David&Laila

David&Laila
Part37



Di ruangan di mana Laila berada bersama ke 3 pria penjahat.


Pria itu dengan bangga meregangkan otot.


“ Ayo, mulailah permainannya. Pilihlah sesuai yang kau inginkan, ingin mati seperti apa.” mengepalkan tangan dan bersiap memukul.


Laila menjatuhkan tas dan menghadapi pria yang ingin membunuhnya.


“ Jangan banyak omong kosong! kalian maju bersama-sama, lebih cepat lebih baik.” tidak sabaran.


“ Ckck, begitu tidak sabar ingin mati di tangan kami.” meremehkan.


Pria itu menyerang secara bersamaan.


“ Pergilah ke neraka dan temui pria tua itu yang cepat atau lambat akan menyusulmu.” berlari memukul ke arah Laila.


Laila berhasil menghindar dari pukulan ketiga pria itu.


“ Hentikan omong kosongmu itu.” teriak Laila.


5 menit kemudian, Laila terlihat kelelahan dan menyeka keringat di dahi.


“ Huh, hanya seperti itu kemampuan kalian tapi berani berlagak seperti Monster di hadapanku. Dasar pria tak berguna!.” meremehkan.


“ Ha, hanya seperti itu? apa kau Monster yang kau bilang barusan. Ahh, kaulah Monster berparas cantik dan polos, tidak kusangka kemampuanmu sehebat itu nona. Kami benar-benar meremehkanmu.” berbicara dengan terbata-bata karena ketakutan.


“ Diam kalian! jika tidak aku akan benar-benar melumpuhkan mulut kotormu itu.” menginjak tangan pria itu.


Laila berhasil mengatasi ketiga pria itu dengan cara mengenaskan, Laila melumpuhkan semua tulang di tubuh pria itu tanpa mempengaruhi nyawanya, ada juga yang kehilangan alat bagian bawah sampai hancur berdarah tapi masih bisa berteriak kesakitan, ada juga yang di buat lumpuh total sampai tidak bisa berbicara.


Laila mengambil tas dan sempat mengangkat telepon dari Rosdiana.


“ Ibu.” gumam Laila.


“ Laila, ibu khawatir apa ayahmu sudah di obati? bagaimana keadaannya sekarang?.” tanya Rosdiana di telepon.


“ Ayah baik-baik saja bu, David sudah mengantar ayah pulang. Sementara aku ada urusan sebentar dan akan segera kembali ke Restoran.” segera mematikan telepon.


Laila membuka pintu dan beberapa orang berdiri dengan panik menatapnya.


“ Nona, apa kau baik-baik saja? aku tidak mengerti mengapa kau merusak semua CCTV dan penyadap suara, apa kau tahu betapa cemasnya kami saat itu, apa lagi kami tidak bisa membuka pintu untuk menyelamatkanmu.” ucap seorang Polisi.


“ Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah peduli padaku.” tersenyum.


Tap tap, David yang mendapati kabar dari kantor Polisi bahwa Laila terkurung di ruangan yang sama dengan penjahat membuatnya datang dengan cemas.


“ Laila, baguslah kau tdak apa-apa.” berbicara dengan terengah-engah.


Laila terdiam dan mengabaikan David yang berbicara padanya.


“ Pak, tolong penjarakan mereka. Aku tidak ingin orang yang melukai ayahku hidup dengan tenang.” setelah berbicara Laila segera pergi.


“ Baik nona, kau tenang saja.” balas Polisi.


Seorang Sipir berteriak ketakutan dari dalam ruangan.


“ Ahh, Pak, coba lihat di dalam. Mereka sangat menakutkan.” berlari keluar.


Semua orang masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan para penjahat itu sangat mengenaskan, yang membuat aneh adalah mereka masih bernafas dan tidak ada tanda-tanda melepaskan nyawa walaupun lukanya parah.


