Defeated

Defeated
Chapter 13



Sekali lagi, maafkan aku readers 😫


Part ini juga panjaaaang sangat 😓


Semoga kalian menikmati 😆


Selamat membaca 😉


*****


"Ada kabar dari the lost princess?"


Suara Rocky membuyarkan semua lamunanku.


Aku menggeleng, menjawab pertanyaan Rocky tentang Shania. Detektif pribadi yang juga dikirim Ru-Ru untuk melacak keberadaan Shania mulai terserang sakit kepala akut. Dari pembicaraan Ru-Ru di telepon dengan mereka tadi malam, bisa kutangkap bahwa mereka masih belum berhasil menemukan sedikitpun petunjuk tentang Shania. Wajah Ru-Ru semakin tegang. Apalagi ini sudah hampir lima belas hari sejak aksi kaburnya Shania. Berarti tinggal setengah bulan lagi kedatangan Mhoran. Istana benar-benar semakin panas.


"Bukankah Rhojan tidak seluas Amerika, bahkan Kanada."


Aku bisa memahami poin yang dimaksud Sarah, dan itu membuatku juga ikut berpikir.


Apa susahnya mencari orang di negeri yang tak begitu luas ini?


Apalagi Ru-Ru juga sudah menempatkan beberapa pasukan khusus di bandara, jadi, jalur keluar-masuk Rhojan diawasi ketat.


"Aku masih tidak percaya, putri pendiam itu bisa melarikan diri."


Aku menatap Rocky. "Pendiam?"


Rocky mengangguk. "Dua kali aku melihatnya. Di upacara kenegaraan dan hari kemerdekaan. Dia tampak kalem dan... lemah. Terpaan angin kecil saja pasti membuatnya ambruk. Kontras sekali denganmu."


Aku memutar bola mataku. "Trims, Rocky." Mataku mendelik. "Sekarang aku tahu bahwa sepupuku itu seperti antartika sedangkan aku gurun sahara. Dia Snow White, sementara aku Qruella Devil."


Ricky terbahak. Sarah menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Aku melirik Moses. Pria itu memalingkan wajahnya, berusaha menahan tawa.


"Maksudku Sonny," Rocky melanjutkan setelah tawanya reda, "untuk urusan kabur dan melarikan diri, sepertinya kau lebih cocok ketimbang putri Shania. Kau lebih tahan banting."


"Terima kasih atas pujiannya." Aku menatap langit-langit sambil menggeleng kepala. Namun, sesuatu yang ganjik langsung menyusupi otakku.


"Tunggu dulu," aku menatap Rocky, "kau bilang Shania lebih cenderung tenang dan diam..."


Rocky mengangkat bahu. Aku lantas menatap Moses, "benarkah itu?"


Dahi Moses mengerut. "Hamba memang belum pernah bertemu secara langsung dengan beliau, tapi menurut pembicaraan orang, perilaku beliau memang seperti Yang Mulia Ratu. Seratus delapan puluh derajat, berbanding terbalik dengan anda."


Aku menggeram pelan. Ingin sekali kurebut pistol di pinggang Moses lalu menembak mulut menyebalkan pria itu, meski kurasa itu adalah kebenaran.


"Mungkinkah..." bisikku pelan. Di otakku sekarang terhimpun sebuah hipotesa yang perku dibuktikan segera.


"Jika melihat sifat Shania yang tenang itu, mungkinkah dia... dalam melarikan diri, mendapat bantuan seseorang?"


Tiga pqsang mata menatap tajam padaku. Suasana ruang makan menjadi hening tiba-tiba.


"Maksudmu Sonny?" Sarah meletakkan kembali sendoknya.


"Coba kalian pikir! Shania yang tenang, kalem, pendiam, dan lemah seperti bibi May bisa kabur seperti itu seorang diri? Mustahil kan? Dia pasti butuh bantuan, dari seseorang yang dia percaya. Seseorang yang... sangat dekat."


Begitu aku menekankan kata 'dekat', aku melirik Moses.


