
...~Happy Reading~...
Setelah melangsungkan pernikahan nya, Davis pun langsung mengajak Callie untuk pulang ke Apartemen. Jangan bermimpi, bahwa mereka akan hidup bahagia secepat itu.
Karena, begitu tiba di apartemen, Davis langsung meninggalkan Callie begitu saja di ruang tamu ke kamar untuk mengganti pakaian tanpa sepatah kata apapun.
Sedangkan Callie yang sudah menduga hal ini dari awal, hanya bisa tersenyum getir melihat sikap Davis padanya.
Calie memang sempat menolak Davis di awal lamaran kemarin, dan mengapa Callie bisa langsung menerima nya bahkan bersikap agresif di depan keluarga nya.
Setelah Callie pikir, mengejar cinta Davis akan lebih mudah jika mereka sudah terikat pernikahan. Karena, dirinya bisa leluasa untuk meng-klaim bahwa Davis milik nya.
Berbeda dengan saat ia belum menikah, ia ingin mengklaim pun tidak mungkin karena Davis memang bukan milik nya. Tapi setelah menikah, semua orang pun tahu bahwa Davis milik nya, dan dirinya bebas dari tuduhan wanita murahan atau lain nya jika mengejar Davis.
Bahkan, setelah ia menikah ia bisa bebas keluar masuk ke dalam apartemen bahkan kamar Davis sekalipun.
Se cinta itu Callie kepada Davis. Ia akui, bahwa dirinya memang begitu murah mengejar cinta seorang laki laki. Namun, itulah Callie, seorang putri dari keluarga Ammer yang mengharuskan apapun menjadi milik nya,
Terlebih Davis adalah cinta pertama nya sejak saat masih kecil. Membuatnya tidak ingin kehilangan dan mengharuskan laki laki itu menjadi milik nya.
Cklek!
Pintu kamar terbuka, membuat Callie langsung menghampiri nya dan berdiri tepat di depan Davis yang sudah berganti pakaian menjadi santai.
“Kenapa?” tanya Davis mengerutkan dahi nya saat merasa di tatap aneh oleh Callie.
“Tidak kah kamu punya cita cita untuk menggendong ku ke kamar? Membuka baju ku, dan mengajak ku mandi bersama. Lalu nanti kita—“
“Jadi bagaimana cita cita kamu?” tanya Callie setelah Davis melepaskan bungkaman nya.
“Mandi lah,” ujar Davis membuka pintu kamar nya semakin lebar, mempersilahkan Callie untuk masuk dan membersihkan diri, “Pakaian mu sudah ada di dalam.”
“Kok bisa?” tanya Callie mengerutkan dahi nya.
“Mandilah,” Davis melangkahkan kaki nya berjalan menuju dapur karena perut nya terasa sedikit lapar.
Selama acara berlangsung, ia sama sekali belum makan, hanya minum saja itupun hanya beberapa kali saja. Maka dari itu, ia bergegas pulang dan membersihkan diri agar bisa segera makan.
“Sabar Callie, kamu harus sabar menghadapi manusia salju itu. Percayalah, di balik sikap dingin nya yang mengalahi manusia kutup utara dan selatan bersatu itu. Dia adalah orang baik, laki laki lembut yang akan menyayangi kamu dan mencintai kamu dengan penuh kehangatan,” gumam Callie terkikik geli di ambang pintu.
“Tugas mu sekarang adalah, mencari cara agar gunung es itu runtuh dan berganti menjadi gurun sahara yang Hot,” imbuh Callie, lalu ia segera bergegas membersihkan diri nya.
Saat dirinya hendak memasuki kamar mandi, tiba tiba langkah nya terhenti. Ia mengamati setiap interior yang berada di dalam kamar Davis.
Ia sempat terdiam, mengapa ada manusia yang memiliki selera seperti Davis. Dimana di dalam kamar yang cukup besar itu, hanya terdapat satu buah tempat tidur berukuran king size tanpa adanya dekorasi lain.
Dinding bercat abu abu dengan tempat tidur juga gorden berwarna serupa. Namun tidak terdapat meja atau kursi apalagi hiasan lain nya di dalam kamar sana. Sangat berbeda dengan kamar nya yang begitu ramai dan meriah.
Jika di pikir, Davis bukanlah orang miskin yang tiak mampu membeli perabotan kamar, bukan? Dia serang CEO, tapi kenapa laki laki itu tidak membeli beberapa perabot untuk desain kamar nya, batin Callie sedikit bingung.
'Haruskah aku yang membelikan nya perabotan?' gumam Callie dalam hati.
...~To be continue ......