David&Laila

David&Laila
Part35



David dan Asisten Li baru keluar dari ruangan bawah tanah, seseorang langsung menghampirinya dengan tergesa-gesa.


“ Tuan, di depan ada orang yang mencari nyonya muda, dia mengatakan ingin menemui nyonya sekarang karena ada urusan yang mendesak.” ucap pelayan.


“ Siapa dia?.” tidak senang.


“ Dia bilang dia ibu nyonya muda, apa aku harus membiarkannya masuk?.”


David menghentikan langkahnya.


“ Tuan, bagaimana ini? nyonya tidak mungkin akan bertemu dengan ibunya dengan keadaan seperti itu 'kan?.” khawatir jika Rosdiana akan mengetahui kalau David sudah memukul Laila dan bahkan memenjarakannya di ruangan bawah tanah.


“ Diam! aku punya rencanaku sendiri.” bentak David dengan gelisah.


“ Maaf tuan, aku sudah lancang.” membungkuk tanpa berani menatap wajah David.


“ Hmm, sekarang kau pergi ke ruangan bawah tanah dan nyalakan beberapa api untuk meneranginya.” merasa prustrasi.


“ Baik tuan.” lekas pergi ke ruangan bawah tanah bersama beberapa pengawal.


David berjalan dan menemui Rosdiana yang berdiri di depan pintu.


David membuka pintu dan langsung marah pada pelayan. “ Siapa yang memberikan kalian keberanian membiarkan ibu mertuaku tetap berdiri di sini?!.” teriakkan David membuat Rosdiana terkejut.


Merubah ekspresi seketika menjadi ramah. “ Ibu mertua, tolong maafkan orang di rumahku. Ini pertama kalinya ibu mertua datang ke Villa jadi mereka tidak tahu kau adalah ibu mertuaku.” David memapah Rosdiana masuk.


“ Tidak apa-apa, ini salahku karena datang tanpa memberitahu kalian.” duduk di kursi.


“ Sejak dari sore ibu tidak bisa menghubungi Laila, ponselnya juga tidak aktip apa dia sudah pulang bekerja? ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan padanya.” dengan cemas.


“ Laila belum pulang sampai sekarang, mungkin dia sedang bersama temannya. Bagaimana kalau ibu mertua menunggunya di sini, dan kebetulan bibi Ann sudah masak untuk makan malam.” berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.


Rosdiana berpikir sejenak yang membuat David tegang.


“ Terima kasih atas niat baik menantu, tetapi, aku masih ada urusan di rumah jadi harus pulang sekarang. Beritahu Laila kalau ibu mencarinya.” berdiri dan pergi meninggalkan.


David menghela nafas dengan lega. “ Baru kali ini aku merasa setakut itu. Ini semua karena gadis licik itu, aku harus beri dia pelajaran agar dia tidak berani lagi berbuat sesuatu di belakangku.” berdiri dan pergi ke ruang bawah tanah.


Laila kembali bersemangat setelah melihat David menemuinya. “ Tuan, biarkan aku pergi menemui ibuku. Aku khawatir terjadi sesuatu pada keluargaku.” memohon.


“ Lepaskan dia!.” ucap David tak berdaya.


Asisten Li membuka ikatan dan membiarkan Laila pergi dari ruangan bawah tanah.


“ Pergi antar dia pulang, dan suruh beberapa pengawal untuk mengikutinya. Pastikan keselamatannya jangan sampai terjadi sesuatu padanya.” berjalan keluar.


“ Baik tuan, laksanakan.” membungkuk.


Sebelum pergi Laila kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya agar kedua orang tuanya tidak mencurigainya, bengkak di wajah Laila terlalu sulit di sembuhkan dalam beberapa menit, jadi Laila hanya bisa pergi dan membohongi orang tuanya.


Di rumah orang tua Laila.


“ Ibu, ayah. Aku pulang!.” teriak Laila sembari membuka pintu.


Laila terkejut melihat Juna terbaring di kursi dengan luka di kepala.


“ Ayah, apa yang terjadi dengan kepalamu? apa kau jatuh?.” berlari dengan panik.


