David&Laila

David&Laila
Part8



David membawa Laila pergi dan mengabaikan Radi yang terus berteriak padanya, Radi kesal karena merasa tidak di hargai, ia segera mengejar David tapi Bella menjerit kesakitan. “ Agrh, perutku sakit.” Radi berbalik dan mencemaskan keadaan Bella. “ Apa yang terjadi dengan perutmu Bella?.” Bella terduduk sambil meremas perutnya. “ Aku tidak tahu, tiba-tiba perutku terasa sakit.” Radi menggendong Bella dan membawanya ke Paramedis, Laila melihat Radi mengkhawatirkan Bella yang membuatnya patah hati.


David mendudukkan Laila di sofa dan memberinya kursi roda yang baru. “ Untuk sementara kau bisa tinggal di sini, kau tenang saja kamarku tepat di sampingmu kau bisa cari aku jika terjadi sesuatu padamu.” saat David siap pergi Laila berbicara padanya. “ Terima kasih.” David tersenyum sedikit lalu pergi meninggalkan Laila.


David menyuruh seorang pelayan untuk melayani Laila dalam segala hal, karena tidak mungkin bagi Laila mengerjakan sesuatu dalam keadaannya yang tidak bisa berjalan. “ Nona apa kau mau mandi?.” tanya pelayan.


“ Tidak, aku tidak bawa pakaian lain.” menggelengkan kepala, pelayan itu segera memperlihatkan beberapa set pakaian dengan beragam model dan ukuran. “ Tuan menyuruhku membawa semua pakaian ini karena beliau tidak tahu pakaian seperti apa yang nona sukai, jadi nona bisa pilih salah satu dari semua ini.” Laila terkejut melihat pakaian yang mewah di depannya. “ Tapi aku tidak punya uang, bagaimana aku bisa membayarnya.” dengan wajah polos. Pelayan itu tersenyum dengan sungkan. “ Tuan sudah membayar semua pakaian ini, Anda tinggal pilih pakaian yang Anda sukai nona.” Laila tercengang mendengarnya.


Setelah memilih dress yang di sukai pelayan segera membantu Laila mandi, Laila tidak terbiasa di layani pelayan saat mandi jadi Laila menyuruh pelayan keluar dan dia akan melakukannya sendiri. “ Ahh, nyaman sekali, ini pertama kalinya aku berendam di bak mandi semewah ini.” gumam Laila. Laila menikmati apa yang ia dapatkan sekarang, pelayan yang sedang menunggu di luar tidak menyangka jika Laila akan tertidur di bak mandi sampai 3 jam.


David dan Dokter datang bersama untuk memeriksa kaki Laila. “ Di mana Laila? apa dia sudah selesai mandinya?.” pelayan menggelengkan kepala tak berdaya. “ Kau membantu Laila mandi'kan?.” tanya David dengan keras. Pelayan itu membungkuk dengan ketakutan. “ Iya tuan, tapi nona menolaknya.” David terkejut setelah tahu Laila berada di toilet selama 3 jam. “ Apa?! jadi kau membiarkannya mandi sendiri? apa kau tahu kakinya sedang sakit bagaimana dia bisa melakukannya sendiri?.” teriakkan David membuat Laila terbangun dari tidurnya. “ Kenapa di luar begitu berisik. Ahh, ya ampun. Aku ketiduran, bagaimana bisa aku tidur di toilet?.” Laila sadar jika dirinya terlalu lama berendam sampai air menjadi dingin seperti air es.


Sedangkan pelayan itu terus membungkuk dan mengakui kesalahannya. “ Maafkan aku tuan, tapi nona menyuruhku agar tidak mengganggunya.” David tidak peduli dengan penjelasan seorang pelayan, David berjalan dan terus mengetuk pintu toilet dengan cemas. “ Hei! sedang apa kau di dalam selama ini? apa kau tertidur?.” teriak David dari luar membuat Laila panik dan buru-buru mengambil handuk yang tidak jauh dari sampingnya. “ Tunggu sebentar! Aku akan keluar.” saut Laila.


Saat Laila berusaha naik ke atas kursi roda tiba-tiba ia terjatuh karena lantai yang cukup licin akibat percikan sabun busa. “ Agrh.” teriak Laila membuat David khawatir dan mendobrak pintu toilet dengan panik. “ Apa yang terjadi?.” David tertegun setelah melihat posisi Laila yang terjatuh di lantai yang membuatnya menelan air liur. Laila langsung berteriak dan berusaha menutup bagian yang terbuka. “ Apa yang kau lihat? cepat tutup kembali pintunya!.” David segera menutup pintu dengan perasaan berdebar kencang. Dokter dan pelayan merasa malu setelah melihat Laila terjatuh dengan posisi tak biasa. “ Keluar!.” bentak David pada Dokter dan pelayan. “ Ahh, baiklah. Kami tidak melihat apapun.” ujar pelayan berlari keluar bersama Dokter.