“ Ini, bagaimana ini bisa terjadi? siapa yang melakukan ini? serangannya benar-benar sangat hebat. Aku tidak percaya ada orang yang bisa melakukan hal semacam itu di dunia ini.” beberapa orang ternganga setelah melihatnya.


David tertegun dan mulai meragukan Laila.


“ Li, pergi periksa apa yang di lakukan gadis itu selama ini.” gumam David dengan serius.


Di Restoran pada malam hari.


Laila membuka pintu Restoran dengan perlahan.


“ Ibu, apa sudah mau tutup?.” berjalan masuk.


Rosdiana menatap Laila dan mendapati tangannya yang penuh dengan luka.


“ Laila, tanganmu kenapa? ayahmu bilang sejak dari Rumah Sakit kau tidak pulang, kemana kau perginya selama itu?.” meraih tangan Laila dan membersihkan darah di tangannya.


“ Nanti aku ceritakan semuanya pada ibu, sekarang kita tutup Restoran ini lebih dulu.” menghindar.


Rosdiana tidak bisa berkata-kata setelah melihat Laila seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


“ Apa yang terjadi padanya? kenapa aku merasa Laila sedikit aneh dari biasanya.” batinnya, dengan khawatir.


Laila melirik Rosdiana dan merasa bersalah karena sudah membohonginya.


“ Maafkan aku ibu, aku tidak bisa berkata jujur padamu. Biarkan aku yang merasakan semua penderitaan ini sendiri, kau dan ayah harus bahagia selamanya.” batinnya, tak kuasa menahan luka di hatinya.


Setelah menyelesaikan urusan di Restoran, Laila mengunci Restoran dan meminta Rosdiana untuk membeli peralatan yang sudah rusak besok pagi.


“ Ibu, aku sudah mencatat semua barang yang harus kita beli. Untuk masalah uang nanti aku cari temanku untuk pinjam kekurangannya.” Laila dan Rosdiana berjalan bersama.


Rosdiana menghentikan langkahnya karena gelisah.


“ Bagaimana kita bisa membeli barang sebanyak itu dengan uang yang kita punya? kurangnya cukup besar apa temanmu bisa meminjamkan kita uang sebanyak itu?.” khawatir.


“ Ibu tidak perlu khawatir, bagaimana kalau aku bicarakan masalah ini dengan suamiku? bukankah dia kaya dan banyak uang, aku yakin dia pasti bisa pinjamkan kita uangnya.” berpikir.


Rosdiana memukul bahu Laila dengan kesal.


“ Apa kau akan merepotkan suamimu? tidak boleh, jangan meminjam uang pada menantu, aku tidak ingin merepotkannya.” menolak.


“ Baiklah bu, tapi bisakah kau jangan terlalu kejam pada putrimu ini, aku benar-benar kesakitan sekarang.” mengeluh.


Rosdina menghentikan langkahnya dan mulai memeriksa keadaan Laila terutama luka di bagian jari-jarinya.


“ Sakit tidak? maafin ibu tadi ibu lupa kalau kau baru saja terjatuh.” menyesal dan mulai mengkhawatirkan Laila.


Laila tersenyum pahit.


“ Tidak apa-apa bu, aku sudah mengobatinya sewaktu di Rumah Sakit tadi. Ini akan sembuh dalam 2 hari.” menarik tangannya dan menyembunyikannya.


“ Ya sudah ayo kita pulang, ibu benar-benar khawatir pada ayahmu sejak kejadian tadi di Restoran.” berjalan cepat.


1 jam kemudian Laila dan Rosdiana baru sampai di rumah mereka.


Laila membuka pintu dengan semangat.


“ Ayah! kami pulang.”


Laila merubah ekspresinya jadi dingin ketika melihat David duduk berhadapan dengan Juna.


“ Kalian sudah pulang? ayo cepat masuk kenapa berdiri di sana.” melambai dengan senang.


Laila duduk di samping David sedangkan Rosdiana bersebelahan dengan Juna.


“ Ayah, maaf tadi aku ada urusan dan tidak bisa mengantarmu pulang.” menunduk karena merasa bersalah.


