Defeated

Defeated
Chapter 7



Jauh di dalam dadaku terasa sakit sekali. Apalagi ketika dia menyebut ibuku dengan 'perempuan itu'. Dia punya nama. Nama yang indah yang diberikan oleh kakek-nenek yang sangat menyayanginya.


Arrabella.


Nama yang selalu membuatku iri, bahkan hingga kini. Sebagai gantinya, ibuku menamaiku dengan Sonia. Nama yang super keren sekali. Apalagi ketika dia memanggilku dengan sebutan Sonny, aku benar-benar menyukainya. Tapi ketika ada yang menyebutnya 'perempuan itu', paru-paruku serasa diremas kuat, hingga tidak ada yang tersisa selain kemarahan yang membakar.


"Tarik kembali ucapanmu!" bisa kurasakan darahku bergolah. Dan aku tahu wajahku juga sama merahnya dengan wajah pria brengsek didepanku ini. "Jangan pernah menyebut ibuku dengan perempuan itu! Kau tidak berhak akan itu! Dan kalau kuingat sekarang... oh ya, kau sedang memohon..." aku sengaja menekankan kata 'memohon' itu, "bantuan dari seirang outsider blood, kalau tidak salah." Dan aku tersenyum puas ketika melihat hasil dari api yanh baru saja kunyalakan.


"Aku mohon, kalian berdua hen..." aku mendengar kalimat bibi May terputus ketika Raja Ruchi berteriak, "Kau benar-benar pembawa masalah, Sonia! Seharusnya aku tidak menurutu saran Edward."


Yap!


Seharusnya kau tidak menuruti saran Ed. "Kukatakan hal yang sama padamu, pak tua. Kau benar-benar pembawa masalah bagiku."


"Demi Tuhan! Hentikan sikap kalian!" kali inu bibi May sukses mendiamkan kami berdua hingga yang terdengar kemudian hanyalah guntur di kejauhan dan hujan deras kembali memukul kaca-kaca besar di ruangan ini.


"Dia memulainya lebih dulu!"


Kedua mata Raja Ruchi melotot ke arahku. Aku langsung memalingkan muka, dengan cuek. Dan melanjutkan kata-kataku, "Dengar! Aku tidak tahu masalah apa yang kalian hadapi dengan negara Moron..."


"Mhoran!" koreksi Raja Ruchi ketus.


"Apapun itu," aku membalasnya dengan mata melotot. "Itu tugasmu sebagai Raja untuk menyelesaikan, tanpa harus melibatkan outsider blood sepertiku kan? Dan kalau pertikaian apapun antara dua negara ini bisa dihentikan dengan jalan 'pernikahan politik' ---" aku sengaja membuat gerakan tanda kutip dengan keempat jariku untuk menegaskan kata yang kumaksud, "bukankah kalian bisa mengirimkan seorang putri yang benar-benar putri, maksudku putri yang 'sebenarnya' bukannya orang asing sepertiku, kan?"


Udara berat langsung terbentuk di ruangan ini. Bisa kulihat wajah Raja Ruchi menggelap, penuh amarah yang terpendam namun terlihat jelas di wajahnya. Dia berbalik lalu berjalan ke jendela dan menatap kegelapan diluar sana. Sementara kepala bibi May tertunduk dan aku bisa melihat sejenak kedua matanya berkaca.


Apa aku sudah salah ucap?


Oke... melihat kegelapan wajah-wajah di depanku, berarti bicaraku memang sudah keterlaluan. Karenanya, aku mulai memelankan dan merendahkan nada suaraku saat melanjutkan kalimatku.


"Bukankah itu bagus kalau kalian memang hanya memiliki pangeran. Tinggal bilang saja pada Mhoran bahwa pernikahan tidak mungkin terjadi, bahkan tidak akan pernah terjadi. Kalau mereka tetap memaksa..." aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku, karena imajinasiku sudah liar membayangkan dua orang pria saling... aku langsung menggelengkan kepala dengan tubuh merinding. "Well, kalau mereka tetap memaksa, berartu mereka ho---" aku menelan ludah sebelum menyelesaikan, "mo... dan yang kalian butuhkan adalah psikiater."


Jawaban dari oerkataanku yang panjang serta nan lebar tadi adalah sebuah kalimat pendek. Terlontar dari bibir bibi May yang bergetar.


"Kami mempunyai Shania."


Shania? Siapa Shania?


"Siapa Sha..." aku menghentikan kalimatku ketika puzzle di otakku bergabung menjadi satu. Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Paman bibiku bukannya memiliki putra atau pangeran tapi seorang putri, putri yang benar-benar putri


Shania. Sepupuku.


