
Di Restoran jam 12:00 siang.
Laila menemui Chamilla yang tengah menunggunya seorang diri, tanpa basa-basi Laila duduk di meja yang sama dan saling berhadapan dengan Chamilla.
Membersihkan mulut dengan elegant. “ Kenapa terlambat? kau sengaja membuatku menunggu lama.” memprovokasi.
“ Pekerjaanku lebih banyak hari ini, mohon ibu mertua memaafkan kesalahanku.” berbicara dengan tenang.
Brak, Chamilla memukul meja sebagai ungkapan kekesalannya pada Laila. “ Sudah kukatakan jangan panggil aku ibu! aku bukan ibumu dan bukan mertuamu.” bentaknya.
Laila mulai serius dengan perkataannya. “ Ibu adalah ibu yang telah melahirkan suamiku, kenapa aku tidak boleh memanggilmu ibu? apa karena Anda tidak menyukaiku sebagai menantumu?.”
Chamilla tertegun sesaat lalu tersenyum merendahkan. “ Ternyata kau tidak sebodoh yang kukira, karena kau sudah tahu aku tidak menyukaimu apa kau bisa pergi dari kehidupan putraku? di luar sana banyak wanita yang mau menjadi menantu dari keluarga Duke, mereka lebih cantik dan tentunya keturunan Bangsawan tidak sepertimu, putraku menikahimu hanya akan membuat keluarga Duke rugi.” perkataan Chamilla menusuk ke hati Laila.
Laila pikir jika terus berbicara dengan Chamilla ia akan kehilangan kendali dan akan beradu mulut dengannya, jadi Laila memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan itu.
“ Ibu, aku tahu Anda tidak menyukai latar belakangku yang biasa saja. Tetapi, aku tidak bisa pergi dari kehidupan putramu kecuali dia sendiri yang memintaku pergi.” berdiri lalu pergi.
“ Dasar gadis rendahan! berani sekali berbicara tidak sopan padaku.” marah.
“ Beri dia pelajaran! aku ingin dia menderita dan segera meninggalkan David.” melirik pengawal di sampingnya.
“ Baik nyonya.” pengawal itu segera pergi.
Di Villa milik David.
Di malam hari saat Laila tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya dari rumah ia mendapati pesan singkat yang bersisi. “ Inikah suamimu? apa kau tidak tahu kalau pria yang kau nikahi itu adalah Gay??.” sebuah pesan itu di sertai dengan foto di mana David tengah menindih seorang pria di atas ranjang.
Laila menjatuhkan ponselnya karena tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat. “ Siapa? siapa yang mengirimiku foto seperti itu? itu pasti palsu, mana mungkin pria tampan seperti David itu Gay.” menggelengkan kepala.
Seseorang sengaja mengirimi pesan singkat lagi pada Laila. “ Aku tahu kau pasti sudah melihatnya bukan? jika kau masih tidak percaya datang ke Hotel kamar 505B. Kau akan percaya setelah melihatnya langsung.” isi pesan singkat itu membuat Laila gelisah, awalnya Laila tidak memperdulikan pesan itu tapi hatinya tidak tenang dan mengkhawatirkan David.
“ Aku harus memastikan apa yang ada di foto itu tidaklah benar.” bersiap lalu pergi ke Hotel tersebut.
Sesampainya di depan kamar Hotel Laila termenung karena takut pesan itu palsu dan sengaja di kirim untuk mempermainkannya. Tetapi, setelah berpikir beberapa saat akhirnya Laila membuka pintu dengan penuh keberanian, saat pintu di buka pemandangan di dalam membuat Laila terkejut, David yang sedang merobek baju seorang pria dan menekannya di atas ranjang.
Laila berjalan masuk. “ Tuan, apa yang sedang kalian lakukan di sini? tidakkah kau malu melakukan perbuatan yang senonoh terhadap seorang pria? bagaimana jika ada orang lain yang mengetahuinya, cepat bangun dan ikut aku pulang.” menarik David yang bahkan diri sendiri lebih mungil dari David.
Pria yang hampir di tindas di tempat tidur segera memakai baju dengan penuh ke panikan.
Sedangkan Asisten Li baru sampai dan melihat Laila yang tengah memakaikan baju pada David, lalu melihat sekeliling dan terdapat seorang pria yang hendak melarikan diri dengan sebuah kamera di tangannya.
Asisten Li segera menghadang pria itu. “ Mau melarikan diri? tidak semudah itu.” melumpuhkan kedua kakinya dengan kuat.
Pria itu berontak. “ Tidak! lepaskan aku! aku ingin melaporkan dia karena sudah melecehkan pria baik-baik sepertiku. Cepat lepaskan aku!.” berteriak sekeras mungkin.
Laila melirik dengan tatapan membunuh. “ Diam! pukul mulutnya agar dia tidak bisa berteriak lagi.” dengan dingin.
Asisten Li ketakutan mendengar nada bicara Laila yang mirip seperti David.
“ Masih tidak pergi? kau lihat sendiri bukan tuanmu sedang tidur sekarang, lebih baik bawa pria kotor itu pergi dari sini.” semakin di lihat semakin kesal karena pria itu terus berada di kamar yang sama dengannya.
“ Baik nyonya.” Asisten Li memerintahkan para pengawal untuk membawa pria tersebut ke kamar samping.
Asisten Li segera menutup pintu dan membiarkan Laila berduaan dengan David. “ Ada yang salah! kenapa nyonya jadi menakutkan dari biasanya, cara bicaranya barusan mirip seperti tuan saat sedang marah.” mengusap keringat di dahi karena tegang.
