Defeated

Defeated
Chapter 20



POV Calhoun


Paru-paru Cak serasa diremat dua tangan.


Begitu kuat, hingga tak menyisakan udara baginya untuk bernapas. Jantungnya yang memompa darah panas seolah membeku tiba-tiba, menjalarkan hawa dingin ke setiap sudut selnya.


Berkali-kali hatinya hanya bisa merekanya dalam benak. Cara dia bergerak, bernapas, berbicara, tersenyum, dan sebagainya.


Hanya dalam benak, tidak lebih.


Tapi, saat ini, Cal seperti melihat lukisan yang timbul kemudian berwujud dan hidup.


Mungkinkah sosok didepannya ini... hantu?


Berkali-kali Cal bertanya.


Karenanya, berkali-kali Cal menggerakkan kelopak matanya, berusaha memfokuskan penglihatannya.


Semuanya begitu mirip.


Tingginya. Lekuk tubuhnya. Warna kulit serta rambut. Warna hijau matanya. Bibirnya yang ranum. Alisnya yang tidak terlalu tebak juga tidak terlalu tipis, yang melengkung indah.


Bulu matanya yang tebak serta melengkung cantik seperti busur.


Mungkin hanya rambut yang sedikit berbeda. Tidaj sepanjang wanita jaman dulu, namun untuk hitungan jaman kini, rambut gadis itu cukup panjang, menggantung indah sampai tulang belikatnya dan lurus serta terlihat halus. Namun begitu, tetap membingkai sempurna wajah cantiknya.


Cal merasakan sekujur tubuhnya merinding.


Dia nyata.


Gadis itu nyata.


Bukan lukisan yang sering dipandanginya diam-diam.


Dia bergerak. Berbicara. Tertawa. Bahkan berekspresi.


Brengsek! Cal memaki dalam hati.


Apakah ini hukuman Tuhan baginya?


Yaknu merasakan apa yang dirasakan leluhurnya dulu?!


Gadis itu menangkap keterkejutan di matanya. Cal tahu itu. Karenanya, dia kembali menatap mata yang seperti batu giok itu. Kali ini, mata giok itu yang terperanjat. Tapi gadis itu pandai sekali menyembunyikannya.


Mata hijau giok itu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menyipit. Lalu bibir merahnya bergerak, membisikkan apa yang ada dalam benak.


"Siapa... kau?"


Alis Cal terangkat.


Gadis di depannya bertanya siapa dirinya?!


Cal merasa gadis itu tahu siapa dirinya. Tapi kenapa dia masih bertanya?


Apa karena murni tidak tahu? Atau ingin... memastikan?


Cal tidak tahu motif ala dibalik pertanyaan sang gadis, namun dia tahu ini kali pertama gadis itu melihatnya. Ini juga pertama kalinya bagi Cal melihatnya, dalam banyak dimensi, tentunya.


Seperti biasa, mulut berisik Cedric, dengan penuh nada kebanggaan mengumumkan identitasnya secara lengkap.


Cak hanya bisa menghela napas diam-diam.


Dia sudah kehabisan akal dalam menghadapi sikao tangan kanannya itu, jadi dia memilih diam.


"Beliau adalah His Highness, the second prince of Mhoran, Prince Gavin Calhoun Williams Mhoran."


Gadis itu mundur selangkah. Cal tahu apa yang dilakukannya.


Mengamatinya.


Mata sejernih giok itu menelusuri sekujur tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki lalu kembali ke ujung kepala. Membuat sekujur tubuh Cak menegang penuh antisipasi.


Senyum tipis tersungging di bibirnya. Kedua matanya bersinar, menantang.


"Hm... si Athilah Khan."


Dahi Cal mengernyit. Athilah Khan?!


"Sonia!" fokus Cak kemudian beralih pada bentakan Raja Ruchi. "Jaga sikapmu!"


"Apa?" Cal melihat Sonua berbalik, menghadap Raja Ruchi dengan sikap menantang.


