
...~Happy Reading~...
"Davis, ini semua—"
Callie benar benar kehabisan kata kata. Ia sudah tidak tahu lagi dengan apa yang akan ia katakan untuk mengekspresikan perasaan nya sekarang.
"Kita akan menikah!" ucap Davis dengan tiba tiba seketika membuat tubuh Callie kembali seperti tersengat aliran listrik yang begitu dahsyat.
Bagaimana tidak, dirinya baru saja pulang bekerja. Davis mengajak nya ke suatu tempat, yang mana ternyata tempat itu adalah Hotel berbintang yang entah sudah sejak kapan di dekor dan hias sedemikian rupa.
Selain dekorasi Hotel yang membuat nya terpana, pernyataan Davis yang mengatakan bahwa mereka akan menikah, berhasil membuat Callie semakin terkejut.
"Davis, jangan bercanda!" Callie menggelengkan kepala nya.
"Apakah wajah ku terlihat bercanda?" tanya Davis yang langsung menatap wajah Callie dengan begitu serius namun terkesan datar.
"Apakah kamu melamar ku?" kata Callie malah bertanya balik.
"Menurut kamu?"
Sungguh, jika benar Davis serius dengan ucapan nya. Benar melamar nya dan mengajak dirinya untuk menikah. Ini adalah acara lamaran yang paling ambyar sejagad raya.
Bagaimana bisa, ada orang yang melamar seorang wanita dengan ekspresi wajah datar. Yang justru terlihat seperti laki laki yang hendak menagih utang.
Oh Good. Callie memang mencintai Davis. Dan siap menerima laki laki itu apa adanya, bukan ada apanya.
Tapi, untuk pernikahan. Tentu saja Callie menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Ia sangat ingin memiliki memory yang indah untuk nya ia kenang nanti.
Dan melihat usaha Davis, Callie ragu apakah lamaran dengan ekspresi wajah datar bin kaku seperti itu bisa di jadikan kenangan terindah.
"Hufftt!" Gadis itu menghela napas nya dengan cukup kasar.
"Davis, aku memang mencintai kamu. Tapi, —" Untuk sesaat, Callie memejamkan mata sambil kembali menarik nafas nya dalam.
"Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Dan aku tidak mau membebani kamu lagi, maka dari itu, tolong urungkan niat mu ini jika kamu sendiri tidak bisa menempatkan diri."
Davis mengerutkan dahi nya, merasa kurang mengerti dengan penjelasan dari Callie.
Bukankah gadis itu mencintai nya, selalu mengejar nya. Lantas mengapa kini seolah Callie menolak dirinya? batin Davis dalam hati.
"Aku tidak mau, menikah karena terpaksa. Aku pasti akan bahagia jika bersama kamu, tapi kamu? Aku tidak mau membuat kamu terpaksa, tertekan atau—"
"Sama sekali tidak!" saut Davis dengan cepat memotong penjelasan dari Callie.
"Apakah kamu yakin?" tanya Callie menatap serius ke mata Davis.
"Selama ini, kamu selalu menolak ku. Kamu tidak pernah menyukai ku. Jadi, apa yang membuat mu tiba tiba ingin melamar ku?" imbuh Callie begitu penasaran.
"Tidak ada!" jawab Davis yang lagi lagi dengan singkat.
"Davis, aku sudah pasrah sekarang. Aku sudah tidak akan mengejar mu lagi. Dan aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Urusan kita hanya sebatas karyawan dan bos saja," ujar Callie begitu dalam dan tenang.
"Aku hanya akan menyelesaikan kontrak ku habis. Setelah itu, aku akan benar benar pergi dari kehidupan kamu. anggap saja, sekarang aku sedang belajar untuk nanti bisa mengurus perusahaan Daddy. Jadi, tolong jangan paksakan diri kamu apalagi hati kamu!" imbuh Callie panjang lebar.
Davis terdiam, entah mengapa setelah ia mendengar jawaban dan kata kata dari Callie, membuat dada nya begitu sesak.
Ada rasa yang sedikit mengganjal di dalam sana. Seolah ia tidak Terima jika Callie berhenti mencintai nya bahkan sampai menolak nya.
...~To be continue... ...