
Villa milik David.
Laila yang terus berteriak histeris membuat David kelihangan kesabarannya, ia segera menuju kamar di mana Laila di kurung. Laila senang karena akhirnya ada orang yang membuka pintu dan berpikir jika itu pelayan yang ingin membantunya keluar dari kamar tersebut, tapi saat pintu terbuka senyuman di wajahnya tiba-tiba hilang setelah melihat David masuk ke kamarnya.
Laila mundur ketakutan. “ Kau? apa yang ingin kau lakukan tuan? tolong biarkan aku pergi dari sini, Ibu dan Ayahku akan mencemaskanku jika mereka tahu aku tidak pulang semalaman.” Laila tidak sungkan berlutut di hadapan David, tapi David tidak peduli dan melemparkan sebuah kertas ke wajah Laila. “ Tanda tangan! jika kau patuh aku bisa memikirkan untuk melepaskanmu dari sini.” ucap David melotot.
Laila memungut kertas itu dan membukanya, Laila sangat serius membaca isi kertas itu sampai menyeluruh, tapi tiba-tiba Laila merobek kertas itu dan melemparkan balik ke wajah David. “ Heh, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tuan, tapi aku merasa di permalukan saat di lamar oleh pria yang sengaja mengurungku tanpa alasan yang jelas.” tersenyum sinis.
David emosi sampai berdiri ingin menghajarnya. “ Kau! berani berbicara seperti itu padaku?.” tapi David tidak berani memukul dan malah mencengkram rokok yang masih menyala di tangannya.
Laila berdiri dengan rambut berantakan sampai membuat David tertegun melihat aura yang keluar dari tubuh Laila. “ Mengapa aku tidak berani? kau sendiri berani mengurungku tanpa alasan, apa kau pikir aku takut? Ahaha, tidak! aku tidak takut.” nada bicara Laila membuat David pergi dari kamar.
Laila terjatuh dengan tubuh lemas. “ Apa yang baru saja aku lakukan? bagaimana jika dia membunuhku karena aku berbicara seperti itu padanya.” sadar kembali. “ Kenyataannya aku tidak bisa menyembunyikan kalau aku takut padanya, aku selamat dia pergi begitu saja.” gumamnya dengan nada lemah.
David menendang kursi yang biasa ia gunakan saat bekerja. “ Sialan! berani-beraninya dia membantah perkataanku, aku tidak percaya dia tidak takut padaku. Lain kali aku harus memberinya pelajaran agar dia bisa patuh.” mengepalkan tangan dan terus memukul meja kerja.
Asisten Li menunggu David di luar ruang kerja dengan khawatir. “ Apa yang terjadi pada tuan? bukankah tuan ingin nona Laila menanda tangani surat pranikah, tapi kenapa cepat sekali keluar dalam keadaan emosi?.” batinnya.
Sementara itu Rosdiana dan Juna datang ke kantor Polisi untuk melaporkan putrinya yang hilang, Polisi mencoba mencari keberadaan Laila mulai dari mendatangi tempat kerja Laila dengan hasil tak memuaskan, Polisi terpaksa menyebarkan poto Laila di media dan berharap ada orang yang bisa membantunya dalam pencarian Polisi. 1 jam berlalu berita di tv membuat beberapa orang gempar dengan hilangnya Laila, Rara yang sedang berada di rumahnya terkejut setengah mati setelah melihat berita itu.
Rara segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Laila berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab, saat dihubungi terakhir kali tiba-tiba ponsel Laila mati begitu saja. “ Tidak mungkin, jelas-jelas Laila di bawa pergi oleh pria waktu itu. Tapi kenapa orang tua Laila melaporkan kalau Laila menghilang? apa jangan-jangan semalam Laila tidak pulang ke rumah.” menebak dengan tidak percaya.
Rara bergegas memakai pakaian rapih untuk menemui orang tua Laila dan berniat memberitahunya tentang Laila yang di bawa pergi seorang pria. “ Aku harus cepat memberitahu Paman dan Tante kejadian yang sebenarnya.” baru saja membuka pintu ponsel Rara berdering dan mendapati pesan singkat yang berisi. “ Jangan ikut campur dalam pencarian Laila, jika tidak aku tidak akan segan melenyapkan seluruh keluargamu.” Rara sampai menjatuhkan ponselnya karena ketakutan setelah membacanya.
“ Tidak! itu tidak mungkin, bagaimana bisa ada seseorang yang mengirimiku pesan singkat seperti itu. Itu pasti tipuan yang mengatasnamakan penculik, iya itu pasti, aku harus lapor Polisi.” Rara berlari dan tidak lupa mengunci pintu rapat-rapat, sesampainya di lobi ke empat pria bertubuh kekar tiba-tiba menghadang jalan Rara.