“ Astaga, apa yang baru saja aku lihat? benar-benar membuatku kehilangan muka.” batin David, saat David akan pergi tiba-tiba Laila berteriak memanggil pelayan. “ Pelayan, bisakah kau masuk dan membantuku?.” karena pelayan sudah di usir David terpaksa masuk dengan cara membelakangi Laila. “ Kenapa malah kau yang masuk? aku menyuruh pelayan bukan kau.” Laila hanya bisa menutup apa yang harus di tutup. “ Pelayan, dia tidak ada. Dia pergi.” jawab David dengan gugup. Laila tidak bisa menggerakan kakinya dan terpaksa membiarkan David membantunya. “ Kalau begitu tolong bantu aku, tapi kau harus menutup matamu karena aku hanya memakai handuk.” David langsung mengangguk. “ Baiklah, kau tenang saja.” David berbalik badan dengan mata tertutup membuatnya kesusahan membantu Laila, tidak sengaja David menyentuh dada Laila dan terkejut karena merasa dirinya memegang sesuatu yang tidak biasa, saat David membuka sebelah mata ia ketakutan mata Laila memolototinya. “ Apa kau sengaja tuan!.” Laila tersenyum menyeringai.


David menarik tangannya dan tiba-tiba kaku karena tidak bisa di gerakkan, David berteriak dan berlari keluar. “ Tuhan, apa yang aku lakukan padanya? tolong maafkan aku.” Laila membentak David. “ Aku tidak tahu apa kau akan membantuku atau tidak?!.” David memaksakan diri dan berusaha tidak melihat tubuh Laila yang membuatnya tergoda. Setelah mambantu Laila David segera keluar meninggalkan Laila.


Asisten Li datang di waktu yang tidak tepat. “ Tuan, Klien kita mengundang Anda makan malam nanti.” David yang bersikap gugup membuat Asisten Li cemas. “ Tuan. Apa Anda baik-baik saja?.”


“ Tuan, Klien sedang menunggu Anda.” ucap Asisten Li.


David pergi menemui Kliennya seorang diri dan berbisnis sampai mendapatkan keuntungkan mencapai ratusan Miliar, saat David sedang menikmati makanannya tiba-tiba terhenti setelah mendengar orang lain mengkritik pisik Laila yang tidak bisa jalan. David menatap Laila dengan kagum dan tidak percaya Laila bisa secantik itu.


Radi datang menyapa Laila. “ Laila, kau sangat cantik.” Radi berjongkok menggenggam tangan Laila.


Bella sudah merias wajahnya secantik mungkin tapi Radi tetap tergoda pada Laila, Bella kecewa dan menarik tangan Radi. “ Ada apa dengan kakinya Radi? apa dia kesakitan lagi?.” Bella sengaja menyinggung Laila agar Laila sadar diri dengan keadaannya. Laila mendorong kursi rodanya dan bersiap pergi ke kamarnya, tapi ia di hentikan oleh David. “ Kau belum makan apa-apa dari tadi, apa kau mau makan bersamaku? ” awalnya Laila ingin menolak tawaran David karena malu, tapi setelah di pikir-pikir Laila merasa lapar dan memutuskan untuk makan gratis bersamanya.


Suasana sangat canggung saat Laila harus berhadapan dengan David. “ Ini memalukan sekali, setelah apa yang telah terjadi sekarang aku harus makan di depannya.” batin Laila memejamkan mata sambil menggigit bibir. “ Kenapa dia harus menggigit bibir seperti itu? apa dia sengaja menggodaku atau apa?.” batin David.


David tidak sadar ada seseorang yang memotret kebersamaannya dengan Laila, pria itu tersenyum puas lalu pergi dari tempat persembunyiannya. David sadar jika ada sesuatu yang mengintainya, ia segera menyuruh Asisten Li mencari di kesekelilingnya tapi tidak menemukan apapun.


“ Apa perasaanku saja.” batin David dengan cemas.


Setelah selesai makan David mengantar Laila pergi ke kamarnya dan tidak lupa memberikan ponsel darurat untuk berjaga-jaga, saat Laila menerima ponsel darurat Laila teringat jika dirinya sekarang berada di kapal pesiar bersama seorang pria yang akan membuat orang tuanya khawatir jika mengetahuinya. “ Tuan, apa aku boleh meminjam ponselmu? aku ingin beritahu ibuku kalau aku baik-baik saja di sini.” tanpa berkata apapun David memberikan ponselnya pada Laila. “ Kau bisa pakai sesukamu, aku akan pergi ke kamarku.” lantas David pergi dari kamar Laila.


Sudah berkali-kali Laila menghubungi nomor rumahnya tidak seorangpun yang menjawabnya, saat Laila putus asa tiba-tiba seorang pelayan menjawab telponnya. “ Ibu, apa kau di sana? ini aku Laila. Maaf sudah membuatmu mencemaskanku.” lalu pelayan menjawab. “ Nona apa itu kau? ibu dan ayahmu mencarimu ke mana-mana, sekarang mereka pergi ke kantor Polisi untuk melapor.” Laila mengerutkan dahi. “ Benarkah? aku merasa bersalah pada mereka, tolong beritahu ayah dan ibuku untuk jangan mengkhawatirkan aku di sini, aku di sini aman dan beritahu padanya aku sedang mengobati kakiku bersama temanku di kota sebelah. Dan aku akan segera pulang.” setelah berbicara banyak Laila mematikan teleponnya dan menyimpan ponsel itu di atas meja.


“ Rara pasti memberitahu ibu kalau aku menghilang dari pantai.” batin Laila dengan gelisah.