
Berada di tengah keramaian seperti ini, tanpa kungkungan tembok yang mengelilingi adalah aku.
Inilah diriku yang sebenarnya.
Sonia Kieve.
Kubuka mata. Beberapa pasang mata menatapku kemudian tersenyum. Kearahku.
Kubalas dengan hal serupa.
Disini, rakyat benar-benar sedang berpesta. Tidak ada perbedaan kasta maupun derajat. Semua sama. Semua bersatu. Semua merayakan.
Rangkaian kembang api di angkasa saling bersilangan kemudian menggelegar memuntahkan api warna-warni. Menghipnotis ribuan pasang mata.
Beberapa penjual makanan ringan, souvenir, serta mainan saling bersahutan, melambaikan tangan ke orang-orang yang melewati depan kios mereka, berharap akan mampir dan menambah rejeki keluarga mereka.
Aku suka sekali suasana ini.
Kalau saja kamera ibu ada di tangan saat ini, tentu aku akan dengan suka ria mengabadikan setiap momen yang membekas.
Keterpanaanku meluruh oleh nada-nada ceria yang menghentak keras dari sebuah dance floor ditengah-tengah lapangan. Mataku melonjak kegirangan ketika bersitatap dengan bola disko yang berputar di atas sebuah tiang besi di tengah-tengah dance floor. Sorotan lampu warna-warni dipantulkan sang bola perak ke seluruh lantai dansa.
Lantai gelap yang hanya beratapkan langit malam penuh sesak oleh muda-mudi dari beragam usia. Semua bergerak bebas, meliukkan tubuh mereka, mengikuti beat yang dipersembahkan oleh seorang DJ dari sebuah panggung kecil.
Musik yang dihantarkan sang DJ dari speaker raksasa di setiap sudut lantai menggemakan berbagai konpilasi lagu-lagu baru.
Boleh juga selera rakyat Rhojan, pikirku sambil menggoyangkan kepala, mengikuti nada dan hentakannya. Dan tak lama kemudian, tubuhku pun hanyut dalam irama.
Lagu berganti, dance floor semakin panas. Apalagi ketika DJ yang ahli itu memutar lagu dengan hentakan yang lebih dari lagu-lagu sebelumnya.
Pinggulku kembali bergoyang, kakiku kembali menghentak, kedua tanganku kembali terangkat ke atas.
Aku begitu larut dalam irama. Apalagi ketika dua pria paruh baya ikut bergoyang di dekatku. Saat itulah... bulu kudukku meremang.
Instingku sebagai impala mengumandangkan bahwa di luar sana ada predator.
Seekor singa jantan.
Pemilik kasta tertinggi dalam dunia rimba.
Otomatis, tubuhku langsung menegang.
Indraku menatap sekeliling. Mencari. Sekelebat bayang yang kuharal hanya halusinasi.
Nihil.
Sang dewa kematian tidak ada.
Berarti cuma perasaanku saja kan?
Ini hanya kecemasan yang berlebihan kan?
Syukurlah. Syukurlah.
Baru saja aku menarik napas lega dan hendak menari lagi, tubuh bongsor berotot dengan wajah segarang sipir penjara, menarik segala konsentrasi.
Dia berdiri disana dengan angkuh. Di bibir floor dance dengan kedua tangab terlipat di dada.
Kedua matanya menatap tajam penuh amarah.
Padaku. Hanya padaku.
Seolah-olah di sekelilingku hanya ada ilalang yang ditiup angin.
Sial!
Dan yang lebih menyebalkan lagi, kakiku langsung bergerak ke "Sumber Magnet Raksasa" itu, tanpa meminta persetujuan otakku lebih dulu. Seolah ada tali transparan di kakiku sebagai penariknya.
Belum sempat bibirku bersuara, tangan Cal yang celat seperti elang menyambar mangsa, menyambar tanganku dalam hitungan detik. Menariknya dengan kuat. Memaksaku mengikuti langkah-langkahnya yang lebar dan panjang. Menembus kepadatan makhluk Tuhan lainnya.
