Defeated

Defeated
Chapter 5



Tentu saja aku tidak jadi membunuh sang pilot. Kalau iya, tentu tubuhku ini sudah jadi santapan para ikan di Atlantik.


Nyaris sih.


Sayang sekali sebenarnya.


Kalau jadi, tentu aku tidak akan berada disini sekarang, mengenakan gaun tidur tanpa lengan yang menggelikan dari satun tipis warna pink, yang langsung membuat ngilu mataku, yang bertumpuk dengan beberapa ornamen berbentuk mawar di bagian pinggang dan sama sekali tidak mampu menahan terpaan angin malam yang menggigit.


Membuatku bersin berkali-kali dan menghabiskan banyak tisu.


Seperti orang bodoh saja aku ini. Berdiri seorang diri di atas balkon. Menatap kegelapan malam dan rimbunnya pepohonan dibalik tembok istana. Tapi, apalagi yang bisa kukerjakan selain ini?


Aku masih hidup. Amin untuk itu.


Tentu saja, Ed dan lainnya juga masih bernapas dengan baik, bahkan mungkin sekarang sedang tidur nyenyak, lega karena tugas mereka akhirnya berakhir dengan selamat. Karena begitu tanganku hendak membuka pintu kokpit, suara sang pilot terdengar di setiap speaker pesawat. Memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat kurang dari setengah jam lagi dan para penumpang diharap untuk segera memasang sabuk pengaman.


Perfect timing!


Aku banyak menggerutu saat Ed membimbingku kembali ke kursi lalu dengan profesional memasang sabuk pengamanku.


Dan HOLLA!


Disinilah aku sekarang! Rhojan.


Negara minarki kecil di sebuah kepulauan di samudra Atlantik. Negeri para leluhurku yang sama sekali belum pernah kulihat.


Sama sekali!


Hanya dari dongeng sebelum tidur ayahku saat kecil. Namun, sama sekali tidak membangkitkan minatku untuk mendengar kala itu. Tidak juga sekarang.


Matahari sudah terbenam ketika aku turun dari pesawat. Jadi sekelilingku hanya ada gelap dan pekat, kecuali lampu-lampu dari ruang-ruang di bandara tentu saja.


Disana, dibawah tangga pesawat, tiga mobil menunggu di landasan. Salah satunya adalah limousine.


Limousine!


Aku bisa merasakan rahang bawahku bergerak turun saking terkejutnya. Maksudku, tentu saja bukan karena aku orang yang kuper dalam hal informasi. Aku tahu limousine dan pernah melihatnya. Tapi melihat hal itu di TV dan secara langsung, tentu hal berbeda. Benar kan?


Tidak banyak yang bisa kulihat selama perjalanan menuju istana karena hujan deras disertai angin ribut langsung menerpa begitu iring-iringan mobil kami bergerak.


Hebat! Sepertinya kesialanku masih akan terus berlanjut.


Tidak sampai setengah jam berikutnya, aku menyaksikan gerbang besi raksasa dengan ketinggian yang kurasa lebih dari sepuluh meter. Tersusun dari besi-besi tebal berbentuk silinder yang disejajarkan dengan ujung yang runcing menjulang keatas, seolah menantang langit. Ada ukiran besi di masing-masung pintu. Terletak di tengah-tengah. Aku tidak bisa menabgkap pasti gambar apa disana karena kaca limousin-ku menjadi buram karena udara dingin di luar. Meskipun begitu, sekilas aku bisa menebaknya. Itu adalah ukiran berbentuk burung merak.


"Lambang negara Rhojan," bisik Ed disampingku, menjawab pertanyaan yang sama sekali belum kulontarkan. Sepertinya Ed memiliki indra keenam, bujtinya dia bisa langsung menebak isi kepalaku dengan menjawab pertanyaan di otakku.


Wow! Ed orang yang cukup berbahaya. Aku perlu berhati-hati.


Mobil kami melaju perlahan ketika melewati gerbang. Terus melaju, sepertinya belum ada tanda akan berhenti. Aku mengusap telapak tanganku ke kaca mobil, menghapus embun yang menutupi penglihatanku. Tetap sama. Gelap. Tapi, aku meyakini satu hal, apa yang ada didepan mataku adalah sebuah halaman yang sangat luas diterangu oleh lampu taman yang redup kekuningan. Jika saja tidak sedang hujan, kurasa diluar sana pasti sangat indah.


Aku kembali ke posisi dudukku semula. Duduk tegak menatap kaca didepan supir, dimana terbentang bangunan megah yang mungkin hanya ada di cerita dongeng. Belasan, bahkan mungkin puluhan jendela mengeluarkan cahaya dari dalam. Berkabut dan terlihat eksotis akibat guyuran hujan serta udara dingin. Dindingnya begitu tebal, kurasa. Begitu kokoh, menahan atap berlapis dengan beberapa menara seperti dala cerita Rapunzel. Beberapa cerobong asap juga terlihat, menguarkan sedikit asap dari perapian di bawahnya, yang segera lenyap ditelan udara dingin dan hujan.


Mulanya, kukura bangunan didepanku itu kecil. Tapi, begitu mobil semakin mendekat kemudian mengitari sebuah air mancur nan menakjubkan di depan pintu masuk, aku merasa diriku ini adalah kurcaci. Begitu kecil. Sangat mini.


Mobil berhenti tepat didepan pintu masuk yang lebar dan terbuka. Didepannya ada deretan beberapa anak tangga dengan beberapa pria dan wanita yang berdiri berjajar lurus membentuk lorong dari pintu masuk hingga ke deret tangga terakhir. Sesuatu yang baru kusadari ketika mobil berhenti.


Ed membuka pintu disampingnya lalu keluar dan berdiri tegak kemudian agak membungkukkan thbuhnya sambil mengulurkan salah satu tangannya ke dalam mobil. Kepadaku.


Yach!


Aku memutuskan untuk membuka pintu disebelahku, menarik ransel lalu keluar. Memutar tubuhku dan menatap Ed lalu menyengir puas.


Aku tertawa dalam hati ketika melihat kepala Ed menggeleng pelan, seolah aku ini adalah sumber masalah yang akan menantinya. Well, dia sudah memberiku masalah, jadi sudah sepantasnya aku memberi masalah padanya, kan?


"Selamat datang Yang Mulia."


Orang-orang diatas tangga itu tiba-tiba menyeru dengan kompak ketika kakiku mulai menapaki di tangga pertama. Dengan anggun mereka membungkuk tiga puluh derajat dengan kedua tangan tersilang di perut bagi para pria. Sedangkan para wanitanya merendahkan tubuh mereka lalu menyilangkan kaki kiri mereka di belakang kaki kanan. Kepala mereka juga menunduk penuh hormat. Meskipun aku tadi sempat melihat keterkejutan di mata mereka, entah karena penampilanku yang memang minim, atau bau badanku karena aku memang belum mandi sama sekali, yang jelas mereka terlihat shock. Namun, segera menyembunyikannya dengan menunduk ke bawah.


"Silakan " Tangan kiri Ed terentang kesamping badannya, menunjuk arah pintu masuk. "Yang Mulia Raja dan Ratu telah menunggu anda."


Bisa kurasakan kedua tanganku gemetar. Paru-Paruku seolah tersumbat, membuatku sulit bernapas. Perutku tiba-tiba melilit, ingin buang air. Benar-benar gejala nervous yang parah.