"Aku saja tidak pernah menjaga sikapku di hadapanmu, meski kau seorang raja. Lantas, kenapa pula aku harus menjaga sikapku di depannya?"


Cal tersenyum. Dalam hati. Dia tahu watak Ruchi yang keras kepala. Kalau itu Shania, dengan sekali bentakan saja, akan membuatnya terdiam dan memucat.


Tapi di hadapan Sonia, bentakan jenis apapun sepertinya tidak akan berpengaruh.


Ini sangat menarik sekali.


"Hati-hati dengan ucapan anda, Yang Mulia."


Cal melirik Cedeic dan matanya menyipit. Fokus Sonia kini pada Cedric dan mata gadis itu menyipit tajam seperti dirinya.


"Setiap ucapan yang anda sampaikan, mewakili Rhojan. Saru ucapan saja yang menyinggung, Mhoran akan..."


"Akan apa?" potong Sonia dengan sikap menantang terang-terangan. Kali ini tatapan matanya seolah ingin menusuk Cedric berkali-kali.


Mata Cal tertawa. Baru kali ini ada yang memukul telak ego Cedric. Pak tua itu juga cukup egois dalam menjaga harga diri, apalagi jika menyangkut dirinya atau Mhoran.


Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya lebih sering bernada menindas atau menjatuhkan.


Tak perlu orang asing, orang-orang di istana saja menghormatinya, bahkan ayahnya juga mempertimbangkan pendapatnya.


"Oh, aku ingat," pekik Sonia tiba-tiba. Mata Cal menyipit curiga, tidak senang dengan nada suara gadis itu. "Kalian datang untuk menghujani Rhojan dengan misil kan?"


"Sonia!" Cal bisa mendengar ketegangan di suara Ruchi.


"Jadi?" Cal akhirnya membuka suara. Terdengar dalam dan mengancam. Ada keterkejutan di wajah Sonia begitu mendengar suaranya.


Cal menyadari itu, dan dia memang mengakui bahwa suaranya bisa sangat menakutkan bagi orang-orang di sekitarnya.


"Aku menyambutnya dengan tangan terbuka." Sonia tersenyum padanya lalu menepuk salah satu pundaknya, membuat Cal tersentak.


"Dan pastikan kau beri misil yang paaaling besar untuk Ru-Ru, karena kepalanya itu lebih tebal dari baja murni."


Cal bisa merasakan mulut Cedric dan Billy menganga karena dirinya juga tidak menduga akan mendapat reaksi seperti itu dari Sonia.


Sonia kemudian melenggang menjauh, tidak menghiraukan panggilan atau bentakan Ruchi.


"Sonia Kieve Guenevere Annastacy Rhojan!"


Cal melihat Ruchi sudah hilang kesabaran. Dan serangan ini sangat efektif. Membuat Sonia menghentikan langkah.


"Berhenti memanggilku dengan itu! Namaku hanya Sonia Kieve. Sonny, titik!"


"Well, suka atau tidak, itu nama yang diberikan ayahmu!" balas Ruchi juga tidak mau kalah.


Cal melihat wajah Sonia memerah. Dan kali ini mata hijaunya terarah padanya.


"Aku ralat!" jerit gadis itu padanya. "Lempari saja Ru-Ru dengan granat! Habis perkara!"


Cal merasa Cedric dan Billy berusaha keras menahan tawa di belakangnya. Cal sendiri tidak menyangka akan mendapat sambutan berula 'pertengkaran keluarga' yang memang kayak untuk ditonton. Cal bisa merasakan kepanikan Rhojan setelah mendapat telepon kedatangan darinya. Dan dia merasakan tekanan udara yang berat ketika dirinya menginjakkan kakinya kedalam istana. Tapi, hawa sesak itu perlahan-lahan mengendur seiring kedatangan Sonia, dan entah sejak kapan, Cal tidak merasakan lagi ketegangan itu.


"Apa?" Cal mendengar Sonia membentak pada seorang pelayan yang gugup.


