Defeated

Defeated
Chapter 18



#Jangan pernah bosan bacanya ya readers 😆


Jangan lupa like, komen, bintang 5 serta vote-nya 🤗


*****


Itu adalah anak panah sungguhan!


Seperti yang ada di film-film.


Aku melirik Moses dengan napas memburu. Wajahnya juga memucat seperti diriku. Jantungku berdentum keras berkali-kali untuk memompa adrenalin.


Moses lantas mengambil pistol dan menarik pelatuknya.


"Tetap di dalam mobil!" desisnya dan aku mengangguk.


Lagi-lagi, belum sempat Moses bergerak keluar. Tiga kali kudengar kaca belakang mobil pecah. Moses kali ini mendorongku ke depan, membuatku mencium lutut, menahanku lama disana.


Ketika tidak terdengar lagi dentingan kaca pecah, Moses membuka pintu di sampingnya, menyelinap keluar, lalu menutup lagi pintunya. Dan menghilang begitu saja, tidak ada suara ataupun gerakan.


Aku masih dalam posisiku ketika kulirik ke belakang kursi mobil basah oleh air hujan yang masuk dari lubang kaca bekas anak panah yang menancap dalam di kursi belakang. Dengan gemetar aku meraba lantai mobil di bawahku, mencari tas tanganku yang jatuh akibat kepanikan tadi. Dia kutemukan di sudut pintu dan basah. Kurogoh ponselku, mencari nomor darurat apapun itu yang bisa memanggil bantuan.


Suara tembakan terdengar.


Satu, dua, tiga kali.


Aku terperanjat kaget. Ponselku jatuh dan menghilang di kegelapan bawah kakiku.


Napasku memburu. Jantungku bertalu-talu kencang hingga memekakkan telinga. Tubuhku kaku seketika saat kudengar jeritan Moses di kegelapan.


Panik, aku membuka laci dasbor, mengambil pistol cadangan Moses dengan tangan gemetar.


Kutatap kegelapan di depan. Aku bisa melihat lebih dari tiga orang bayangan disana. Semuanya mengelilingi sesuatu yang kuyakini Moses.


Tangan kananku menarik pelatuk sementara tangan kiriku meraih hendel pintu kemudian menariknya dengan teramat pelan. Bahkan aku sendiri hampir tidak mendengarnya.


Mungkin karena derasnya hujan sehingga tidak terdengar atau karena terlalu berkonsentrasi pada Moses, kelima pria tinggi besar, yang bertelanjang dada sambil mengarahkan busur dan anak panah mereka pada Moses yang terlentang sambil memegangu perutnya yang tertancap mata panah, sama sekali tidak menghiraukan diriku yang berjalan pelan ke arah mereka sambil mengangkat pistol.


Karena panik atau mungkin gemetar dengan benda di tanganku, jari telunjukku menekan pelatuk. Letusan itu membahana, langsung menaruk fokus kelima wajah yang dilumuri cat warna-warni dengan dominasi warna hitam.


Rambut mereka panjang dan dikuncir kuda. Mereka hanya memakai celana panjang dari kain yang kuyakini bukan jins. Mereka juga memakai ikat pinggang dari akar-akaran dan ada belati di setiap sisi pinggang. Tali dari akar tumbuhan di selempangkan dari punggung kiri ke pinggang kanan, menahan tempat anak panah di punggung mereka.


Aku tidak tahu kalau Rhojan memiliki suku primitif. Atau aku dan Moses sudah salah masuk lokasi syuting?


Kelimanya mengarahkan busur dengan anak panah yang sudah siap untuk dilontarkan padaku. Berarti, aku bukannya berada di lokasi syuting sebuah film.


Aku menelan ludah. Jelas pasti kalahnya. Tapi aku harus kuat. Demi diriku dan Moses yang sudah tak bergerak.


"Menyentuhnya, kubunuh kalian!" ancamku.


Aku bergerak pelan penuh awas, mendekati posisi Moses.


Tak kuhiraukan anak panah yang sudah terangkat tinggi, sejajar dengan kepalaku. Fokus mata dan pistolku pada pria paling tinggi dan besar, yang berdiri di tengah-tengan dan tepat di hadapanku.


