mungkin lebih tinggi, seperti Rocky.


Shania berlari ke samping Mike. Kedua tangannya meraih lengan Mike yang memegang pistol kemudian menariknya turun sambil berucap, "Dia Sonia, Mike. Sepupuku."


Aku bisa melihat kilatan keterkejutan di kedua mata coklat Mike.


"Menculik, membawa paksa atau membantu bangsawan melarikan diri, juga berat hukumannya, Mike. Penjara seumur hidup atau... mati."


Mike segera mengambil posisi siaga dengan menarik Shania merapat kepadanya.


Oh, tidak.


Tidak.Tidak.Tidak.


Ini tidak bagus.


Mataku mendelik tajam ke arah Moses. "Moses!" bentakku.


"Sebelum kau membicarakan masalah hukuman, bagaimana kalau kau memberiku waktu untuk memeluk sepupu yang selama dua puluh tiga tahun ini tidak pernah kuketahui dan kutemui. Sementara itu, kau bisa mengambil mobil kita dan memastikan bahwa tidak ada pasukan atau mata-mata kerajaan yang mengikuti acara menyelinap kita dari istana yang bisa mengirim kita ke penjara!"


Terkesiap, Moses menurunkan senjatanya. "Baik, Yang Mulia." Dan dia segera menghilang dari balik pintu.


Jangan lupa jempol, komen, bintang 5 serta vote-nya 😆


Matur thank you sudah membaca, readers tercinta 🤗