David&Laila

David&Laila
Part19



Di dalam rumah Kediaman Duke.


Seorang pelayan mengantar David dan Laila masuk menemui keluarga besar Duke yang tengah menunggunya, Laila gugup bahkan cara jalannya tidak seimbang karena merasa pusing melihat penampakan rumah Duke yang besar.


“ Ada apa? apa kau tidak enak badan?.” tanya David menatap Laila.


Laila menggelengkan kepala dengan cepat. “ Aku tidak apa-apa. Ayo, keluargamu pasti menunggumu.”


“ Jika kau bisa bekerja sama mungkin aku bisa mempertimbangkan permintaanmu tadi.” bergumam.


“ Apa yang dia maksud? apa dia akan membiarkanku pergi setelah aku membantunya berpura-pura jadi pacarnya.” batin Laila.


Pelayan itu berbicara. “ Tuan besar, tuan muda tertua sudah datang.”


Henri Duke berdiri melihat wanita di samping David. “ Mengapa masih berdiri di sana? kemari dan sapa keluarga pacarmu nak.” ucapan Henri Duke membuat Laila kaget. “ Ahh, iya baiklah.” berjalan cepat menghampiri semua orang dan bersikap sopan.


Henri Duke puas dengan wanita pilihan David. “ Hahaha, mari kita makan.” tertawa senang.


Semua orang terdiam dan sengaja mengabaikan kehadiran Laila, hanya Henri Duke yang bersikap baik terhadap Laila.


Laila tidak nyaman berada di tengah-tengah orang asing. “ Aku mau ke toilet sebentar.” berbisik pada David.


Mengangguk. “ Silahkan, di sana ada toilet.” menunjuk ke arah belakang.


Berdiri. “ Maaf, aku harus pergi ke toilet sebentar.” ucap Laila menunduk.


Henri Duke mengibas tangan sambil tertawa. “ Baiklah, biarkan David mengantarmu.” melirik David.


“ Tidak perlu Kakek, aku bisa pergi sendiri.” Laila sengaja pergi untuk menenangkan diri.


Setelah berjalan hampir 5 menit Laila tidak bisa menemukan toilet. “ Seharusnya ini toiletnya.” Laila berhenti di salah satu pintu yang menurutnya toilet, tapi saat pintu di buka ia terkejut karena di dalamnya ada seorang pria yang tengah berdiri sambil menelepon. Laila segera menutup pintu dan berharap pria itu tidak tahu dirinya salah membuka pintu. “ Untung dia tidak lihat, kalau tidak aku akan di anggap gadis mesum karena melihat dia tidak berpakaian.” batinnya, bernafas berat.


Laila diam-diam berjalan dan memutuskan tidak jadi ke toilet, tapi pria itu membuka pintu dan berkata. “ Apa kau akan pergi setelah melihat semuanya?.” Laila langsung terdiam kaku dan memberanikan diri melihat ke belakang. “ Ahh, itu tidak seperti yang kau lihat tuan. Sebenarnya aku tersesat di sini, bisakah kau mengantarku ke toilet? aku sudah tidak bisa menahannya.” bergerak seperti menahan ingin buang air kecil.


“ Toilet ada di depan, tapi jika kau mau kau boleh masuk dan menggunakan toilet di kamarku.” tidak bisa berkata-kata.


Laila senang bisa bertemu dengan pria baik seperti Aldian. “ Terima kasih tuan, kau sungguh baik padaku.” Laila berlari masuk menuju toilet.


Aldian baru sadar kalau Laila bukan pelayan dan tidak mengenalnya. “ Tunggu! siapa wanita itu? apa dia pencuri? astaga aku memasukan orang sembarangan.” gumamnya.


Laila segera keluar dengan terburu-buru, ia tidak lupa menunduk pada Aldian yang telah membiarkannya memakai toilet di kamarnya. Secara kebetulan David yang sedang mencari Laila, melihat Aldian berbicara dengan Laila di depan pintu kamar.


“ Apa yang kalian lakukan di sini?.” tanya David berjalan dengan cepat. “ Bukankah kau mau ke toilet mengapa bisa ada di sini dan bicara dengannya?.” melotot ke arah Laila yang berdiri terlalu dekat dengan dengan Aldian.


David menarik tangan Laila ke pelukannya. “ Ada, kau membiarkan dia masuk ke kamarmu dalam keadaanmu setengah telan*ang, apa kau tidak malu Aldian? dan kedepannya kau harus memanggilnya Kakak ipar, mengerti?.” serius.


“ Iya, mengerti.” menjawab dengan rasa kecewa.


