
...~Happy Reading~...
Tepat saat Callie dan Ethan hendak memasuki lift, saat itu juga pintu lift terbuka dan menampakkan sosok laki laki paruh baya yang berwajah datar dan dingin. Terus menatap datar pada Callie yang saat ini tengah berada di kursi roda.
“Callie, kamu disini?” tanya seorang wanita muda yang berada tepat di samping laki laki itu.
Ya, mereka adalah om Clayton dan juga Claire, kakak kandung dari Chloe, atau anak pertama Shiena dan Clayton.
“Kamu sakit apa?” tanya Claire lagi saat sudah keluar dari lift.
“Tidak apa Kak,” jawab Callie berusaha untuk seramah mungkin seperti biasa, “Tadi aku habis melihat Chloe. Maaf kalau Callie baru sempat menjenguk sekarang.”
“Tidak apa, kami juga mengerti. Oh ya, kamu disini—“
“Calire, ayo!” Kedua wanita itu langsung menatap pada Clayton yang hendak mengajak putri nya pergi.
“Apakah Om marah kepada Callie?” tanya Callie tersenyum tipis menatap Clayton, “Callie rasa, om sudah tahu mengapa Callie ada disini. Dan untuk apa Callie disini,”
“Cukup diam, dan jangan pernah muncul lagi disini!” ucap Clayton masih dengan raut wajah datar nya menatap Callie.
Bukan marah atau mengiyakan, Callie justru terkekeh mendengar perkataan dari ayah sahabat nya.
“Baiklah, kalau begitu setelah ini Callie akan segera pergi dari Indonesia bersama suami Callie,” kata nya dengan begitu santai.
Tentu saja, mendengar jawaban dari Callie seketika membuat Clayton langsung menatap tajam pada sosok Callie, “Apa maksud mu!”
“Maksud ku? Memang nya apa maksud Callie?” Dengan pintar nya, Callie justru memasang wajah polos nya untuk membalas tatapan Clayton.
“Apakah Callie salah, jika ingin pergi bersama suami Callie?” tanya nya polos justru semakin membuat Clayton merasa geram.
Ya, kini Clayton sudah mengetahui bahwa Callie tengah mengandung anak dari Davis. Di saat, putri nya harus keguguran bahkan kehilangan rahim nya. Tentu saja, hal itu membuat Clayton marah dan semakin kecewa.
“Sebaik nya kita pergi,” ujar Ethan yang tidak ingin Callie semakin terluka menghadapi Clayton.
“Om ... “ panggil Callie dengan lembut, “Jangan salahkan takdir, semua sudah berjalan sesuai dengan kehendak Nya. Pasrahkan dan serahkan semuanya kepada Tuhan, Callie yakin bahwa semua akan baik baik saja. Chloe hanya butuh dukungan, bukan korban lagi.”
“Anak kecil tau apa kamu!” sentak Clayton yang semakin menatap marah pada Callie.
“Callie memang anak kecil bagi Om, tapi setidak nya Callie lebih bisa menggunakan otak Callie di banding Om.”
“Kamu—“
“Cukup Tuan, jangan lampaui batas.” Seru Ethan dengan cepat menyingkirkan kursi roda Callie ke samping agar tidak terkena amukan Clayton.
“Bukankah yang di katakan oleh Callie memang benar adanya? Jika benar kami anak kecil, anda sudah cukup tua untuk menentukan sikap. Seharusnya anda lebih bisa menggunakan otak anda di banding mementingkan ego anda.” Imbuh Ethan panjang lebar.
“Papi, sudah. Jangan mempermalukan diri Papi sendiri,” bisik Claire langsung memeluk lengan ayah nya dan mengusap nya dengan lembut.
“Coba anda renung kan, darimana akar permasalahan ini bermula? Pikirkan dimana kesalahan anda, dan apa yang harus anda lakukan berikutnya.”
Clayton semakin mengepalkan tangan nya, gigi nya bergemurutuk hingga rahang nya terlihat begitu keras. Matanya menatap tajam pada dua sosok anak manusia muda yang ada di depan nya.
“Nona, lebih baik anda membawa tuan Clayton pergi. Karena tadi, nona Chloe juga sedang down, tolong di jaga baik baik kedua pasien nya agar tidak terus menyalahkan orang lain atas apa yang di lakukan sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Ethan segera mendorong kursi roda Callie untuk memasuki lift dan kembali ke ruangan nya. Meninggalkan Clayton dan Claire begitu saja dengan perasaan yang sangat sulit di jelaskan.
...~To be continue ......