Juna menggelengkan kepala. “ Kenapa kau pulang ke sini malam-malam? apa ibumu yang memberitahumu?.” tidak bisa berkata-kata.


“ Ayah, apa yang kau katakan? apa aku tidak boleh pulang menjengukmu? kalau ibu tidak datang ke Villa mana mungkin aku tahu ayah terluka sampai seperti ini.” perasaan kecewa.


“ Haih, anak ini. Tentu saja kau boleh pulang kapan saja, tapi untuk saat ini ayah tidak ingin kau melihat keadaanku, aku tahu kau pasti akan cemas.” memalingkan wajah, dan tidak berani menatap putrinya yang mengkhawatirkannya.


Laila memeluk Juna dengan erat. “ Ayah, maafkan aku yang tidak berbakti ini, aku tidak bisa melindungimu.” hiks hiks, menangis.


“ Sudah-sudah, ayah bukan anak kecil tidak perlu kau melindungiku.” melepaskan pelukan lalu menatap Laila.


Juna baru sadar ada bekas memar di wajah Laila.


“ Apa ini? siapa yang berani menamparmu putriku? katakan siapa, ayah akan membalasnya berkali-kali lipat.” menyentuh pipi Laila yang bengkak.


Laila memalingkan wajah dan tidak berani menatap Juna.


“ Tidak ada yang menamparku, ayah, kau salah paham. Tadi aku tidak sengaja jatuh dari tangga saat pulang kerja, tapi kau tenang saja suamiku sudah mengompres bengkak ini dengan air hangat, dan dia bilang ini akan sembuh besok pagi.” walau hatinya berat berkata kebohongan tapi sangat tidak mungkin bagi Laila mengatakan kalau David yang sudah menamparnya.


“ Benarkah? kau tidak bebohong pada ayah?.” ragu untuk percaya setelah melihat tanda tangan di pipi Laila.


“ Baiklah, ayah percaya padamu.” kembali memeluk Laila dengan hangat.


Hari telah malam dan Laila memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya, Laila juga tidak lupa mengirimi pesan singkat pada David kalau dirinya tidak pulang malam ini.


“ Tidak peduli dia membaca pesanku atau tidak, yang penting aku sudah memberitahunya.” setelah mengirimi pesan Laila tertidur lelap.


Di saat bersamaan David mengecek ponselnya dan membaca pesan yang di kirim Laila, David seperti acuh tak acuh saat mengetahui Laila tidak akan pulang ke Villa.


Keesokan harinya jam 07:00 pagi.


Lebih tepatnya hari minggu yang di mana setiap pekerja sedang libur. Laila bersiap pergi ke Restoran milik Juna untuk membantu di sana.


“ Ayah, hari ini biarkan aku dan ibu pergi ke Restoran, ayah istirahat saja di rumah, urusan Restoran serahkan saja padaku dan ibu.” Laila sangat antusias dan menyiapkan beberapa keperluan yang akan di bawa ke Restoran.


“ Tidak, ayah tetap akan pergi ke Restoran. Ayah tidak tenang jika meninggalkan Restoran itu.” keras kepala.


“ Tapi ayah sedang terluka, bagaimana jika lukanya kambuh dan malah membuat ayah kesakitan lagi?.” khawatir.


“ Ayah bukan anak kecil, ayah bisa jaga kesehatan ayah sendiri.” Juna malah mengangkat barang dan memasukannya ke dalam mobil.


“ Sudah Laila, ayahmu memang seperti itu, tidak tahan jika diam di rumah satu detikpun.” Rosdiana meyakinkan Laila kalau Juna tidak akan kenapa-napa jika pergi ke Restoran.


Setibanya di Restoran Fyne.


Laila dan beberapa pegawai di Restoran membantu mengeluarkan barang bawaan dari dalam mobil, mereka semua saling membagi tugas agar Restoran bisa cepat buka dalam waktu 2 jam.


