
😓😓😓😓😓
Maafkan aku yang baru bisa up lagi readers 😑
Pancaroba benar-benar bikin badan meriang 😫
Selamat membaca 🤗
*****
Dua kali! Dua kali, Sonia!
Bagaimana bisa kau tidak sadarkan diri dua kali?! Dan yang menolongmu adalah pria brengsek itu?
Dua kali! Dua kali! Dua kali!
Ayolah Sonia, kau bisa lebih baik daripada itu!
Kau seorang atlet! Dan pingsan bukanlah termasuk dalam agendamu!
Berkali-kali aku menggerutu, masih tidak mempercayai fakta itu.
Kuhentakkan kakiku berkali-kali ke rerumputan taman yang tidak berdosa sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghilangkan kenyataan yang sama sekali tidak bisa terhapus atau di-edit ulang.
Dan aku semakin uring-uringan ketika Billy c.s. mengekoriku kesana-kemari.
Begitu aku terbangun dari tidurku dan keluar kamar, mereka mengekoriku.
Aku ke dapur mengekori Naina memasaj, mereka mengekoriku. Aku ke ruang seni untuk menikmati teh bersama bibi May, mereka berdiri berjajar di dinding seperti patung. Aku kembali bergerak ke toilet, mereka akan mengawal ketat ruangan pribadi yang susah tidak menyimpan privasi lagi itu.
Dan sekarang, aku berjalan-jalab di taman dalam istana, mereka berada lima meter di belakangku. Aku maju tiga langkah, mereka melakukan hal serupa. Aku serong ke kiri, mereka juga serong ke kiri. Aku berhenti, mereka berhenti. Bahkan aku berjongkok, mereka juga melakukan hal yang sama!
Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok berkali-kali. Kalau bukan gila, aku harus menyebutnya apa lagi?
Tenggorokanku tercekat tiba-tiba ketika makhluk terindah yang pernah kulihat itu tertangkap bayang-bayang netraku.
Tubuhnya tinggi, besar, berotot. Keempat kakinya yang menghentak ke tanah terlihat kokoh dan kuat. Bulu hitam tubuhnya berkilat dan aku yakin sekali pasti terasa lembut di telapak tangan.
Surai tengkuk dan ekornya panjang serta lebar. Bergerak-gerak mengikuti geeakan tubuhnya yang tangkas serta energik.
Aku tidak tahu Ru-Ru memiliki kuda jantan seindah ini. Aku yakin ini adalah jenis peranakan murni. Refleks, kakiku menghampiri.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" tanyaku bersemangat pada pengurus kandang istana yang menatapku terkejut.
"Bolehkah? Bolehkah?" tanyaku lagi penuh harap.
Aku melompat girang ketika pengurus kuda itu akhirnya menganggukkan kepala.
Aku lantas membuka pintu kandang, lalu berjalan pelan-pelan menghampiri kuda itu agar tidak terkejut. Sementara pengurus kuda memegang tali kekang, aku mengulurkan tanganku ke punggung kokoh itu. Lalu mengelusnya. Perlahan.
Aku tersenyum. Dugaanku benar. Bulu dibawah telapak tanganku terasa halus dan tebal.
"Hallo, Fella!" bisikku. Tanganku terulur lagi. Kali ini untuk membelau surai tebal nan panjang di tengkuk. Terasa hangat. Dan kurangkum wajah kokoh kuda bermata sehitam batu bara itu ketika dia menoleh sambil mendengus pelan.
Kuelus pelan hidungnya. Dia bergerak-gerak pelan, mengendus wajahku kemudian rambutku kembali ke wajahku dan hidungku.
Terasa geli, tapi menyenangkan. Aku tertawa lepas ketika lidah kuda itu menggelitik daun telingaku.
"Kamu manis sekalu," kataku sambil tertawa. "Siapa namamu?"
"Namanya Archibal."
Oh tidak! Kenapa harus suara itu lagi!
Aku memutar tubuh dan berkacak pinggang. "Jangan katakan kalau ini kudamu?" tanyaku ketus. Berharap sekali bahwa kuda ini milik Ru-Ru, namun sepertinya aku harus menelan kekecewaan.
Pria itu tersenyum. Rasanya ada sinister di dalamnya. Dan membuatku merasa merinding.
Belum sampai 24 jam, kenapa aku harus berurusan dengan orang ini lagi?
Cal membuka pintu kandang, kemudian berjalan ke arahku. Pakaian berkudanya tampak keren dan cocok sekali dengan proporsi tubuhnya. Celana jins biru tua dibungkus boots kulit asli yang panjangnya sampai ke lutut. Kemudian sweatshirt turtle neck warna abu-abu melekat sempurna, membentuk lekuk tubuhnya yang six packs.
Oke! Kuakui... Cal tampak hot sekali.
Oh Tuhan, apa yang baru saja kupikirkan?
Kupalingkan wajahku ke arah kuda Cal yang masih terus mengendus rambutku. "Nama apa itu? Archibal? Bukankah nama itu terlalu berat?"
"Setidaknya itu lebih baik dari pada Coco." Aku mendengar suara Cal diatas kepalaku. Aku mendengus. Kesal karena pria di dekatku ini sangat teliti terhadap hal remeh. Apapun itu. Seperti Coco, nama yang kuberikan pada kuda dalam game.
Hei! Coco itu nama yang keren untuk kuda! Aku menjerit dalam hati, tentu.
