
...~Happy Reading~...
“Bagaimana keadaan adik saya?” tanya davis langsung menghampiri dokter saat melihat nya sudah keluar dari ruangan Chloe.
“Apakah saya bisa bicara dengan suami nya?” ucap dokter tersebut justru malah balik bertanya.
“S—suami?” Davis terdiam, menarik napas nya panjang lalu menghembuskan nya perlahan, “Suami nya sedang berada di luar kota, Dok. Dan saya disini sebagai kakak nya yang akan bertanggung jawab!” imbuh nya dengan tegas.
Di sebelah nya, diam diam Tora menghela napas nya berat, sebuah senyuman kelegaan juga terbit di bibir asisten pribadi Davis tersebut. Tadinya, Tora berfikir bahwa Davis akan mengaku sebagai suami Chloe, namun ia bersyukur karena bos nya masih waras dan sadar dari rasa mabuk nya.
“Baiklah, kalau begitu silahkan ikut saya.”
Davis menganggukkan kepala nya, meminta agar Tora menjaga Chloe, lalu dirinya mengikuti dokter itu menuju ke ruangan nya.
“Jadi bagaimana dengan adik saya dan kandungan nya?”
“Kandungan adik anda sangat lemah. Terjadi benturan yang membuat rahim nya ikut bermasalah,”
“Maksud nya?”
“Dengan berat hati, kami harus menggugurkan kandungan nya dan juga mengangkat rahim nya.”
Deg!
Pengangkatan rahim. Rasanya Davis masih sulit untuk mempercayai nya, dan ia berharap bahwa yang ia dengar adalah salah. Ia sudah tidak bisa berkata kata lagi, ia benar benardi ambang dilema.
Apa yang harus ia lakukan, mempertahankan kandungan itu, akan membuat Chloe tersiksa. Dan sangat tidak mungkin jika di pertahankan, karena rahim nya juga ikut terluka, yang mana justru akan membuat Chloe meregang nyawa nya.
Davis segera meminta izin untuk keluar, ia harus segera menghubungi Clayton akan hal ini. Walau sebenarnya, dalam hati ia sangat bingung dan takut. Terlebih, secara tidak langsung, keadaan Chloe juga karena nya.
Lagi, lagi dan lagi Davis merasa bersalah atas apa yang menimpa pada Chloe. Saat wanita itu hamil, Davis lah yang paling merasa bersalah, karena sudah menyuruh Chloe untuk berpacaran.
Berhadapan dengan Clayton, akankah hidup nya akan usai sampai disini? Atau, bagaimana nanti dengan kehidupan Chloe ke depan nya.
“Tuan ... “ panggil Tora saat melihat Davis keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang sangat kacau.
“Kemari kan ponsel mu. Aku lupa membawa ponsel,” ujar Davis dengan raut wajah datar nya sambil menadahkan tangan kepada Tora.
Setelah memberikan ponsel, Tora segera pergi karena Davis ingin sendiri. Ia memilih untuk duduk di sebuah kursi kosong yang berada cukup jauh dari keramaian.
Tuuttt .... Tuuutt t... Tuuttt ...
Cukup lama, Davis menghubungi nomor om Clayton. Hingga, setelah tiga kali sambungan, barulah terjawab.
“Ada apa Tora?” tanya Clayton dari ujung seberang sana.
“I—ini Davis, Om.” Ucap Davis sedikit menghela napas nya berat.
“Oh, ada apa Davis? Mengapa kau menghubungi ku dengan noor Tora? Bagaimana keadaan Chloe, baik baik saja kan? Lusa saya akan kembali, tolong—“
“Chloe sedang tidak baik baik saja, Om,” tutur Davis dengan cepat memotong pertanyaan beruntun dari Clayton.
“Apa maksud kamu?” seru Clayton, terdengar seperti sedang marah saat mendengar kabar bahwa putri nya sedang tidak baik baik saja.
“Sekarang, Chloe sedang di rumah sakit. Dan ada sesuatu yang harus—“
“Harus apa hah! Kau apakan putri ku? Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk menjaga nya dengan baik, kenapa kamu malah membuat nya tidak baik baik saja, di rumah sakit mana dia!”
Davis segera memberikan alamat rumah sakit dimana Chloe di rawat. Dan saat itu juga, Clayton yang masih memiliki beberapa pekerjaan, segera menghubungi istri dan anak pertama nya untuk mengajak nya kembali ke Indonesia, saat itu juga.
...~To be continue .......