“ Tidak apa-apa, David sudah mengantar ayah pulang. Bagaimana kalau kalian menginap saja di sini, ini juga sudah malam, besok pagi kalian baru pulang.” menawarkan.


Laila terdiam dan melirik David di sampingnya.


“ Tidak bisa ayah, suamiku sibuk akhir-akhir ini, biarkan saja suamiku pulang dan aku akan menemani kalian di sini, bagaimana? Suamiku apa boleh aku menginap lagi di sini? aku janji besok pagi aku pulang ke rumah.” senyum terpaksa.


Uhuk, “ Kalau tidak mau senyum jangan memaksakan diri untuk senyum di depanku, kau sangat jelek jika seperti itu.” berbicara pelan.


“ Cih! tolong kerja samanya tuan.” mengingatkan.


“ Ayolah, cepat bilang setuju, aku tahu kau tidak akan peduli dimana aku tidur bukan?.” batin Laila menyeringai.


“ Baiklah, kami akan menginap di sini sampai ayah mertua benar-benar sembuh. Untuk masalah Restoran aku sudah menyuruh Asistenku untuk membeli barang yang sudah di rusak oleh penjahat itu.” berbicara dengan tenang.


Laila seperti tersambar petir mendengar David akan menginap di rumahnya yang berarti akan tidur di kamar yang sama, padahal hati Laila hancur saat David menuduhnya bahkan menampar wajahnya.


“ Tidak bisa, dia tidak boleh menginap di sini. Aku harus cepat-cepat mengusirnya karena aku masih ada urusan yang harus di selesaikan malam ini.” batin Laila, berpikir.


Dengan mudahnya Laila tersenyum manis di depan David bahkan menggandeng tangannya.


“ Suamiku, aku tahu kau khawatir pada ayahku, itulah kenapa kau ingin menginap bukan? percayalah padaku kalau aku bisa menjaga ayahku, jadi kau pulang saja bukankah besok kau harus bekerja.” membujuk.


“ Kalau kau bisa menginap kenapa aku tidak? mari kita menginap semalam di sini, besok pagi kita bisa berangkat kerja bersama ke Perusahaan, bukankah ini lebih baik.” mendekatkan kepala dan hampir saling bersentuhan.


“ Benar Laila, kalian menginap saja di sini.” ucap Rosdiana.


“ Iya bu.” balas Laila.


Di dalam kamar.


Laila yang hendak mandi tidak leluasa karena berada di kamar yang sama dengan David. Laila hanya bisa mandi di toilet bawah yang biasa di gunakan orang yang bertamu ke rumahnya.


“ Aku harus cari tahu dalang di balik kejadian di Restoran, mereka sudah berani memukul ayahku sampai giginya copot, aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah mencelakai keluargaku.” semakin di pikir semakin marah sampai gemetar.


Laila berdiam diri di toilet selama 1 jam lamanya.


“ Sudah cukup lama aku berada di toilet, mungkin saja dia sudah tidur sekarang.” keluar dari toilet dengan hanya menggunakan handuk.


Di dalam kamar.


Laila membuka pintu dan masuk dengan perlahan.


“ Untunglah dia sudah tidur, aku harus cepat pakai baju sebelum dia bangun.” mencari pakaian di lemari namun tidak menemukan piyama kesukaannya yang berwarna pink.


“ Dimana piyama yang kupakai semalam, kenapa tidak ada di lemari? haih, sudahlah pakai baju ini saja.” mengambil piyama pendek selutut.


Laila mendekati David yang tengah tidur dan mengibaskan tangan.


“ Sudah tidur ya, baguslah.” gumam Laila.


David menyipitkan mata dan melihat Laila yang sedang memakai jaket hitam di tengah cahaya lampu tidur.


“ Dia mau kemana memakai jaket seperti itu?.” batinnya.


Laila menyelinap keluar dengan gerakan yang mencurigakan, David terus membuntuti Laila dari belakang dengan rasa penasaran membuatnya tidak tenang.


