Davis, You Belong To Me

Davis, You Belong To Me
Rapuh



...~Happy Reading~...


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Davis hanya bisa terdiam dengan sejuta pikiran nya yang melayang entah kemana.


Dua hari sudah, dirinya tidak menemui Callie, tentu saja ini bukan kemauan nya. Hanya saja, keadaan yang memaksa nya untuk menjadi seperti itu.


Sejak kedatangan Clayton, Davis langsung di salahkan, bahkan laki laki paruh baya itu tidak segan menghajar nya. Dan andai saja, Shiena dan Claire tidak melerai, mungkin bisa saja, saat ini Davis sudah tenang bersama kedua orang tua nya.


Maka dari itu, sejak kemarin Davis meminta bantuan kepada Tora agar selalu melihat kondisi Callie. Davis tetap memikirkan perasaan Callie, hanya saja ia tidak mau semakin menyakiti wanita itu.


Bohong jika dirinya tidak ikut hancur dan merasakan sakit luar biasa dalam hati nya. Rasa bersalah nya kepada Chloe yang kini sudah kehilangan anak dan rahim sekaligus, beserta rasa bersalah nya karena sudah mempermainkan Callie, beradu dan bercampur menjadi satu.


Dua hari itu, Davis tidak mengizinkan siapapun untuk memasuki ruangan nya, kecuali dokter. Bahkan, Shiena dan Claire pun tak ia izinkan masuk. Karena ia benar benar ingin menyendiri dan merenungi semua masalah yang kini sedang ia hadapi.


Ia hanya berkomunikasi dengan mereka melalui ponsel, begitu pun dengan Tora. Untuk Chloe, hingga kini, wanita itu baru sadarkan diri, pasca melakukan operasi pagi tadi. Davis pun mengetahui nya, namun ia tidak bisa berbuat apa apa.


“M—Mama ...” Untuk pertama kalinya selama belasan bahkan puluhan tahun, Davis kembali memanggil mama nya.


Rasanya kian sesak, dalam hati nya. Sejak kecil, sejak kepergian nya ke Indonesia. Davis sudah memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi kedua orang tua nya. Bukan tidak menyayangi, namun itu adalah bentuk kekecewaan nya karena kedua orang tua nya memilih bahagia berdua tanpa dirinya.


Sejak saat itu, Davis memutuskan untuk menutup dirinya serapat mungkin. Ia berusaha untuk menjadi laki laki tangguh dan kuat, akan tetapi kini semua berbeda.


Dirinya benar benar sangat rapuh. Ia merindukan kedua orang tua nya, ia merindukan ibu nya.


“M—Ma ma ... “ Gumam nya lagi, lalu ia tertawa dengan begitu getir dan sumbang sambil menatap ke arah luar jendela, dimana ia bisa melihat pemandangan langit yang begitu cerah..


Tangan nya terkepal dengan begitu erat, ia menepis kasar tiang infus yang saat ini berdiri tepat di sebelah nya, hingga membuat jarum infus itu terlepas dan membuat luka pada tangan nya.


Brakkk!


Laki laki itu terus mengamuk dan menghancurkan semua barang yang ada di dalam ruangan itu, tanpa perduli apapun lagi. Ia benar benar ingin melampiaskan kekesalan dan keresahan hati nya.


Ia sangat mencintai Callie, ia merindukan wanita itu. Akan tetapi, takdir seolah berkata dan melarang nya untuk bisa bersatu. Dirinya tidak akan mungkin bisa bersatu apalagi bahagia dengan Callie.


Maka dari itu, ia sangat membenci keadaan. Davis membenci semuanya, termasuk dirinya sendiri.


“Davis!” pekik seorang wanita langsung membulatkan mata nya saat melihat keadaan ruang perawatan Davis saat ini.


“keluar Kak! Pergilah!” ujar Davis datar tanpa menatap sang empu nya.


“Vis, kenapa kamu—“


“Ku bilang keluarrr!” teriak Davis yang langsung melemparkan sebuah vas bunga ke dinding hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.


Pyaarrrr!


...~To be continue ......