
...~Happy Reading~...
“Berapa usia nya?” tanya Davis kembali membuka suara.
Kini, keduanya sudah berada di atas tempat tidur, dengan posisi Callie yang duduk bersandar pada head board tempat tidur. Sedangkan Davis merebahkan kepala nya pada paha Callie sambil wajah nya menghadap pada perut istri nya.
“Enam minggu,” jawab Callie seketika membuat Davis mengerutkan dahi nya, “Kamu bingung?” tanya Callie yang langsung di balas anggukan kepala oleh Davis.
“Sama, aku pun juga sedikit bingung. Kenapa bisa usia kandungan aku enam minggu, padahal kalau di hitung dari saat kita melakukan di malam itu, mungkin seharusnya empat atau lima minggu,” jelas Callie panjang lebar.
“Lalu?”
Menarik napas sedikit panjang, akhirnya Callie menjelaskan semua yang pernah di jelaskan oleh Dokter tentang bagaimana menghitung usia kehamilan. Dan di sana lah Davis baru mengerti dan menganggukkan kepala nya.
Bukan maksud Davis meragukan anak yang di kandung Callie adalah anak nya atau bukan. Sudah pasti, Davis yakin bahwa anak itu adalah anak nya.
Karena saat ia melakukan nya pertama kali, ia melihat dan bisa merasakan nya sendiri, bahwa ialah yang pertama menyentuh Callie.
Selain itu, beberapa hari ini. Dirinya merasa seperti mengalami couvade syndrom, yang mana membuat nya selalu mual di pagi hari serta kehilangan nafsu makan.
Tubuh nya lemas, maka dari itu ia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan Clayton saat dirinya di hajar habis habisan. Selain karena merasa tidak enak hati karena sudah menganggap Clayton seperti ayah nya sendiri.
Davis juga merasa tubuh nya sangat lemas hingga mudah tumbang dan kehilangan kesadaran berulang kali.
“Davis ... “ Panggil Callie pelan sambil mengusap rambut laki laki di pangkuan nya.
Laki laki itu mendongakkan kepala, menatap lekat pada wajah ayu yang ada di atas nya, “Ada apa?” tanya Davis pelan, tangan nya terulur untuk menyentuh dan membelai wajah halus nan lembut istri nya.
“Katakan, bicarakan. Apapun yang ada di hati kamu, ungkapkan dan tanyakan kepada ku. Jangan simpan sendiri yang mana hanya akan membuat hati kamu semakin terluka,” ujar Davis, kini laki laki itu bangun. Mengubah posisi nya menjadi duduk tepat di sebelah Callie.
“Chloe mencintai kamu,” ucap Callie pelan, “A—apakah kamu juga—“
“Tidak!” jawab Davis dengan cepat memotong pertanyaan Callie.
“Kenapa?” tanya Callie pelan.
“Apanya yang kenapa? Aku memang tidak mencintai nya,” jawab Davis lalu menghela napas nya dengan berat, “Dia adik ku, Cal. Sampai kapan pun, perasaan ku ke dia akan tetap sama, yaitu sebatas adik dan saudara tidak lebih dan tidak kurang.” Imbuh nya dengan tegas.
“Lalu, siapa wanita yang kamu cintai sekarang?” tanya Callie lagi membuat Davis terdiam.
Namun, walaupun laki laki terdiam, matanya terus lekat menatap mata Callie seolah menyiratkan sesuatu namun tak bisa untuk di ungkapkan begitu saja oleh bibir nya.
Lidah nya terasa begitu kelu, dengan jantung yang berdetak begitu cepat saat menatap mata lentik milik Callie. Davis merasakan nya, merasakan suatu hal yang sangat berbeda.
Suatu hal yang pernah ia rasakan beberapa waktu lalu, setelah ia melewati malam panas bersama Callie. Dan kini, ia kembali merasakan nya hanya dengan lewat sorot mata.
Benarkah ini yang di namakan cinta? Davis mencintai Callie, atau hanya rasa takut akan kehilangan. Tapi, bukankah saat kita merasa sangat takut kehilangan, itu berarti orang itu memang spesial di hidup kita.
Iya, benar. Davis memang mencintai Callie, laki laki itu mengakui bahwa hati nya kini sudah terpaut dengan hati Callie. Perjuangan Callie berhasil untuk merebut hati nya dan bahkan kini wanita itu sudah menguasai hati serta pikiran Davis.
...~To be continue ......