Laila melirik ke belakang tapi David berhasil bersembunyi. Saat David melihat kembali Laila sudah tidak ada di depannya.


“ Kemana perginya? menghilang secepat itu apa dia punya kemampuan teleportasi.” tidak percaya jika Laila mengetahui kalau dirinya sengaja mengikutinya.


Dalam kesejap Laila sudah berdiri di belakang David dengan ekspresi dingin.


“ Kalau aku bisa teleportasi apa aku bisa menyebutmu orang yang pandai menguntit orang.” bisikkan Laila membuat David kaget.


David berbalik badan dan mundur tanpa sadar.


“ Kau! sejak kapan berdiri di belakangku? bukankah kau tadi?.” berbicara dengan gugup.


“ Di depanmu ya? aku tidak menyangka seorang CEO yang di rumorkan orang dengan sombong dan kejam punya kebiasaan menguntit orang.” mencibir.


David tidak bisa berkata-kata dan terdiam.


“ Sudah malam, cepat pergi ke kamar kalau tidak ibu dan ayah akan mengira kau pulang tanpa pamit.” tidak sabar untuk mengusir.


“ Kalau begitu kau juga harus kembali ke kamar, kenapa malam-malam begini kau menyelinap keluar seperti pencuri, apa kau akan mencuri untuk membayar hutangmu padaku. Kau tenang saja, aku tidak setega itu membiarkanmu bersusah payah mencari uang ganti rugi Restoran Fyne.” bersikap angkuh.


Laila berjalan melewati David.


“ Kau kembali ke kamar lebih dulu, aku ada urusan sekarang. Aku harap kau tidak akan jadi seorang penguntit.” melirik dengan wajah dingin.


“ Urusan apa yang membuatmu keluar di tengah malam begini? apa tidak bisa mengurus urusan pentingmu itu besok?.” mencoba menahan agar Laila tidak pergi.


“ Tidak bisa, lagi pula ini bukan urusanmu tuan, jangan ikut campur dalam masalah pribadiku.” tidak senang.


Laila pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya, banyak penjual makanan yang selalu buka setiap malam di pinggir jalan.


Laila berhenti di depan penjual mie pedas.


“ Pak, aku mau satu porsi ramen sapi pedas.” setelah memesan makanan Laila duduk di kursi dan menunggu penjual menghidangkan makanannya.


“ Ya nona, tolong tunggu sebentar.” balas penjual.


Laila tengah sibuk dengan ponselnya dan tiba-tiba David duduk di sampingnya.


“ Tuan, kau datang kemari juga? tidak di sangka kau mengikutiku sampai ke sini.” menyindir.


“ Kau jangan salah paham, aku kesini kebetulan karena aku lapar, aku mau makan sesuatu agar aku bisa tidur nyenyak malam ini.” menyangkal.


Laila diam dan mengabaikan David karena tidak mau berdebat di depan semua orang.


Penjual mie pedas datang dengan semangkuk ramen pedas di tangannya.


“ Nona ini makananmu. Oh iya, kenapa kau memesan satu ramen apa pacarmu tidak mau makan?.” melirik David yang hanya memakai celana pendek dan kaos polos dan tidak ada yang menyadarinya kalau pria di depannya adalah seorang CEO.


“ Kau salah paham pak, dia bukan pacarku.” menyangkal tanpa memberi tahu kebenarannya.


“ Oh baiklah, aku tahu dia pasti suamimu, bukan? kau harus menjaga suamimu dengan baik nona, karena sekarang banyak wanita yang mengincar pria beristri hanya untuk mendapatkan uang saja.” mengingatkan dengan sebuah candaan.


David tersenyum bangga mendengar penjual mie itu mengucapkan perkataan seperti itu pada Laila.


Dalam sekejap Laila menghabiskan mie pedasnya.


“ Ah. Aku kenyang.” bersendawa.


