
Masih POV Calhoun π
Cal sudah menduganya. Bahkan sebelum dokter mengutarakan hasil pemeriksaannya.
Sonia mengalami gegar otak. Meski kata dokter itu ringan, bahkan lebih menyerupai benturan biasa dari pada disebut gegar otak, tetap saja membuat Cak tidak suka.
Sekarang Sonia terlelap. Setelah dokter memberinya obat tidur, menjahit luka di lengannya serta memeriksa kepalanya dengan CT-scan yang Cal paksakan untuk dilakukan saat ini juga, bukannya besok.
Saat ini mungkin bibinya dan beberapa pelayan sedang mengganti pakaian basahnya dengan yang kering.
Hal terakhir yang diingat Cal sebelum pintu kamar ditutup adalah, wajah tenang Sonia.
Cal kemudian mengikuti Ruchi ke ruang kerja dimana beberapa dokter sudah menunggu mereka disana. Setelah dokter menjelaskan beberapa hasil medis Sonia serta tindakan penanganan selanjutnya, Cal memanggil Cedric.
"Ya, Yang Mulia?"
"Kumpulkan PI terbaik untuk membereskan masalah ini. Dan pastikan kejadian ini tidak terulang lagi!"
Cedric kemudian keluar ruangan untuk melakukan beberapa panggilan.
"Cal," panggil raja Ruchi. "Kurasa ini adalah urusan interen istana Rhojan."
"Ini juga menjadi urusanku, Ruchi," jawab Cal dingin. "Selama hal ini menyangkut... calon istriku."
Raja Ruchi tersentak. Tubuhnya menegang.
"Dengar, Cal!" Raja Ruchi menelan ludah beberapa kali sebelum berbicara. "Ini adalah antara kau dan aku. Tidak ada hubungannya dengan Sonia. Dia tidak tahu apa-apa tentang ini."
"Seharusnya kau menganggap serius masalah ini sebelum membiarkan Shania kabur dan menyeret Sonia ke dalan masalah ini."
Raja Ruchi memejamkan mata. "Hutang itu adalah tanggung jawabku, Cal. Kewajiban Shania, bukan Sonia."
Mata Cal menyipit tajam. "Plakat leluhurku tidak menyebutkan bahwa itu harus putrimu, Ruchi. Selama dia adalah seorang putri Rhojan, maka sumpah itu terwujud. Dan hutang lama itu terlunasi."
"Aku tahu, tapi..."
"Sebaiknya kau bergegas, Ruchi!" potong Cal cepat. "Meski aku ingin pertunangan ini terlaksana saat ini juga, tapi, mengingat kondisi Sonia, kau kuberi waktu seminggu untuk mempersiapkannya. Satu minggu, Ruchi!" Cal menekankan. "Tidak lebih!" Lalu berjalan ke pintu dan keluar ruangan.
Cal menutup pintu kamarnya, berbalik dan mendapati Cedric berdiri di dekat meja kerja sambil membawa beberapa kertas. Cal kemudian berjalan ke tepi jendela, menatap badai di luar sambil mulai melepas kancing kemejanya.
"Tim PI sudah lepas landas dan akan tiba di Rhojan tiga jam dari sekarang. Mereka akan langsung ke tempat kejadian untuk melakukan investigasi," jelas Cedric.
"Tiga pasukan khusus pengawal raja yang anda tunjuk, akan tiba di Rhojan subuh besok, dan mereka akan bergabung dengan Billy untuk memulai tugas baru mereka besok pagi."
"Ada lagi yang perlu kau laporkan?" tanya Cal tanpa menoleh.
"Saya rasa..." Cedric mengecek lagi kertas di tangannya, "tidak ada, Yang Mulia."
"Misalnya," Cal memutar tubuhnya lalu menatap pria tua itu, "tentang Sonia?"
Alis Cedric terangkat tinggi. Cal tahu dia sudah menangkap basah dirinya. Tapi, yang menarik dari Cedric adalah meski dia sudah ketahuan, pria tua itu tidak melakukan pengelakan sama sekali. Tidak memungkirinya. Bahkan dia tersenyum bahagia, seolah Cal telah berhasil menyelesaikan teka-teki yang dibuatnya.
"Kejutan!" Cedric kemudian memberikan tepuk tangan penuh penghormatan ala penonton teater. Cedric tersenyum namun matanya lebih bersinar dari biasanya.
