
...~Happy Reading~...
"Daddy!" Callie langsung menutup mulut nya saat dengan tiba tiba melihat keberadaan sang ayah yang berada tak jauh dari nya.
Gadis itu, kini bergantian menatap ke arah Davis. Yang mana masih menampilkan ekspresi wajah datar.
"Kenapa kamu menolak, lamaran laki laki yang kamu cintai, hem?" tanya tuan Ammer saat sudah berada di depan putrinya.
"K—kenapa Daddy ada disini? Bagaimana bisa, Daddy—" Callie di buat bingung dan hampir tak percaya melihat semua dekorasi, ayah nya dan juga laki laki di depan nya secara bergantian.
"Jika pernikahan bisa membuat kamu bahagia, menikahlah Nak. Terima lamaran Davis, bukankah ini mimpi kamu?" ucap tuan Ammer lagi mengabaikan pertanyaan dan kebingungan putri nya.
"Daddy, tapi Davis tidak mencintai Callie, eh salah. Belum! Dia belum mencintai Callie, makanya Callie ingin menikah saat dia mencintai Callie nanti!" jawab gadis itu dengan penuh keyakinan.
"Jika Davis tidak mencintai kamu, dia tidak akan melamar kamu Sayang?" Tuan Ammer langsung menghela napas nya dengan berat.
"Benarkah?" Callie mengerutkan dahi nya, menatap sang ayah, lalu bergantian menatap Davis.
Bukankah tadi, Davis mengatakan bahwa ia tidak mencintai Callie. Ah atau Callie yang salah mendengar mungkin, atau Callie yang kurang peka.
Tapi, benarkah Davis sudah mencintai nya? Gumam Callie kebingungan dalam hati.
"Jadi bagaimana? Kamu mau menikah dengan nya?" tanya tuan Ammer ikut membujuk putri nya.
"Davis, bagaimana dengan mu? Apakah kamu masih ingin melamar ku? Daddy ku sudah disini, dan dia sudah merestui kamu," tanya Callie yang kini mendongakkan kepala untuk menatap wajah datar Davis secara intens.
Laki laki berwajah datar itu, tidak bersuara. Ia hanya menjawab pertanyaan Callie lewat sebuah anggukkan kepala saja.
Namun, meskipun hanya anggukkan kepala. Hal itu mampu membuat senyuman di wajah Callie terbit merekah indah.
Bruk!
"Astaga!" pekik Davis terkejut dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna, saat dimana dengan tiba tiba Callie langsung menghambur memeluk nya.
"Makasih! Cup!" ucap Callie yang lagi lagi mampu membuat mata Davis membola dengan sangat sempurna.
Jangan tanyakan bagaimana cara kerja jantung nya saat ini. Karena, dirinya tidak tahu mengapa ritme jantung nya bekerja terlalu cepat dari biasanya.
Ini adalah ciuman pertama yang di rasakan oleh laki laki itu. Walaupun hanya di pipi, namun mampu membuat nya tak bisa berkata kata lagi.
"Aku janji, akan berusaha menjadi istri terbaik, terkasih dan tersayang untuk suami ku, cup lagi!" Callie terkekeh geli setiap kali melihat wajah terkejut dari Davis.
Dan entah mengapa, Callie tidak merasa takut sama sekali walau tidak mendapatkan respon baik dari Davis.
Laki laki itu masih diam, berwajah datar dan kaku. Dengan tangan yang berusaha menahan beban di depan nya. Yang mana Callie masih bertahan di gendongan Davis.
"Tapi tunggu!" Perkataan Callie seketika membuat langkah kaki Davis dan tuan Ammer terhenti.
"Kenapa aku tidak melihat Chloe? Apakah dia tidak tahu?" tanya Callie mengerutkan dahi nya.
"I'm here!" teriak seorang gadis berambut pendek sebatas telinga sambil melambaikan tangan nya di udara ke arah Callie.
Ya, dialah Chloe Arthajaya. Sahabat Callie sekaligus adik angkat dari Davis. Tentu saja, Callie harus memastikan bahwa gadis itu akan hadir di acara penting nya.
"Ayo Davis, cepatlah berjalan. Aku ingin menghampiri Chloe!" kata Callie memaksa Davis agar segera membawa nya kepada Chloe.
"Turunlah Callie. Kamu bukan bayi, dan kalian belum SAH menjadi suami istri!" ucap tuan Ammer menghela napas nya berat saat melihat tingkah putri nya.
"Tidak apa apa Daddy. Davis tidak keberatan, karena Callie sangat ringan. Lagipula, ini akan menjadi latihan Davis agar tidak kaget saat menggendong ku nanti menuju kamar pengantin!" jawab Callie tanpa memperdulikan wajah ayah nya yang terlihat begitu frustasi menghadapi kelakuan nya.
'Semoga, ini adalah jalan yang tepat.' gumam tuan Ammer dalam hati sambil terus mengamati Callie yang di gendong oleh Davis menghampiri Chloe.
...~To be continue.... ...