Defeated

Defeated
Chapter 10



POV Calhoun


Cal memacu Archibal menuju hutan utara lalu ke tebing tertinggi. Dia tidak perduli tubuhnya basah kuyup oleh hujan dan angin. Dia bergerak bersama Archibal menuju sumber badai di Samudra Atlantik. Berusaha menakhlukannya.


Cal tidak tahu apakah dia akan berhasil, tapi jika ya, dia tahu dia juga bisa mengalahkan gemuruh badai di dasar jiwanya.


Archibal meringkik tajam saat mereka mendekati tebing tertinggi di Mhoran, dimana dibaliknya terhampar luas Samudra Atlantik yang gelap dan bergolak.


Angin semakin kencang terasa disini, mendorong untuk mundur dan menyerah, semakin membuat Archibak ketakutan.


Namun, membuat Cal semakin tertantang.


Cal lantas berteriak keras menyemangati Archibal. Kuda itu kembali menapaki jalan mendaki ke arah tebing. Dan ketika kaki depan Archibal mendekati tepian jurang, dengan sigao Cal menarik kekangnya. Kaki depan Archibal terangkat naik dan kuda hitam besar itu meringkik lantang ke tengah samudra yang disusul teriakan keras sang majikan.


Pengakuan.


Hanya itu yang Cal inginkan.


Bahwa dia layak menyandang nama Mhoran dibelakang namanya.


Cuma itu.


Semua pelatihan dilakukannya. Semua tata krama dipelajari.


Semuanya.


Demi kepantasan nama itu.


Bahkan dia rela melakukan pernikahan politik dengan Rhojan. Dengan putri Shanua, seorang yang asing baginya, jika hal itu memang disyaratkan dalam kepantasan dalam mrnyandang nama Mhoran.


Dia akan melakukannya.


Meski tanpa cinta.


Dan memang itulah syarat yang ditulis oleh leluhurnya sejak dulu. Dalam protokol kerajaan yang usianya setara usia leluhurnya. Namun, tetap memiliki kekuatan sakral. Hingga sekarang.


Tapi, sepertinya Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi Tuhan mungkin dirinya sudah cukup serakah. Jadi, mungkin bagi Tuhan, apa yang dicapainya sudah lebih dari cukup.


Dan ini tidak cukup bagi Cal.


Tidak memuaskannya.


Dan Tuhan sepertinya marah padanya. Karenanya, Dia membuat Shania melarikan diri. Membuat pernikahan ini terancam batal.


Cal menggeleng keras.


Tidak!


Tuhan tidak marah padanya. Belum.


Ini hanya tantangan dari-Nya. Dia hanya ingin tahu apakah dirinya pantas dengan nama itu.


Dan Cal akan menjawabnya.


Cal akan membuktikannya. Tidak hanya para rakyat, tapi juga Tuhan.


Cal menggertakkan giginya, kemudian menarik kekang Archibal dan mengarahkan kuda jantan ras murni itu untuk kembali ke jalan yang tadi mereka lewati.


Cal berteriak keras dan Archibal memacu cepat kaki-kaki kokohnya.


Mata hitam Cal menyipit seiring dengan munculnya rangkaian rencana di otaknya. Seduatu yang akan segera dilakukannya. Dia seorang Mhoran. Dan sebagai seorang Mhoran, menyerah hanyalah jalan bagi para pengecut juga banci.


Akan dia tunjukkan bahwa dia adalah Mhoran sejati.


Cal tahu siapa dirinya.


Terlahir serta tumbuh di dunia keras dan kejam, membuatnya kuat dan sekokoh karang.


Dan itulah yang membentuk karakternya.


Dia tahu cara mendapatkan apa yang diinginkannya, secara baik-baik maupun kasar. Membeli atau merebut paksa. Dan Cak juga tahu cara mempertahankan apa yang menjadi miliknya, haknya. Meski harus menjatuhkan bahkan melenyapkan pihak lawan.


Itu akan dilakukannya. Kalau perlu.


Pernikahan itu akan tetap berlanjut. Cal akan mengirim penyelidik pribadinya untuk melacak keberadaan Shania. Segera setelah mereka menemukannya, dia akan menyeret gadis itu ke altar pernikahan, meskipun Shania menjerit-jerit bahkan memohon .


Setelah mengembalikan Archibal ke kandang dan memastikan bahwa makanan serta minumannya tercukupi, Cal kembali ke dalam kastil, mandi air hangat dan berganti pakaian. Kemudian menuju ruang kerjanya dimana Cedric sudah menantinya untuk perencanaan tentang kejutan mendadak yang akan mereka berikan pada Rhojan, utamanya Raja Ruchi.


"Apakah anda juga membutuhkan pesawat rudal?" Cal mendengar Cedric bertanya. Kedua matanya menjauh dari kertas-kertas yang sedang dibacanya. Menatap pria tua didepannya.


"Menurutmu?" Cal balik bertanya.


"Aku tidak sedang unjuk kekuatan, Cedric," jawab Cal.