David membawa Laila kembali ke meja makan untuk berpamitan pada Henri Duke. “ Kakek, aku ada urusan hari ini, aku akan membawa pacarku pulang.” terburu-buru.


Henri Duke tidak senang karena David pergi meninggalkan Kediaman Duke. “ Bisakah kau tinggal di sini malam ini? kita semua merindukanmu David, sejak.” Henri Duke seperti akan mengatakan kejadian 20 tahun lalu, tapi David memotong perkataannya dengan kesal. “ Cukup Kakek! aku akan pulang karena pacarku tidak enak badan.” tanpa menunggu Henri Duke membalasnya David sudah pergi membawa Laila dari Kediaman Duke.


David memaksa Laila masuk ke dalam mobil sampai Laila kesakitan karena terbentur di tangannya. Laila tidak berani bersuara dan membuang muka karena kesal pada David yang tiba-tiba bersikap kasar padanya.


Mobilnya berhenti tepat di depan rumah Laila dan membuat Laila kebingungan. “ Ini? tuan Anda membawaku ke sini untuk apa?.” menunduk dengan sedih.


“ Sepertinya kau tidak ingin kembali bertemu orang tuamu. Baiklah kalau begitu, Li kita pergi ke Villa sekarang.” berubah dengan cepat.


“ Tunggu! tadi tuan bilang apa? apa yang tuan maksud?.” tidak mengerti.


Asisten Li menjelaskan semua kejadiannya pada Laila, kalau David membayar semua hutang keluarganya dan memberikan sebuah bisnis kecil di pusat kota. “ Jadi nona apakah Anda akan turun untuk menemui orang tuamu atau kembali ke Villa?.” tanya Asisten Li.


“ Ahh, tentu saja aku akan turun menemui Ibu dan Ayahku.” Laila tergesa-gesa turun dari dalam mobil.


David langsung memanggil Laila yang sudah jauh darinya. “ Ingat! besok pagi aku akan datang menjemputmu.” setelah mengatakan itu David menutup kaca mobil dan melaju kencang.


Laila tidak peduli dengan ucapan David dan segera masuk ke dalam rumah, Rodiana dan Juna menangis bahagia melihat Laila pulang dalam keadaan sehat dan selamat. “ Laila, kau sudah pulang nak?.” Rosdiana langsung memeluk Laila.


“ Iya Ibu. Maaf membuatmu khawatir.” merasa bersalah.


Rosdiana menjentik kening Laila. “ Gadis bodoh, aku mengkhawatirkanmu karena kau Putriku. Katakan apa yang terjadi padamu kemarin? Ibu dengar kau terluka, apa orang yang mengantarmu pulang juga ada di sini?.” melihat ke arah pintu.


Laila menggeleng kepala. “ Dia, sudah pergi.” Rosdiana terlihat kecewa. “ Haih, tadinya Ibu mau mengajaknya makan siang.”


Laila sengaja memapah Rosdiana duduk di kursi. “ Sudahlah bu, aku rindu masakan Ibu, aku mau makan.” mengalihkan pembicaraan.


Rosdiana menceritakan kejadian sewaktu Laila tidak ada, keduanya yang di usir dari rumah membuatnya putus asa akan hidup, tapi di malam hari ada beberapa pria berpakaian rapih yang menemuinya dan berjanji akan membayar hutang dan mengembalikan rumahnya dengan 1 syarat. “ Yaitu harus membiarkan Laila bekerja di Perusahaannya untuk membayar hutang, selama 10 tahun.” Laila terkejut mendengar cerita sang Ibu. “ 10 tahun! apa dia sudah gila? dengan uang 1 Miliar apakah harus bekerja untuknya selama itu! dia ingin aku bekerja membayar hutang atau mengurungku di Perusahaannya. Benar-benar tidak masuk di akal.” merasa di bodohi.


Laila berpikir. “ Tunggu, bukankah tadi Asisten Li mengatakan kalau David yang membantu keluargaku keluar dari masalah ini dengan membantu membayar hutang, tapi apa dia sudah gila dengan syarat yang dia berikan pada Ibuku. Aku harus bertanya langsung padanya.” batinnya, sangat marah.


Rosdiana khawatir melihat Laila yang diam tanpa kata. “ Laila, kau baik-baik saja 'kan?.” menyentuh tangan Laila.


Laila berusaha tersenyum agar Ibunya tidak mengkhawatirkan dirinya. “ Aku tidak apa-apa bu, aku sedikit lelah, aku akan pergi istirahat.” Laila pergi ke kamarnya begitu saja.


Rosdiana tahu bahwa Laila sedang tidak baik-baik saja, tapi Juna terus meyakinkan istrinya agar tidak mencemaskan Laila yang sudah dewasa.