David&Laila

David&Laila
Part9



Keesokan harinya Laila terbangun dari tidurnya karena mendengar ponsel David yang terus berdering, saat Laila melihatnya ia terkejut wajahnya terpapang di berita yang tengah duduk bersama David semalam, di situ tertulis jelas jika David adalah CEO yang sedang berkencan dengan seorang wanita yang belum di ketahui Identitasnya. “ Apa?! ini tidak mungkin. Bagaimana bisa orang yang telah menabrakku itu ternyata seorang CEO yang terkenal dengan keangkuhannya yang selalu bersikap dingin dan kejam.” Laila tercengang setengah mati, kemudian Laila sadar kembali dan menepuk pipinya untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. “ Aku pasti mimpi, iya ini pasti mimpi. Aaaa, sakit, itu artinya aku tidak sedang bermimpi.” karena tidak percaya Laila bersembunyi di balik selimut dengan gugup, pada saat itu pula David mengetuk pintu dan berniat untuk mengambil ponsel miliknya. “ Apa kau sudah bangun? jika sudah tolong kembalikan ponselku, aku memerlukannya sekarang.” Laila semakin ketakutan dan tidak berani menemui David. “ Apa yang harus aku lakukan sekarang? tidak mungkin'kan aku keluar dan mengatakan yang sebenarnya, dia pasti akan menyalahkanku karena aku dia di kabarkan berkencan oleh media.” batin Laila.


Asisten Li melihat David berdiri di depan kamar Laila segera menghampirinya. “ Tuan, Anda sudah tahu berita hari ini?.” Asisten Li menunjukkan ponselnya, David terkejut setelah melihatnya. “ Kenapa ada mata-mata di sini?.” David melihat kesekeliling dengan kesal.


“ Aku sudah mencarinya di sekitar sini tapi tidak ada orang yang mencurigakan tuan. Apa mungkin dia sudah pergi?.” membungkuk dan merasa bersalah.


“ Dia tidak akan pergi sampai dia mendapatkan apa yang di inginkannya. Cari sampai ketemu dan cari tahu siapa yang sudah membuat berita seperti itu. Bila perlu lenyapkan dia.” perkataan David membuat Asisten Li terkejut. “ Baik tuan.” Asisten Li segera pergi bersama bawahannya untuk mencari orang yang berani mengambil poto tanpa izin dari David.


Asisten Li memeriksa seluruh orang yang berada di kapal pesiar baik yang tua maupun yang muda sesuai tiket yang mereka memiliki, bahkan ada beberapa orang yang menolak karena menganggu liburan mereka. Setelah semua orang di periksa, ada salah satu orang yang tidak mau di periksa, Asisten Li curiga dan menduga orang itu adalah pelaku yang sudah memotret kebersamaan David dan Laila. “ Cepat tangkap orang ini.” ucap Asisten Li, saat pengejaran Asisten Li kewalahan karena orang itu memiliki bom waktu yang bisa meledak kapan saja, Asisten Li tidak ambil resiko dan segera memikirkan cara untuk menangkap orang tersebut tanpa membahayakan nyawa orang lain.


“ Di mana orang itu? apa kau sudah menangkapnya?.” tanya David tidak sabaran.


“ Tuan aku tidak bisa menangkapnya, dia membawa bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan akan membakar seluruh kapal pesiar ini.” David terdiam sesaat kemudian pergi mencari keberadaan pria itu, David terkejut setelah tahu pria itu mengancam Laila yang duduk di kursi roda dengan pisau di tangannya. “ Maju jika kau berani! hahah.” teriak pria itu mengancam David.


Radi berlari ke kamar Laila setelah tahu Laila di sandera oleh orang tak di kenal. “ Laila?.” Radi melangkah maju tanpa mengetahui konsekuesinya. David segera menghadang Radi dengan tangannya. “ Jika kau maju selangkah lagi nyawa dia yang akan jadi taruhannya.” ucap David. “ Apa kau akan membiarkan Laila mati di tusuk olehnya? aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri.” Radi keras kepala.


Pria itu marah karena Radi berani melawannya, tanpa pikir panjang pria itu menekan tombol yang artinya bom akan meledak dalam waktu 5 menit, semua orang panik dan berlarian menyelamatkan diri sendiri, sedangkan David belum bisa memikirkan cara untuk menyelamatkan Laila. “ Aku tidak mau wanita itu mati karena aku.” batin David, Asisten Li panik melihat David yang akan menyelamatkan Laila tanpa memikirkan nyawanya. Di saat genting Laila memilih untuk mengorbankan dirinya dengan mendorong pria itu bersamanya jatuh ke laut. Secara perlahan Laila menutup matanya dan berharap orang yang ada di kapal pesiar dalam keadaan baik-baik saja. “ Ibu ayah, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kalian.” batin Laila meneteskan air mata, saat itu pula Rosdiana yang tengah berada di rumahnya tidak sengaja menjatuhkan gelas di tangannya. “ Istriku, apa yang terjadi?.” Juna berlari ke dapur dan melihat Rosdiana terdiam tanpa kata. “ Suamiku, aku merasa sesuatu terjadi pada Laila.” berbicara dengan tangan gemetar. “ Itu hanya perasaanmu saja, bukankah kau melihat sendiri Laila sedang bersama pria yang menabraknya waktu itu. Dia pasti baik-baik saja.” Juna segera membawa Rosdiana pergi dari dapur.