Rara mundur ketakutan. “ Siapa kalian? kenapa menghalangi jalanku? cepat menyingkirlah, aku buru-buru ada urusan.” Rara memberanikan diri bertanya pada ke empat orang yang tidak ia kenal.
Tanpa menjawab pertanyaan, ke empat pria itu menarik paksa Rara dan memasukannya ke dalam mobil.
“ Kalian belum menjawabku! malah membawaku ke dalam mobil, sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan?.” Rara yang berontak membuat ke empat pria itu tidak tahan dan membiusnya agar Rara bisa diam dan patuh.
Rosdiana dan Juna menunggu kabar Laila dari pihak berwajid, saat Polisi menghubunginya Rosdiana buru-buru menjawab telponnya. “ Pak, bagaimana putriku? apa sudah di temukan?.” tanya Rosdiana terlihat senang.
“ Ibu tenang saja, putri kalian dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Ada seseorang yang mengetahui keberadaannya dan akan segera di bawa pulang secepat mungkin, tapi untuk saat ini putri kalian terluka dan mengharuskannya tetap berada di salah satu rumah sebelum lukanya benar-benar pulih.” jawabnya.
“ Orang itu akan mengantarnya sendiri setelah memastikan Putri kalian baik-baik saja. Tunggu di rumah dan berdoa akan keselamatannya.” mematikan telepon.
Juna memapah Rosdiana duduk di kursi. “ Istriku, apa yang terjadi pada Laila? apa yang di katakan pihak berwajid tentang Laila.” khawatir.
“ Mereka bilang Laila terluka di salah satu rumah yang telah menemukan Laila, jadi kita harus menunggu orang itu mengantar Laila pulang sendiri.” jawab Rosdiana patah hati.
Juna yakin jika Laila akan baik-baik saja walau sedang berada di luar dan tanpa pengawasannya. “ Semoga Tuhan bersamamu nak.” batinnya.
Di Kamar di mana Laila di kurung.
Seharian Laila tidak makan apapun dan membuat tubuhnya lemas tanpa daya, bahkan para pelayan di Villa tidak memberikannya air minum sampai membuat Laila Dehidrasi berat.
Krek, David membuka pintu dan matanya tertuju pada Laila yang terbaring di lantai, awalnya David berpikir jika Laila pura-pura mati dan meneriakinya dengan keras. “ Bangun! aku tidak peduli kau mau pura-pura mati atau apa, yang kuinginkan kau menanda tangani surat ini sekarang juga.” David menunggu Laila berbicara tapi tidak ada balasan darinya.
David yang tidak sabaran mendekati Laila dan akan memaksanya bangun, tapi saat menyentuh tangan Laila David tertegun sesaat karena wajah Laila yang pucat membuatnya tidak tega. “ Hei! cepat bangun, jangan pura-pura lagi di depanku.” tetap kasar walau tahu wajah Laila yang pucat.
“ Haus, aku mau minum.” dengan nada lemah, Laila menjulurkan tangan dan terjatuh lemas.
David mengecek suhu tubuhnya dan mendapati Laila yang demam tinggi, David segera menggendong Laila dan menidurkannya di ranjang. Saat David hendak pergi mengambil air minum Laila menarik tangannya dan berkata. “ Bisakah kau memberikanku air? aku sangat haus, aku mau minum.” tangan Laila yang gemetar membuat David terus menatapnya. “ Baiklah, kau tunggu aku, aku akan segera kembali membawa air minum untukmu.” mengangguk.
Laila tersenyum seperti memiliki harapan untuk hidup. “ Terima kasih.”
David bergegas turun ke dapur dan memarahi para pelayan yang tidak memberikan Laila makan atau minum. “ Dasar pelayan sialan! apa kalian tidak memberikan gadis itu minum? lihat dia hampir mati kelaparan di sini. Aku tidak percaya ada orang yang mati kelapan di tempatku, aku akan menghukum kalian dan tidak boleh makan atau minum selama 1 minggu.” perkataan David membuat semua pelayan di Villa bersujud memohon ampun.
“ Tuan, tolong maafkan kami, kami salah dan tidak memperhatikan tamu tuan. Tolong jangan hukum kami dengan cara itu tuan.” ucap beberapa pelayan menangis ketakutan.
“ Beraninya bernego denganku! jika kalian tidak di hukum ke depannya kalian tidak akan bisa patuh pada peraturan di sini.” teriak David.
David melirik Asisten Li. “ Li, bereskan mereka semua, karena tidak mau mati kelaparan biarkan mereka menemui Tuhan dengan cepat.”
“ Baik tuan.” Asisten Li menyuruh pengawal membawa semua pelayan ke hutan untuk di kasih makan ke hewan buas.