Wajah Moses memucat. Dia menelan ludahnya sendiri lalu meletakkan sendok-garpunya.


"Mana mungkin hamba berani..." dia menelan ludah lagi ketika aku masih menatapnya dengan tajam.


"Yang Mulia..." dengan susah payah Moses berusaha mengeluarkan suara, "membantu seorang bangsawan kabur hukumannya sangat berat... bisa penjara seumur hidup."


"Aku kan tidak mengatakan bahwa itu dirimu, Moses," gerutuku.


Moses mendenguskan nafas lega. "Tapi kurasa mustahil, Yang Mulia," katanya kemudian.


Kedua alisku terangkat tinggi.


"Mike atau Michael, sudah mengundurkan diri dari tugasnya sebagau pengawal pribadi sejak enam bulan yang lalu karena ibunya sakit keras. Dia ingin pulang ke kota kecil kelahirannya dan merawat sang ibu."


"Bagaimana dengan pelayan pribadi?" kali ini Sarah menyuarakan pemikirannya. Itu adalah sesuatu yang diluar dugaan dan juga memungkinkan.


Pelayan pribadi.


Bagaimana busa aku tidak memikirkannya?


"Aku tahu orang yang bisa menjawab itu." Aku lantas meraih ponsel dan menekan nomor yang sudah kukenal.


Sudah saatnya memberi misi rahasia pada Naina.


*****


Aku dan Moses tiba di istana petang hari. Aku langsung menuju kamar dimana Naina sudah menungguku sejak tadi. Gadis penggugup itu terlihat mondar-mandir di dalam kamar sambil meremas-remas kesepuluh jarinya.


"Bagaimana?" tanyaku setelah menutup pintu kemudian Moses berdiri tegak di dekat pintu.


"Yang Mulia," pekik Naina. Entah gembira karena aku sudah kembali atau apa, yang jelas wajah pucat gadis itu kembali meremang merah begitu melihatku.


Naina mengangguk cepat. Aku laku menggeretnya untuk duduk bersamaku di kasur.


"Mu... mulanya tidak ada yang tahu tentangnya, Yang Mulia, karena rata-rata semua pelayan istana masih muda. Hamba juga tidak berani menanyakannya pada tuan Edward. Anda tahu kan dia dekat dengan Raja," aku mengangguk cepat.


"Tapi, ketika hamba tak sengaja ke dapur para prajurit, ada koki bernama Mary, saat itu hamba berpura-pura membawa paket untuk Maria. Saat itu, Mary bilang bahwa Maria sudah tidak bekerja di istana sejak tiga bulan yang lalu."


"Apa?" bisikku lirih.


"Mary sendiri juga heran," lanjut Naina. "Menurutnya, Maria adalah sosok yang disiplin dan sangat setia. Dia tiba-tiba memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan ingin pensiun dini, padahal usianya masih terbilang cukup muda."


Aku menatap Moses dan bisa melihat kedua matanya terbelalak sepertiku. Mulutnya terbuka, ingin mengucapkan sesuatu namun batak begitu dering ponsel menggema. Ponsel Moses.


Aku dan Naina saling berpegangan tangan dengan erat menatap Moses yang berbicara lirih. Entah sejak kapan aku akrab dengan Naina, pelayan pribadiku, yang secara khusus dipilih bibi May untuk melayani segala kebutuhanku. Mungkin karena usia kami tidak jauh berbeda yang membuat kami cepat akrab. Aku dua puluh tiga, Naina dua puluh dua.


"Dari Rocky," jawab Moses sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Dan?" tanyaku gusar.


Moses berjalan mendekat, kemudian berjongkok di depanku. Aku bisa merasakan darahku berdesir kencang, menantikan kabar yang dibawa Rocky.


Karena begitu tahu hipotesaku tentang kaburnya Shania, suami Sarah dengan senang hati mengajukan diri menjadi mata-mata bagi kami.


