
"Kalian... menyelinap keluar istana?"
Aku kembali menatap wajah Shania dan Mike yang kedua mata mereka seolah ingin melompat keluar begitu mendengar omelankh pada Moses.
"Apa?" tanyaku menanggapi reaksi keduanya. "Memangnya Ru-Ru akan segitu mudahnya membiarkan kami melenggang keluar istana begitu saja?"
"Ru-Ru?" dahi Shania mengerut.
Aku baru ingat, Shania tidak tahu nama julukan yang kuberikan pada ayahnya.
"Ah, itu nama panggilanku untuk ayahmu, yang berarti pamanku, yang berarti Yang Mulia Raja Ruchi, raja diraja negeri yang amat indah ini, Rhojan."
Suaraku terdengar gemas sekaligus sebal, dan memang itulah yang kurasakan jika membicarakan tentang Ru-Ru.
Shania terpingkal. Dan gaya tertawanya berkelas sekali. Anggun, dengan tidak menampakkan seluruh giginya. Jauh berbeda sekali denganku. Jika tertawa ya tertawa, sepenuh hati, tanpa memikirkan keanggunan dan kesopanan.
"Kau memanggil ayahanda dengan Ru-Ru?" tabya Shania seolah masih tak percaya dengan yang dia dengar barusan.
Aku sih, hanya mengangkat bahu, lalu ikut tersenyum.
Memang hanya Shania saja yang pantas memanggil Raja Ruchi dengan sebutan ayahanda. Aku? Ru-Ru sudah cukup bagiku. Tidak ada formalitas serta jarak. Dan aku menyukai panggilan yang akan membawa keakraban itu.
Shania maju dan menarikku ke dalam pelukan.
"Aku bahagia sekali, Sonia. Ayahanda memang pernah cerita bahwa aku memiliki seorang paman dan dia tinggal jauh sekali. Tapi, aku tidak tahu kalau aku juga memiliki sepupu yang manis sekali."
Aku membalas pelukan Shania dan melihat Mike menggumamkan sesuatu tentang teh atau apapun itu, lalu dia menghilang ke belakang ruangan.
"Aku tahu bahwa aku mempunyai paman. Tapi, aku baru tahu seminggu yang lalu kalau pamanku itu adalah seorang raja yang memiliki putri cantik yang adalah sepupuku, yang ternyata mencintai bodyguardnya sendiri."
Aku bisa merasakan tubuh Shania tegang. Aku mendorong tubuh sepupuku itu pelan kemudian merangkum pipinya yang memucat.
Shania tak perlu menjawabnya dengan kata, aku sudah bisa melihat itu di wajahnya serta pada tatapan Mike.
"Kenapa tidak kau katakan pada Ru-Ru?" aku lantas menariknya menuju sofa.
Tubuh Shania berguncang hebat dan tak perlu menunggu lebih lama, anak sungai terbentuk di pipinya. Hmm... khas bibi May sekali.
"Aku..." bisik Shania disela-sela helaan nafasnya yang tersengal. "Aku tidak... aku susah mencoba, Sonia. Aku..."
"Tarik nafas, Sha-Sha. Tarik Nafas." pintaku dengan lembut.
Shania menurut. Setelah tiga kali tarikan barulah Shania sedikit tenang.
"Tetap saja, Sha-Sha, kabur bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah." kataku dengan sabar. "Kau harus menyuarakan apa yang kau pikirkan dan rasakan pada Ru-Ru."
"Aku tahu, Sonia. Tapi, melihat watak ayahanda..." suara Shania terdengar putus asa.
Yap! Aku setuju sekali dengan Shania. Watak Ru-Ru begitu kaku dan keras. Dia tidak akan menerima satu alasan apapun itu.
Aku menghela napas panjang.
"Maafkan aku Sonia." bisik Shania kemudian meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku tidak bermaksud menyeretmu juga ke masalah ini."
Aku lagi-lagi menghela napas panjang. "Terlambat, Sha-Sha. Aku sudah terseret sejak enam hari yang lalu."
Shania meremat tanganku dengan kencang.
"Maafkan aku, maafkan aku, Sonia. Dalam pikiran ayahanda selalu Mhoran, Mhoran dan Mhoran. Tentang janji leluhurlah, juga sumpah apalah..." ucapan Shania terhenti saat seorang wanita paruh baya masuk sambik membawa nampan berisi teki teh.
Wajahnya memucat begitu melihatku.
"Maria, ini Sonia, sepupuku. Putri paman Kieve."
Sudah kuduga, wanita itu Maria. Dan dia ikut andil dalam pelarian Shania. Tapi ada sesuatu yang lain dengan ekspresi wajahnya saat melihatku. Ekspresi yang sama ketika Ed, Ru-Ru, dan bibi May melihatku pertama kali.
"Apa... ada sesuatu di wajahku?" tanyaku pada Maria, membuat Shania menatapku dengan kening berkerut.
