
Dan prasangka Moses terbukti tiga jam kemudian...
"Apa yang sudah kulakukan?!" teriakanku langsung tertelan guntur dan derasnya hujan.
"Aku pasti sudah gila kan, Moses?"
Moses tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, namun karena dia sudah tahu akan begini nantinya serta dia harus berkonsentrasi penuh mengarahkan mobil di malam berbadai ini.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini, Moses? Kenapa?" aku menjambak rambutku sendiri, penuh frustasi.
"Bagaimana bisa aku malah membantu mereka melarikan diri? Bukankah jika aku membawa Shania kembali ke istana, masalahku akan beres? dan aku bisa kembali ke Kanada untuk menjalani hari-hariku yang damai."
Aku memukul dasbor.
"Ini gara-gara Mhoran sialan! Pangeran brengsek itu dan militernya!" Aku melipat lenganku ke dada. "Apa-apaan itu! Mau unjuk kekuatan dengan militer?! Mengintimidasi itu namanya!" belum puas, aku melanjutkan.
"Sombong sekali! Memangnya mereka sehebat itu apa?!"
"Mereka memang sehebat itu, Yang Mulia."
Mataku mendelik menatap Moses yang tiba-tiba bersuara. "Benarkah?"
"Pangeran Calhoun, calon tunangan putri Shania, sudah dikirim ke berbagai wilayah berkonflik di dunia sebagai pasukan perdamaian PBB sejak berusia tujuh belas tahun. Pengalamannya begitu banyak, sehingga tidak salah jika dia ditunjuk sebagai pemimpin kemiliteran."
Mataku menyipit. "Moses, apa kau mengatakan bahwa sekarang kau pro Mhoran?"
Moses tersenyum ketika aku menggerak-gerakkan ujung-ujung jariku sambil berujar penuh ancaman, "Meski tidak panjang, kuku-kuku inu lumayan tajam lho, Moses."
"Hamba tidak tahu ini disebut berkhianat atau apa, tapi kalau hamba mendapat kesempatan belajar tentang kemiliteran Mhoran, dengan senang hati akan hamba jalani, sehingga nantinya akan hamba abdikan untuk melindungi Rhojan."
Moses benar-benar pandai memilih kata-kata. Kalau sudah begitu, aku harus bicara apa lagi? Dari ekspresi Moses, dia begitu sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dan aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.
"Dan alangkah bagusnya lagi kalau Rhojan dan Mhoran bersatu," gumam Moses dengan mata menerawang ke depan. Seolah sadar dirinya tidak sendirian, Moses buru-buru mengoreksu ucapannya, "Maafkan bicara ngawur hamba, Yang Mulia."
Salah sekali Moses kalau dia mengira aku tidak akan mengorek lebih dalam. Dia sudag meludahkan, dan tak akan kubiarkan dia menelannya lagi. " Sesuatu terjadi, Moses?"
Aku tersenyum menang saat melihat jakun Moses bergerak naik-turun untuk menelan ludah. "Ti... tidak, Yang Mulia. Hanya..."
"Hanya apa Moses?"
Dahiku mengerut bingung. "Campuran?"
"Ayah hamba adalah seorang Mhoran, ibu hamba adalah seorang Rhojan."
Aku merasa bola mataku ingin melompat keluar dan terjun bebas. Mulutku menganga lebar. "Sumpah?"
Moses mengangguk.
"Apa yang terjadi?" tuntutku.
Moses menghela napas lagi. "Ketika hamba sepuluh tahun, pertengkaran kecil mereka membesar, luka lama disebut-sebut dan perceraian terjadi. Hamba ikut ibu, sementara adik perempuan hamba yang masih balita diasuh ayah hamba."
"Luka... lama?" tanyaku hati-hati.
Wajah Moses berubah. Seolah tidak enak dengan apa yang akan dikatakannya. Namun, dia tahu aku adalah pemaksa sejati, jadi cepat atau lambat dia harus mengatakannya.
"Anda tahu... tentang... yang terjadi dengan... leluhur Mhoran dan Rhojan."
Mataku terpejam. Sudah kuduga itu yang akan dikatakan Moses. Lagi-lagi leluhurnya. Semuanya bersumber dari leluhurnya.
Lama-lama aku geram juga. Tidak habis pikir tentang yang dilakukan leluhurnya. Memangnya apa sih yang dipikirkannya? Mau menyaingi pertikaian Korea Utara dan Selatan? Kalau memang tidak suka Mhoran, seharusnya jauh-jauh hari bilang, bukannya kabur satu menit sebelum upacara pernikahan?!
Belum puas aku mengomel sendiri dalam hati, aku merasakan guncangan keras ketika Moses membanting setir ke tepi jalan, membuatku terayun ke depan dan kepalaku menatap dasbor mobil dengan keras.
Aku bisa merasakan sisi mobilku menggesek batang pohon, sebelum akhirnya mobil berhenti di tengah jalan yang di tutupi tirai hujan yang tebal.
Aku mendongak dan kurasakan lengan kiri Moses mendorong tubuh depanku ke belakang dengan sentakan keras ketika kudengar sesuatu menembus kaca samping Moses dan melewatiku dengan cepat seperti kilat kemudian menancap kuat di dinding mobil sebelah kiriku.
Aku syok menatap benda panjang seperti stik drum dengan ujungnya yang berbulu itu.
Aku mengetipkan mataku berkali-kali, memastikan bahwa benda yang menyangkut disamping kiriku itu memang benar anak panah.
Anak panah!
Sungguhan!