Defeated

Defeated
Chapter 24



Siang itu, aku sedang malas-malasan (apalagi yang bisa kulakukan? Kalau kau dilarang pergi kemanapun), di sebuah sofa empuk di ruang kerja yang terletak disebelah kamarku, sambil main video game.


Judulnya Kingdoms of Warriors.


Ceritanya tentang mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya, membangun kerajaan, kemudian menghancurkan kerajaan lain dan mendudukinya.


Karakterku adalah seorang assassin dengan pakaian ninja seksi serta suriken dan pedang samurai. Dan dia mempunyai kuda putih, namanya Coco.


Aneh?! Memangnya ada ya ninja naik kuda?! Yah, apapun itu. Dan dia kuberi nama, Sonny. Tentu saja, karena Sonny adalah nama terkeren di dunia. Yay!


Sonny (karakterku) sudah berhasil mengumpulkan pasukan dan membangun kerajaan yang kuberi nama Kingdom of Sonia. Tentu saja karena Sonia adalah nama terkeren sedunia setelah Sonny.


Dan sekarang, aku dan Sonny bersiap untuk melakukan penyerangan ke musuh bebuyutan kami, Athilah Khan. Aku tidak mengetik ulang untuk nama yang satu ini, karena sudah ada sendiri di dalam game-nya.


Aku sedang dalam pengembaraanku menuju markas musuh bebuyutanku, ketika kudengar pintu ruangan ini terbuka. Kemudian kudengar Naina memberi hormat dan beberapa langkah kaki berhenti dibelakang sofaku.


Aku tidak menghentikan permainanku ataupun menoleh, tapi terus berkonsentrasi memacu kudaku sambil mengulum lolipop khusus dari toko permen terbaik di Rhojan yang dipesan bibi May khusus untukku.


Sengaja kulakukan karena aku tahu si Athilah Khan ada juga di ruangan ini.


Mood-ku lagi malas sekali untuk melihatnya.


"Sonia," aku mendengar suara Ru-Ru.


"Hmm." Aku kemudian memacu Coco melewati sebuah jembatan kemudian mendaki sebuah bukit. Lalu menuruni lembah dan masuk hutan.


"Sonia, sayang." Bibi May meremas lembut kedua bahuku. "Ini detektif Collin dan timnya."


"Yang Mulia." Aku mendengar mereka memberi penghormatan.


"Hai!" seruku malas, tanpa menoleh sedikitpun. Aku memacu Coco melewati dua buah pilar penanda bahwa aku memasuki wilayah kekuasaan Athilah Khan.


Akhirnya.


"Sayang," bibi May melanjutkan. "Mereka ingin menanyakan beberapa hal padamu."


"Tentang?" tanyaku, masih tetap cuek.


"Sebaiknya kau hentikan dulu permainan itu, Sonia." Ru-Ru mulai tidak sabar.


"Ehm-hm..." aku menggeleng. "Aku sedang dalam medan perang penting. Aku harus membunuh si Athilah Khan, sebelum dia merebut kerajaanku. Tak bisakah tanya jawabnya dilakukan besok, detektif Collin? Aku sibuk sekali sekarang."


Aku bisa mendengar beberapa gelak tawa kecil di belakang dari beberapa pelayan. Dan aku juga melihat Athilah Khan a.k. Cal, melempar pandangannya ke tembok dan tersenyum diam-diam.


"Sekarang!" bentak Ru-Ru.


"Oke! Oke!" jawabku masih terus memacu Coco menuju kastil si Athilah Khan. "Pertanyaan pertama, detektif Collin?"


Pria tinggi dengan coat hitam panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu tertegun sejenak kemudian mulai membuka buku catatan kecilnya.


Dia berdehem dulu sebelum menyebut pertanyaan pertama.


"Bagaimana awal kejadiannya?"


Aku menceritakan semuanya, kecuali bagian tentang Shania tentu.


Terompet tanda musuh sudah didepan mata berbunyi. Pasukanku dan pasukan si Athilah Khan berdiri berhadap-hadapan, siap saling serang. Saat aku siap akan menekan tombol start, sebuah tangan tangkas merebut joy-stickku.


"Hei!" protesku pada pemilik tangan lebar itu, yang tak lain adalah Cal.


"Jawab dulu pertanyaan Collin!" lalu dia menjatuhkan diri di sebuah arm chair di dekat sofaku.


Mataku menyipit penuh sebal. Tapi, tahu aku tidak akan bisa merebut joy-stick itu, aku memutar posisi dudukku dan menghadap detektif Collin sambil memegangi lolipop.


"Apa anda mengenal mereka?" tanya detektif Collin setelah berdehem beberapa kali, berusaha menyembunyikan senyumnya. Aku tidak tahu apa yang lucu? Tidak tahukah dia bahwa aku sedang sebal, bukannya melucu?