Hatiku melompat girang. "Bukankah itu berarti masalahnya beres? Kalian memiliki putri. Pernikahan itu bisa dilaksanakan. Perdamaian terwujud." Everyone's happy. The end.


"Itulah masalahnya, Sonia sayang." Suara bibi May terdengar serak, namun aku menyukainya ketika dia memanggilku 'sayang'.


"Minggu lalu... Shania... menghilang.."


Oh dear!


Penculikankah?


"Melarikan diri tepatnya, Maya!" potong Raja Ruchi dengan wajah memerah. Sepertinya bara itu sudah keluar. Kali inu wajahnya menghadap kami.


"Lari dari orang tuanya! Lari dari rakyatnya! Lari dari Rhojan! Lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang putri! Lari dari tugasnya untuk bangsa dan negara!"


Dan Raja Ruchi belum selesai dengan amarahnya. "Sebulan, Maya! Sebulan sebelum pesta pertunangannya!"


"Apa?!" aku masih belum pulih dari keterkejutanku, dia menambahkan, "Itu namanya tidak bertanggung jawab dan egois!" kulihat pria yang sekarang kuanggap malang itu kini menghela napas panjang dan aku bisa melihat matanya juga berkaca.


"Apa yang harus kukatakan pada Mhoran? Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan rakyatku, Maya? Apa?" dia menatap langit-langit ruangan, meminta jawaban yang tidak akan pernah didapatnya.


"Maafkan aku." Kali ini kudengar bibi May berbisik. Isak tangisnya semakin jelas terdengar. Dia meremas sapu tangan warna tulanh didepan hidungnya.


"Maafkan aku, suamiku. Jika saja aku melahirkan putra untukmu, tentu tidak akan begini jadinya. Shania juga tidak akan menderita dengan tugas dan kewajibannya. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku..." dan tangis bibi May teredam, ketika Raja Ruchi menarik tubuhnya lalu mendekapnya dengan erat, hingga hanya bisa kulihat gerakan tubuhnya akibat sesenggukan.


Hatiku miris sekali melihatnya. Sungguh. Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh outsider blood sepertiku?


Tidak ada! Aku cuma bisa membuat onar.


Raja Ruchi benar. Sepertinya aku cuma pembawa masalah saja.


Aku bergerak maju dari tempatku berdiri. Kali inu rasa canggung yang besar melingkupi hatiku.


"Maafkan aku kalau tidak sopan dengan menanyakan ini," kataku hati-hati.


Seketika aku mendapat perhatian keduanya.


Mereka kemudian melepas pelukan seolah baru sadar ada orang lain di ruangan ini.


"Kenapa tidak dikatakan saja pada Mhoran bahwa Shania tidak bersedia untuk menikah dengan pangeran X itu?" tanyaku.


Raja Ruchi menghela nafas panjang. "Masalahnya tidak semudah itu, Sonia."


Dia raja. Memiliki kekuasaan mutlak. Apapun akan berlaku dan terjadi dengan titahnya. Masalah apa yang sulit baginya?


"Kau tidak keberatan untuk berbagi?" pintaku akhirnya.


Raja Ruchi kemudian duduk di sofa lalu memintaku melakukan hal yang sama.


Karena kurasa tidak ada bahayanya, aku menurut. Dan seperti dugaanku sebelumnya, sofa ini begitu empuk dan sangat nyaman.


"Aku akan meminta pelayan menyiapkan teh." Bibi May lalu berjalan ke sebuah pintu kecil didekat perapian dan menghilang sebelum aku sempat melarang.


"Kau tahu sejarah Rhojan dan Mhoran?" tanyanya memulai.


Aku menggeleng.


"Apakah ayahmu tidak menceritakannya?" tanyanya hati-hati menatapku, menunggu reaksiku.


Aku menggeleng lagi. Dengan jujur tentu. Karena memang aku tidak tahu apa-apa. Hal yang diceritakan dad adalah tentang superman, batman, cat woman, spiderman serta tokoh superhero lainnya. Bukan tentang Rhojan dan Mhoran. Mungkin sedikit dongeng tentang leluhur. Itu pun sangat sedikit.


Raja Ruchi menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil menghela nafas.


"Kurasa kakakku benar-benar ingin membuang Rhojan jauh-jauh di belakang."


Untuk yang satu ini, aku sama sekali tidak memberikan reaksi. Tidak mengatakan apapun atau menggerakkan kepalaku atau anggota badanku lainnya. Karena aku sendiri tak tahu harus bereaksi seperti apa.