"Ti... tidak. Maafkan hamba, Yang Mulia." Maria lantas meletakkan nampan di depan Shania lalu berdiri di sampingnya, menunggu perintah.
Benar sekali apa yang dikatakan Mary pada Naina, Maria adalah orang yang setia. Dan kesetiaan itu dia berikan pada Shania.
Aku tidak sempat melontarkan pertanyaan lagi karena Mike muncul dengan pakaian bersih, jins dan sweater, serta rambut basah.
Sangat keren dan seksi.
Aku sampai harus menahan napas.
Apalagi ketika Mike merentangkan salah satu lengannyan di belakang punggung Shania dengan sikap posesif.
Aku dan Moses benar-benar seperti seeangga pengganggu saja yang siap disemprot obat anti serangga.
"Sekarang, ceritakan padaku tentang si pangeran Mhoran ini."
Tubuh Shania dan Mike kaku seketika. Apalagi Mike, kedua tinjunya langsung terkepal dan rahangnya kaku.
Aku lalu menyesap tehku. " Kau pernah bertemu dengannya, Sha-Sha?"
Shania melirik Mike. Mike kemudian mengangguk memberi persetujuan.
"Dua kali."
"Dua kali?" alisku terangkat tinggi. Kurasa itu jumlah yang terlalu sedikit untuk kemudian melangkah ke hubungan yang lebih serius. Pertunangan.
"Pertama, saat pesta ulang tahunku yang ketujuh belas. Kedua, saat ulang tahun kerajaan. Dia tidak pernah tersenyum, wajahnya kaku dan menakutkan. Dia sangat mengerikan Sonia. Aku tidak bisa... aku tidak sanggup kalau harus bertunangan dengannya."
Oke, sekarang Shania terlihat histeris. Dan kulihat Mike segera menariknya ke dalam pelukan dengan lembut. Sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan.
Aku dan Moses langsung memalingkan wajah kami. Kenapa malah kami yang malu sih?
"Kau sudah mencoba membicarakannya dengan si pangeran Mhoran ini?" aku kembali menyesap tehku.
"Mana mungkin Sonia?" pekik Shania. "Kudengar dia jauh lebih keras kepala dari ayahanda. Apa yang dia inginkan harus terpenuhi, sesuai dengan kehendaknya. Apalagi kekuasaannya semakin kuat sejak dia memimpin kemiliteran."
"Itu yang kau dengar, Sha-Sha. Kau belum menanyakan langsung para orangnya. Mungkin saja dia mau memahami..."
"Dia tidak akan pernah memahami, Sonia! Tidak akan pernah! Mhoran tidak akan oernah memahami dan mereka tidak akan pernah lupa pada sumpah atau janji mereka!" potong Shania dengan luapan kemarahan yang seolah sudah lama terbendung.
"Dan mereka akan terus ingat pada apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita dulu! Dan mereka akan memaksa kita membayar dosa leluhur kita yang seharusnya bukankah tanggung jawab kita."
Di-skak seperti itu, apalagi yang bisa kulakukan?
Shania ada benarnya juga.
Tanggung jawab itu milik leluhur kami, bukan kami. Tapi, harus bagaimana lagi jika kenyataan menghendaki kami, keturunannya, yang harus membayar hutang itu?
Belum juga aku bisa menenangkan pikiranku, ponsel di tasku berdering.
Aku meletakkan cangkir tehku kemudian meraih benda elektronik itu.
Di layar tertera nama Naina.
"Naina?"
"Yang... Yang Mulia?"
"Ya, ada apa Naina?" tanyaku. "Apa Ru-Ru pulang lebih awal?" sengaja kuminta Naina untuk bersiaga di istana, memantau keadaan istana dan untuk segera menghubungiku jika Ru-Ru pulang lebih awal atau ada keadaan darurat lainnya.
"Bu...bukan, Ya... Yang Mu... lia. Ini lebih gawat lagi!" pekik Naina di seberang.
Aku bisa mendengar kegugupan serta ketegangan suara Naina. Suara pelayan pribadiku itu lantas terdengar pelan dan seolah sangat berhati-hati sekali.
Seolah sedang bersembunyi dan takut ketahuan.
"Apa maksudmu dengan lebih gawat?" aku bisa merasakan semua mata langsung tertuju padaku.
Kulihat Mike dan Moses menegang dengan wajah kaku.
Bisa kudengar dengusan napas yang naik-turun dari seberang. Seolah Naina habis melakukan marathon. "Ke... kerajaan Mhoran Yang Mulia..."
Darahku seketika berdesir kencang begitu mendengar nama sakral itu.
"Ada apa dengan... kerajaan Mhoran?" bisikku kaku.
Aku melihat wajah Shania memucat seketika. Wajah Mike dan Moses juga sama tegangnya.
"Mereka akan tiba di Rhojan satu jam lagi."
"Apa?!" tubuhku membeku saat itu juga.
#Jangan lupa like, komen, bintang 5 serta votenya ya lovely readers 🥰