"Cal!" panggilku.
Tidak ada reaksi.
"Cal!" sekali lagi aku mencoba.
Senyap. Aku benar-benar berbicara dengan patung berjalan.
"Dengar, Cal. Aku tahu kau marah..." mulutku langsung terkunci begitu sudut mata pria itu memberi jawaban.
Oke. Cal tidak marah. Tapi sangat murka.
Cal kembali menyeretku. Kali ini cengkraman di pergelangan tanganku semakin kuat. Apalagi saat arus manusia dihadapan kami datang dari berbagai arah. Menambah kesesakan alun-alun. Bak semut yang menemukan gula.
Malam semakin mengkokohkan selimut hitamnya ketika pengunjunh festival musim gugur semakin memadati alun-alun kota.
Berkali-kali aku hampir terjungkal, berusaha mengejar langkah lebar Cal.
Belasan kali pundak-punsak asing menerjangku.
Sial! Festival ini hampir menyamai perayaan tahun baru.
Sebuah benturan kuat menghantam lengan kiriku. Menimbulkan sengatan seperti kejuta listrik.
Ini pertanda buruk. Apalagi saat penglihatanku mulai dipenuhi bintang-bintang.
Aku benci harus melakukan ini.
"Cal!" panggilku.
Dia tidak mendengarku.
"Cal!" panggilku sekali lagi.
Tidak ada respon. Aku tahu ini karena keriuhan festiva meredam suaraku.
"Cal!" panggilku untuk yang ketiga kalinya. Kali ini dengan teriakan.
Sama saja.
Tak kehabisan akal, kutarik sekuat tenaga tangan yang mencengkeram erat pergelangan tanganku.
"Apa?" bentaknya.
Oh-oh. Sang singa masih menunjukkan taringnya.
"Dengar, Cal." Aku mencoba bicara dengan tenang, meski kepalaku serasa dihantam godam berkali-kali. "Kepalaku serasa mau pecah, bisakah kau berjalan lebih pelan, aku..."
"Aku akan mendengar apapun kemarahanmu begitu kita sampai istana," kataku, "tapi, kumohon, ijinkan aku duduk sebentar," pintaku dengan melas. Karena memang itulah yang kubutuhkan sekarang.
Aku merasa tubuhku melayang dan hampir jatuh terbawa arus manusia ketika lengan kokoh Cak akhirnya menahanku, lalu menggiringku ke sebuah sudut gelap salah satu kios yang menjual beragam pernak-pernik.
"Cal?" tanyaku bingung.
"Diam!"
Aku pun menutup mulut. Membiarkan tangan lebar Cal menggerak-gerakkan kepala, tangan serta badanku. Memeriksa. Membuatku benar-benar seperti boneka rusak.
Geraman liar kudengar dari dasar dadanya, yang kuasumsikan sebagai hal buruk. Aku sudah bersiao mendengarkan ceramahnya ketika Cal memanggil sebuah nama.
"Billy!"
"Yang Mulia?"
Aku menoleh dan Billy sudah berada di samping kami.
Darimana pria itu muncul?
Plop! Dia seperti kelinci putih yang keluar dari dalam topi seorang pesulap setelah mantra Abracadabra diteriakkan.
Belum juga aku membuka mulut untuk bertanya, aku mendengar Cak berbicara.
"Bawa mobil segera!"
"Baik." Dan dalam sekejap mata, Billy menghilang.
"Oliver!"
"Siap, Yang Mulia."
"Hubungi raja dan ratu. Laporkan bahwa putri Sonia sudag ditemukan."
Belum tuntas aku melihat Oliver mengangguk, pria itu dengan cepat langsung membaur dalam kerumunan pengunjung festival.
"Deke!"
"Ya?"
Deke sudah berdiri dan bersandar di salah satu tiang penyangga kios sambil melipat lengan. Dua jari kirinya mengepit sebatang rokok menyala.
"Hubungi dokter istana!"
Tanpa banyak bicara, Deke pun berlalu.
"Ronan!"
"Sir?"
"Bersihkan jalan untuk kami!"