"Aku tidak sempat bilang hai dan menanyakan nama mereka, "jawabku sekenanya. "Jadi aku tidak kenal."


Detektif Collin lagi-lagi tersenyum. Entah apa sih yang lucu.


"Apa anda bisa menggambarkan bagaimana mereka?"


Kalau pertanyaan ini, aku sangat bisa menjawabnya. "Mereka seksi."


Detektif Collin terbatuk. "Maaf?"


"Sonia!" bentak Ru-Ru tidak suka.


"Apa?" tantangku. "Aku punya mata normal, jadi wajar saja kan kalau ada pria bertelanjang dada kusebut seksi."


Ru-Ru menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memilih menjauh. Dia memilih mengangkat tangan dan menyerah, daripada otot-ototan lebih lama denganku.


"Maksud saya... gambaran lebih spesifik mungkin?" tanya detektif Collin hati-hati.


Aku mengerutkab kening, mencoba mengingat. "Tubuh mereka bagus. Rambut mereka panjang, sebagiannya dikepang. Mereka hanya memakai celana yang kutahu bukan jins. Mereka mengecat seluruh wajah dan tubuhnya seperti suku primitif. Mereka membawa busur dan panah serta belati yang disarungkan di pinggang. Mereka berbicara bahasa planet yang tak kumengerti. Dan mereka sedikit aneh..."


"Aneh?" ulang detektif Collin.


Aku mengangguk lalu melepas lolipopku. Mataku menatap ke bawah, seolah disana ada rekaman peristiwa itu dan aku sedang menontonnya kembali.


"Ketika melihatku... mereka terlihat aneh."


"Aneh yang bagaimana, Yang Mulia?"


"Terkejut, terperangah... semacam itu." Aku mengangkat kedua tangan, tidak tahu bagaimana menggambarkannya.


"Syok mungkin... seolah mereka melihat hantu..." dan udara langsung menjadi berat setelah aku menyebut kata 'hantu'.


Aku melihat wajah Ru-Ru, bibi May, Ed, Cal serta tangan kanannya yang baru kuketahui bernama Cedric, menjadi kaku.


Ketika mataku kembali ke detektif Collin, aku juga melihat wajah pria itu tegang. Kedua matanya menatap ke arah Cal. Dan dua pria itu seperti melakukan pembicaraan lewat kontak mata yang tidak kupahami.


"Apa?" tanyaku ikutan tegang. Bulu kudukku langsung merinding seketika. "Apa aku sudah salah bicara?"


"Tidak, sayang." Bibi May menjawabku.


Oh ya?


Tapi kenapa wajah kalian seakan dihantam badai seperti itu?


Tentu saja aku tidak menanyakannya, karena aku tidak mau mendengar jawabannya.


Bukannya tidak mau, tapi belum siap mendengarnya karena kurasa itu sesuatu yang menakutkan. Mungkin.


"Saya kira sudah cukup sampai sini, Yang Mulia."


Aku kembali menatap detektif Collin yang melilat buku sakunya lalu memasukkannya ke dalam saku di balik coatnya.


"Anda yakin?" tanyaku ragu.


Detektif Collin mengangguk. "Ya, terima kasih, Yang Mulia."


Detektif Collin dan timnya kemudian keluar ruangan diikuti Ru-Ru, bibi May dan Ed.


Aku memutar tubuh menghadap Cal.


"Sekarang, bolehkah aku kembali ke medan perang?" tanyaku ketus. "Ada yang harus segera kubunuh."


Cal tersenyum, lalu bangkit berdiri dan menyerahkan joy-stickku. Ketika tanganku terulur meraihnya, tangan bebas Cal mencengkeram pergelangan tanganku dan menariknya hingga aku berdiri.


"Sonny tidak akan pernah bisa mengalahkan Athilah Khan," bisiknya di dekat telingaku, lalu menyerahkan joy-stick itu ke tanganku dan berlalu.


Aku baru mengerti tentang yang dia katakan setelah menekan tombol dan layar lebar didepanku terbuka memunculkan tulisan 'GAME OVER'.


Aku melempar joy stickku dan menjerit keras.


🌸🌸🌸🌸🌸


**Alhamdulillah sampai juga di chapter ini 😁


Masih banyak chapter-chapter menarik lainnya readers, so pantengin terus ya Cal dan Sonny πŸ˜†


Jangan lupa ya readers yang kasih jempol, tinggalin pula jejak-jejak penyemangat di komen.


Rate dan votenya jg dinanti, biar semangat terus nulisnya πŸ€—


Sampai ketemu lagi di chapter berikutnya πŸ€—


🌸🌸🌸🌸**