Cal menghela napas panjang dan berat. " Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Karena menyenangkan sekali melihat reaksi anda ketika melihat wanita yang selama ini anda idam-idamkan muncul di depan mata."
"Aku tidak mengidamkan Miranda!" bantah Cal.
"Kalau bukan mengidamkan, lantas mengapa anda memandangi lukisannya hampir setiap malam?"
Sial! Sial! Sial!
Cal memaki dalam hati. Bersama Cedric, harus menyiapkan segenap mental untuk diawasi setiap gerak-geriknya. Dan Cal tahu itu.
Dahi Cedric berkerut. "Memang benar yang anda katakan, Yang Mulia. Tapi, dia mewarisi darah yang sama. Bahkan saya rasa, dia jauh lebih cantik dan seksi dari pada leluhurnya. Saya kira, itu alasan yang cukup untuk membuat pria seperti anda mengidamkannya."
"Aku tidak mengidamkan Sonia!" seru Cal putus asa. Meski dia mengakui kebenaran kata-kata Cedric tentang kecantikan Sonia.
Cedric tersenyum. Senyuman mengejek ala rubah betina yang sudah dihafal Cal dan sangat dibencinya itu. "Well," kata Cedric kemudian, "Kalau bukan mengidamkannya, mengapa anda memaksa Raja Ruchi untuk mempercepat pesta pertunangan menjadi minggu depan? bukannya satu bulan, seperti yang anda berikan kepada putri Shania."
Brengsek!
"Dan anda secara khusus menugaskan pengawal pribadi raja untuk menjadi bodyguardnya."
Brengsek! Brengsek!
Dan Cedric belum selesai sampai situ. " Kalau bukan mengidamkannya, anda tidak akan mengecek putri Sonia dua kali di kamarnya sebelum anda datang kemari."
Brengsek! Brengsek! Brengsek!
"Dan kalau boleh saya mengingatkan, itu tindakan yang sangat tidak sopan, Yang Mulia. Mengingat anda baru boleh melakukannya setelah upacara pernikahan. Jadi, sebisa mungkin, saya harapkan, Yang Mulia bisa lebih mengontrol diri."
Cal memejamkan mata. Geram.
"Kau boleh istirahat, Cedric," potongnya sebelum mulut pak tua itu mengoceh lebih banyak lagi.
Cedric tersenyum kemudian membungkuk memberi hormat. "Selamat malam, Yang Mulia."
Sepeninggal Cedric, Cal kembali menatap keluar jendela. Hujan deras kembali mengguyur Rhojan.
Memikirkan tentang pembicaraan Cedric tadi, Cal mungkin bisa menutupinya dari orang lain, bahkan ayah dan ibunya sendiri, tapi dari Cedric? Tidak akan pernah bisa. Dan hal itu juga berlaku sebaliknya, hanya dirinya yang bisa membaca apa yang ada dalam batok tua seorang Cedric. Orang lain mungkin sulit, tapi bagi Cal, itu hal yang mudah, karena dia mempelajari langsung ilmu itu dari orangnya sendiri.
Dan dugaan Cedric tak pernah meleset. Dia benar. Tentang apa yang dia rasakan begitu melihat Sonia pertama kali.
Tidak seperti yang dia rasakan ketika dia bertemu dengan Shania untuk pertama kalinya, dulu.
Cal tahu Sonia adalah miliknya. Hanya miliknya seorang. Dan itu berarti, orang lain tidak boleh menyentuhnya bahkan menggoresnya. Sedikitpun.
Itulah sebabnya dia marah.
Itulah sebabnya dia murka.
Begitu melihat luka di lengan kiri Sonia, darahnya seolah bergolak ingin memuntahkan lahar panas.
Seseorang sudah melukai Sonia. Sengaja atau tidak, seseorang sudah melukai miliknya.
Miliknya.
Dan Cal sangat tidak menyukai itu. Sangat tidak menyukainya.
Karenanya, apapun akan dilakukannya untuk menjaga apa yang menjadi miliknya.
Apapun itu.
Akan dilakukannya.
Sial!
Kutukan leluhurnya sepertinya sudah menguasai dirinya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
**Terima kasih yang sudah berkenan mampir membaca tulisan picisan ini π
Mohon dukungan lewat love, like, serta jejak cinta kalian juga vote seikhlasnya π€
Sampai bertemu di eps. 21 π€**