
Bolehkah?
Cal mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan wajah kaku. Lalu tak lama, dia menghembuskan napas panjang.
Aku tahu itu bukan pertanda baik. Tapi entah bagaimana, dia akhirnya berhasil mengendurkan ketegangan di wajahnya lalu berjalan ke arahku.
"Ayo! Akan kuajari cara menembak." Cal berjalan melewatiku, menuju sebuah meja dengan peralatan menembak lengkap yang sudah tidak digunakan karena prajurit itu segera menyingkir ke lapangan.
Cal menatapku dengan alis terangkat. Heran, karena aku masih berdiri di tempatku. Tercenung. Terpana, lebih tepatnya.
Apa yang sudah dia lakukan?
Bersikap baik?
Dengan sengaja, untuk membujukku menikahi...
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku buru-buru menggelengkan kepala, berusaha keras untuk mengusir pikiran busuk itu, yang kalau dibiarkan terlalu lama bersarang bisa menyebabkan insomnia akut.
Aku tidak mau memikirkannya. Tidak sekarang. Atau selamanya, itu pun kalau bisa.
Tuhan tahu aku tidak menyukai Ru-Ru.
Tapi, Dia juga tahu kalau aku sangat membenci Cal.
Tapi, sekarang. Detik ini. Selana apa yang akan dilakukan Cal adalah sesuatu yang menarik minatku, why not? aku tidak keberatan berdekatan dengannya.
Dan berlatih menembak sudah mencuri perhatianku sejak tadi. Jadi, tanpa ragu aku meelangkah, mendekati Cal.
Aku memasang kaca mata serta head set untuk melindungi telingaku seperti perintah Cal. Mula-mula, Cal memberi contoh posisi badan yang tepat untuk menembak lalu meletuskan beberapa kali tembakan ke sasaran sejauh lima belas meter di depan. Dan semuanya, tepat mengenai sasaran.
Bull's eye.
Super cool!
Sebagai orang yang awam terhadap hal ini, aku hanya bisa membuka mulutku penuh keterpanaan. Berkali-kali aku mengedipkan mata tak percaya.
Pantas saja Shania kabur, Cal benar-benar a truly Hitler.
"Tegakkan punggungmu!" suara Cal mengejutkanku. Aku buru-buru melakukan seperti yang diminta. Cal lalu berdiri di belakangku, menyerahkan pistol ke tanganku.
Dia memegangi kedua tanganku yang merangkum benda hitam berbahaya itu hingga aku bisa menyeimbangkan posisi tubuhku dengan pistol yang kupegang.
"Fokuskan pada target." Cal berbisik pelan di dekat tengkukku yang langsung membuat kulitku merinding. Refleks, aku menarik pelatuk dan "DOR!"
Bulir besi kecil itu meledak dan terbang menembus sasaran. Menciptakan sebuah lubang kecil lagi, jauh di luar garis lingkaran yang artinya... tembakanku meleset dari target.
Sial!
"Jangan terburu-buru, Sonny." Cal memberi tahy. Dia kembali meluruskan posisi pistol di tanganku. "Fokuskan semua pikiranmu pada target di depan."
"Mungkin aku butuh target hidup. Yang bernapas," sergahku cepat, lalu menatap kerutan di dahi pria di belakangku atas pernyataan tadi. "Mau menjadi sukarelawan?" tawarku sinis.
Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Menghasilkan senyuman tak terbaca.
Dingin sekaligus penuh misteri. Membangkitkan bulu roma.
Segera kualihkan kedua mataku pada target di depan. Berusaha mengalihkan perasaan dingin yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh.
"Sonny tidak akan pernah bisa mengalahkan Athilah Khan," bisik Cal di telingaku.
Terkejut, membuat kedua tanganku refleks menarik pelatuk pistol dan, "DOR!".
Peluru melayang ke depan lalu menembus target yang lagi-lagi keluar dari garis lingkaran.
Sialan!
Aku menatap tajam wajah Cal yang terkesan acuh itu. Segurat senyum tipis penuh kelicikan tersungging di wajah dinginnya.
Brengsek!
Ingin sekali aku menjerit kencang. Tapi, di tempat seramai ini? bisa-bisa aku mendapat ceramah berjam-jam dari Ru-Ru. Tentang inilah, itulah, apalah, segala ***** bengek masalah etiket seorang putri.
Memikirkan itu saja sudah membuatku ogah.. Gemas, kuacungkan pistol ke depan. Kutembakkan peluru yang tersisa. Entah kemana peluru-peluru itu terbang melayang, aku tak perduli. Amarah ini mesti kusalurkan.
Satu hal yang kucatat dengan sangat jelas sekali di otak dan akan segera kulaksanakan begitu kembali ke istana adalah aku harus memastikan Ru-Ru menarik biaya sewa untuk setiap kapal serta prajurit Mhoran yang ada di teluk ini!
Biar tahu rasa mereka!
Sepanjang siang itu kuhabiskan untuk berkeliling.
Seperti orang linglung.
Tanpa minat. Lagi.
Tak kuhiraukan berbagai tataoan menyelidik penuh tanya. Toh, kau tidak bisa kabur kemana-mana, jadi memberitahu Cak kurasa bukan hal penting. Disini, terlalu banyak mata-mata yang dia miliki, jadi aku tidak mau repot-repot memberitahunya.
Hingga akhirnya aku merasa bosan dan kelelahan. Aku memilih untuk duduk di sebuah hamparan karang di tepi pantai yang terlindungi oleh sebuah bukit karang besar dan tinggi di sebelahnya.
Menatap kejauhan sambil memikirkan bagaimana bisa diriku terseret sampai disini.
Seandainya Ed dan para Men in Black itu tidak muncul, mungkin saat ini aku sedang bersenang-senang dengan teman-teman. Memanjat tebing lalu berkemah dibawah taburan bintang. Menikmati alam. Mengambil beberapa foto dengan kamera mom. Lalu...
Pikiranku terhenti seketika. Aku mengerutkan dahi.
Teman-teman?!
Sial! Aku baru ingat belum memberi kabar sama sekali pada Luke dan Donny. Mereka pasti cemas sekali. Dan panik.
Ya, benar. Menelpon teman.
Lamat-lamat kuhembuskan napas panjang dan dalam.
Meski bongkahan besar masih terasa menyesakkan dada dan membuat kepala pening, setidaknya aku ada kegiatan malam ini untuk mengusir penat.
πΊπΊπΊπΊπΊ
**Hai... Hai... Hai... Up lagi nih (pumpung hpnya nganggur π)
Jangan lupa dukungan berupa dibaca, di like terus di komen ya teman-teman π
Matur suwun π€
πΊπΊπΊπΊπΊ**