
Negara selatan.
Sesampainya di kota tujuan, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. David menggendong Laila sepanjang jalan dan tidak lupa menutupi tubuh dan wajah Laila.
Mendudukkan Laila di dalam mobil. “ Jalan.” ucap David.
Mobil melaju kencang dan tidak butuh waktu lama akhirnya sampai di Gedung pencakar langit dan berniat bermalam satu malam di sana.
David tidak sungkan melemparkan Laila ke ranjang karena marah. “ Bangun! kita sudah sampai, kau tidak perlu berpura-pura lagi sekarang.” Laila meringis kesakitan. “ Di mana ini? apa kita sudah sampai?.” melihat sekeliling.
“ Ya, kau istirahat di sini. Jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggilku, kamarku ada di samping kamarmu.” berjalan pergi keluar.
Laila beranjak dari ranjang dan mencoba melihat keluar jendela, betapa terkejutnya Laila saat melihat dirinya berada di atas ketinggian yang melampaui awan di langit. “ Apa! ini? bukankah ini Gedung pencakar langit, jadi dia membawaku ke sini.” Laila hampir pingsan kegirangan.
Laila tidak sadar kalau dirinya tidak memakai baju dan hanya menggunakan bra dan jas milik David untuk menutupi tubuhnya.
Saat melihat ke bawah Laila kaget. “ Aku, kenapa tidak memakai baju? di mana bajuku? ahh, aku ingat sekarang, tadi saat di Pesawat aku mabuk dan muntah, mungkinkan David yang membantuku membuka baju kotor itu? ahh tidak, itu sungguh memalukan.” mencoba mengingat kejadian di Pesawat.
Laila keluar untuk meminta pakaian baru pada David, secara kebetulan berpapasan dengan staf yang membawa beberapa set baju di tangannya. “ Nyonya, ini pakaian yang tuan pesan untuk Anda, setelah Anda mandi aku akan mengantarkan makanan ke kamarmu.” memberikan lalu pergi.
“ Baiklah, terima kasih.” mengambil dan kembali ke kamarnya.
30 menit kemudian, staf datang membawa beberapa hidangan dan menyajikannya di meja. “ Nyonya silahkan nikmati makan malam Anda. Aku akan pergi, jika perlu sesuatu panggil saja kami sebagai staf siap melayani Anda sepenuh hati.” membungkuk. “ Ya terima kasih, kalian boleh pergi.” mengibas tangan dengan canggung.
“ David sudah berbaik hati membawaku liburan ke sini, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus dan akan hidup bersenang-senang mulai sekarang.” tertawa gembira.
Karena bosan seharian terus berada di kamar Laila menyelinap keluar saat pengawal lengah dari penjagaannya. “ Akhirnya, aku bisa keluar bersenang-senang sekarang.” gumamnya, keluar dari lift.
Laila terus berjalan walau tidak punya tujuan, saat melihat ada penjual manisan Laila tertarik mencobanya terlebih dulu, dirasa sudah cocok dengan seleranya Laila baru membayar manisan yang sudah ia cicipi terlebih dulu. “ Enak sekali. Aku akan pergi ke depan, di sana pasti banyak makanan enak.” terus berjalan dan mencoba semua makanan pinggir jalan di pusat kota.
Makanan di tangan Laila sudah banyak yang tersisa, hanya sekali makan tapi Laila sudah tidak mau mengabiskan makanannya, dan terus membeli apa yang dia inginkan sampai semua uangnya habis tak tersisa. Saat akan membayar sebuah minuman Boba tiba-tiba Laila tercengang karena uang di tasnya sudah habis, sedangkan minuman Boba itu sudah ia minum setengah. “ Bagaimana ini? aku tidak punya uang lagi sekarang, tidak bisakah aku mengembalikan minuman ini pada penjual itu? tapi aku sudah meminumnya, mungkin dia akan menganggapku penipu karena tidak bisa membayar.” batinnya, Laila tersenyum mengangguk pada penjual untuk menghilangkan rasa malunya.
“ Nona, cepat bayar, kau sudah hampir menghabiskan minuman itu jadi kau harus segera membayar.” tidak sabaran.
“ Ahh, itu, baiklah. Tapi, bisakah kau mempercayaiku kalau aku kehabisan uang? aku akan pergi mencari seseorang untuk meminta uang sekarang, setelah itu aku pasti akan kembali membayar minuman ini.” memohon,
Penjual itu tidak bodoh dan tidak akan percaya dengan beberapa patah kata yang di ucapkan Laila. “ Tidak bisa! aku sering menemui orang penipu sepertimu, jika kau tidak bisa bayar kau tidak boleh pergi dari sini sebelum ada orang yang mau membayar minuman itu.” marah.
“ Iya, iya baiklah. Aku akan tetap di sini.” berdiri tegak seperti patung.
Seorang gadis kecil berusia 5 tahun datang menghampiri Laila lalu menggenggam tangannya. “ Kakak, bisakah kau menolongku?.” gadis kecil itu seperti ketakutan dan membuat Laila waspada.
“ Apa ada seseorang yang ingin menculikmu? katakan di mana penculik itu, Kakak akan mematahkan kakinya jika melihatnya.” Laila refleks menyembunyikan gadis kecil itu di belakangnya.
Tiba-tiba keempat pria sampai di mana Laila berdiri, gadis kecil itu memberikan isyarat kalau ke empat pria itu adalah penculiknya. “ Kakak, itu mereka.” bisik gadis kecil itu.
