
...~Happy Reading~...
Mendengar suara teriakan dari Chloe, seketika kesadaran Davis mulai sadar. Laki laki itu langsung berusaha untuk bangun, dan betapa terkejut nya ia saat melihat bahwa Tora sudah berusaha menggendong Chloe yang tengah kesakitan.
“C—Chloe ... “ gumam nya terbata.
“Davis sakittt!” pekik nya sambil terus mencengkram perut nya.
Dengan berjalan sedikit sempoyongan, Davis mulai menghampiri Cloe dan juga Tora. Laki laki itu segera menyuruh Tora agar membawa Cloe ke rumah sakit, lantaran banyak nya darah yang ia lihat mulai membasahi pakaian dan kaki Chloe.
Sepanjang perjalanan, Davis bukan hanya fokus kepada Cloe saja, melainkan juga dirinya fokus berusaha untuk menyadarkan diri dari pengaruh minuman berat. Bayangan demi bayangan suara yang sedikit mengganjal dalam pikiran nya terus terbayang.
Menurut perasaan nya, ia seperti sedang bersama Callie beberapa saat lalu. Namun, mengapa saat ia membuka mata tidak menemukan keberadaan wanita nya. Itulah yang masih menjadi pertanyaan untuk Davis.
Setelah menempuh hampir tiga puluh menit perjalanan, kini mobil yang di bawa oleh Tora sudah tiba di rumah sakit. Laki laki itu segera mengangkat tubuh Chloe dan membawa nya masuk ke dalam agar segera mendapatkan perawatan.
Sementara Davis, laki laki itu terus mengikuti di belakang sambil masih sedikit merasa pusing.
Di tempat yang berbeda. Callie baru saja tiba di apartemen Davis. Wanita itu memilih langsung mandi dan berganti pakaian sebelum akhirnya memilih tidur setelah sebelumnya mengunci pintu nya.
Bahkan, Callie sengaja mengganti kode pintu apartemen nya, agar Davis tidak bisa masuk lagi ke dalam apartemen itu.
Marah? Bohong jika Callie tidak marah. Hanya saja, kini dirinya cukup sadar diri, bahwa apa yang di lakukan Davis memang di luar batas nya.
Callie pernah mendengar sebuah pepatah, “Cinta itu tidak bisa di paksakan. Kita sebagai perempuan juga tidak bisa memaksa laki laki yang kita cintai untuk berubah. Namun, laki laki yang benar mencintai kita, maka dia akan berubah dengan sendirinya.”
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ..
Callie tersadar dari lamunan nya, saat mendengar suara getaran ponsel. Dengan segera, wanita itu langsung mengangkat nya, karena panggilan itu tak lain dan tak bukan dari sang ayah tercinta.
“Dad,” senyuman nya langsung terangkat saat panggilan telfon itu sudah tersambung.
“Apa kabar kamu, Sayang? Apa kau tidak merindukan Daddy mu yang sudah tua ini, hem?” tanya tuan Ammer seraya menghela napas nya berat.
“Tentu saja, anak mu ini sangat rindu. Hanya saja, tuntutan pekerjaan yang membuat putri mu yang cantik dan baik hati juga tidak sombong ini harus menetap lama di Indonesia.” Jawab Callie sedikit terkekeh.
Bila boleh jujur, ia sangat merindukan dunia nya yang dulu. Dunia, dimana dirinya bisa menjadi dirinya sendiri. Dunia yang masih berpihak padanya, dan dunia yang selalu ada untuk nya.
Callie yang sangat manja, dan selalu mudah mendapatkan apa yang ia mau. Sangat berbeda dengan kini, yang dirinya harus sendiri dan berusaha mendapatkan sesuatu dengan kerja sendiri.
“Lusa, Ethan akan datang ke Indonesia. Apakah—“
“Apakah Dady ingin aku menemui Ethan lalu ikut pulang dengan nya?” potong Callie dengan cepat yang langsung membuat tuan Ammer terdiam.
Tuan Ammer juga mengakui kehebatan putri nya. Callie sangat pandai menebak sesuatu, akan tetapi, putri nya itu sangat bodoh dalam hal percintaan.
Sampai rela terluka berulang kali, menutup mata dan telinga hanya demi seorang laki laki.
...~To be continue .......