Obat yang telah masuk ke tubuh David mulai bereaksi, semakin lama tubuh David jadi panas dan bersikap lebih agresif. Tanpa basa-basi Laila merobek baju David lalu menyeretnya ke toilet.
Tubuh David mulai kehilangan kendali sampai menarik Laila ke dalam bak mandi. “ Tolong aku, aku merasa tidak nyaman. Bantu aku sekali ini saja.” memohon dengan wajah memerah.
Laila menyeka wajahnya yang basah. “ Sial! jika aku tidak bisa membantunya dia akan mati kepanasan. Tapi aku tidak mau mengambil keuntungan dari pria yang tak berdaya seperti ini, apa lagi aku tidak punya perasaan apa-apa padanya, yang ada aku yang akan rugi.” berpikir.
David menatap Laila dengan menyedihkan. “ Tolong bantu aku, aku tahu kau tidak mencintaiku tapi kali ini bisakah kau membantuku? aku sudah tidak bisa menahannya.” tangan David meraba dari wajah kemudian turun menyentuh dada Laila.
“ Singkirkan tanganmu itu tuan. Kau sudah berjanji padaku tidak akan menyentuhku selama kontrak berlangsung, jika kau melanggarnya bukankah kau kalah.” menepis dengan kejam.
Laila beranjak dari bak mandi dan berniat memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan David, tetapi, David mendorong Laila ke dinding lalu menciumnya dengan paksa.
Meronta. “ Lepaskan!.” Laila tidak punya kesempatan berbicara karena ciuman David terlalu kuat dan kasar.
Laila mendorong David sekuat tenaga lalu membawanya kembali ke kamar. “ Sial! ciuman pertamaku hilang begitu saja, bahkan selama aku berhubungan dengan Radi dia tidak pernah menciumku.” batinnya merasa kesal.
Saat Dokter memeriksa David Asisten Li tidak pokus karena melihat bibir Laila yang terluka seperti habis di gigit, di leher Laila ada beberapa tanda merah yang berarti David sudah menciumnya.
“ Apa, apa tuan dan nyonya akhirnya tidur bersama? Ya Tuhan, terima kasih sudah melunakkan hati tuan. Sepertinya di Villa yang terlihat dingin dan sepi akan ada keramaian dengan adanya dua anak laki-laki dan perempuan.” batinnya, tidak berhenti membayangkan betapa bahagianya kehidupan tuannya di masa mendatang.
Laila melirik Asisten Li yang tersenyum tanpa sebab. “ Masih diam di sana? cepat ambilkan pakaian baru untukku dan tuan.” tubuh gemetar kedinginan.
“ Baik nyonya. Aku akan ambilkan sekarang.” senyum mencurigakan.
“ Tuan tidak apa-apa, hanya saja suhu tubuhnya terlalu tinggi dan akan berakibat fatal jika di biarkan terus menerus. Nyonya, kau tahu bukan efek dari obat perangsang bagi tubuh, mereka yang terkena akan merasakan sakit yang luar biasa dan susah di sembuhkan selain membantunya secara intim.” berbicara dengan sungkan.
“ Aku mengerti, kau boleh keluar.” Laila enggan mengalihkan pandangannya dari David yang berkeringat seluruh tubuh.
Keesokan harinya.
David membuka matanya secara perlahan. “ Ahh, kepalaku sakit.” meringis.
Saat David hendak bangun tiba-tiba tangan Laila meraba dadanya, saat di lihat dengan cermat David baru sadar kalau Laila tidur bersamanya bahkan memeluknya dengan erat.
David menghentikan tangan Laila yang terus mengelus dadanya dengan lembut.
Laila membuka matanya dan melihat David menggenggam tangannya dengan erat. “ Sudah bangun ya? kalau sudah cepatlah pergi mandi, jangan terus berdiam di ranjang.” berbalik badan.
David tertegun melihat dirinya tidak memakai baju, di tambah Laila yang membelakanginya membuat tanda merah di leher dan punggungnya terlihat jelas olehnya.
“ Sebenarnya apa yang terjadi semalam? apa aku dan kau benar-benar melakukannya?.” memalingkan wajah karena malu.
“ Kau sudah tahu jawabannya bukan? semalam aku hanya membantumu mengeluarkannya, tapi kau tenang saja kita tidak seintim yang kau bayangkan.” bangun dari tempat tidur.
“ Gadis sialan! apa maksudnya, tidak seintim yang kubayangkan, lalu apa aku dan dia benar-benar melakukannya?.” semakin di pikir semakin sakit kepala.
David bergegas memakai pakaian lalu pergi keluar, sedangkan di luar para pengawal tetap berdiri yang berarti dalam semalam mereka berjaga di depan pintu.
“ Enyahlah!.” tatapan membunuh.
Para pengawal berlarian pergi karena takut pada David.
“ Tuan, bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah merasa baikan.” menunduk sambil tersenyum.
“ Tertawa apa kau? cepat ambil mobil aku harus pergi ke Perusahaan sekarang.” berjalan cepat.
“ Ada apa dengan tuan? apa mungkin tuan merasa malu setelah melakukan hal intim dengan nyonya, ahh itu pasti, tuan 'kan selama ini tidak pernah menyentuh wanita, sekarang tuan pasti merasakan hal yang luar biasa setelah menghabiskan malam bersama nyonya.” batinnya, dengan senang.