Davis, You Belong To Me

Davis, You Belong To Me
Panti Asuhan



...~Happy Reading~...


Sesuai perkataan Callie pagi tadi. Siang harinya, Davis dan Callie pergi ke Panti asuhan untuk melakukan kunjungan rutin. Kunjungan yang biasanya selalu di wakilkan oleh Tora, dan kini Davis mau tak mau harus ikut terjun akibat paksaan dari Callie.


“Kenapa Tora tidak ikut?” tanya Davis mengerutkan dahi nya saat mobil yang ia tumpangi sudah berjalan.


“Tora aku suruh diem di kantor. Karena kerjaan dia masih cukup banyak,” jawab Callie sambil mengemudikan mobil nya.


Menghela napas nya berat, Davis tidak ingin banyak bicara apalagi sampai berdebat dengan Callie.


Ia hanya bisa diam dan pasrah, mengikuti semua perkataan istrinya. Bukan karena takut, hanya saja Davis mengurangi perdebatan yang nanti nya akan membuat kepala nya pusing.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, kini mobil yang di kendarai Callie dan Davis sudah tiba di sebuah panti asuhan yang terbilang sangat sederhana.


Ini juga kali pertama bagi Callie mendatangi panti tersebut. Dan ia cukup sedikit syok saat melihat penampakan depan dari panti yang terlihat sangat jauh dari kata baik baik saja.


“Selamat siang, selamat datang di rumah singgah,” ujar seorang ibu panti yang langsung menghampiri mobil Davis dan Callie.


“Selamat siang ibu—“


“Perkenalkan, nama saya Lastri. Saya yang mengurus dan menjaga rumah singgah ini,” jawab bu Lastri sambil tersenyum begitu ramah.


Callie mengamati wanita di depan nya dengan tatapan kasihan. Bagaimana tidak, wanita itu sudah cukup tua, dan di perkirakan usia nya mungkin sudah memasuki lima puluh tahunan.


Selain itu, bu Lastri juga mengenakan tongkat untuk berjalan. Tak jauh dari tempat nya berdiri, terlihat beberapa anak kecil yang sedang mengintip di balik pohon dan sesekali berbisik.


“Halo, kemarilah!” ujar Callie langsung melambaikan tangan ke arah anak anak itu, hingga membuat bu Lastri menoleh menatap para anak anak nya.


Meskipun Callie memanggil, namun tidak ada satu pun di antara mereka yang mendekat, semuanya masih bergeming di balik pohon.


Hingga saat bu Lastri menganggukkan kepala, barulah anak anak itu berlari ke arah Callie dan juga Davis.


Selain itu, anak anak itu juga sangat menyayangi bu Lastri, sangat takut kehilangan apalagi sampai di adopsi. Jadilah mereka menjadi sangat penurut.


Hingga saat ini, rumah itu sudah menampung hampir dua puluh anak, dan tidak ada satu pun yang boleh di adopsi.


Bukan tidak boleh, namun memang anak anak itu tidak ada yang mau. Karena mereka ingin menjaga bu Lastri, mengingat keadaan bu Lastri yang sudah cukup tua dan renta.


“Kakak punya hadiah untuk kalian, sebentar ya,” imbuh Callie, ia berjalan ke arah mobil satu lagi yang membawa beberapa barang untuk anak anak.


“Terimakasih Kakak,” ujar salah satu anak itu setelah menerima hadiah dari Callie.


Wajah nya terlihat begitu bahagia, walau sebenarnya bagi Callie hadiah itu tidak lah seberapa. Akan tetapi tidak bagi anak anak itu, hadiah pemberian Callie terlihat sangat bagus dan istimewa hingga membuat nya bahagia.


“Ayo pulang!” ajak Davis dengan tiba tiba, “Sisanya biar di urus sama mereka,” imbuh nya seraya melirik ke beberapa anak buah nya yang sedang menurunkan barang barang.


“Davis, aku belum bermain sama mereka. Aku masih mau disini, lagipula aku masih ingin banyak bertanya sama bu Lastri,” tolak Callie langsung menggelengkan kepala nya.


“Kalau begitu, pulang lah sendiri!” Davis menatap Callie semakin dingin karena tidak mau di ajak pergi.


“Davis, tunggu dulu!” Callie berusaha mengejar Davis yang hendak memasuki mobil nya, padahal mereka belum masuk ke dalam panti. Namun mengapa Davis sudah sangat ingin pergi dari sana.


“Bisa gak sih kamu punya hati sedikit aja. Untuk apa kita datang kalau tidak mau masuk ke dalam? Kamu lihat mereka? Dari tadi, mereka melihat ke arah kita. Kamu gak bisa baca isyarat mata mereka yang sangat menginginkan kita untuk ke sana? Jangan egois Davis, kita kesini untuk mereka, ayo masuk!” ajak callie yang terus menarik tangan Davis agar mau masuk ke dalam panti.


Bukan tidak mau, atau tidak punya hati. Justru, nasib Davis hampir sama seperti anak anak Panti. Hanya saja, Davis sedikit beruntung karena ia di rawat oleh sahabat orang tua nya.


Hanya saja, setiap Davis melihat anak anak di panti itu, hatinya kian terasa sesak. Ia seolah melihat dirinya sendiri di masa lalu, dimana ia yang selalu cemburu dan menatap penuh iri kepada teman teman nya yang memiliki orang tua.


Davis belum bisa berdamai dengan masa kecil nya. Ia masih belum bisa dekat dengan anak kecil, dan itulah salah satu sebab dirinya tidak pernah mau datang ke panti asuhan dan selalu menyuruh Tora untuk mewakilkan nya.


...~To becontinue ......