
...~Happy Reading~...
“Kita mau kemana?” tanya Callie untuk ke sekian kali nya sambil berdecak kecal.
Entah kemana Davis akan membawa nya, sejak tadi matanya terus di tutup. Hampir tiga puluh menit dirinya berada di dalam mobil dengan mata tertutup sebuah kain hitam.
“Tidak kemana mana, hanya disini saja,” jawab Davis begitu santai sambil terus mengusap perut Callie yang kini sudah terlihat sedikit buncit.
Menghela napas nya berat, Callie hanya bisa pasrah dan menurut, berharap agar mobil itu segera berhenti dan Davis segera membuka penutup mata nya.
Dan harapan nya terkabul, tidak lama setelah ia menggerutu, kini mobil yang ia tumpangi sudah berhenti dan tiba di suatu tempat. Mata Callie masih tertutup, dengan sangat hati hati Davis mengajak nya untuk turun lalu menuntun nya.
“Hati hati sayang, ada ranting dan batu,” ucap Davis seketika membuat Callie langsung melangkah kan kaki nya sedikit lebar.
“Awas air, ke kiri,”
“Ada batu lagi, hati hati!”
“Astaga Davis, sebenarnya kamu itu mengajak ku kemana? Kenapa dari tadi ada batu, ranting daun sampai air becek. Kamu mengajak ku ke hutan? Yang ada sungai nya, kamu mau membuang ku hah!” seru Callie mendengus dengan begitu kesal.
“Mungkin!” jawab Davis dengan begitu santai, seketika membuat langkah kaki Callie terhenti, “Kenapa?’
“Hiks hiks hiks.”
Davis langsung membulatkan mata nya saat mendengar suara isak tangis dar Callie. Dirinya hanya bercanda, namun wanita nya menganggap nya benar dan malah menangis.
“Kamu sudah bosan dengan ku? Hiks hiks, padahal yang seharusnya bosan itu aku, kamu yang manja, lebay dan ajaib sejak aku hamil. Aku yang capek ngadepin kamu, tapi kenapa malah kamu yang mau membuang ku huaaaaa!” tangis Callie pecah membuat Davis panik dan berusaha menenangkan nya.
“Hey, aku hanya bercanda. Kenapa kamu menganggap serius!” ucap Davis menghela napas nya berat.
“Bohong!” seru Callie tak percaya.
“Aku serius sayang, kalau kamu gak percaya lihat saja sendiri!”
Sukses! Batin callie menjerit, wanita itu langsung membuka penutup mata nya dengan cepat saat Davis sudah menyuruh nya. Padahal, tangisan nya hanya pura pura agar membuat Davis segera membuka penutup mata nya.
Deg!
“Bagaimana? Apa kamu suka?” tanya Davis saat melihat Callie terdiam dengan mata yang terus menatap ke arah depan.
Sebuah bangunan yang cukup besar dan begitu mewah berada di depan nya. Berulang kali, Callie mengerjapkan mata nya, menatap sedikit tak percaya sekaligus heran mengapa Davis membawa nya ke rumah itu.
“R—rumah siapa?” tanya Callie kini menoleh menatap suaminya.
“Halaman nya luas, jadi anak anak bisa puas bermain nanti. Di bagian sana, nanti akan aku buat playground agar mereka tidak perlu bermain di luar, cukup di rumah saja. Dan sekarang, Tora sedang berjuang untuk membeli tanah yang berada di belakang rumah ini.”
“Untuk apa lagi? Ini sudah lebih dari cukup?” kata Callie menggelengkan kepala nya.
“Aku ingin menjadikan nya hutan buatan dan membuat nya menjadi sebua out bound untuk anak anak nanti.”
“Astaga, sayang,” Callie langsung terkekeh mendengar jawaban dari suami nya.
Bagaimana tidak, saat ini usia kandungan nya baru menginjak empat bulan. Masih sangat kecil, bahkan lahir saja belum, tapi Davis sudah sangat antusias membuat playground sampai outbound.
“Aku ingin membuat anak anak bangga dan bisa menikmati masa kecil nya,” imbuh Davis yang kini begitu lirih dan hampir tak terdengar.
Seketika itu juga, kekehan Callie terhenti. Ia baru teringat cerita yang pernah ia dengar dari ayah nya dan juga Chloe bahkan davis sendiri. Yang mana, masa kecil Davis yang kurang beruntung dengan anak anak lain.
Davis yang kehilangan ayah nya sejak ia lahir, dan kehilangan ibu nya saat dirinya mulai memasuki usia sekolah. Yang menjadikan nya harus ikut dan tinggal bersama keluarga Chloe hingga menjadikan nya sulit mendapatkan hak apa yang ia mau.
“Anak kita pasti bangga, sangat bangga memiliki ayah seperti kamu, cup!” Callie menoleh ke belakang lalu mengecup rahang kokoh suaminya sambil tangan nya mengusap nya dengan begitu lembut.
“Terimakasih Sayang. Aku benar benar beruntung dan sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kamu untuk aku. Terimakasih, cup!” Davis segera membalik tubuh Callie langsung mengecup bibir nya dengan begitu lembut.
Ciuman yang awal nya lembut dan singkat, nyatanya berubah menjadi sebuah cumbuan yang sedikit panas dan menuntut. Bahkan, kini ciuman itu semakin turun merambah ke leher jenjang Callie dengan tangan yang semakin aktif menyusuri setiap sudut tubuh Callie.
“D—Davis hentikann! Ini di luar!” ucap Callie dengan nafas yang sedikit terengah, ia berusaha sekuat mungkin menyingkirkan tangan suami nya.
“Kalau begitu kita masuk!” bisik Davis lalu dengan cepat ia langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa nya ke dalam rumah untuk melanjutkan hal yang seharusnya.
Setiap rangkaian cerita pasti akan ada sebuah penyesalan, dan di situlah kita bisa mengambil setiap makna dan arti dari sebuah kehidupan. Davis merasa bahwa Tuhan begitu baik dengan nya, karena sudah memberikan kesempatan kedua untuk Davis bisa memperbaiki semua nya.
Memang benar, penyesalan tanpa adanya sebuah tindakan, hanya akan membuat kita menjadi lebih menyesal di kemudian hari. Meskipun awal nya, Davis sudah pasrah jika benar Callie memang bukan untuk nya. Namun, kesungguhan nya untuk meluluhkan kembali hati Callie dan ayah mertua nya, kini akhirnya berbuah manis.
Kehidupan kelam yang selama ini ia benci dan sesali karena kehilangan kedua orang tua. Kini seolah terbayar dengan adanya keluarga baru nya, yakni Callie dan juga calon anak nya.
Seperti kata pepatah “Tidak perduli seberapa besar penyesalan kita, kita tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu. Akan tetapi, kita masih bisa memperbaiki di masa depan.
...~TAMAT~...
...Terimakasih untuk yang sudah mendukung kamar Davis dan Callie. Kita berhenti sampai disini ya, biarkan Callie dan Davis menikmati hari hari nya dalam menanti buah hati. Tenang, next pasti Mommy bakal kasih extra part saat Callie melahirkan, mungkin ... Atau kisah Chloe? Atau kisah si duo jomblo akut? Wkwkwkw...
...Oklah tunggu saja next cerita Mommy, see yuuu semuanya terimakasih banyak dan luve yuu ......