“ Heh, mau mengganggu anak kecil! biar kulihat seberapa besar kekuatanmu ba*ingan.” berjalan maju, tanpa basa-basi Laila memukul pria itu satu persatu sampai babak belur, bahkan orang di sekitar tidak mampu mengedipkan mata setelah melihat seorang wanita anggun yang terlihat lemah lembut akan sekejam itu.
“ Kau tenang saja adik kecil, aku akan menolongmu dari penculikkan itu.” tersenyum bangga.
Tibalah seorang pria dengan terengah-engah. “ Hei! apa yang terjadi pada kalian? di mana anak itu? dasar tidak berguna! sia-sia aku membayar mahal kalian jika mengawasi anak kecil saja tidak bisa.” memarahi ke empat pria yang tidak sadarkan diri di bawah.
“ Hah, itu, tidak! aku tidak mau!.” gadis kecil itu berteriak histeris seperti tahu pria itu adalah ancaman baginya.
Laila berjalan maju dan mencengkram wajah pria itu lalu menendang bagian penting pria itu dengan kuat. “ Matilah kau! aku tidak akan mengampunimu karena berani menculik anak kecil di tempat keramaian.” berteriak dengan puas.
gadis kecil itu tercengang melihat Laila begitu menyeramkan. “ Ehh, kenapa kau memukul dia?.” bergumam tak berdaya.
Terdengar suara Sirine Polisi.
Laila bertepuk puas dan ingin menyerahkan para penjahat itu pada pihak berwajib. “ Tidak menyangka di saat seperti ini Polisi datang tepat pada waktunya.” mengambil tas yang ia jatuhkan di bawah.
Beberapa Polisi berlari. “ Kami mendapat laporan kalau di sini terdapat penculikkan anak, apa itu benar? di mana mereka?.” terburu-buru.
“ Anda benar Pak, lihat, aku sudah membantumu mengatasi mereka semua, sekarang aku menyerahkan penjahat itu pada kalian.” Laila masih terus tersenyum sombong.
Tepuk jidat. “ Ya ampun, habislah sudah kau kakak cantik. Kau baru saja melukai masa depan ayahku dan sekarang kau memberikan ayahku pada Polisi. Entah bagaimana ayahku akan menghabisimu, yang pasti aku tidak akan membiarkan kakak cantik yang baik hati ini di sakiti oleh ayahku.” batin anak kecil.
Pria yang baru saja di tendang oleh Laila berusaha menjelaskan kejadiannya pada Polisi.“ Pak, kau sudah salah paham padaku, sebenarnya aku itu bukan penculik tapi aku ayah dari anak itu.” menunjuk anak kecil yang berdiri di samping Laila.
Laila tidak terima jika pria itu membela diri dan mencoba membodohi Polisi dengan tipuannya. “ Anda jangan percaya padanya Pak, semua penculik akan mengatakan kalau dirinya ayah korban, bukankah begitu?.”
“ Kau benar nona, terima kasih sudah mengingatkan kami. Kami akan membawa pelaku ke kantor Polisi sekarang.” membawa paksa ke lima pria itu.
Tetapi satu pria yang mengaku ayah anak kecil itu berkata. “ Ling Xuer! aku akan mencarikanmu ibu tiri besok. Tunggu dan hiduplah bersama ibu tiri barumu ke depannya.” muram.
Anak kecil itu ketakutan sampai tidak bisa bicara.“ Tidak bisa, aku tidak mau ibu tiri. Aku akan membantu ayah kali ini agar dia tidak memberikanku ibu tiri yang jahat.” batinnya.
“ Adik, ada apa? apa dia menakutimu?.” berjongkok.
Anak kecil itu mengangguk sambil cemberut. “ Kakak cantik, bisakah kau mengantarku ke kantor Polisi? aku akan memberikan pelajaran pada pria jahat itu dengan tanganku sendiri.” pura-pura kejam.
“ Hah, tapi itu tidak perlu, bagaimana kau akan memukul mereka? sedangkan tanganmu sekecil ini, ini tidak akan membuat mereka merasakan apa-apa walau kau memukulnya sampai beratus-ratus kali.” tidak mengerti apa-apa dan tidak percaya.
“ Hmm, ayolah, bantu aku sekali ini saja.” memohon dengan ekspresi imut bagaikan seekor kelinci yang minta di peluk.
Laila tidak bisa menolaknya dan hanya bisa setuju dengan permohonan anak kecil itu. “ Baiklah, aku akan membawamu ke sana.” Laila melirik penjual Boba yang terus menatapnya. “ Tapi aku tidak bisa pergi sekarang, karena aku tidak bisa membayar minuman yang kubeli tadi, jadi aku hanya akan tetap di sini sampai ada orang yang mau membayarnya.” menunjuk ke penjual.
Penjual itu langsung bersikap sopan. “ Nona, kau tidak perlu menunggu lagi, aku kasih gratis saja minuman itu, sebagai permintaan maafku kau boleh minum gratis di sini selama satu bulan. Bagaimana??.” tidak mau mencari masalah dengan gadis kejam seperti Laila.
“ Bagus! aku setuju denganmu, terima kasih atas kemurahan hatimu tuan. Aku tidak akan sungkan lagi untuk datang membawa teman-temanku datang minum ke sini.” berlari dengan gembira.
Anak kecil itu menatap Laila yang menggendongnya. “ Kakak ini manis sekali, aku harus bisa lebih dekat lagi dengannya ke depannya.” batinnya.