
Semoga readers tetap betah pantengin ini cerita ya π€
*****
Aku melirik ke bawah dari balik bahu lengan kananku yang menggantung di salah satu kaki patung merak penghias dinding luar istana.
Sial!
Billy dan antek-anteknya berkeliaran di bawah sana. Apa mereka tidak butuh tidur?
Aku menggeleng pelan.
Ini sudah hampir sepuluh menit, aku bergelantungan seperti ini. Tanpa tali serta sepatu panjatku. Hanya mengandalkan tangab kananku yang masih sehat serta dua kaki.
Aku melirik balkon kamarku. Pintunya tertutup rapat, dan sudah kupastikan itu.
Begitu Naina selesai dengan tugas terakhirnya, menyiapkanku tidur, aku menarik selimut hingga ke dada lalu memejamkan mata. Bukan tidur. Tapi memastikan bahwa keadaan sekeliling sudah aman untukku menyelinap keluar.
Dilarang keluar, bukan berarti menghalangiku untuk menggunakan akalku.
Tentu saja tidak!
Aku menunggu sekitar satu hingga dua jam sebelum akhirnya menutupi bantal-gulibg yang kususun sedemikian rupa hingga membentuk seperti tubuh orang tidur, lalu menutupinya dengan selimut.
Kemudian aku menggantu piyamaku dengan celana jins pendek hitam, tank-top hitan serta hem kotak-kotak warna abu-abu. Tak lupa jumoer hangatku warna abu-abu muda serta boots hitamku yang kumasukkan ke dalam ransek kecil di punggung.
Lalu aku membuka pelan selot pada pintu balkon kemudian menutupnya kembali tanpa suara.
Untungnya, selot di pintu balkon sangat mudah untuk jatuh ke bawah dan mengunci diri hanya dengan sekali dorongan kecil. Setelah itu, aku tiarap di lantai balkon beberapa saat, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar dorongan pada pintu yang baru saja kubuat.
Aku melompati tepian balkon dan sepuluh menit kemudian, bergelantungan di bawah kaki merak sambil menanti oliver hengkang dari bawah pantatku.
Untungnya lokasiku saat ini berada dalam bayangan tembok sehingga tertutup sempurna dari penglihatan biasa, apalagi beberapa pohon cemara tinggi berdiri berjajar di bawahku menutupi pandangan ke atas siapapun jika berdiri di bawah.
Aku melirik ke bawah lagi dan melihat Oliver mengeluarkan sebatang putih kecil dari sakunya.
Apa yang harus kulakukan?
Tentunya aku tidak bisa terus-terusan bergelantungan disini.
Tangan kananku sudah merengek minta diganti. Tak ada pilihan lain, aku mengayunkan tangan kiriku ke atas, meraih satu lagi kaki merak. Aku mengernyit, ketika rasa nyeri kecil itu berdenyut di jahitan lukaku.
Untungnya, tidak berapa lama aku mendengar suara yang memanggil Oliver untuk kembali ke dalam dari walkie-talkie pria itu. Dan tak lama kemudian, dia pun berlalu.
Aku menghembuskan napas lega.
Kesempatan ini tak kusia-siakan, aku segera bergerak merayap turun, dengan tetap bersembunyi dalam sisi gelap dinding istana.
Begitu kakiku menginjak tanah, aku kembali mengendap ke arah taman yang temaram sambil terus menempel ke dinding. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, aku berlari menerobos taman bunga bibi May ke arah tenggara hingga menemukan pagar istana.
Mendakinya lalu melompat turun dan kembali berlari, kali ini menuju keramaian di alun-alun kita, lalu membaur disana.
Kebebasan memang tidak ternilai harganya. Aku memejamkan mata lalu meregangkan sekujur tubuh. Mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kuat-kuat.
Nikmat. Benar-benar nikmat.
πΊπΊπΊπΊπΊ
**Makasih teman-teman yang sudi mampir π€
Jangan lupa dukungannya ya berupa love, like, komen positif, rate serta vote
Biar penulis semangat terus ngetiknya.
Sampai jumpa lagi π
πΊπΊπΊπΊπΊ**