Menghela nafas karena lelah. “ Huh, akhirnya selesai juga. Sekarang waktunya ke depan dan cari pelanggan lebih banyak untuk makan di Restoran Fyne. Dengan begitu Restoran ini akan semakin ramai dan terkenal.” berjalan ke depan sambil membawa brosur Restoran.


Laila berusaha keras sepanjang hari mencari pelanggan agar mau mau makan di Restoran Fyne, namun tidak membuahkan hasil, hanya beberapa orang yang mau masuk dan makan.


“ Cape juga ternyata, tidak heran ayah menghabiskan uang banyak untuk sales. Kerja seperti ini benar-benar melelahkan sekali, aku harus masuk untuk makan agar tenagaku kembali terisi.” berjalan masuk ke Restoran.


Juna tersenyum melihat kegigihan Laila.


“ Kemarilah, ayo kita makan siang bersama putriku, biarkan ayah menyiapkan hidangan Favorit di sini. Kau pasti akan ketagihan setelah mencobanya.” Juna bergegas pergi ke dapur mengambil beberapa makanan untuk di santap bersama Laila.


“ Tidak perlu ayah, aku bisa ambil sendiri.” Laila mencemaskan kesehatan Juna.


10 menit kemudian makanan sudah siap di makan.


“ Coba Steak ini, ini paling laris dalam beberapa pekan ini. Walaupun tidak sebanding dengan Restoran mewah lainnya tapi Steak ini lezat dan tidak menguras kantong.” menyodorkan ke hadapan Laila.


Laila mencicipi Steak itu dan tertegun beberapa saat.


“ Eumm, lezat, ini benar-benar lezat sekali. Tapi mengapa Restoran ini terlihat sepi? hanya ada beberapa pelanggan yang makan dan sepertinya mereka sangat menikmati hidangan di Restoran ini.” perasaan antara senang dan tidak puas.


“ Mungkin karena mereka belum tahu kalau Steak di sini tidak kalah dari Restoran bintang 5.” berusaha tenang.


“ Ayah benar, aku yang terlalu banyak berpikir.” merasa bersalah.


Brak! terlihat beberapa orang masuk ke Restoran dengan maksud tidak baik.


“ Hei! hidangkan makanan yang paling mahal di sini. Cepat! kami sudah lapar seharian tidak makan.” berteriak dengan angkuh.


“ Ayah, sepertinya mereka bukan orang baik. Di lihat dari cara pakaian dan prilakunya mereka seperti ingin.” curiga.


“ Putriku, kau jangan berpikir sembarangan terhadap orang lain, lagi pula mereka sudah masuk ke Restoran kita yang artinya mereka itu pelanggan kita, jadi layani mereka dengan baik.” memotong pembicaraan Laila yang mencurigai ke 3 pria itu.


“ Baik ayah, maafkan aku.” berdiri dan pergi menghidangkan makanan di meja pelanggan.


5 menit kemudian, makanan sudah selesai di hidangkan di meja.


“ Silahkan di nikmati makan siang kalian tuan. Jika perlu apa-apa tinggal beritahu kami dan kami akan melayani kalian dengan baik.” dengan ramah.


“ Kebetulan sekali nona, aku membutuhkan seorang pelayan cantik sepertimu untuk menemaniku makan di sini. Bagaimana jika kau temani kami makan nanti aku kasih uang tip untukmu?.” menyentuh tangan Laila dengan tatapan mesum.


Laila segera menepis tangan pria itu dengan kesal. “ Maaf tuan, aku masih harus melayani tamu lainnya.” berbalik badan.


Pria itu tidak menyerah begitu saja setelah di abaikan oleh Laila yang merupakan pelayan cantik.


“ Tunggu sebentar nona, aku masih memerlukan bantuanmu sekarang, bukankah seorang pelayan harus melayani tamunya dengan baik agar pelanggan di sini merasa puas.” menghadang dan terus menghalangi jalan Laila.


“ Baiklah, katakan padaku apa yang perlu kubantu tuan?.” demi reputasi Restoran Fyne Laila berusaha sabar menghadapi pelanggan seperti orang itu.


Hehehe, pria itu tersenyum menyeringai melihat Laila patuh kepadanya.