Aku mengelus kembali surai kuda hitam itu. "Archie... kasihan sekali kau. Tuanmu harus orang ini. Batinmu pasti banyak mengalami tekanan," bisikku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Prihatin dengan sungguh-sungguh.
Kemudian kulihat lengan kuatnya meletakkan pelana di atas punggung Archibal.
"Bisa berkuda?"
Aku menatap Cal dengan wajah terkejut. Apa dia berbicara padaku? Karena takut salah, aku menunjuk satu jari di depan hidungku. "Aku?"
Cal menatapku lurus. Menunggu jawaban.
Aku buru-buru menggeleng. Lalu kembali mengelus Archibal.
Aku memang tidak bisa berkuda meski aku suka sekali dengan kuda. Dulu, ketika kecil, aku sering sekalu duduk di pelana kuda yang dikendalikan dad. Setiap liburan, kami sekeluarga pasti pergu ke peternakan kakek dan nenek Mom. Kemudian dad akan mengajakku berkuda mengelilingi peternakan.
Berhubung di peternakan tidak ada kuda kecuk, jadi dad tidak mengajariku. Atau jelasnya, belum sempat mengajariku.
"Mau belajar?"
"Apa?" aku baru sadar kalau aku tidak sendirian.
"May mencoba belajar berkuda?"
"Benarkah?" seruku antusias. "Tapi tunggu dulu..." mataku menyipit curiga. "Kenapa kau tiba-tiba... ini tidak ada hubungannya dengan... engage kan?" kataku hati-hati.
Dan pria itu menjawab enteng. "Tidak mau? Ya sudah."
"Mau! Mau! Mau!" jawabku cepat, khawatir Cak akan berubah pikiran. Aku tahu aku akan menyesal setelahnya, tapi menunggangi kuda adalah hal yang ingin kulakukan saat ini. Diantara kebosananku memikirkan masa depanku yang aku sendiri tidak jelas olehnya, antara ada dan tiada.
"Letakkan kaki kirimu disini!" Cal membimbing. Sementara tangan kirinya memegang tali kekang, tangan kanannya menunjuk pedal besi tempat tumpuan kaki.
Aku mendengarkan instruksi Cal dengan seksama serta melakukan apa yang dikatakannya dengan hati-hati, karena jatuh dari kuda setinggi Archie, bisa-bisa aku berurusan lagi dengan dokter, yang kali ini adalah dokter bedah.
Memikirkannya saja membuatku langsung menggelengkan kepala dengan ngeri.
"Tegakkan punggungmu!" perintah Cal saat tubuhku condong kr depan dan hampir jatuh.
Aku mengangguk cepat lalu melakukan ala yang dikatakan Cal. Menegakkan punggungku.
"Lalu?" tanyaku sambil mencoba menjaga keseimbangan.
Tidak menjawab pertanyaanku, Cal malah langsung melompat naik dan dalam sekejap mata dia sudah duduk di pelana.
Dibelakangku!
Bersamaku!
Oh-oh!
"Apa yang kau lakukan?" teriakku panik.
Cal mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja mengajarimu berkuda," katanya, seolah heran. Seolah pertanyaanku itu adalah sesuatu yang menggelikan.
"Iya tapi... tidakkah kau seharusnya naik kuda lain?"
Alis tebal Cal saling bertaut. Berpikir sejenak laku kepalanya menggeleng.
"Hanya Archibal kuda yang sesuai dengan seleraku. Aku tidak mau naik kuda lain."
"Baiklah... aku saja yang naik kuda lain," putusku, lalu bersiap untuk turun.
Namun, tangan Cal menarik kekang dan Archie meringkik, mengangkat kedua kaki depannya. Membuatku terkejut.
Dan pria itu menggeleng. "Tidak! Tidak ada kuda yang setinggi Archibal disini. Aku tidak mau mengajari berkuda dengan kuda yang lebih pendek dari Archibal."
Aku menghela napas panjang. Alasan macam ala itu? Dasar! Orang ini benar-benar keras kepala.
Alasan apalagi yang bisa kulontarkan? Aku benar-benar kehabisan stok.
"Tapi Ru-Ru melarangku kelu..."
"Billy! Katakan pada raja Ruchi aku membawa Sonia berkuda."
Hebat! Cerdas! Jenius sekali!
Cal memotong kalimatku sekaligus memberikan jawaban cemerlang untuk alasan terakhir yang kuharap bisa mengakhiri kebersamaan kami, yang ternyata gagal total.
Aku merasakan mulutku jatuh mengikuti gravitasi.
Satu hal yang kupelajari hari ini. Bahwa Cal lebih berkuasa dari Ru-Ru.
Kesimpulannya, menyingkirkan Ru-Ru adalah lebih mudah dari pada menendang pangeran Calhoun.
Sial!
Aku tidak butuh rencana A. Tapi aku butuh rencana A hingga Z.
Dan belum sempat aku melontarkan protes sekaligus teriakan minta tolong, Cal sudah memacu Archie keluar kandang. Melewati taman istana. Lalu keluar melalui pintu samping.
*****
**Hai... Hai... Hai...
Aku kembali 😁
Terima kasih sudah mampir lagi tengokin Cal dan Sonny 😆
Jangan lupa sokongannya ya, love, like, komen positif, rate serta vote sebanyak-banyaknya 😁 biar badan meriang author hilang 😂
Sampai jumpa di chapter selanjutnya 🤗**