David kaget melihat mangkuk kosong tanpa sisa.


“ Kau menghabiskan semua mie itu?.” tidak percaya.


“ Iya, kenapa? apa kau mau makan juga? pesan sendiri jangan mau punyaku.” mengelap mulut dengan anggun.


David memukul meja dengan wajah muram.


“ Aku tidak suka makan makanan seperti ini.” berdiri tegak dan pergi meninggalkan.


Penjual mie menatap Laila dengan kasihan.


“ Nona, seharusnya kau jangan buat suamimu marah, bagaimana jika dia pergi mencari wanita yang lemah lembut yang bisa memperhatikannya? kau akan menyesal nanti.” mengingatkan.


Laila berdiri dan membayar mie yang sudah ia makan.


“ Ambil saja kembaliannya.” memberikan.


Laila berjalan santai tanpa peduli orang lain yang melihatnya dengan pandangan aneh.


“ Dasar sekelompok orang mesum, mau sampai kapan kalian terus menatapku seperti itu, tidak lihat pacar di samping kalian memberikan tatapan membunuh padaku.” batinnya.


Saat Laila tengah menikmati eskrim di tangannya tiba-tiba seorang anak kecil, Ling Xuer, berlari ke arahnya dan membuat eskrim di tangan Laila jatuh ke bawah.


“ Ya ampun, siapa yang berjalan tidak hati-hati?.” melihat ke bawah.


Ling Xuer segera membungkuk dan tidak membiarkan Laila melihatnya karena ketakutan.


“ Kakak, maafkan aku, aku tidak sengaja. Tolong biarkan aku pergi, aku mohon kakak.” memohon.


Laila berjongkok dan menatap anak itu, Laila baru sadar kalau anak kecil yang menabraknya ternyata Ling Xuer.


“ Kau? dimana ayahmu kenapa dia membiarkanmu berkeliaran di tengah malam begini.” terkejut.


Ling Xuer mendongak secara perlahan.


“ Kakak cantik, itu kau? aku senang sekali bisa bertemu dengan kakak di sini.” memeluk dengan erat.


Laila tersenyum dan membiarkan Ling Xuer memeluknya, Laila tertegun melihat Fuan Xuer berdiri di depannya dengan terengah-engah.


“ Tuan Fuan, kau juga di sini?.” melepaskan pelukan.


Ling Xuer gemetar ketakutan kemudian berlari tanpa memperhatikan mobil yang melaju ke arahnya.


“ Tidak!.” secara bersamaan Laila dan Fuan Xuer berteriak melihat mobil yang akan menabrak Ling Xuer.


“ Sial! jika sesuatu terjadi pada Ling aku akan mematahkan leher supir itu.” berbicara pelan sambil berlari menyelamatkan Ling dari bahaya.


Agrh! Laila berteriak kesakitan akibat terjatuh.


“ Ling, nona, apa kalian baik-baik saja?.” Fuan Xuer berlari dan memapah Laila.


“ Aku tidak apa-apa, untung aku menyelamatkan Ling tepat waktu, kalau tidak entah apa yang terjadi pada Ling sekarang, aku tidak bisa membayangkannya.” tersenyum dan menahan rasa sakit di tangannya.


Fuan Xuer meraih tangan Laila dan mengamati lukanya.


“ Tidak apa-apa bagaimana? kau terluka karena menyelamatkan putriku dari bahaya, aku akan membawamu ke Rumah Sakit sekarang.” tanpa basa-basi Fuan Xuer menggendong Laila dan membiarkan Ling Xuer berdiri mematung melihat ayahnya mengabaikannya.


“ Ayah, kau benar-benar melupakanku setelah melihat kakak cantik. Aku tidak percaya kau itu ayah kandungku.” bergumam.


Seorang pengawal menggendong Ling Xuer secara paksa dan membawanya ke dalam mobil.


“ Maaf nona muda, jika aku lancang.” terpaksa menggendong Ling tanpa persetujuannya karena perintah Fuan Xuer.