Asisten Li bersama bawahannya membawa kapal Speed boat untuk menolong David dan Laila. “ Tuan!.” teriak Asisten Li dengan panik. David membuka matanya dan saling bertatapan dengan Laila. “ Dia yang baru mengenalku menyelamatkanku, sedangkan Radi, dia tidak.” Laila semakin yakin jika Radi sudah tidak mencintainya. David segera berenang ke atas karena nafasnya hampir habis, dengan sigap Asisten Li membantu Laila yang terus memuntahkan air dari mulutnya, uhuk uhuk. “ Laila, apa kau baik-baik saja? aku khawatir terjadi sesuatu padamu, untunglah kamu selamat. Dan kau tahu, pria yang menyanderamu tadi dia sudah di tangkap Polisi, dia juga telah membodohi kita semua dengan bom palsu di tubuhnya.” Radi menghampiri Laila dengan cemas.


“ Jadi bom yang dia bawa itu palsu?.” Laila tidak percaya dirinya di bodohi oeh penjahat itu. “ Benar, sekarang dia di amankan Polisi. Ayo aku bantu.” David melihat Radi menggendong Laila langsung pergi ke kamarnya, setelah banyak kejadian yang hampir menewaskan banyak nyawa, David memutuskan untuk pulang lebih awal dari hari yang di tentukan.


Asisten Li yang berada di ruang rahasia sedang mengintrogasi seorang pria yang di duga menyebarkan poto kebersamaan David dan Laila, pria itu tidak mengakui dan tidak memberitahu kepada siapa ia memberikan poto tersebut. David berjalan masuk dan menutup pintu lalu menguncinya, awalnya pria itu meremehkan kekuatan David yang tidak akan bisa membunuhnya karena tuannya yang lebih berkuasa. “ Apa dia sudah mengakui kesalahannya?.” tanya David pada Asisten Li. Asisten Li membungkuk dan mundur perlahan. “ Belum, dia tidak mau membuka mulutnya.”


“ Baiklah.” David mengeluarkan pisau tajam dan beracun untuk menakuti pria itu, tapi pria itu tetap tidak takut dan meludah di hadapan David, sontak perbuatan pria itu membuat Asisten Li murka dan langsung menghajarnya sampai babak belur. “ Berani sekali kau!.” mencengkram leher pria itu dengan kuat.


David berjalan mendekat.“ Jangan terlalu kasar, berikan kelembutan padanya. Seperti ini.” mengiris wajah pria itu dengan pisau. Pria itu menangis histeris setelah luka di wajahnya membusuk sedikit demi sedikit. “ Tuan, kau di mana? bukankah kau akan membantuku saat aku kesulitan.” batin pria itu mengingat tuan nya.


“ Kenapa? kau berharas tuanmu datang menolongmu? itu tidak akan terjadi, karena kau sedang berada di sini denganku, siapa yang akan menolongmu.” ucap David menyeringai, setiap 5 detik David akan mengiris seluruh tubuh pria itu satu demi satu. Sampai pria itu merasakan sakit yang luar biasa dan mati dengan tubuh membusuk akibat racun yang mengalir di seluruh tubuhnya. Setelah pria itu mati David membuka sarung tangan dan membuangnya ke lantai. “ Jangan sampai meninggalkan jejak.” gumam David. “ Baik tuan.” saut Asisten Li.


Saat David keluar dari ruang rahasia ia melihat Laila berkeliaran di sekitarnya, David mengabaikan Laila dan hendak pergi tapi Laila memanggilnya. “ Tuan, apa kau tahu di mana pria tadi? aku ingin tahu alasan dia kenapa menyanderaku tanpa sebab.” David terdiam. Laila bertanya lagi karena David tidak menjawabnya. “ Tuan? apa kau mendengarku?.”


“ Aku tidak tahu.” balas David dengan dingin lalu pergi meninggalkan Laila. Tanpa sengaja Laila melihat bercak darah di lengan baju David. “ Tunggu! tuan apa kau terluka? aku tahu kau pasti terluka karena sudah menolongku tadi, mungkin Anda tergores sesuatu saat menyelamatkanku.” David segera melihat tangannya dan berkata. “ Sebaiknya kau pergi ke kamarmu, di sini tidak aman bagi seorang wanita berkeliaran sendiri.” setelah berbicara David pergi.