Cedric tersenyum. Dia menyukai ini dari tuannya. Sangat menyukainya. Dia krmudian mencoret pesawat rudal dari daftar yang dipegangnya. Meski kemudian menghapusnya kembali, memutuskan bahwa lebih baik membawa prototipe mesin rudalnya.


"Kapan Yang Mulia ingin kedatangannya anda diumumkan ke Raja Ruchi?"


Cal meletakkan kertas-kertasnya kemudian menyandarkan punggungnya.


Sudut bibirnya tertarik ke atas.


Senyum kepuasan tergambar jelas di wajahnya, sebelum akhirnya berucap, "Satu jam sebelum pesawat kita mendarat."


Ini akan sangat menarik sekali. Membayangkan bagaimana Raja Ruchi dan seluruh istana Rhojan panik.


Cak kemudian mendapati Cedric juga tersenyum.


Bukannya Cal tidak pernah melihat Cedric tersenyum. Sering malah. Tapi, senyumannya kali ini agak berbeda dari biasanya. Dan intuisi Cal mengatakan bahwa ada yang sedang disembunyikan pelayan paling setianya itu.


"Apa ada sesuatu yang menarik Cedric?" tanyanya kemudian.


"Tidak, Yang Mulia," jawab Cedric sambil tersenyum penuh rahasia. Dia benar-benar harus lebih hati-hati lagi karena majikannya ini sangat teliti terhadap segala hal, meskipun itu sesuatu yang kecil dan remeh. Seperti senyuman.


"Saya hanya tidak sabar ingin melihat tontonan menarik setelah pengumuman kedatangan kita pada Raja Ruchi."


Mata Cak masih menyipit. Penuh ketidakpercayaan. Tapi, dia tahu kesetiaan Cedric padanya.


Cedric tidak perlu mengatakannya, namun dia akan langsung membuktikannya.


Entah apa yang dilihat Cedric dalam dirinya, Cal tidak tahu. Entah mengapa pak tua itu lebih memilih untuk melayaninya, dengan latar belakang gelap, daripada kakaknya yang seorang putra mahkota. Seolah Cedric menaruh kepercayaan besar padanya. Dan Cak sangat menghargai itu.


"Apakah anda membutuhkan hal lainnya, Yang Mulia?"


Cal memutuskan untuk menghapus pikiran buruknya tentang Cedric lalu krmbali fokus pada pekerjaannya.


"Beri tahu Billy bahwa masa tugasnya di Rhojan berakhir, seoertinya dia tersiksa sekali dengan tugasnya. Katakan padanya bahwa dia bisa mengambil cuti untuk istiraha selama beberapa hari."


Cedric tersenyum. "Baik, Yang Mulia. Akan segera saya sampaikan kabar buruk ini padanya."


Alis Cal terangkat tinggi. "Kabar buruk?"


"Bahwa dia sudah tidak bisa menemui kekasihnya di Rhojan."


Cal menggelengkan kepala. Dia tidak kaget bahwa Cedric memiliki telinga penggosip. Apapun kabar terbaru yang terjadi, Cedric mengetahuinya. Bahkan perselingkuhan seorang janda kaya di ibu kota dengan pelayannya pun tak luput dari pendengaran Cedric.


Meskipun suka mendengarkan hal apapun di sekitarnya, Cedric bukanlah tipe mulut besar yang suka mengumbar kesana-kemari. Hanya ketika ditanya saja, dia akan menjawabnya.


Cal bersimpati oada Billy. Tapi, memang itulah kenyataannya. Rupanya sakit hati masa lalu tidak hanya melukai kerajaan tapi juga rakyat. sehingga tidak jarang beberapa penduduk Mhoran bersengketa dengan penduduk Rhojan di perbatasan. Tidak jarang pula hubungan pasangan kekasih langsung berakhir begitu tahu bahwa pasangannya berasal dari negara berbeda.


Tapi Cal akan mengubah itu semua.


Itulah yang akan dilakukannya begitu dia menikahi Shania.


"Lainnya, Yang Mulia?"


Cal menggeleng. "Kau boleh istirahat, Cedric."


"Terima kasih, Yang Mulia." Cedric lantas keluar ruangan, tersenyum melihat wajah serius majikannya yang berkutat dengan kertas-kertas. Majikan yang seluruh kesetiaan dia berikan sejak pertama kali dia melihatnya.


Majikan yang memang pantas mendapat kesetiaannya. Karena dia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain di dalam diri dan jiwa majikannya. Sesuatu yang tidak dimiliki baik oleh putra mahkota ataupun raja terkini Mhoran.


Cedric melihat cahaya seorang raja di jiwa majikannya.


Seorang raja yang sebenarnya.


Raja sejati.


Cedric lalu menutup pintu.


*Maaf ya kalo ada typo, readers


Ngetiknya malam-malam soalnya 😁


Jangan lupa like, komen serta vote-nya


Ditunggu feedbacknya 😉


**Salam tengkyu dr Memira 😆***