"Ta... ta... tangan anda..."


Sonia melirik ke bawah lalu menggeleng. "Ini bukan darahku, Naina. Ini darah Moses."


"Mak...ma..maksud hamba, lengan kiri anda."


Seolah tercekat, Cal tiba-tiba merasa tubuhnya bergerak sendiri ke tempat Sonia berdiri, menarik kasar lengan kiri gadis itu ke depannya dan tak menghiraukan protes dari bibir merahnya. Merobek paksa bagian lengan kemeja yang basah hingga lengan putihnya yang mulus terpampang.


Amarah itu bergolak. Cal bisa merasakannya di dasar jiwanya. Setiap selnya seolah membara, mengirimkan sinyal berbahaya ke wajahnya.


Luka itu memang tidak besar, tapi dalam. Cukup dalam untuk mengalirkan banyak darah. Dan herannya, Cal juga melihat keterkejutan di wajah Sonia, seolah gadis itu baru tahu kalau lengannya terluka.


"Ya Tuhan!" pekik Ratu Maya, membuat Sonua menengadah menatal wanita pencemas itu dengan sorot lembut. Berusaha meredam kepanika. wanita paruh baya itu. Namun gagal.


"Tenang, bibi May. Ini hanya luka gores, aku cuma butuh plester."


"Kau tidak butuh plester!" potong Cal dengan wajah kaku, "tapi jahitan."


Sonia menoleh dan mata gioknya membulat lebar padanya. Cal tak menghiraukan, dia menatap tajam Ruchi, "Panggil dokter istana!" perjntahnya.


"Aku akan menyiapkan handuk bersih dan air panas." Cal mendengar Ratu Maya berbicara.


"Bibi!" teriak Sonia dengan geram. "Aku bukannya mau melahirkan!"


Tapi Ratu Maya sudah terlanjur menghilang ke belakang.


Sebenarnya Cal ingin tertawa, namun ditahannya mati-matian.


Yang tersisa dari gadis di depannya itu hanyalah bibir mungil yang mengerucut. Menandakan protes yang tak terucap. Dia melirik luka di lengannya lalu bergumam lirih, "Pantas saja kepalaku pusing."


Cal menarik Sonia hingga gadis itu menatapnya. "Kepalamu pusing?"


Dahi gadis itu mengernyit kaget, kemudian mengangguk ragu.


Sudut mata Cal melirik kepala Sonia. Dan dia menemukan jejak darah, meski sedikit, di pelipis kanannya. Rahang Cal terkatup rapat, tangannya yang bebas mengepal erat.


"Kau butuh duduj," gumam Cal.


"Hallo, Athilah Khan!" seru Sonia sambil melambaikan tangannya yang bebas didepan wajah Cal. "Bagaimana aku bisa duduk kalau kau mencengkeram lenganku?"


Seolah disadarkan, Cal akhirnya melepas cengkraman tangannya dan membiarkan Sonia berjalan.


Instingnya mengatakan bahwa Cal seharusnya tidak melepas tangan itu. Dan hal itu terbukti pada tiga langkah berikutnya, tubuh Sonia limbung ke depan. Refleks, lengan Cal terulur, menangkap pinggang gadis itu lalu menariknya ke dalam dekapannya.


Kali ini Cak melihat mata giok itu terpejam erat.


"Ruchi!" teriak Cal keras penuh ketidaksabaran. Suaranya menggelegar dan menggema di seantero ruangan. Mengagetkan semua yang ada disana.


"Sebaiknya kau segera membawa dokter sialan itu kemari!"


Cal membungkuk, mengulurkan lengan kanannya ke bawah lutut Sonia, sementara lengan kirinya menahan punggung gadis itu. Kemudian mengangkatnya.


"Kamarnya!" bentak Cal pada Naina kemudian.


#***Terima kasih sudah mampir baca para readers 🥰 (utamanya si "Taaruf Cinta" 😁)


Mohon dukungan love, like, komen + serta votenya ya 🤗***