
Aku bergerak ke sebuah gundukan batu tidak jauh dari sana. Menurunkan ranselku lalu duduk dan meraih botol mineral. "Apa aku mengenal kalian?" tanyaku.
"Tidak," jawab pria yang berdiri ditengah, yang setelah kuamati lebih jelas, terlihat kebih tua dari lainnya karena warna rambutnya serta kerutan di wajahnya. Dan dia tidak memakai kaca mata hitam tentu saja, tapi kaca mata baca milik orang lanjut usia. "Tapi kami tahu tentang anda... Yang Mulia."
Air yang kuminum tersedak keluar lagi dari mulutku. Pertama, karena orang di depanku ini tahu tentangku. Jika didengar dari suaranya yang tenang dan penuh percaya diri itu, maksudnya dengan tahu tentabgku adalah tahu... 'segalanya' tentangku.
Oh man! Aku benar-benar dalam masalah serius.
Kedua, karena dia memanggilku dengan sebytan yang sangat asing di telingaku. Yang Mulia?! Dia baru saja memanggilku dengan Yang Mulia?!
Yang benar saja!
Kakau gadis lainnya mungkin akan gembira, jejingkrakan, bahkan berguling-guling di tanah. Bahkan berurai air mata atau pingsan bahkan mungkin... mati (dalam artian kena serangan jantung).
Aku?!
Never thought 'bout it at all! Sama sekali!
Kalau teman-teman perempuanku lainnya ketika di taman kanak-kanak akan menjawab, "Menjadi putri Aurora", "Menjadi putri Belle", "Menjadi Cibderella", dan putri D, E sampai Z lainnya, ketika ditanya, "Apa cita-citamu?" oleh guru taman kanak-kanak, "Menjadu pemanjat pohon terbaik dunia!" adalah jawabanku.
Kalau teman perempuanku bermain rumah-rumahan atau putri-putrian di jam istirahat, aku lebih memilih ke tempat dimana aku bisa bergelantungan dengan segala posisi atau ke arena pasir, membangun benteng dan berikade kemudian menembaki teman lelakiku dengan water gun yang sudah kuisi dengan cat air warna merah atau biru, sampai ibu kepala sekolah memanggilku untuk menghadapnya, kemudian menelpon orang tuaku.
Sambil terbatuk-batuk, aku menyeka sisa air di mulut. Kumasukkan kembali botolku lalu menarik ransel dan menyandangnya. "Maaf, kurasa kau bertemu orang yang salah." Sebisa nya aku ingin hengkang dari sini. Sesegera mungkin. Andai punya bubuk menghilangnya Harry Potter, akan kupakai sejak tadi, sambil menyebutkan tujuanku. Planet Mars. Dan tidak kembali lagi ke bumi.
"Hamba membawa pesan dari Yang Mukia Raja Rhojan."
"Tak kenak. Tak perduli dan tak ingin tahu." Aku tersenyum manis, penuh pura-pura, yang memang sengaja kutunjukkan. "Terima kasih sudah repot-repot datang kemari."
Aku mulai menapaki kakiku tiga langkah ketika pria tua itu kembali bersuara. "Raja Ruchi Alexander Rhojan, adik kandung ayah anda, Pangeran Kieve Alexander Rhojan, putra mahkota dinasti Rhojan yang seharusnya menjadi raja saat ini namun melepas tahtanya demi kawin lari bersama Arabella Manson, seorang fotografer lepas."
Aku memutar kepala, menyipitkan kedua mataku padanya.
"Kurasa sekarang anda sudah mengenal dan mengetahuinya." Dia tersenyum. Senyuman yang kuartikan penuh racun serta kelicikan.
Aku benci pria ini!
Karena ingin segera mengajhiri permainan ini, aku memutar kembali tubuhku. Menyilangkan lengan di dada, mengangkat dagu, dan menatap penuh angkuh padanya. "Cepat katakan pesannya!" bentakku.
Dia kembali tersenyum. Tapi aku tahu ada sesuatu yang licik di sana. "Anda harus ikut hamba ke Rhojan, karena Raja Ruchi sendiri yang akan menyampaikan pesan tersebut."
Tuh kan! Pasti ada apa-apanya.
In your dream, old man!
"Sayang sekali kalau begitu, aku sudah ada janji." Mandi di air terjun lalu membangun tenda dibawah taburan bintang dan tidur di sana. Lebih kepada janji pada diriku sendiri sih. Bukan kencan atau nongkrong bareng teman. Meskipun begitu, namanya janji tetap janji kan?
Aku melangkah kembali. Kali ini benar-benar tanpa menoleh lagi. Cukup sudah urusanku dengan mereka hari ini.
"Wah, kalau begitu, hamba mohon maaf karena harus melakukan ini."
Dahiku berkerut. Melakukan ini? Apa maksudnya dengan 'ini'?
Aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui jawaban dari kata 'ini' itu. Sebuah tangan kokoh merangkum mulutku tiba-tiba dari belakang. Dan diantara tangan itu dan mulutku terselip secarik kain yang berbau sangat menyengat. Yang baru kuketahui sedetik sebelum aku hilang kesadaran.
Obat tidur.
Aku merasakan tubuhku menjadi ringan. Kemudian beberapa lengan kokih menahannya. Setelah itu...
BLAR! Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
#Yang mau kelanjutannya, jangan lupa Like dan komen serta vote ya ^^ biar tambah semangat nulisnya 😉