Aku berhenti melangkah ketika ujung bootsku menyentuh punggung Moses. Dan saat jarakku dengan si pria primitif besar itu kira-kira dua meter dan moncong pistolku terarah tepat ke mukanya, aku mendesis tajam, "Ambil saja yang kalian inginkan!" kepalaku bergerak ke belakang, menunjuk mobil, "lalu tinggalkan kami!"


Aku tidak menyadarinya. Ketika pria di depanku itu menggumamkan sesuatu yang sama sekali tidak kupahami, seperti bahasa suku mereka, barulah aku menangkap kilatan keterkejutan di kedua matanya yang lebar.


Mungkinkah di belakangku ini ada Dementor?


Kalau memang iya, aku bersyukur sekali.


Dia berbisik lagi dengan bahasa sukunya. Dari nada yang kutangkap, seolah terkejut sekaligus takjub. Dan pria itu sempat limbung ke belakang, teman disampingnya segera meraih salah satu lengannya, menanyakan sesuatu padanya, juga dengan bahasa yang sama.


Pria di depanku itu kemudian meneriakkan sesuatu, seperti membentak. Dan ajaib, ketiga pria lainnya langsung menurunkan busur serta panahnya.


Bentakan kedua diikuti gelegar petir, membuat keempat temannya saling bergumam dan berpandangan. Bentakan ketiga berisi amarah, membuat keempatnya segera mundur teratur. Terus, hingga bayangan mereka tersembunyi di kegelapan hutan.


Aku kembali mengangkat pistol ketika pria itu hendak bergerak maju. Melihatku, dia urung melangkah. Lagi-lagi, dia membisikkan sesuatu yang tidak kupahami, tetap dengan tatapan mengarah pada wajahku. Kemudian dia mundur dan menghilang di kegelapan.


Seolah terserap habis energiku, aku merasakan kelegaan yang sangat ketika aku dan Moses sendirian.


Aku lantas berjongkok kemudian membalik tubuh Moses perlahan dan sangat hati-hati. Terdengar suara erangan dari tenggorokannya, aku menghembuskan napas lega, selega-leganya.


Dengan sisa tenaga yang ada, kulingkarkan salah satu lengan Moses di pundakku, kutahan dengan tangan kiriku sementara tangan kananku meraih pinggang kanan Moses yang tidak terkena panah.


Lalu kutarik sekuat tenaga, meski dengan terseok-seok, menuju mobil.


Dengan susah payah akhirnya aku berhasil mendudukkan Moses di kursi penumpang.


Kembali ke tempat semula untuk mengambil pistol Moses lalu berlari ke kursi kemudi.


Aku melihat darah hitam di sekujur kemeja Moses, di sisi kiri. Kaos putihnya menghitam. Napas bodyguardku naik-turun dengan wajah memucat.


Pikirkan sesuatu, Sonny! Pikirkan sesuatu!


Aku menoleh ke belakang, tanganku meraih serbet piknuk. Merematnya lalu menempelkan di sekeliling batang anak panah yang masih menancap.


"De... dengar Moses," suaraku bergetar hebat. "A...aku... akan mencabut panahnya."


Moses tidak bereaksi.


Aku memejamkan mata, berdoa. Ya Tuhan, semoga apa yang kulakukan ini adalah benar.


Tangan kiriku menekan serbet piknik, sementara tangan kananku memegang batang panah.


Aku menutup mata. Tidak berani melihat.


Lalu, menarik stik itu kuat-kuat.


Fyuuuh... ternyata tidak sesulit yang kuduga. Mata panahnya runcing, jadi mudah untuk ditarik keluar.


Kudengar Moses mengerang pelan.


Aku lantas mendesah lega. Lalu, kulepas hemku, kugulung hingga memanjang dan kuikatkan di pinggang Moses untuk menahan serbet piknik agar tetap berada di tempatnya. Menahan agar darah tidak merembes keluar.


Kemudian kuputar kunci dan menyalakan mesin, lalu menajuh dari tempat ini.


#***Makasih yang sudah mampir baca 🤗


Jangan lupa like, komen, rate 5 nya serta vote bagi yang berkenan 🥰


Silahkan mampir lagi di chapter berikutnya 😉***