Siang itu juga, dia pergi ke kota kecil Mike sambil membawa beberapa peti wine, untuk dijuak disana (kedok yang bagus sekali, yang sama sekali tak terpikirkan olehku), sekaligus mencari informasi tentang Mike atau barangkali Shania.


"Rocky mendengar ibu Mike sudah meninggal dunia lima bulan yang lalu."


Aku dan Naina terkesiap. Nafas kami berdua seperti tercekat erat. Tapi, sepertinya Moses belum selesai dengan beritanya.


"Dan..." aku mendengar suara Moses semakin pelan, penuh hati-hati. "Salah seorang yang ditemui Rocky mengatakan pernah melihat Mike bersama gadis muda di sebuah pekan raya..."


Ya Tuhan. Ya Tuhan. Ya Tuhan.


Tapi... bisa saja itu adiknya Mike kan?


"dan seorang wanita paruh baya."


Tidak. Tidak. Tidak.


"Ya Tuhan," aku mendengar Naina memekik, tapi gadis itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. "Mungkinkah dia?" tanyanya mewakili pertanyaanku.


"Mungkin saja. Tapi harus dipastikan terlebih dahulu."


Aku mebgangguk cepat. Benar. Harus dipastikan dulu.


"Hamba akan berangkat pagi-pagi sekali besok," kata Moses.


"Aku ikut juga."


"Tapi Yang Mulia..." protes Moses.


Aku langsung memotongnya, "Shania tidak oernah bertemu denganku, demikian juga Mike. Akan lebih mudah bagiku menemui meteka daripada dirimu Moses. Karena begitu melihatmu, Mike akan langsung bersiaga dan bisa jadi membawa lari Shania lagi."


Moses diam. Dia tahu bahwa apa yang kukatakan memang ada benarnya.


"Tapi, kota itu jauh sekali Yang Mulia. Hampir seperempat hari menempuhnya dengan mobil. Apa yang akan anda katakan pada Raja dan Ratu?" bisik Naina dengan tubuh gemetar.


Entah kenaoa gadis itu banyak sekali rasa cemasnya. Seolah stoknya tidak pernah habis.


Dan sialnya lagi, Naina benar.


Aku sudah cukup membuat Ru-Ru pusing dengan seringnya diriku berkeliaran di tengah kota bahkan pinggir kota. Apalagi dengan lebih seringnya aku tidak ikut makan malam bersama, membuat Ru-Ru tetap cenat-cenut meski dia sudah menyuruh Moses untuk terus mengekoriku


Hm... dahiku berkerut. Sudah saatnya menambah anggota koalisi.


*****


Wajah pucat bibi May terpatri jelas dengan bibir yang berkali-kali menyuarakan puji-pujian pada sang Penguasa keajaiban. Tak berapa lama anak sungai banyak terbentuk di pipi halusnya begitu mendengar penjelasanku.


"Karena itu..." kataku mengakhiri penjelasan. "Aku ingin bibi mengijinkanku dan Moses menemui Shania dan berbicara padanya."


"Tentu, sayangku." bisik bibi May sambil menatap lembut padaku.


"Dan Ru-Ru tidak boleh tahu tentang ini." Aku kembali menekankan.


Jika Ru-Ru tahu, bisa lebih parah akibatnya. Bisa-bisa dia membawa pasukan kavaleri untuk meringkus Mike dan Shania. Dan aku tidak mau membayangkan kelanjutannya.


"Tenang saja, Sonia sayang. Aku akan menyibukkan pamanmu seharian besok."


"Terima kasih."


Bibi May menggeleng pelan. "Itu kata-kataku, sayang. Terima kasih."


"Terima kasih Moses." Bibi May menatap lembut Moses dan pria itu menunduk memberi hormat. "Kewajiban hamba, Yang Mulia."


"Dan kau juga Naina, terima kasih."


Naina memberi hormat lalu tersenyum. "Yang Mulia."


"Oke!" seruku. "Ini rahasia kita. Tidak ada yang boleh tahu selain kuta, sampai ada kabar dariku dan Moses. Paham?"


Naina dan bibi May mengangguk dengan wajah serius.