Dalam sekejap, Ronan juga berlalu.
Belum sempat aku mencerna apa yang diucapkan Cal pada keempat orang itu, aku merasa tubuhku melayang. Menjauh dari gravitasi bumi.
Ketika sadar, aku sudah berada dalam gendongan. Lengan kanan Cal menahan belakang lututku dan lengan kirinya menahan punggungku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku gagap. Refleks, kedua lenganku melingkaru leher Cal untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.
"Begini lebih cepat," tandasnya lalu mulai berjalan.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Disamping aku tidak memiliki respon yang tepat, telingaku tiba-tiba berdenging kencang membuat kedua mataku harus kupejamkan untuk mengurangi efek godam di kepalaku yang hebatnya... sama sekali tidak berhasil.
Kepalaku masih terasa melayang kesana-kemari, seolah aku tidak mempunyai leher untuk menyangga.
Merasa tidak ada pilihan lain, segera kujatuhkan kepalaku di pundak Cal, lalu kusembunyikan wajahku dibalik lehernya.
Kurasakan tubuh Cal menegang dan dia berhenti melangkah.
"Maaf," bisikku disela-sela riak gelombang yang memenuhi otakku, "kupinjam dulu pundakmu."
Ada hening sejenak sebelum akhirnya Cal berujar, "Tentu," lalu melanjutkan langkah.
Disela-sela kesadaran indraku, aku mencium aroma cologne maskulin bercampur keringat lelaki yang anehnya seperti aroma terapi bagiku. Membuai kesadaran. Menenangkan.
Aku tidak ingat apa lagi yang terjadi setelah itu. Aku merasa menggumankan sesuatu, tapi aku lupa. Karena detik berikutnya, semua menjadi tak bercahaya.
*****
"Deman diakibatkan peradangan karena jahitan luka yang lepas." Itulah laporan dokter istana yang diingat Cal. Namun hanya sebatas itu. Pikiran Cal masih tertinggal pada periatiwa beberapa jam yang lalu.
Bayangan raga Sonia yang mengikuti irama serta beat musik yang menghentak tadi masih terus berkelebat di benak Cal.
Indah. Serta melenakan.
Ini pertama kalinya Cal melihat gadis itu begitu bebas. Begitu lepas. Merdeka. Sama sekali tidak memperdulikan status kebangsawanannya. Seorang putri.
Dan yang paling membuat Cal tidak bisa lupa adalah kaki jenjang Sonia yang hanya dibalut kain bernama hot pants. Otak pria manapun pasti langsung gula jika disuguhi pemandangan itu, tak terkecuali yang dirasakan Cal.
Jantungnya serasa ingin melompat keluar, berusaha keras menahan hasrat.
Dan ketika beberapa kaum adam mulai mengerumuni Sonia seperti kumbang kelaparan, hampir-hampir Cal tidak sanggup menahan ledakan emosinya.
Bahkan dia ingin melubangi setiap pasang mata yang tertuju pada kaki mulus Sonia.
Untungnya Sonia segera menyadari keberadaannya. Cal tidak tahu bagaimana bisa, yang jelas, jika gadis itu terus menari, Cal sudah bersiap untuk menyeret paksa bahkan kalau perlu dengan menghentikan festival.
Cal menegakkan punggungnya ketika Sonia bergerak dalam tidurnya.
Dia kemudian berjalan menghampiri ranjang dan membetulkan letak kompres dingin di kening gadis itu.
Satu hal lagi yang masih tertinggal dan menumbulkan tanya bagi Cal. Gumaman terakhir Sonia sebelum gadis itu hilang kesadaran.
"Terima kasih.... sudah menjemputku."
Cal menghela napas panjang. Dia belum bisa menemukan potongan puzzle yang tepat untuk menjawabnya.
"Apa maksudmu dengan itu?" bisik Cal pada wajah lelap dihadapannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
**Selamat membaca readers, maaf telat terus up nya π
Jangan lupa dukung terus dengan love, like, komen, serta rate dan juga votenya ya π€**